
Seperti yang telah direncanakan kemarin, pagi ini Ais akan pergi ke kampus untuk menghadiri acara penyambutan maha siswa baru.
Semalaman Ais memikirkan baju yang cocok untuk ia pakai hari ini. Berbagai referensi ia dapatkan dari hasil menggoogling.
Bisa dimaklumi, karna ini adalah hari pertama Ais akan mengijakkan kaki di kampus, setidaknya ia ingin memberikan kesan tersendiri pada orang-orang yang ia temui disana. Setelah kurang lebih satu jam kegiatan memilah memilih dan mencoba baju yang ia miliki, akhirnya pilihan hatinya jatuh pada sebuah baju kurung berwarna merah maroon, pemberian puan Jijah sewaktu Ais menemani ia berbelanja.
"Perfect"
Satu kata untuk penampilan Ais pagi ini. Sepasang baju kurung merah maroon membalut tubuh yang berkulit kuning langsat.
Ais sengaja membiarkan rambut lurus panjang tergerai indah, dengan mengikat sedikit rambut dibagian puncak kepala.
Pagi ini Ais benar-benar mengubah penampilan maid menjadi tampilan seorang mahasiswi. Tak ada bedak tebal yang terkesan berlebihan dari dandanan yang ia kenakan.
Ais hanya memakai pelembab, selanjutnya di lapis dengan bedak tabur. Memasang eyeliner untuk mempertegas mata bulatnya. Tak lupa ia menambahkan sedikit gincu pink muda, pada bibir tipis, untuk menambah manis diwajahnya. Hanya dengan itu mampu membuat wajah Ais menjadi cantik natural.
Selesai berdandan, Ais langsung menuju ruang makan menyiapkan sarapan pagi untuk tuan Hafiz dan dirinya sendiri.
Pagi ini sengaja tak ada ritual memasak, ia hanya membuat sarapan roti yang di lapis selai.
Seperti hari-hari biasanya penampilan Hafiz selalu indah di pandang mata, kemeja putih, dipadankan celana kain berwarna hitam, dan dasi bermotif garis. Tak lupa tas selempang Napoleon tersampir di bahunya, sementara tangan yang satunya membawa jas berwarna hitam.
Saat menuruni anak tangga, tatapan Hafiz langsung tak berkedip melihat sosok wanita yang ada di meja makan, sehingga Hafiz menghentikan langkah. Dari belakang tampak tampilan cantik wanita dengan rambut tergerai panjang sedada, dengan balutan baju kurung berwarna maroon sedang mengoles selai di meja makan.
"Ais..?" itulah gumamnya dalam hati, seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Dengan perasaan kalut ia mendekat ke arah meja makan. Menyadari kehadiran Hafiz, Ais menoleh sebentar, selanjutnya menyibukkan diri lagi dengan mengoles selai pada roti. Ia tak ingin ada sesuatu apa pun yang dapat merusak moodnya hari ini.
__ADS_1
Masih mode silent, Hafiz menarik kursi di depan Ais, selanjutnya menyampirkan jas pada sandaran kursi, terahir mendudukkan diri.
Hafiz menatap lekat ke arah Ais, namun tak ada respon yang Ais berikan, ia masih disibukkan dengan menuang kopi ke dalam gelas Hafiz.
Selanjutnya mengambil sepotong roti dan berniat beranjak menuju dapur, karna memang dapurlah markas yang cocok untuk pembantu sepertinya.
Lagi-lagi Hafiz mencegahnya, entah karena rasa tak rela kehilangan pemandangan indah, atau sudah mulai merasa suka, hanya Hafiz yang tau. Tapi Hafiz selalu beralasan ada sesuatu yang akan ia sampaikan.
"Ais, breakfast saje di sini, ade yang nak saye sampaikan" ucapnya pelan tapi penuh ketegasan.
Tanpa sepatah kata Ais mengikuti kemauan majikannya, ia duduk berhadapan dengan tuan Hafiz.
Berkali-kali menyeruput kopi, kemudian barulah Hafiz kembali berbicara, "Aku akan mengantar hanye sampai depan gerbang, selanjutnye Ais masok sendiri, paket internet di hp awak juge sudah terisi, jadi begitu ingin balek wa je saye, jangan telpon" paparnya pada Ais.
