Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
Bab#7


__ADS_3

"Shuttttt.......maafkan aku Ais, ini semue salahku. Aku tak akan membiarkan hidupmu menderite.


Aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku,...dengan menikahimu". Hafiz meyakinkan Ais yang masih terus memberontak dipelukannya.


Ada mantra dari kata-kata Hafiz, perlahan-lahan, Ais mulai tenang. Padahal beberapa detik yang lalu, emosi Ais meledak-ledak tak terkendali hingga ingin mengakhiri hidupnya.


Mungkin pelukan Hafiz yang memberi ketenangan, mungkin juga kata-kata Hafiz si lelaki dingin yang tak pernah bicara padanya.


"Kite akan menikah dalam waktu terdekat ini, jangan pernah berbuat gile seperti tadi, tatap mataku Ais!" Hafiz dengan kelembutannya memaut dagu Ais untuk melihat ke arahnya.


Ais dengan ragu mengikuti apa yang di instruksikan Hafiz, perlahan ia memberanikan diri menatap bola mata Hafiz.


Ada ketulusan di matanya, ada keseriusan dari ucapannya.


"Apa aku harus mengiyakan setiap ucapannya? tidak..., Ais! laki-laki di depanmu ini adalah orang yang kejam, dengan tega menghancurkan masa depanmu, ingat itu!


Tapi, laki-laki ini telah menyesali perbuatannya Ais, biarkan ia mempertanggung jawabkan perbuatannya, terimalah.... tawarannya untuk menjadikanmu istrinya.


Ingat... Ais! ia telah menodaimu, tidak menutup kemungkinan kamu bisa saja hamil. Jika kau menolak untuk menikah dengannya, bagaimana nasibmu nanti?


Pikirkan itu!...


Jika aku menyetujui menikah dengannya, bagaimana aku akan menjelaskan pada ayah dan ibu di kampung?"


Dua sisi diri Ais saling bertentangan. Ais semakin dibuat bingung untuk membuat keputusan. Ais menundukkan pandangannya.


"Jangan khawatir, dalam waktu terdekat ni, kite akan ke Indonesia untok menemui orang tue mu, serahkan semuenye pade ku" Ucap Hafiz, seolah tau apa yang ada di kepala Ais.


Ais tetap membisu, mendengar ucapan Hafiz membuat ia tak bisa merangkai kata. Hanya gerak gerik bola mata Ais yang terlihat aktif bekerja, memindai sempurna wajah Hafiz dan berusaha mencerna setiap kata yang Hafiz ucapkan.


Kini lelaki dingin yang ia kenal, tiba-tiba menjadi lelaki hangat penuh tanggung jawab.


"Hanya karena tanggung jawab, ia akan menikahiku, Keputusan tepatkah jika aku menerimanya sebagai suami, tanpa berlandaskan cinta? apa aku akan bahagia?" suara batin Ais kembali bersuara.


"One more thing, aku juge telah memikirkan mase depanmu Ais, engkau akan melanjutkan studymu disalah satu university yang ade disini, soal biaye semue akan aku tanggong, jadi begitu kite ke Indonesia, kite akan mengurus semuenye" Ucap Hafiz pada Ais. Hafiz berharap apa yang akan ia lakukan ini setidaknya bisa mengurangi sedikit rasa bersalahnya pada Ais.


Mendengar akan dikuliahkan di negeri Malaysia, mata sembab Ais tiba-tiba berbinar, ada setitik cahaya harapan untuk masa depannya di sana.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Ais dengan sedikit ragu-ragu, seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Tentu saje benar...


Sebelumnya aku juge akan menjelaskan pade mama tentang pernikahan kite, Insyaallah mama pasti setuju"


Hafiz merasa akan sangat mudah baginya untuk mendapat restu dari puan Jijah, itu semua dikarenakan sebelum-sebelumnya, puan Jijah pernah berniat menjodohkan Hafiz dengan Ais, dan saat itu Hafiz menolak.


"Maaf Ais, ini semue mungkin bukan atas kehendakmu, tapi percayelah semue yang terjadi semalam, diluar kendaliku" Hafiz meneteskan air mata, ia akan terus menyesali perbuatannya terhadap Ais.


Ais hanya mematung, air matanya kembali mengalir, kata-kata Hafiz mengingatkan ia akan kejadian semalam, yang membuat jiwa dan raga terasa teramat sakit.


