
Sepanjang perjalanan pulang dari bandara, aku lebih banyak diam, baru bersuara apabila ditanya. Aku memilih duduk dibangku baris ketiga, baris paling belakang. Adam duduk dibaris tengah bersama Puan Jijah dan Adira. Adira tertidur nyenyak dipangkuan puan Jijah, mungkin capek selama perjalanan. Sedang Abang Hafiz duduk dibangku kemudi dengan miss misteri disampingnya.
Dinginnya suhu AC mobil tak mampu mendinginkan hatiku, malah aku merasa sangat kegerahan. Seluruh jiwa ragaku serasa dipanggang saat menyaksikan tingkah Miss misteri yang selalu menempel dibadan Abang Hafiz. Namun yang anehnya tak ada penolakan dari Abang. Senyumnya terkembang sepanjang jalan.
Bahkan senyum yang tak pernah kudapatkan selama aku mengenalnya.
Apa benar laki-laki ini adalah orang yang sama dengan orang yang menikahiku.
Tingkahnya terlihat hangat, sekali-kali ia mengelus lembut pucuk kepala wanita disampingnya. Tatapan keduanya bertemu mengisyaratkan saling damba.
Astagfirullah......
Semakin lama menyimak pembicaraan mereka, aku mulai menduga jika wanita itu adalah pacarnya Abang atau .....
Aku tak sanggup melanjutkan dugaanku, semakin aku menduga-duga hatiku semakin sakit, terasa diperas dengan jeruk sambal, berubah pucat dan perih yang luar biasa. Cairan kristal sudah hampir jebol dari bendungan, sekali-kali kusapu dengan ujung lengan baju, untungnya aku duduk paling belakang, jadi tak ada yang tau jika saat ini aku menangis dalam diam.
"Ais!" panggilan Adam mengejutkanku.
Ia menoleh kearah ku yang duduk tepat dibelakangnya.
Abang Hafiz juga melirik ke arahku lewat kaca spion yang ada diatas kepalanya.
"Ia..." jawabku pelan, dengan suara sedikit parau.
"Suaramu kenapa? kamu sakit?"
Wajah Adam berubah khawatir, secepat kilat ia meletakkan punggung tangannya dikeningku.
Sekhawatir itukah dia padaku? sementara laki-laki yang menyandang status suami, asyik bermesraan didepan mataku, tanpa mau tau apa yang kurasakan. Apa aku memang tak dianggap ada?
Seharusnya aku tak perlu merasakan perasaan aneh ini, tak perlu merasa sakit hingga sesakit ini. Tapi apa dayaku, rasa itu hadir sendiri tanpa aku mau.
"Ya ampun, badanmu dingin sekali" Perlahan kutepis tangan Adam yang menempel lekat dikeningku.
Namun gerakan tangannya malah secepatnya berubah menggenggam tanganku.
"Kamu sakit Ais? tanganmu juga dingin banget"
__ADS_1
"Ia aku sakit, sakiiiiittttt banget Dam" Lagi-lagi itu hanya suara hatiku.
Pelan kutarik tanganku dari genggaman Adam.
"Aku baik-baik aja, don't worry" Senyum kikuk kutampilkan, untuk mengurai kebimbangan Adam.
Aku sedikit malu, puan Jijah menatapku dan Adam penuh curiga. Aku tak mau dia berburuk sangka. Selagi bisa menghindar kenapa tidak.
"Lihat sayang! Ternyata Adam bisa juga ya, perhatian sama perempuan?"
Canda Miss misteri sambil bergelayut manja dilengan bang Hafiz.
"Ya bisalah....,tapi tak semua perempuan, hanya Ais. Sebab, hanya Ais wanita spesial dihatin Adam" Jawab Adam penuh kebanggaan sambil melirik ke arahku.
Apa Adam tidak tau, jika aku ini adalah kakak iparnya? Apa puan Jijah tak memberitahukan perihal pernikahanku bersama Abang Hafiz, tapi rasanya tak mungkin.
Aku pura-pura sibuk dengan hape, dan berpura-pura tak mendengar obrolan mereka. Wanita manapun pasti akan tersanjung mendengar ucapan Adam, termasuk diriku, tapi itu dulu, saat aku belum menjadi istri tak dianggap oleh lelaki jahat.
