
Roboh sudah bendungan Ais, dipermalukan diantara sahabatnya, membuat ia tak lagi punya muka.
Nia hanya mampu mengelus-elus lengan Ais, untuk memberi kekuatan. Sekaligus ucapan lewat bahasa tubuh "yang sabar, semuanya akan baik-baik saja" begitulah kira-kira maknanya.
Reza melirik ke arah Ais, tatapannya penuh kesakitan, melihat orang yang ia cintai diperlakukan sedemikian rupa. Jika bisa, ingin rasanya menarik Ais kedalam pelukan. Tapi itu tak mungkin ia lakukan, karena ia tau Ais sangat menjaga diri, jangankan dipeluk, berpegangan tangan saja mereka tak pernah.
"Kamu tenang aja, nanti biar saya yang bicara sama Hafiz"
Sofia tersenyum kaku, ia juga merasa malu dan tak enak hati dengan sikap Hafiz yang tiba-tiba berubah ketus dan cenderung arogan.
"Saya pamit dulu ya?" Sofia membalik badan dan berlalu pergi dari kantin. Meninggalkan makanannya yang masih setengah mangkok.
Kini tinggal Reza dan Nia yang tetap duduk disamping Ais sambil memberi kekuatan dan support untuk Ais.
Acara makan siang itu jadi berantakan, tak ada satu pun yang menghabiskan pesanan mereka.
Reza benar-benar dibuat kesal oleh Hafiz, kali ini ia harus bicara serius pada Ais. Ia tak ingin orang yang dicintainya menderita terlalu lama, karena sejak awal ia tau, Hafiz selalu semena-mena pada Ais.
"Nia, bisakah tinggalkan kami berdua?" pinta Reza pada Nia.
Tanpa banyak kata, Nia hanya mengangguk dan sebelum berlalu pergi, ia menepuk-nepuk bahu Ais.
Ais tetap tertunduk dengan deraian air matanya.
Setelah Nia benar-benar meninggalkan mereka berdua, Reza buka suara "Ais, sudah waktunya kamu berhenti bekerja dengan orang yang tak bisa menghargai orang lain"
Ais menoleh ke arah Reza, menanti kelanjutan kalimat Reza. Karena tak mungkin rasanya ia memutuskan berhenti, sementara masih banyak hal yang harus ia pikirkan, terutama masalah uang.
Reza tau apa yang sedang dipikirkan Ais. Ais pasti mengkhawatirkan soal biaya. Biaya untuk kuliahnya juga untuk orang tuanya di kampung halaman.
"Kamu tenang aja, aku akan membantumu soal biaya, baik untuk kuliahmu disini maupun untuk orang tuamu dikampung"
Ais masih tak bicara, namun air matanya mulai perlahan mengering, menyisakan sesegukan.
Reza tau Ais tak akan mudah menerima bantuan dengan cuma-cuma, jadi ia harus mencari cara agar Ais tak menolak keinginannya.
"Kakak akan mempekerjakan bapak untuk menjadi kasir di restoranku yang ada di kota P. Hanya saja bapak harus keluar kota. Tapi kalau bapak mau, di perusahaan sawitku juga bisa, kebetulan di sana tidak ada orang yang mengontrol, karna jadwal kakak yang terbilang padat. Jadi bapak boleh tolong memantau perusahaan, tanpa harus keluar kota. Kamu tenang aja, kerjaannya ringan kok, hanya melihat orang kerja.
Untuk Ais, jika mau kamu boleh bekerja setelah pulang dari kuliah"
Ais tampak menimbang-nimbang apa yang barusan dikatakan Reza. Kalau bukan karna status Ais yang notabennya seorang istri, dapat dipastikan ia akan mengiyakan tawaran Reza saat itu juga.
__ADS_1
"Gimana?"
Reza menunggu jawaban dari Ais, ia sangat berharap Ais akan mengiyakan tawarannya. Ia tak bis melihat Ais menderita lebih lama, dan jika bisa, sebenarnya ia ingin mengutarakan niatnya pada Ais. Tapi rasanya, sekarang bukan waktu yang tepat.
