
"Mau dibawa kemana Ais?" Hafiz menghentikan langkah Adam.
"Kekamar"
"Kenapa jadi dibawa ke kamarmu? Hafiz melayangkan protes.
"Abang lupa, mana mungkin Adam menggendong Ais menaiki tangga, sementara kaki Adam belum sehat sepenuhnya"
"Kalau begitu, sini! Ais biar Abang yang gendong!"
Hafiz mendekat bersiap ingin mengambil alih Ais dari gendongan Adam.
"Sayang!!!
Kenapa berlebihan seperti itu sih, biarkan Ais menjadi urusan Adam, lagian disini yang pacarnya Ais itukan Adam" pergerakan Hafiz terhenti, saat Sofia menahan tangannya. Sofia tampak protes, tak terima dengan sikap Hafiz yang dinilainya sedikit berlebihan.
"Hafiz, bawa istrimu istirahat, dia juga pasti kelelahan!" perintah puan Jijah menengahi. untuk saat ini tak mau akan timbul perdebatan, sementara raga dan pikirannya terlalu letih.
Adam memilih tak peduli, dengan langkah pasti ia ayunkan kaki menuju kamar pribadinya.
Tanpa ada yang tau, saat ini dada Hafiz terasa ingin pecah menahan gelombang kecemburuan pada Adik kandungnya. Tatapannya tak berkedip mengikuti langkah Adam. Tapi, ia juga tak bisa berbuat banyak, sebisa mungkin ia harus bersikap biasa saja agar tak lagi memancing kecurigaan Sofia. Bagaimana pun juga ia belum siap untuk berterus terang pada Sofia, jika Ais adalah istri sirinya.
Sofia menarik tangan Hafis untuk naik ke lantai dua, dimana kamar mereka berada. Dengan sedikit terpaksa Hafiz mengikuti langkah Sofia, namun belum menjejakkan kaki ke atas tangga, matanya sempat kembali melirik kekamar Adam, selanjutnya ke pada puan Jijah. Puan Jijah tau apa yang dipikirkan Hafiz, karna itu ia membalas anggukan untuk meyakinkan Hafiz bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Setelah mendapat kode dari sang mama, Hafiz melanjutkan langkah menuju kamarnya.
Perlahan Adam turunkan Ais ke atas kasur miliknya, menarik selimut sebatas perut Ais.
Puan Jijah masuk kekamar Adam, dilihatnya Adam sibuk menyapukan minyak kayu putih di hidung Ais.
"Mama istirahatlah! Ais biar Adam yang jaga" Ucap Adam tanpa melihat pada lawan bicaranya, karena saat ini matanya seolah enggan berpaling dari wajah Ais yang masih setia menutup mata.
"Baiklah, tapi Adam harus ingat batasan!"
Tak ada jawaban dari Adam, ia terlalu sibuk dengan Aisnya.
__ADS_1
Badan yang mulai renta, ditambah banyaknya kejadian yang menyita pikirannya, membuat puan Jijah merindukan kasur untuk sekedar mendapatkan kembali tenaganya yang hilang. Tanpa banyak kata, wanita paruh baya itu langsung memutar badan meninggalkan kamar Adam.
Hampir setengah jam berlalu, Adam masih setia duduk disamping Ais, dengan tak tau malunya terus memijat jemari-jemari kecil Ais. Ia berharap agar Ais segera sadar, dan ternyata benar, seperti doa yang langsung diijabah, Ais mengerjapkan mata, tanda siuman dari tidur singkat alias pingsan.
"Ais, kamu sudah sadar?" Adam terlihat lega, karena dari tadi ia bimbang setengah mati. Takut hal yang tidak-tidak akan terjadi.
Ais tak menjawab, ia memegang kepalanya yang masih terasa berdenyut, juga ia sedikit kaget karena melihat laki-laki yang sudah lama tak ia jumpai, tiba-tiba duduk disisinya sambil menggenggam tangannya.
"Adam?" ucapnya pelan, menarik tangannya pelan, memorinya masih belum bekerja sempurna, lupa akan kejadian sebelumnya.
"Ia aku Adam, kamu lupa ya, habis dari bandara tadi kamu pingsan"
"Astagfirullah....., sorry, ia...aku baru ingat, maaf jadi merepotkan" Ais merasa tak enak hati, otaknya terus berusaha mengingat kejadian demi kejadian sejak dibandara, dimobil bahkan saat diteras rumah saat dimana ia tak lagi sadarkan diri. Satu yang menjadi pertanyaannya saat ini, kenapa ia ada dikamar Adam? Kemana si kadal itu?
Kenapa orang yang bergelar suami seakan tak peduli dengan kondisinya. Apakah ia terlalu sibuk bergulat dengan istrinya? Dalam hati, Ais menertawakan dirinya sendiri "bisa-bisanya kau masih berharap pada laki-laki kadal, Ais....Ais..."
"Ais....! kenapa melamun" Melihat Ais yang tiba-tiba terdiam membuat Adam kembali dilanda kecemasan. Dipikirnya Ais masih merasakan sakit.
