Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
78. Jangan Pergi Lagi


__ADS_3

"Hafiz.......!" Ahmad berteriak, saat melihat tubuh semampai Hafiz roboh ke badan aspal. Secepat kilat kejadian itu terjadi. Membuat mata Ahmad membola rasa tak percaya juga serangan takut luar biasa. Seumur hidupnya baru kali ini menyaksikan aksi penembakan. Sangat sadis.


Satu orang bertopeng, keluar dari mobil. Masih mengacungkan senjata api. Tidak jelas tujuannya mau kembali menghadang siapa. Sementara satu temannya lagi masih berada di balik setir mewanti-wanti jika petugas datang, segera tancap gas.


Ahmad refleks mengangkat kedua tangan ke atas. Sedang orang yang berada di dalam mobil yang berhenti di pinggir jalan masih belum terlihat wajahnya.


Sialnya saat kejadian, kondisi jalan sepi. Karena saat ini adalah jam kantor. Sehingga tidak ada orang yang menolong ataupun dipintai tolong.


Beruntung di saat orang itu akan mendekat ke arah Ahmad dan siap membidik senjata, dari kejauhan terdengar bunyi sirine polisi yang berpatroli.


"Sial....!" teriak manusia bertopeng. Buru-buru kembali memasuki mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


"Fiz.....!" Ahmad berlari ke arah Hafiz yang sudah bersimbah darah. Seluruh tubuh Ahmad bergetar saat menyentuh tubuh Hafiz. Posisi Hafiz telungkup. Rintihan kesakitan terdengar pelan. Nafas yang terhembus kasar dari mulut Hafiz, membuat pasir yang berada di sekitar hidung juga mulut, sedikit beterbangan.


Darah segar menetes dari mulut, hidung, bahu dan perut Hafiz. Ternyata dua peluru yang ditembakkan orang misterius tepat mengenai bahu kiri serta bagian perut Hafiz.


Merasa situasi sudah aman, orang yang bertopeng juga sudah meninggalkan lokasi, Badru, orang suruhan pak Hartanto keluar dari dalam mobil. Ternyata dia sudah merasa di ikuti sejak dipertengahan jalan, untungnya penguntit itu terjebak di lampu merah. Tapi rupanya, penjahat itu berhasil mengejar dirinya.


Badru mendekat ke arah Ahmad dan Hafiz.


"Fiz.....! sadar Fiz....!" Ahmad menepuk-nepuk pipi Hafiz yang sudah berada di pangkuannya.


Disaat bersamaan polisi patroli datang ke lokasi kejadian.


***


Kediaman pak Hartanto.


Setelah kepergian istri pak Hartanto. Setengah jam kemudian Bibik berniat mengantar makan siang untuk pak Hartanto. Begitu sampai di depan pintu, bibik mengetuk pintu. Berkali-kali, namun tidak ada sahutan dari pak Hartanto. Tidak seperti biasanya. Bibik merasa ada yang tidak beres dengan pak Hartanto, karena biasanya, walaupun dalam keadaan sakit berat beliau masih bersuara jika dipanggil. Tidak berani membuka pintu, si bibik kembali turun kelantai satu. Meletakkan nampan yang berisi makanan ke atas meja makan. Lalu dengan tergopoh-gopoh ia berlari menuju pos jaga, memanggil penjaga rumah untuk ikut melihat kondisi pak Hartanto. Kebetulan sopir keluarga juga sedang ada di sana, jadi ketiganya naik ke atas untuk melihat pak Hartanto.


Kembali tiba di depan pintu kamar. Kali ini pak sopir yang mengetuk. Berkali-kali pintu diketuk, juga hasilnya nihil.


Puas mengetuk, mencoba memutar knop pintu namun di kunci. Ini yang makin membuat terasa janggal. Padahal pak Hartanto tidak mungkin keluar rumah dalam kondisi sakit berat. Akhirnya mereka mendobrak pintu.


Alangkah terkejutnya ketiga pasang mata saat melihat pak Hartanto tergeletak di lantai dengan kondisi kepala mengeluarkan darah. Pak sopir langsung mengeluarkan hape dan menelpon ambulan juga polisi. Mereka juga masih tidak berani untuk menyentuh tubuh pak Hartanto. Takutnya akan dipermasalahkan nantinya. Mereka menunggu pihak yang berwajib saja untuk menangani.


***


Rumah sakit


"Papa....! Dira terbangun dari tidur. Kening berkeringat dan nafasnya masih tak beraturan. Adam yang ada diruangan, langsung mendekat untuk menenangkan.


"Sayang kenapa? Adam mengusap pucuk kepala Dira.


"Papa......hik.....hik....." Dira tiba-tiba menangis menyebut papa. Mungkin ia baru saja mengalami mimpi buruk, itulah pikir Adam.

__ADS_1


"Papa Dira lagi kerja sayang, Dira jangan nangis lagi, malu sama adek" Adam menenangkan Dira yang masih terlihat kacau.


"Papa....! papa....kecelakaan" racun Dira dengan air mata mengalir deras dari bola matanya.


"Itu hanya mimpi sayang, Dira jangan nangis lagi, nanti adeknya bangun" pandang Adam ke arah Aidan.


"Itu siapa?" tunjuk Dira dengan pandangannya, dia melihat ada bocah laki-laki sedang tertidur tak jauh dari bed miliknya.


"Itu adek Dira, namanya Aidan. Anak papa Hafiz sama mama Ais" jelas Adam pada Dira yang mulai tenang.


