Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
38. Mawar putih


__ADS_3

Hafiz Vov


-


Ku kira dengan kembalinya Sofia, hidupku akan kembali dipenuhi cinta. Tapi nyatanya, aku dilanda dilema. Satu sisi aku mencintai Sofia, disisi lain tanpa ku sadari Ais turut bertahta di hatiku.


Aku membayangkan kebahagiaan luar biasa saat pertama kali melihat Sofia dibandara, dia semakin cantik, menarik, semakin bersinar, rinduku pun begitu besar untuknya. Kupeluk Sofia mesra, tak peduli dengan orang-orang yang ada di sana, rasanya bandara itu milik kami berdua, sampai-sampai aku mengabaikan keberadaan Ais. Entah apa yang Ais pikirkan, wajahnya bingung dipenuhi seribu tanya. Biarlah nanti kuberi tahu atau pun tidak, ia pasti akan mengetahuinya.


Suka cita itu tak berlangsung lama, aku salah, bahagiaku tak sebesar sakitnya aku, saat Adam mengakui Ais sebagai kekasihnya.


Jantungku serasa berhenti berdetak, hiporia penyambutan Sofia serasa berganti duka kematian.


Kenapa Adam seberani itu mengakui Ais sebagai kekasihnya, tak sadarkah dia jika Ais adalah istriku, kakak iparnya.


Tak cuma itu, ternyata Adam benar-benar serius, pengakuannya tak hanya sebatas ucapan, dia mempertontonkan aksi nyata, saat dibandara, dimobil bahkan dirumah pun ia memperlakukan Ais benar-benar seperti kekasihnya, sangat istimewa.


Andai dia bukan saudaraku, dapat dipastikan sejak di bandara pasti sudah kuhadiahi dengan tinjuan. Tapi aku harus menahan diri, banyak perasaan yang harus kujaga, terutama Sofia dan mama. Aku belum siap mengungkap semuanya pada Sofia, aku takut dia kecewa dan kembali meninggalkan diriku.


***


Kembali pada perlakuan Adam pada Ais.


Aku semakin tak bisa terima, saat Ais pingsan dengan sigap si Adam menggendong Ais kekamarnya, sungguh tindakan diluar logika. Tingkah Adam memang semakin gila, tak ada laki-laki yang berhak atas Ais kecuali aku. Meski kami tak pernah melakukan penyatuan, kecuali dimalam naas itu, tapi bagiku Ais hanya milikku. Milikku seorang, sampai kapan pun itu.


Untung saja mama tau apa yang kupikirkan, lalu ia ikut masuk ke kamar Adam, setidaknya Adam tak mungkin berbuat macam-macam di depan mama.


Sofia langsung mengajakku ke kamar, kami hampir melakukan penyatuan, namun entah apa yang ada dikepalaku sehingga aku tak bisa fokus pada Sofia. Sofia pasti kecewa, lama tak bertemu, dia pasti sangat-sangat menginginkanku, sebenarnya begitu pun aku, tapi entahlah. Mau bagaimana lagi, pusakaku tak mau bangun dari tidurnya. Apa ini karena kutukan? Entahlah.....


Sofia memilih beristirahat dengan memunggungiku, aku tau dia menangis. Mau bagaimana lagi, aku tak bisa berbuat banyak. Aku memilih berbaring telentang disampingnya, satu tangan bertengger dikeningku untuk menekan beban dikepalaku. Aku diam, tapi kepala bekerja keras memikirkan Ais dikamar Adam. Waktu terasa berjalan lambat. Suara detik jam begitu nyaring dirunguku. Sudah setengah jam berlalu, Ais tak kunjung kembali. Apa dia masih pingsan? Atau malah asyik bermesraan?


Hah........ini gila, benar-benar gila.


Tak lama, aku mendengar suara langkah kaki, makin lama semakin mendekat, meski terdengar pelan, aku yakin itu Ais.


Perlahan aku mendudukkan diri, memastikan Sofia tak terjaga, agar aksiku aman tanpa kendala. Aku berjalan menuju pintu, seperti maling mengintip mangsa, perlahan kubuka pintu, sebisa mungkin tanpa suara.


Begitu keluar kamar, kulihat Ais hampir menutup pintu, dengan sigap kubekap mulutnya, dan kututup pintu kamar dengan sebelah kakiku.

__ADS_1


Ada yang salah saat itu, badan Ais terasa bergetar. Perlahan kulepas bekapan tanganku.