"Aku.....aku belum bisa memutuskannya sekarang kak"
Reza tersenyum "Ia aku tau, kamu tidak harus memutuskannya saat ini juga, bicarakan dulu sama bapak dikampung"
Ais tersenyum pada Reza, sikap Reza yang seperti inilah yang membuat ia menghangat dan sempat melabuhkan cintanya pada Reza, orang yang tidak pernah memaksakan kehendak, sangat berbeda dengan si kadal. Jika bisa memutar waktu, rasanya tak ingin Ais......ah.....sudahlah.
Takdir tak selalu sesuai dengan harapan, memaksa Ais iklas dengan keadaan, mengubur cinta itu jauh di dasar jurang kekecewaan. Entah siapa yang harus ia salahkan, tak mungkin juga marah pada yang menyuratkan takdir.
"Kak.....?"
"Ia kenapa ?" Reza melihat mata Ais kembali berkaca-kaca.
"Boleh peluk?" mata itu sayu, menggambarkan kerapuhan, memohon mencari sandaran.
"Ha..." Reza kelabakan, apa benar kata-kata itu dari lisan Ais? bukankah Ais......
Tak sempat melanjutkan tanya dalam hati, kini Ais sudah berada dipelukan Reza.
Reza mematung, masih sedikit shock, dengan yang terjadi saat ini. Barulah didetik kemudian ia juga membalas pelukan Ais, mengelus surai hitam milik Ais.
"Bapak....!
Ibuk.....!
Ais kangen....!
Hik....hik.....
Ais kangen bapak sama ibuk kak"
Tak ada sahutan dari Reza, namun pelukannya menjawab semuanya.
Ais merasa tenang berada dipelukan Reza.
Belum menyadari jika yang dilakukannya ini salah.
Salah karena ia istri orang, salah karena ini akan membuat Reza semakin melambungkan harapan.
__ADS_1
Biarlah......
Ais tak peduli lagi....
Beban itu sudah terlalu lama ia pendam sendiri, jiwanya lelah....
Ia butuh sebuah pelukan.....
Aksi Ais dan Reza menjadi tontonan orang yang ada di sana, mereka mengira keduanya dilanda mabuk cinta. Menimbulkan berbagai tanggapan, ada yang dibuat baper, dan ada yang mencibir. Karena tak seharusnya mereka berpelukan di tempat itu, apalagi ini kampus.
"Astagfirullah......, mimpi apa aku semalam, tadi dikelas, sekarang kantin. Apa karena terlalu banyak melihat drama Korea, makanya banyak adegan seperti ini? Ini tak bisa dibiarkan" suara hati Rian yang saat itu akan membeli minuman dikantin. Tak disangka ia menyaksikan pemandangan yang membuat matanya sakit. Karena sejak awal, Ais adalah gadis incarannya.
"Woi......udah dulu pelukannya, dosen sebentar lagi masuk!" Rian yang berada dibelakang membubarkan pelukan Ais dan Reza.
Ais yang tersadar, buru-buru melepas pelukan Reza, "Astagfirullah! Maaf kak Ais lancang"
Rasa sedih, kecewa menarik Ais ke alam bawah sadar, membuat ia bertindak mengikuti perasaan, bukan logika. Sehingga setelah tersadar ia jadi malu sendiri, dan bertanya-tanya kenapa bisa ia seperti itu?Terlebih ini adalah kantin.
Reza tipe lelaki yang cepat tanggap dan bisa membaca pikiran Ais.
"Udah jangan dipikirin, yang penting sekarang nggak sedih lagi kan" ia mengacak rambut Ais.
Ais mengangguk malu.
"Sekarang mau shalat, apa langsung kekelas?" tanya Reza.
"Astagfirullah....Ais belum sholat"
Secepat kilat Ais berlari ke arah mushola, Reza dan Rian hanya geleng-geleng kepala.
"Tadi berkawankan setan, sekarang pergi mencari Tuhan" gumam Rian pelan sambil memandang ke arah Ais yang hampir menghilang.
Reza mengerutkan dahi, merasa aneh dengan ucapan Rian. Ditatapnya Rian dengan tatapan tak suka.
"Tau apa kamu tentang Ais" ucapnya ketus.
"Eh, maaf kak, permisi...mau kekelas"
Ucap Rian sambil cengengesan. Memilih segera menghindar, dari pada dapat amukan.
Sementara menunggu, saya update boleh mampir ke novel kak Teti kurniawati, ceritanya tak kalah seru dengan novel-novel yang sudah terkenal, aku benar-benar suka ceritanya🥰🥰🥰
__ADS_1
-