"Mama?" Dira mendongak menatap Adam. Ia butuh jawaban. Benarkah yang barusan ia dengar.


"Ia mama Ais, kemaren mama datang, hanya Dira tidurnya lama"


"Dira pengen ketemu mama" potong Adira cepat. Wajahnya langsung sumringah. Ada senyum disana.


"Sekarang mama lagi keluar sebentar, Dira tunggu di sini saja ya" Adam berusaha membujuk Dira agar tidak ngotot bertemu Ais sekarang.


"Kesian adeknya kalau di tinggal, nanti nggak ada yang jaga" tambah Adam lagi.


Akhirnya gadis kecil itu mengangguk mengiyakan.


"Pak cik! Dira boleh cium adek?" tanyanya lagi masih mendongak, akibat postur Adam yang lumayan tinggi.


"Ini benar adek Dira?" Dira mendongak melihat ekspresi Adam.


"Hem..., namanya Aidan"


"Boleh cium?" tanya Dira lagi.


"Pelan-pelan, takut adeknya bangun" volum suara Adam sedikit berbisik ia takut bocah di depannya terbangun.


Cup.....


Sebuah kecupan sayang Dira berikan di pipi gembul Aidan. Membuat si empunya sedikit menggeliat, untungnya tidak sampai terjaga dari tidurnya.


"Pak cik, adek Dira ganteng kan?"


"Ganteng mirip papa" jawab Adam yang merasa wajah Aidan ada sedikit kemiripan dengan Hafiz, namun lebih dominan Ais.


"Dira senang punya adek, nanti Dira bisa punya teman main" celoteh Dira penuh suka cita.


"Nanti adeknya dijaga ya! berarti sekarang Dira nggak boleh lagi cengeng, nggak boleh ngamuk!"


Dira menjawab dengan mengacungkan kedua jempolnya.

__ADS_1


"Ayo sekarang Dira baring lagi ya?"


"Emmm" Dira di iringi Adam berjalan kembali kenarah bed Dira. Adam kembali menggantung botol infus. Sedang Dira tidak lagi mau berbaring. Ia memilih duduk dan meminjam hape Adam untuk menonton kartun kesukaannya lewat YouTube.


***


Di depan pintu ICU, Ais menelisik kedalam ruangan, berusaha melihat kondisi Reza. Puan Jijah yang duduk dikursi besi, sampai tak tega melihat Ais dengan Aiza masih menempel digendongannya.


"Unda.....haus....!" rengek Aiza.


"Astagfirullah.....sayang haus?" Ais baru sadar jika dari tadi belum memberi Aiza makan maupun minum. Pikirannya terlalu kalut memikirkan Reza yang kembali mencemaskan.


Aiza hanya mengangguk, matanya juga terlihat sayu menahan kantuk.


"Ais, sebaiknya bawa dulu ke kamar!. Disana ada air juga makanan. Kamu juga belum makan kan? jangan sampai kamu juga ikutan sakit, kesian anak-anak dan suamimu" nasihat puan Jijah dan di iyakan Ais.


Ketiganya berjalan beriringan menuju kamar Aidan sekaligus kamar Dira. Sebelumnya Ais sudah berpesan pada perawat jika ada sesuatu, ia ada di kamar Aidan.


Kreakkk....


Suara pintu dibuka. Adam yang duduk di sofa, Dira yang menonton kartunnya, melihat kearah siapa yang datang. Ternyata sosok yang sudah menahun dirindukan. Diambang pintu, Ais berdiri cantik menggendong gadis kecil.


Hape ditangan terlepas begitu saja, tak ada artinya dibanding wanita yang dipuja, spontan ingin turun melupakan infus yang masih melekat di tangan. Tidak jauh berbeda dengan Adam yang juga ikut berdiri.


"Mama..!!" teriak Dira suka cita. Sudah lama ia menanti saat ini.


"Mama...! Dira mau sama mama!" teriaknya sudah mulai berlinang Ais mata.


Ais dengan sedikit terseok, berjalan cepat ke arah Dira, takut juga infus ditangan Dira ikut terlepas.


"Mama..." Dira memeluk tubuh Ais yang sudah berdiri di sampingnya. Aiza hanya menatap bingung pada orang yang memeluk Undanya. Aiza Ais dudukkan di samping Dira.


"Mama jangan tinggalin Dira lagi. Mama jangan pergi lagi!" pinta dengan tangisan terisak. Membuat Ais tidak mampu berkata-kata. Hanya lelehan air mata sebagai jawabannya. Dielusnya penuh sayang rambut Dira, si gadis kecil yang kini mulai tumbuh semakin besar.


Puan Jijah dan Adam menyeka sudut matanya, rasa haru bercampur bahagia menyaksikan moment yang sangat berharga. Sayangnya Hafiz tidak ikut menyaksikan, padahal sejak lama inilah impian Hafiz. Mempertemukan Dira dan Ais.


***


Hafiz sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit di temani Ahmad juga Badru. Kondisi Hafiz benar-benar parah, dua luka tembak membuat pendarahan, sehingga Hafiz kehilangan kesadaran.


Mendapatkan keterangan saksi di tempat kejadian, polisi langsung bergerak cepat mengejar pelaku penembakan. Polisi juga sudah berkoordinasi untuk mengepung pelaku agar tidak melarikan diri.


Di ambulan yang berbeda pak Hartanto juga dilarikan kerumah sakit. Kondisinya kritis.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2