
Jam menunjukkan angka 12.00 siang, itu artinya jam perkuliahan sedang di istirahatkan. Sebagian mahasiswa ada yang memilih sholat terlebih dahulu dan ada juga yang menuju kantin untuk mengisi amunisi.
Rasa lapar yang tak tertahankan, karena pagi tadi Ais melewatkan sarapan, mendorong Ais dan Nia untuk terlebih dahulu menuju kantin, setelahnya baru menunaikan shalat zuhur.
Disinilah mereka saat ini, berbaris rapi diantara antrian para mahasiswa yang akan membeli bakso.
"Bukannya di depan kita itu kak Reza?" Nia mengarahkan telunjuknya pada orang yang mengantri dibarisan paling depan.
"Mana?" Ais celingukan melihat ke arah telunjuk Nia.
"Itu, yang paling depan, gue panggil ya?" belum sempat Ais menutup mulut Nia, panggilan nama itu sudah bebas mengudara, membuat Ais kelabakan, karena sejatinya Ais selalu berusaha untuk menghindari Reza.
"Kak Reza!" Nia melambaikan tangan ke arah Reza, membuat orang yang dipanggil namanya langsung menoleh ke arah datangnya suara.
Senyum itu langsung terkembang, melihat sang pujaan hati berdiri dibarisan belakang.
"Mau bakso juga?"
"Ia kak, titip antrian ya!" Dengan tak tau malunya Nia menitip antrian pada Reza.
Reza mengacungkan jempol petanda siap.
"Kamu apa-apaan sih? nggak enak sama yang lain" Ais berbisik dikuping Nia. Ais tak setuju dengan sikap Nia, karena ia tak enak hati dengan orang yang sama-sama mengantri.
"Udah, kamu tenang aja, lagian kak Reza juga nggak masalah, dari pada kita harus capek-capek berdiri disini, ayo...sekarang kita cari tempat duduk yang adem!" jawab Nia santai sembari menarik Ais dari barisan antrian.
Mereka berdua memilih duduk di meja yang ada dibagian terbuka dengan view langsung ke arah taman kampus, cukup adem, karena banyak pohon besar yang dibiarkan berdiri kokoh sebagai penyejuk taman sekaligus penghasil oksigen.
Tanpa mereka sadari, sejak memasuki kantin, ada sepasang mata yang menyorot mereka berdua, khususnya Ais.
Baru saja mendudukkan ****** pada kursi yang di desain memanjang, terdengar lagi suara yang tak asing dirungu Ais.
"Sayang! sorry, lama ya nunggunya?"
Ais memutar pandangan ke arah meja yang berada di bagian out door.
Deg......
Ada Hafiz disana, duduk menyilangkan kaki dengan sebatang rokok yang ia jepit diantara jari telunjuk dan tengah. Sekali-kali menghisap rokok ditangan, lalu menghembuskan asap bebas ke udara. Kemeja putih, ia gulung hingga ke siku, entah kemana dasi yang tadi masih bertengger dilehernya. Tatapannya lurus ke arah Ais, tak menghiraukan kedatangan Sofia yang antusias menyapa dirinya.
__ADS_1
"Sejak kapan si kadal merokok? kok selama ini aku nggak pernah liat? ah....peduli apa aku" suara hati Ais.
Perut yang lapar akan membuat emosi seseorang menjadi mudah berubah, oleh karena itu Ais tak ingin melihat sesuatu yang bisa merusak suasana hatinya. Ais memilih menghindari tatapan elang Hafiz dengan merubah posisi duduk membelakangi Hafiz.
"Sial" umpat Hafiz dalam hati, melihat Ais yang membelakangi dirinya.
Tak hanya itu, sekarang ada pemandangan yang semakin membuat Hafiz jengkel luar biasa.
Reza, lelaki itu duduk disamping Aisnya.
"Sayang, kamu kenapa? Sofia ikut melihat arah pandangan Hafiz.
"Itukan Ais pembantu kita? kok bisa dia duduk sama Reza?
Sekarang Sofia yang jadi penasaran, karena yang ia tau, sosok Reza adalah laki-laki yang bisa dilihat namun tak tersentuh. Ia sudah lama mengenal Reza, karena Reza adalah salah satu mahasiswa dengan segudang prestasi, dengan wajah di atas rata-rata. Selain itu, Reza adalah sosok enterpreneur yang sangat sukses, jadi bisa dipastikan Reza menjadi sosok terkenal yang di idolakan semua kalangan.
Tak ada tanggapan dari Hafiz, namun Hafiz juga sangat tau Reza itu bukan orang sembarangan, dilihat dari sisi manapun, baik apa yang melekat pada dirinya, maupun kendaraan apa yang digunakan.