"Eh....nggak...." Ais gelagapan, ia kembali kealam kesadaran.
"Masih ada yang sakit? atau kita perlu kedokter?"
"Mau kemana? istirahat aja dulu!" Adam menahan pergerakan Ais.
"Mau kekamar"
"Inikan kamar, emang mau kekamar mana lagi?"
Ais mengerutkan kening, bingung dengan ucapan Adam, pastilah ia akan kekamarnya sendiri.
"Ais mau kekamar Ais"
"Yakin?" Adam memastikan, ia takut Ais kembali pingsan. Bukan karna apa, diatas sana mungkin akan terjadi hal yang membuat Ais kembali sakit.
Ais hanya membalas anggukan. Pastilah ia yakin, mana mungkin ia berlama-lama dikamar majikannya, bisa-bisa ia kembali di fitnah untuk kesekian kalinya oleh suami kadalnya.
__ADS_1
Sebelum benar-benar meninggalkan kamar Adam, Ais kerkata " makasih " ucapnya tulus pada Adam sang majikan yang berhati baik, sejak pertama kali ia datang kerumah itu.
Adam tersenyum, membalas senyuman Ais wanita yang ia cinta sejak lama. Padahal dilubuk hatinya ia merasa bimbang luar biasa.
Perlahan Ais menjejakkan kaki menaiki anak tangga, Ais mencengkram kuat besi relling, berharap agar hatinya sekuat besi itu.
Lagi-lagi harapan tak sesuai kenyataan, semakin dekat jaraknya dengan kamar Hafiz, kakinya serasa tak jejak dilantai, jantungnya bertalu kencang, tenaganya seperti dikuras habis. Begitupun otaknya, semakin tak waras saja, memikirkan sesuatu yang tak pantas dipikirkan, yaitu suaminya sedang beradegan ranjang dengan wanita yang tadi bersamanya. Pasti nanti ia akan mendengar suara erotis yang menyakitkan telinga.
Ais menghentikan langkahnya, sepertinya ia perlu relaksasi agar kekuatan kembali dihadirkan diraganya. Oksigen ditubuhnya serasa habis, bukan karna habis menaiki tangga melainkan was-was dari bisikan setan.
Menarik nafas panjang, lalu dihembuskan, menarik nafas panjang lagi, lalu dihembuskan, hal itu Ais lakukan berulang hingga merasa dadanya sedikit lapang.
"Bismillah...." Ais kembali melangkah pasti menuju kamarnya yang berdampingan dengan kamar Hafiz. Berusaha sekuat tenaga memekakkan telinga, tak ingin mendengar ******* atau erotisme dua insan yang sedang kelaparan.
Sepi, tak ada suara, apa Tuhan benar-benar sedang memekakkan kupingnya, seperti apa yang dimohonkan, atau tetangganya sudah terlelap di alam mimpi karna kelelahan setelah olah raga siang?
Persetan dengan itu semua yang penting sekarang ia bisa bernafas lega, perlahan diputarnya knop pintu, baru masuk dua langkah kejadian tak terduga terulang kembali, serasa dejavu, mulut Ais Ada yang membekap, tubuhnya diseret masuk kedalam kamar, sebelum itu, orang yang membekap Ais terlebih dahulu mengunci pintu dengan satu tangannya, sedang tangan yang lain masih setia dimulut Ais. Mata Ais membulat sempurna, teriakannya seakan tertahan di tenggorokan, ketakutan luar biasa kembali ia rasakan, bayangan tiga bulan silam, kembali bermain di otaknya.
Beruntungnya, itu tak berlangsung lama, karena orang yang membekap Ais perlahan melepaskan tangannya.
Ais memutar badan, melihat ke arah orang yang ada dibelakangnya.
"Abang!?"
Kata pertama yang Ais ucapkan, saat indranya menangkap sosok yang sejak tadi ada di otaknya. Rasa tak percaya juga ia, apa benar ini Hafiz, atau ia sedang berhalusinasi.
"Ais" Hafiz mendekat dan memeluk Ais posesif.
Ais kembali dilanda bingung, ia mematung tak membalas juga tak menolak pelukan Hafiz. Bukankah saat ini suaminya sedang bertukar peluh dengan wanita yang tadi. Bisa-bisanya Ais berpikir seperti itu, apa karena rasa cemburu, atau entahlah...
Satu menit pelukan itu berlalu, ingatan akan kata-kata Hafiz disamping mobil tadi, menarik Ais kembali kealam kesadaran, tak ingin di cap sebagai orang yang tak tau diri, Ais berusaha mendorong badan Hafiz sebagai bentuk penolakan.
"Maaf" satu kata kembali lolos dari mulut Hafiz. Pelukannya semakin menguat, ia tak ingin mengakhiri pelukan itu, meski Ais menolaknya.
Ais tak kuat lagi, semuanya tumpah tak tertahankan, padahal sebelumnya ia tak ingin menangisi suami kadalnya ini, tapi kenyataan ia tak kuat lagi, terlebih mendengar kata "maaf" yang begitu sakti meluluh lantahkan hatinya.
__ADS_1
"Maafkan Abang Ais..."
Bersambung.....