Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
51. Marah


__ADS_3

Kondisi Hafiz berbanding terbalik dengan kehidupan Ais, benar kata orang, jika karma itu selalu ada. Tidak menunggu lama, saat itu juga ia mencicipi hasil kerja gilanya.


***


Hafiz Vop


Sudah tiga hari Dira menjalani perawatan, pasca operasi besar-besaran dibagian kepala. Imbasnya Dira hilang kesadaran. Dira dinyatakan koma.


Sehari setelah kejadian kecelakaan Dira, sebenarnya aku mulai menyadari kesalahanku dengan mengabaikan Ais di apartemen.


Walau sebelumnya aku sempat menyalahkan Ais atas apa yang menimpa Dira, tapi setelah kesadaranku kembali, aku menyesalinya. Ini salahku. Inilah sisi negatifku, jika ada suatu masalah yang menyinggung perasaan, aku tidak mampu mengendalikan emosi yang meledak-ledak. Sebenarnya aku sudah berusaha untuk melawan semuanya, tapi rasanya susah. Aku bagai orang kesetanan apabila berhubungan dengan sesuatu yang kusayang tidak baik-baik saja, atau bahkan akan pergi meninggalkan diriku.


Aku tidak mau hal buruk menimpa Dira, karena selama ini, Diralah yang menjadi penguat dalam menjalani kehidupan.


Dengan ugal-ugalan, aku melajukan mobil menuju apartemen. Beberapa kali sempat terdengar orang memaki kelakuanku. Jalanan kubuat seperti milikku seorang.


Bimbang, itu yang merajai hatiku saat ini. Aku bimbang dengan kondisi Ais. Disana ada Ais yang sedang menunggu diriku. Dia sendiri.


Tiba di basement, kuparkirkan mobil dengan asal. Aku berlarian menuju Loby untuk segera bisa naik kelantai sepuluh menggunakan lift.


Sikapku yang tak sabaran, langsung menerobos masuk kedalam lift, tak peduli bertabrakan dengan orang yang baru keluar.


Jangan tanyakan penampilanku, biarlah......aku tak peduli, yang terpenting Ais segera kujumpai.


Langkah terhenti tepat didepan pintu. Perlahan kubuka, tidak dikunci. Aku masuk sedikit tergesa, mata menelisik menyapu ruangan mencari keberadaan seseorang yang sedang memenuhi seluruh pikiran.


Kosong......


Langkahku menuju kearah meja makan, dimana beberapa hari yang lalu, disinilah aku memeluknya erat. Kejadian indah itu, masih membekas di sanubariku.


Kutatap meja makan, hanya nasi juga gorengan ayam dan ikan yang sudah mengeluarkan bau busuk. Makanan itu bahkan masih terbilang utuh, hanya sedikit saja yang sudah tersentuh.


Beberapa hari tidak bisa mengistirahatkan badan juga pikiran, membuat emosiku menjadi tak karuan. Terlebih sekarang sepertinya apartemen ini kosong, tak ada orang yang kucari. Sekuat tenaga aku berusaha tenang, berharap Ais ada dikamar sedang menungguku pulang dan memanggilku dengan kata "Abang".


Dengan sisa tenaga, kuayunkan langkah menuju peraduan, ternyata hasilnya sama, kosong.....


Hanya menyisakan bekas percintaan kemaren yang sudah mengering.


Kutajamkan pendengaran dengan nafas tak beraturan berharap Ais ada dikamar mandi. Mungkin harapan yang sedikit berlebihan.


Aku terduduk lemas disisi ranjang. Tidak bisa lagi berpikir jernih. Ingin mencari kemana juga rasanya tak tau. Bahkan kerumah pun dia tak pulang.


Sialnya disaat seperti ini, setan mulai membisikkan hal-hal buruk tentang Ais. Kutepis...., semakin si setan membogem hati.


Sambil mencoba berpikir, tatapanku terarah pada tali charger yang menggantung diatas nakas.


Kudekati, dan kuamati. Aku tau, itu hape Ais.


Kuraih benda pipih itu, untungnya tak terkunci. Baterai juga full 100 persen. Mungkin dengan hape ini bisa memberi petunjuk tentang keberadaan Aisku.


Begitu pesan WhatsApp kubuka, banyak pesan yang belum dibaca. Diantara pengirim, ada satu nama yang kukenal dan nama itu memang sudah masuk dalam daftar nama yang ku black list. "Reza"?


Tangan gemetar, debar jantung tak karuan, aku membuka pesan itu.


Deg.......


Kata-katanya sungguh menyakitkanku. Ternyata mereka ada rencana dibelakangku.

__ADS_1


Marah.....benci.....yang meledak-ledak sedang merajai seluruh ragaku. Andai dua orang itu ada di hadapanku....rasanya kini mereka tinggal nama.


Tanggal yang tertera di pesan itu tepat dimalam Adira celaka.


Aku harus membuat perhitungan, kubuka lagi log panggilan, ternyata Ais ada menelponnya. Pasti sekarang mereka sedang bersama, menertawakan keterpurukanku.


"Ais, jangan salahkan aku jika sampai sesuatu terjadi padamu. Karena itu semua kamu yang minta" itulah janjiku.


***


Empat hari sudah Adira dirawat, belum juga ada tanda ia akan sadar.


Adam, mama juga Sofia ada dirumah sakit untuk menjaga Adira. Mama meminta diriku untuk pulang kerumah biar bisa beristirahat. Aku mengikuti saran mama, karena memang benar sekarang kondisiku sedang tidak baik. Belum memikirkan Dira, juga ditambah rasa sakit hati atas penghianatan Ais.


Setibanya di rumah, bukannya istirahat, aku malah duduk dibalkon untuk merokok.