"Abang!" kata itu mengalun lembut dirunguku. Kutarik lembut Ais dalam pelukan, kusalurkan rindu yang tak lagi tertahankan. Dia mematung kaku, terdiam tanpa membalas pelukan. Marahkah dia padaku?


Kuhirup aroma tubuhnya, lembut membuat gelora semakin membuncah, kupererat pelukan. "Maaf" satu kata lolos dibibirku. Maaf untuk semua yang terjadi. Hanya itu yang bisa kulakukan.


"Maafkan abang Ais.


Ais terdiam, masih dipelukanku, namun air matanya masih setia menghujani pipi kanan dan kirinya.


Semua ini terjadi diluar kendali.


Sampai detik ini, dia masih istri Abang, namanya Sofia, Ibu dari Adira.


Selama ini ia berada di LA untuk melanjutkan studynya.


Abang sangat mencintainya, sangat.....


Dia wanita pertama yang mengisi hati ini.


Abang harap Ais bisa merahasiakan pernikahan kita.


Jadi, tolong bersikaplah biasa saja saat ada dia diantara kita" itulah penjelasanku padanya.


Mendengar itu Ais, melepas pelukanku. Biarlah...., aku harus memberinya ruang untuk mencerna ucapanku.


Sampai ia bisa menerima semuanya.


Pagi harinya, aku berharap bisa dilayani Ais seperti hari-hari sebelumnya. Namun tak kulihat batang hidungnya, mungkin ia ada diruang lain, karena kami sudah terbiasa berangkat bersama, aku selalu mengantarkannya ke kampus.


Pagi itu, terasa aneh, aku dilayani Sofia, untuk pertama kalinya, setelah tiga tahun berlalu.


Bukan hanya aku yang mencari Ais, ternyata Adam juga sama, ia bertanya kepada mama, dimanakah Ais?


Ternyata jawaban mama mengejutkanku, Ais yang ku kira masih dirumah, ternyata sudah berangkat ke kampus.


Kekhawatiran jelas menghantuiku, aku tak ingin peristiwa tiga bulan lalu berulang kembali, meski ceritanya beda.

__ADS_1


Kupercepat makanku, untuk segera mengejar Ais, mudah-mudahan ia tak terlalu jauh.


Benar saja, dari jauh kulihat Ais masih berdiri ikut menunggu kedatangan bus.


Aku tersenyum bahagia, dipinggirkan mobil kearah halte bus. Senyumku berganti marah, saat mobil yang tak asing, terlebih dahulu berhenti di depan halte.


Benar saja, laki-laki bajingan itu lagi.


Bertingkah bak pangeran berkuda, dengan bangganya menjemput istriku masuk ke dalam mobilnya.


Dadaku terasa dibogem dengan tinjuan tanpa bayang, "Panas".


Aku menjadi penguntit, mengikuti kemana mobil itu membawa Aisku, setan berbisik di telinga, mengabarkan jika istriku sedang bermesraan dengan bajingan itu. Sepanjang jalan jantungku, tak beraturan. Hawa panas menguasai seluruh ragaku.


Sampailah aku di lokasi kampus, mengabaikan jadwal meeting dengan client. Untung saja hanya Ais yang turun dari mobil, jika sempat keduanya memamerkan kemesraan, dapat dipastikan baku hantam akan terjadi.


Aku tak habis pikir, kenapa Ais selalu memancing emosiku. Padahal aku hanya memberinya ruang untuk dia menerima semua ini, bukan untuk menggaet laki-laki lain.


Aku melanjutkan perjalanan kekantor, pas dilampu merah ada penjual bunga menawarkan mawar putih. Ingatanku langsung pada Ais. Aku harus berusaha membujuk Ais. Kubeli setangkai mawar putih, dan kembali putar arah menuju kampus, sebelumnya mengabari Ahmad untuk menghandle urusan kantor, termasuk client.


Senyum terkembang diwajahku, dengan semangat melangkahkan kaki menuju ruang kelas Ais.


Teori mengatakan, bahwa wanita akan melunak jika diberikan kejutan kecil, itulah yang kuharapkan saat ini.


Pintu kuketuk, netraku langsung bertubrukan dengan Ais.


"Sayang!"


Suara, itu, aku kenal suara itu.


Pandangan kuputar lurus ke depan, "Sofia"


Ada Sofia di sana.


Batal sudah rencana awal.....


Mawar itu....... untuk Ais, tapi menjadi milik Sofia.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2