Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
47.


__ADS_3

Dua hari sudah Ais dirawat dirumah sakit. Kondisinya mengalami banyak kemajuan. Sampai detik ini juga Reza dengan setia menemani dirinya. Begitupun Nia, setiap habis jam kuliah ia selalu menyempatkan diri menjenguk Ais.


Reza ternyata laki-laki luar biasa, paling pengertian akan kondisi Ais, walau dirinya sendiri tidak baik-baik saja. Tidak sekalipun ia menyinggung perihal kehamilan Ais, sekarang fokusnya Ais harus cepat pulih.


Terlebih Reza mengira Ais sengaja merahasiakan kehamilan dari dirinya. Padahal Ais pun belum mengetahui kalau dirinya hamil.


Nia sudah mengetahui kabar kehamilan Ais, dari Reza. Pertama ia semat menganga, shock berat dengan kenyataan itu. Tapi ia tidak ingin buru-buru menyimpulkan sesuatu yang tidak ia ketahui pangkal ceritanya. Nia juga sedang menunggu waktu yang tepat untuk menanyakan kehamilan Ais. Siapa suaminya, jika sudah menikah? kalau belum....., siapa laki-laki yang sudah merusak masa depan Ais.


Masih diruangan VIP tempat Ais dirawat, Ais duduk menyandar di kepala bed dengan disanggah satu bantal. Sebelumnya, Reza sudah menyetel bed Ais, agar posisi kepala sedikit tinggi, agar memudahkan Ais duduk. Sedang Reza dan Nia duduk disamping kiri dan kanan Ais. Ketiganya terlibat obrolan ringan, seputar kampus dan progres kegiatan pertukaran pelajar.


"Permisi" dokter yang menangani Ais melakukan visit, diikuti dua perawat dibelakangnya. Jika tidak ada masalah, hari ini Ais sudah dibolehkan pulang. Jadi sekarang baik Ais, Reza maupun Nia menunggu hasil pemeriksaan dokter.


"Silakan dok!" sahut Reza ramah.


Reza dan Nia minggir kesamping, memberikan ruang, agar dokter dan perawat lebih leluasa memeriksa Ais.


" Bagaimana kondisinya mbak?" tanya dokter ramah, tatapannya lekat pada Ais.


"Alhamdulillah, semakin baik dok"


"Masih ada mual?"


"Masih, namun tidak sampai muntah dok"


Memang benar selama dua hari dirawat, Ais tidak pernah sampai muntah, jika mual masih ada terasa. Karena selama dirawat dokter memang meresepkan obat khusus untuk mengurangi mual.


"Alhamdulillah, nanti kalau udah pulang obatnya dilanjutin aja ya!"


Ais tersenyum, lalu mengangguk paham.


"Bagaimana sus tekanan darahnya?" tanya dokter pada perawat yang mengecek tekanan darah Ais.


"100/80 mmHg dok" jawabnya singkat sambil melepas alat perekat yang menempel dilengan Ais.


Sedang satu perawat lagi bertugas mencatat hasil pemeriksaan.


Kemudian dokter memasang stetoskop ketelinga.


"Maaf ya" dokter menekan pelan stetoskop tepat di dada kiri dan kanan Ais. Semua terdiam, mengikuti gerak sang dokter. Terahir dokter meletakkan alat tersebut dibagian perut Ais. Ais sempat menoleh kearah Reza, ia malu karena bajunya sedikit tersingkap. Reza berpura-pura sibuk dengan hapenya.


"Semuanya bagus, tensi darah juga normal, jadi hari ini mbaknya sudah boleh pulang"


Ais dan dua temanya tersenyum bahagia mendengar kabar baik itu. Akhirnya, Ais dibolehkan pulang.


"Tapi ingat! jangan terlalu capek, kehamilan ditrisemester awal sangat rentan"


Deg......


Penjelasan dokter, membuat air muka Ais berubah seketika, bingung, belum bisa mencerna ucapan dokter barusan. Ais menoleh pada Reza, kemudia Nia dan kembali lagi pada dokter yang masih berdiri disampingnya, seperti meminta penjelasan akan kabar yang baru ia dapatkan.


"Apa, dok.....sa....saya....hamil?" tanyanya terbata, seketika cairan bening lolos menerjang pipi mulusnya.


***


Sepanjang jalan Ais terdiam, tatapannya kosong menembus kaca mobil, menerawang jauh entah sampai dimana. Sesekali air mata yang sudah diseka kembali meluncur, entah sudah berapa banyak yang keluar.