Karena saat pertama kali bertemu di rumah Ais, Reza datang dengan mobil mahalnya. Begitu juga saat berada di Malaysia, malah mobil yang ia gunakan hanya mampu dibeli oleh kalangan atas.
"Apa Reza ada hubungan sama Ais?" Kata-kata Sofia semakin meniup api cemburu yang sudah menyala dihati Hafiz.
Hafiz bangkit, berjalan kearah meja Ais, Sofia mengekor dibelakangnya.
"Boleh gabung?" Suara briton Hafiz menghentikan tawa ketiganya.
Kompak Ais, Reza dan Nia melihat orang yang berdiri disamping mereka.
"Silakan!" Reza dengan senyum persaingan mengijinkan Hafiz dan Sofia untuk bergabung dengan mereka.
"Nggak papa?" Sekarang Sofia yang basa-basi.
"Silakan, buk....!" Kini Ais dan Nia yang berusaha bersikap ramah, karena bagaimanapun juga, Sofia adalah dosen mereka, terlebih Nia yang menganggap semua sedang baik-baik saja.
Mereka berlima duduk disatu meja, untung meja itu terbilang luas, bisa menampung hingga delapan orang, jadi tak masalah bila mereka duduk berlima disana.
Diwaktu bersamaan, tiga mangkok bakso yang Reza pesan diantar salah satu pelayan kantin.
"Wah....sepertinya makan bakso siang-siang gini, enak deh..." mencium aroma bakso yang menguar di udara, ditambah tampilan yang menggoda, membuat Sofia ingin menu yang sama.
__ADS_1
"Miss mau?" Reza bertanya, Ais menoleh ke arah Reza.
Bukan menjawab pertanyaan Reza, Sofia malah bertanya pada Hafiz.
"Kita makan itu juga ya sayang?"
"Terserah" Jawaban singkat yang biasa dipakai kaum emak-emak, sekarang keluar dari mulut Hafiz. Fokusnya sekarang bukan makanan, tapi Ais yang ada di depannya.
Mendengar itu, Reza berinisiatif bangkit, berniat kembali mengantri bakso, karena tak sopan jika membiarkan Sofia si mantan dosen berdiri di barisan antrian yang terbilang ramai, terlebih ia melihat laki-laki itu tak ada pergerakan.
"Ais ...., aku ketoilet dulu ya, kebelit pipis" Nia bangkit dari duduknya.
"Kamu mau ke toilet? sama-sama aja, saya juga pengen ke toilet" Sofia turut berdiri dan mendekat ke arah Nia.
"Oh....ayo buk" Jawab Nia sopan dan mereka berdua berjalan beriringan menuju toilet.
Situasi sangat berpihak pada Hafiz, tidak untuk Ais.
Sepertinya Tuhan benar-benar tau kalau sejak tadi pagi Hafiz sangat menunggu waktu ini, dimana hanya mereka berdua yang duduk satu meja. Bahkan ia rela berputar arah kembali kekampus Ais, hanya untuk dapat berbicara secara langsung dengan istri kecilnya ini. Mencancel semua jadwal yang ada, dan menyuruh Ahmad menggantikan posisinya bertemu para klien. Karena sejak kejadian dipekarangan rumah yang setelahnya Ais pingsan tak ada komunikasi diantara mereka, terlebih hari ini Ais yang terkesan menghindari dirinya, sejak pagi bahkan sampai detik ini, Ais enggan menatap wajah dirinya.
"Kamu kenapa?" dua kata pembuka Hafiz untuk Ais. Tatapannya lekat pada wanita bukan gadis yang ada di depannya.
Ais tak menjawab, ia membuang muka kesembarang arah, berpura-pura tersenyum pada sahabatnya yang kebetulan melintas disamping meja mereka.
"Kenapa kamu menghindari suamimu sendiri?"
Ais menoleh, tertawa sinis lalu kembali membuang muka. Terlalu muak baginya berhadapan dengan manusia satu ini, meski tak dipungkiri jantung sedang bermasalah.
Hafiz dibuat geram dengan tingkah Ais yang terkesan cuek dan tak peduli padanya.
"Apa karna laki-laki itu?" Hafiz menunjuk Reza dibarisan antrian dengan tatapan tajamnya.
"Jangan melempar kesalahan sendiri pada orang lain, kak Reza tidak ada kaitannya"
Hafiz tau istrinya sedang marah. Tapi ia merasa bersyukur, akhirnya bisa kembali mendengar suara Ais bicara padanya, meski nadanya sedikit ketus.
Tangan Hafiz terulur ingin menyentuh tangan Ais yang ada di atas meja, tapi secepatnya Ais menarik tangannya.
Hafiz menertawakan dirinya sendiri, begitu jijikkah Ais padanya.
__ADS_1
"Saya tak mengijinkan kamu untuk ikut acara itu" Hafiz kembali berbicara datar.
Bersambung......