Tidak cukup sebatang, sekarang sudah masuk yang ketiga. Kuhisap benda bernikotin. Aku berharap, dengan menghisap benda ini, membuat jiwaku sedikit tenang.


Disaat kegiatan bercandu ria, mataku menangkap sebuah mobil asing yang berhenti didepan pintu pagar. Ahmad rasanya tak mungkin. Apa.......?


Deg.......


Ais???, ternyata wanita ****** itu masih berani menampakkan diri setelah berkhianat dibelakangku.


Laki-laki mana lagi yang mengantarnya pulang? Apa bajingan itu? atau yang lain lagi?


Kupijak sembarangan rokok yang belum setengah kubakar. Aku harus membuat perhitungan pada wanita ****** itu.


Langkahku melebar, mataku membulat, jantungku berpacu cepat.


Tag.....


Rindu, tapi marah lebih dominan. Sapaannya terasa menjijikkan.


Pakkkkk.....


Satu tamparan untuk mewakili hatiku yang kesakitan.


Aku kembali kesetanan.


Segala umpatan, cacian, hinaan serta kata-kata kotor kuucapkan untuknya.


Ini semua tak sebanding dengan pengkhianatan yang dia lakukan.


Kugigit leher juga dadanya, membayangkan adegan jijiknya bersama bajingan itu.


Sekali lagi kuhina dia habis-habisan.


Tunggu, dia bilang dia sedang hamil anakku.


Cuihhhhh...... dugaanku benar, dia kembali karna telah dicampakkan.


Jangan sebut namaku, jika masih menerima bekas orang.


Detik itu juga, kuceraikan dia dengan talak satu.


Jangan sampai dia kembali menampakkan wajahnya padaku, akan kubuat lebih kejam lagi dari hari ini.

__ADS_1


Kutarik Ais tak ubah seperti binatang, tak peduli lagi apa pandangan tetangga, sekarang aku puas.....sepuas.....puasnya.....


Selamat tinggal wanita ******.Tempatmu memang jalanan.


***


Hari ini, seminggu sudah Dira koma, aku pun sudah kembali mulai bekerja, sedikit-sedikit ingin kukikis memori tentang Ais. Bagaimana pun aku harus Move on. Tidak ada gunanya terlalu lama larut dalam kesedihan. Pengkhianat sudah selayaknya dibuang.


Fokusku sekarang hanya untuk Dira dan Sofia wanita yang jelas-jelas selalu setia padaku.


Hari ini, semua pekerjaan bisa kuselesaikan lebih cepat. Jadi aku bisa langsung kerumah sakit menemui Dira.


Hanya butuh sepuluh menit waktu yang digunakan untuk sampai kerumah sakit. Tadi aku mendapatkan kabar, mamalah yang bertugas menjaga Adira.


Tanganku hampir menyentuh gagang pintu ruangan Diri.


"Maafin mama sayang, Dira jadi seperti ini karna mama" suara dari dalam ruangan Dira yang dapat kudengar dengan jelas. Soalnya pintu sedikit terbuka.


Aku tau itu suara siapa. Sofia. Tapi kenapa Sofia seolah-olah menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Dira. Apa mungkin.......?


Dengan tak sabaran kudorong pintu dengan sedikit kasar.


Sofia kaget, ia menoleh ke arahku. Wajahnya memucat, seperti pencuri tertangkap tangan.


"Apa maksudmu?" tanyaku dengan tak sabaran juga sedikit emosi.


"Sa....sayang" ucapnya gugup disamping Dira yang masih terpejam.


"Apa maksudmu, dengan mengatakan jika yang menimpa Dira itu ulahmu?"


Sofia tak bisa menjawab, wajahnya tertunduk tak berani melihat wajahku. Air matanya sudah membasahi pipi.


"Apa benar, jatuhnya Dira dari tangga perbuatanmu?" tanya ku lagi.


Dia mengangkat wajah, memberanikan diri menatapku.


"Aku tidak sengaja, waktu itu Dira tidak mau kusentuh, tapi aku terus memaksa dan sedikit kasar padanya. Aku kesal. Kenapa Dira tidak mau kusentuh, padahal aku ibunya, ibu yang sudah melahirkan dia. Karena takut, dengan tergesa-gesa dia berlari keluar kamar. Setelah itu tau-tau dia sudah terjatuh" tutur Sofia.


Aku rasanya tak percaya dengan apa yang kudengar.


Detik berikutnya kucengkram dengan kuat kedua bahunya. Kugoncang tubuhnya.Dengan amarah aku berkata "Ibu??? mana ada ibu yang tega meninggalkan bayinya demi karirnya? Kamu memang sudah melahirkan Dira, tapi kamu tak pantas dipanggil ibu! Karena akulah yang sudah merawatnya dari masih merah hingga sekarang. Dan sekarang kamu malah membuatnya celaka"


Semua kekecewaanku pada Sofia akhirnya terucap hari ini. Selama ini aku selalu mengalah, demi cinta. Tapi kenyataannya aku salah.


Tiba-tiba badan Sofia melemas ditanganku. Dia pingsan. Dengan sigap kupeluk tubuhnya agar tidak membentur lantai.


***


Dokter memanggilku, ada sesuatu yang akan dibicarakan tentang Sofia. Karena saat ini Sofia masih terbaring lemas diatas brangkar. Tadi, aku langsung meminta bantuan perawat untuk mengecek kondisi Sofia yang tiba-tiba pingsan. Mungkin karena takut melihat kemarahan ku.


"Silakan pak!" dokter mempersilakan aku untuk duduk dihadapannya, masih diruangan Sofia diperiksa.


"Bapak suaminya?"


Aku mengangguk.


"Selamat pak! istri bapak......

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2