__ADS_1


Nia tak bisa berbuat banyak, sesekali ia menoleh kesamping, hatinya juga ikut hancur, melihat sahabat yang tidak baik-baik saja, sejak dirumah sakit. Ia baru tau, jika Ais tidak mengetahui bahwa dirinya sedang hamil. Namun Nia dan Reza memilih diam, memberi Ais ruang. Mereka sahabat yang luar biasa, disaat seperti sekarang ini, tak ada sedikitpun kata-kata atau tindakan mereka yang memojokkan Ais.


Sejak dinyatakan boleh pulang, dan administrasi dilunasi Reza, Ais tidak banyak bicara, wajahnya penuh beban dan tekanan.


Reza sempat menawari untuk pulang bersama dirinya, namun Ais menolak memilih pulang bersama Nia. Reza paham, saat ini mungkin Nia lah yang lebih tepat untuk Ais berbagi cerita.


"Ais! kamu ok?" Nia yang sejak tadi melihat Ais menangis, memberanikan diri bertanya. Fokusnya tetap kedepan, namun sekali-kali melirik Ais. Karena saat ini, Nia sedang menyetir mobilnya.


Ais mengangguk, mengiyakan. Padahal Nia tau, sahabatnya itu sedang terpuruk.


"Mau langsung pulang, atau singgah dulu?" Nia kembali menawari sahabatnya.


"Langsung pulang aja" Ais menjawab dengan suara parau.


Padahal ia sendiri tidak yakin, apa yang sedang mengintai dirinya didepan. Namun, jika tidak pulang kerumah Hafiz, mau kemana lagi dia. Hafiz yang suaminya. Meski nanti entah pertanyaan semacam apa yang akan ia dapatkan, karena sudah terhitung empat hari tidak pulang kerumah. Belum lagi nanti tanggapan Sofia pada dirinya. Tanggapan semua orang yang ada dirumah itu. Hah......berat persoalan yang berat. Belum lagi untuk menjelaskan masalah kehamilannya. Kepala Ais rasanya tak sanggup menampung semua beban hidup ini.


Kalau bisa lari, sekali lagi rasanya Ais ingin memilih pulang ke kampung halaman, namun apa daya, pulang ke Indonesia tidaklah semudah membalik telapak tangan. Perlu ongkos, juga identitas yang lengkap agar tidak tertahan diperbatasan.


Banyak melamun, tanpa sadar sekarang mobil yang ditumpangi Ais berhenti tepat dipintu gerbang. Tanpa sepengetahuannya, dilantai dua rumah itu, ada sepasang mata elang menatap tajam dirinya, seakan siap menerkam.


Dengan sedikit gontai, Ais turun dari mobil Nia. Kaca mobil yang gelap tak bisa memperlihatkan siapa orang yang ada di dalam mobil.


Ais berjalan ragu, detak jantungnya serasa membuat dadanya pecah. Sedang dikepala bermain pikiran-pikiran jahat. Apalagi ia melihat ada mobil Hafiz terparkir dihalaman rumah, itu artinya suaminya ada dirumah.


Krekkkk......


Ais membuka pintu. Sepi tak ada orang disana, seharusnya semuanya sudah ada dirumah, dikarenakan saat ini mendekati waktu magrib.


Lampu ruang tamu juga belum dinyalakan, kecuali lampu kamar Hafiz. Kemana penghuni rumah itu?


Ais sedikit terlonjak kaget. Satu tangan menyilang menghalang sinar lampu yang tiba-tiba menyilaukan mata.


"Masih ingat pulang kamu?" tanyanya dengan nada sinis.


Ais menurunkan tangan yang menutup mata, dia melihat ada Hafiz dihadapannya, wajahnya nyalang menahan emosi.


"Abang?" suara Ais pelan.


"Cuihhhhh" Hafiz meludah jijik tepat diwajah Ais, membuat Ais kaget tak percaya dengan perlakuan Hafiz barusan, sehingga wajahnya tertoleh kesamping, ingin menghindar namun tak sempat. Sedang salah satu jemari mengusap cairan yang menempel dimukanya.


"Astagfirullah......" ucapnya pelan.


"Jangan coba-coba membawa nama Tuhan, bibirmu itu terlalu murah, bahkan lebih murah dari pelacur yang menjajakan diri" Hafiz memutari Ais, tatapan meremehkan ia pamerkan.


Deg......


Penghinaan yang sangat menyakitkan.