"Ais hanya mengangguk pelan, menggigit roti dengan pandangan sedikit tertunduk.
"Ais, kalau aku bicare tolong di pandang!" ucap Hafiz sedikit jengkel, karena setiap kali ia bicara, Ais enggan melihat ke arahnya.
"Nah....macam tu kan elok, jangan khawatir, aku tak akan tergode dengan penampilan awaklah" Entah apa yang mendasari Hafiz berbicara seperti itu, seolah-olah Ais berniat ingin menggodanya.
Mendengar itu Ais semakin jengkel, tanpa berniat melihat ataupun berbicara dengan laki-laki yang ada dihadapannya ia bangkit, meninggalkan meja makan.
Hafiz yang melihat tingkah Ais, menjadi emosi sendiri. Roti yang ada di tangan menjadi sasaran, digigit sekuat hati dengan menahan rasa entah apa itu.
🍀🍀🍀
Sepanjang jalan tak ada pembicaraan, keduanya terlihat asing dengan dunianya sendiri. Hafiz khusuk menyetir, sedang Ais berselfi ria dengan menampilkan senyum termanisnya di bangku belakang.
__ADS_1
Hafiz bisa melihat itu dari kaca spion.
" bisa-bisanya dia berselfi ria, seolah aku jadi sopirnya" gerutunya dalam hati sambil menatap ke arah spion yang ada di atas kepalanya.
Ais tau, jika Hafiz sedang memperhatikan dirinya. Dalam hati ia berkata " masak bodoh, emang gue pikirin"
Selesai berselfi, Ais langsung meng-upload di media sosial dengan caption " Bismillah, mulai hari dengan satu senyuman" tak lupa ia menyematkan lokasi keberadaannya sekarang.
Sesaat kemudian banyak komentar dan like membanjiri foto yang ia posting. Salah satu yang mengomentari statusnya adalah Reza.
Karena Hafiz tiba-tiba menghentikan mobil, mengurungkan niat Ais untuk membaca dan membalas komentar yang masuk.
Ternyata sekarang mereka tepat berada di depan pintu gerbang SWINBURNE UNIVERSITY.
Saat Ais sibuk melepaskan self belt, terdengar suara Hafiz. "ingat nanti kalau mau balek wa aku, jangan balek sendiri!" ucapnya tegas.
Tanpa bersuara Ais keluar dari pintu mobil dengan satu tas menyampir di bahunya. Baru selesai menutup pintu mobil, Ais dibuat terperangah dengan sikap Hafiz yang langsung menancap gas.
"Astagfirullah....dasar orang gila" gerutu Ais sambil menatap ke arah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Sedang dalam mobil, Hafiz juga mengutuk Ais, "Dasar pembantu tak beradap, bisa-bisanya dia mendiamkan ku" sambil memukul setir mobil meluapkan kekesalannya.
☘️☘️☘️
Ditempat yang berbeda.
Laki-laki berpostur tubuh 175 cm, menatap manis foto yang berhasil ia screenshot dari media sosial seseorang. "Kamu cantik....., hari ini kita akan kembali bertemu sayang" ucapnya dengan tarikan di sudut bibir membentuk sebuah senyuman manis.
__ADS_1
Dialah Reza, sahabat dalam diam menaruh hati pada Ais. Kebetulan hari ini ia juga ada kegiatan di kampus tempat Ais kuliah. Kampus yang juga pernah menjadi tempat ia menuntut ilmu setahun yang lalu. Kali ini Reza diundang sebagai salah alumni dan sekaligus menjadi motivator muda yang sukses di bidang enterpreneur.
Baju kaos putih polos, dipadu padankan dengan blezer abu-abu tua yang sengaja tidak di kancing, celana berwarna senada dengan model rambut undercut, sedang di bagian bawah ia menggunakan sepatu ket berwarna hitam. Tampilan sempurna untuk laki-laki berusia 24 tahun. Ditambah kendaraan Range Rover putih yang ia kendarai, menambah kesan maco, membuat kaum hawa menelan ludah melihat kesempurnaannya.