Tatapan tajam Hafiz lurus kedepan, buku-buku jemarinya juga memutih, menggenggam kuat stir mobil. Melampiaskan kekesalan pada sesuatu yang tak ia sukai, entah apa itu?
"Hafiz, kecilkan AC nya, mungkin Ais kedinginan!" pinta puan Jijah pada orang yang tiba-tiba diam tanpa kata. Padahal beberapa saat tadi sempat mempertontonkan kemesraannya.
"Sayang, mami minta AC nya dikecilkan!"
Abang reflek tersadar, dan langsung mengecilkan suhu AC.
"Whattttt....sayang...? mami? oh.....jadi selama ini aku sudah tertipu mentah-mentah, kukira dia duda ternyata....?
Ya....Allah, ibuk.....Bapak! " aku hanya bisa berteriak dan menangis dalam hati. Nafasku terasa sesak, pasokan udara terasa habis tak tersisa. Kusandarkan tubuh yang melemah di dinding mobil, pandangan kulayangkan keluar kaca, tapi pikiran jauh kekampung halaman. Disaat seperti ini, tiba-tiba wajah kedua orang tuaku terbayang di pelupuk mata. Mereka tempat ternyaman untuk aku pulang.
"Bang berhenti sebentar disupermaket ya!" pinta Adam pada Bang Hafiz.
Ternyata tak jauh dari lokasi kami saat ini ada supermarket, tanpa diminta lagi Abang Hafiz menepikan mobil dipinggir jalan.
"Mama kepengen sesuatu?"
Tanya Adam pada puan Jijah yang sedang menyandarkan kepala di jok mobil sambil memejamkan mata. Masih dengan mata terpejam puan Jijah menggeleng pelan. Perjalanan jauh diusia yang tak lagi muda, membuat puan Jijah mudah merasa capek.
__ADS_1
"Abang?" tanya Adam lagi pada manusia didepannya.
"Air mineral aja" jawabnya datar dengan membuang muka keluar mobil.
"Adam kakak juga air mineral dingin ya" pinta wanita disamping Adam.
Adam turun, masuk kesupermaket, tak lama menunggu ia kembali dengan satu kantong kresek berukuran sedang. Tiga bulan menjalani terapi dinegri singa membuat banyak perubahan yang signifikan pada kesehatan kakinya. Kini ia berjalan hampir sempurna, tak ada lagi kursi roda maupun tongkat.
Aku yang sibuk dengan lamunan, merasa kaget tiba-tiba Adam menyodorkan air mineral yang sudah ia buka tutupnya. Entah sejak kapan ia pindah ke kursi belakang dan duduk manis disampingku.
Astagfirullah...., kelakuannya memang suka asal, sejak dulu.
Rasa tak enak menyelimuti perasaanku, bagaimana pun juga statusku adalah istri. Apa nanti tanggapan puan Jijah,jika aku dekat dengan laki-laki lain, meskipun itu Adam. Tentang perasaan laki-laki kadal itu aku berusaha tak peduli, toh...dia juga tak menganggap aku ada.
Dengan sedikit ragu kuterima botol yang disodorkan Adam.
"Makasih" ucapku pelan.
"Sama-sama" Balas Adam dengan tatapan dalam pada diriku.
Dengan susah payah akhirnya kuteguk air itu.
Mobil kembali berjalan membelah kemacetan, yang memang biasa terjadi di hari libur. Untungnya jarak bandara ke rumah Adam hanya memakan waktu satu jam disaat lancar, jika macet seperti sekarang bisa memakan waktu sampai dua jam.
"Beruntung Ais dapat laki-laki macam Adam"
Ciiiittttt.....
Suara decitan ban mobil yang direm secara mendadak. Membuat semua penumpang mobil terhuyung kedepan. Puan Jijah yang tadi sempat tertidur reflek membuka mata dengan mulut mengucap istighfar.
Hampir saja keningku membentur kursi didepan, untung Adam dengan sigap menahan diriku.
"Abang kenapa sih? bawa mobil yang fokus, banyak nyawa orang disini!" raut wajah Adam seketika berubah kesal. Nada bicaranya juga sedikit meninggi.
"Sorry!"
Hanya kata itu yang terucap dari bibir bang Hafiz.
__ADS_1
Bersambung...