"Apa maksud Abang?" Dengan suara sedikit meninggi, Ais yang memang tidak tau pangkal persoalan mencoba menanyakan alasan, kenapa bisa Hafiz merendahkan dirinya.


Plak ........


Satu tamparan Hafiz berikan, membuat tubuh Ais sedikit terhuyung kebelakang.


Rasa panas, juga perih terasa dipipi kiri Ais. Hafiz menamparnya sekuat tenaga.

__ADS_1


Luruh sudah air mata Ais, ini kali pertama merasakan tamparan. Sekalipun tak pernah dalam hidupnya diperlakukan sekasar ini, melebihi seekor hewan.


Ais ketakutan, perlahan ia mundurkan kaki, melihat Hafiz yang merengsek kembali mendekat padanya, tatapannya semakin menajam wajahnya terlihat menakutkan, dengan gigi yang menggemeretak, mata membeliak.


Dalam satu tarikan, rambut Ais berada tangan Hafiz. Membuat tubuh Ais mepet ketubuh Hafiz.


Kalimat menjijikkan keluar dari mulut Hafiz. "Bagian manamu yang dinikmati bajingan itu, hemmm....?"


Kepala Ais mendongak, akibat rambutnya ditari kuat kebelakang. Tak hanya itu, Hafiz menggigit kasar leher Ais.


"Aaaaakkkk!" teriakan menyayat hati, tapi tidak ada satu pun yang mendengar teriakannya.


"Suaramu **** sekali, memang pantas kamu menjali ******, laki-laki manapun pasti tergoda"


Kata demi kata penuh pelecehan, Ais semakin gemetar ketakutan, wajahnya basah oleh keringat juga air mata. Kedua tangannya menahan rambut yang sedang ditarik Hafiz. Sudut bibir mengeluarkan cairan merah.Hafiz menjelma bak seorang psikopat.


"Laki mana lagi yang mengantarmu pulang tadi hah?" Hafiz kembali membentak sambil mendorong Ais kebelakang. Membuat tubuh Ais membentur dinding kamar puan Jijah.


Ais menggeleng, matanya memohon agar dilepaskan.


"Kenapa takut?" Hafiz tertawa menakutkan sambil kembali mendekati Ais.


Ais mengangguk cepat.


"Kenapa takut sayang? apa ukuranku tidak cukup besar bagimu, sampai-sampai kau mencari laki-laki lain? atau kau tidak terpuaskan?" Hafiz membelai pipi Ais dengan jemari telunjuknya.


Ais menggeleng cepat. Berusaha tak mengiakan.


"Darah ini, tak sebanding dengan rasa sakit yang kau berikan. Kenapa kau datang lagi kerumah ini ha..., atau kau menuntut pertanggung jawaban, mengaku hamil?


Aku tidak sebodoh itu, jika memang benar kau hamil, itu bukan anakku, melainkan anak laki-laki bajingan itu. Sungguh kau perempuan yang tak pandai berterima kasih, hidupmu dan keluargamu kutanggung, malah ini balasanmu ha....? Hafiz tersengal, ia menjeda ucapannya.


"Ais binti Ali, detik ini juga, aku ceraikan engkau dengan talak satu!"


Praaaaangggggg.......


Bunyi petir menyambar secara bersamaan.


Deg......


Tak ada kata yang tepat untuk diungkapkan saat kata cerai itu dijatuhkan padanya.


Ais menatap wajah Hafiz dalam, ia mencari kesalahan. Berkali-kali, ia gelengkan kepala menolak agar yang didengarnya itu salah. Ternyata tidak, Hafiz serius benar-benar serius.


"Mulai detik ini, jangan pernah kau nampakkan wajahmu dihadapanku!" Ucap Hafiz dengan suara memelan namun tidak berperasaan.


"Abang! tolong Ais bang, jangan usir Ais, Ais hamil, Ais hamil anak Abang" Ais memeluk kedua kaki Hafiz. Memohon agar Hafiz tak sekejam itu padanya. Terlebih sekarang ia sedang hamil. Kemana ia akan pergi?


Bukannya kasihan, Hafiz dengan kasarnya menarik kedua tangan Ais hingga keluar pagar. Ais berteriak memohon, mengiba, namun tak dipedulikan. Malah bigitu tubuh Ais keluar pagar, Hafiz dengan kasar menghempas tangan Ais. Membuat Ais terjungkal mencium tanah.


Setelahnya Hafiz mengunci pagar dan berlalu pergi meninggalkan Ais.


Tetangga ada yang melihat namun tak berani membantu.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2