Dalam hitungan persekian detik, Hafiz teringat akan ucapan puan Jijah yang meminta pertolongannya untuk membawa Ais berobat, katanya Ais demam.


Reflek Hafiz menyentuh kening Ais, "Ais badanmu panas" muncul kekhawatiran diwajah Hafiz. "Kite ke dokter!" Hafiz menarik pelan tangan Ais, entah mengapa, ia kini seperti sangat leluasa melakukan kontak fisik terhadap Ais. Padahal sebelum kejadian semalam, jangankan untuk memegang tangan, menatap Ais saja ia lakukan dengan diam-diam.


Ais menarik pelan tangan yang dipegang Hafiz, perlahan ia berjalan menuju ranjang pembaringan dan mengistirahatkan diri disana.


Hafiz tau, Ais tak akan mau pergi berobat bersamanya, lalu ia mendekat ke arah Ais, dan duduk dipinggir ranjang, " Ais dah sarapan?"


Ais membalas dengan gelengan kepala.


Ais menatap punggung lelaki dingin yang tiba-tiba berubah menjadi laki-laki hangat. Sebelum menutup pintu kamar Ais, Hafiz melontarkan pandangan.


Begitu pintu kamar tertutup, Ais terduduk di pinggir kasur, dengan kedua tangan mengusap kasar ke arah wajah, semua yang ia alami seperti mimpi.


Semalam ia mendapatkan perlakuan seperti binatang, pagi ini ia hampir mengakhiri hidup, disaat bersamaan, laki-laki yang ia sumpahi untuk dibenci seumur hidup, tiba-tiba menawarkan diri untuk menjadi suaminya.


Ada tawaran yang tak kalah membuat dirinya kembali on "ditawarkan kuliah dengan biaya ditanggung oleh tuan Hafiz".


"uppppp....., ada yang hampir terlupakan, Adira....?


Adira....anak tuan Hafiz,


jadi pasti Adira mempunyai seorang ibu, ya ibu, siapa ibu Adira?


kemana ia sekarang?

__ADS_1


Masih hidupkah?


Atau sudah mati?


sudah berceraikah?


atau masih menjadi istri tuan Hafiz"


Berbagai pertanyaan kembali berkecamuk di otak Ais, kenapa ia begitu mudah tertarik dengan tawaran tuan Hafiz, tanpa memikirkan hal yang lebih urgen.


"Sebelum menikah, aku harus mencari tau siapa istri tuan Hafiz, harus....!"


☘️☘️☘️


Di tempat berbeda....


Adam kini telah sampai di negeri singa, dengan di dorong oleh laki-laki yang menemaninya, ia menuju sebuah kamar apartemen.


Tak ada pembicaraan antara keduanya, hening dan sepi sambil menyelusuri lorong apartemen.


Adam si lelaki ceria, kini kembali menjadi Adam yang pendiam.


Tak lama mereka telah memasuki apartemen, cukup luas, ada dua kamar di sana, terdapat meja bar sebagai sekat antara ruang tamu dan dapur. Semua barang masih tertata rapi, karena di apartemen itu telah disiapkan tukang bersih-bersih yang datang seminggu dua kali. Tak ada yang berubah, semua masih sama di mata Adam.


Beberapa tahun yang lalu, Adam pernah tinggal disini, saat ia menuntut ilmu.


Apartemen ini adalah kepunyaan orang tua Adam, Almarhum papanyalah yang telah membelinya.


"Dam..., aku kebawah lagi, nak ambek koper kite" ucap Faruq dan dibalas anggukan oleh Adam.


Adam memutar-mutar kursi roda mengarah ke arah kamar, ia berniat untuk langsung mengistirahatkan diri, tidak tidur semalaman membuat kepalanya merasa berat.


Tiba-tiba ia teringat akan Ais, rindu....


Biasanya di jam seperti sekarang ini Ais datang menghampirinya manawarkan berbagai tawaran bantuan.


Tapi kini semua telah berubah, bahkan ia tak tau bagaimana kondisi Ais saat ini. Adam merapa saku celana, mengambil hp lalu menekan sebuah pesan.

__ADS_1


" Ma..., Alhamdulillah Adam sudah selamat sampai". Pesan untuk sang mama telah terkirim. Pelahan Adam menjatuhkan diri di kasur, beberapa menit kemudian ia pun tertidur.


__ADS_2