
poV author
*
*
*
Hampir seharian di perjalanan, Hafiz dan Ais telah sampai di Malaysia.
Seminggu kepergian mereka ke Indonesia, rumah terlihat sepi.
"Kemane mama?" dengan wajah tak sabaran Hafiz menunggu di depan pintu. Berkali-kali ia mengulang menekan tombol bel, tapi sepertinya memang tak ada penghuni di dalam sana.
Ais terlihat mematung dengan tatapan mata mengikuti gerak-gerik tubuh Hafiz, sambil memegang tangkai koper miliknya.
Capek memencet bel rumah, sekarang giliran Hafiz memencet tombol hijau di hp nya.
"Assalamualaikum...., ma....Hafiz ni....,
Mama dekat mane...?
really? oh my God...,
Hafiz dekat rumah ni,
Ais...ade, ie nanti Hafiz sampaikan.
Mama dan Dira hati-hati ye...!
take care ma, bye....!"
tut....Tut.....,
Hafiz mengakhiri obrolan dan menutup sambungan telpon. Sekilas ia menatap Ais, yang juga sedang menatap dirinya.
"Mama kirem salam" ucapnya seketika.
"Walaikum salam" Ais membalas salam, masih dengan wajah menuntut penjelasan Hafiz, kemanakah puan Jijah dan Dira pergi.
__ADS_1
"Mereke, lagi kat KL, mungken seminggu baru balek" jelas Hafiz sambil berjalan menuju sebuah pot bunga yang ada di teras rumah.
Ais lagi-lagi hanya melihat gerak-gerik Hafiz, yang ternyata sedang mengambil kunci rumah di bawah pot bunga.
Hafiz membuka pintu, kemudian langsung masuk dengan diikuti Ais dibelakang sambil menarik dua koper sekaligus.
Ais terlihat sangat kesusahan, sementara Hafiz dengan entengnya berjalan melimbai tangan naik ke tingkat dua.
"Nasibmulah Ais...., kau pembantu....bukan istri, jadi kau harus sadar diri" suara hati Ais, sambil bersusah payah menaikkan dua koper, miliknya dan Hafiz. Sebenarnya kalau ia bisa bersuara, ingin sekali rasanya ia memaki-maki "si Hafiz", suami tak tau diri itu.
Ais berhenti sejenak di anak tangga, memandang ke arah punggung Hafiz yang berjalan mendahuluinya. Menarik nafas dalam...., lalu menghembuskannya. Sesekali ia terlihat menyeka keringat dengan baju yang menempel di lengan.
Ais menggelengkan kepala dengan bibir tersenyum getir, masih dengan tatapan ke arah pintu kamar Hafi yang ditutup oleh pemiliknya.
"Ais....bangun....Ais, semalam kamu hanya mimpi, lupakan ijab qabul itu, lupakan statusmu sebagai istri Hafiz....! Yang perlu kau ingat sekarang kau adalah "MAID" dan akan selamanya menjadi maid dirumah ini" kini bukan keringat yang ia seka, melainkan air mata.
Tak ingin berlarut-larut, Ais kembali menapaki anak tangga masih dengan dua koper di tangan.
Saat bersamaan terdengar bunyi pintu kamar Hafiz.
Cekrek......
Tanpa a, i, u, e, o, meraih koper miliknya dengan wajah datar dan tanpa sepatah kata. Selanjutnya kembali berlalu pergi kembali masuk ke dalam kamar.
Bukkkkk.....
Bunyi pintu kamar ditutup dengan sedikit kuat.
"Astagfirullah...., sabar Ais...., rileks...., jangan baper....yang ada kamu terlihat kuper" Ais berbicara pelan pada dirinya sendiri sambil mengusap dada menyabarkan diri.
Tadinya, Ia mengira Hafiz mendekat ke arahnya untuk membantu membawa ke dua koper yang ada ditangannya, seketika Ais terlihat excited. Ada tarikan di sudut bibirnya menandakan ia sedang tersenyum, tau-tau ...., laki-laki dingin itu hanya mengambil satu koper yang menjadi miliknya dari tangan Ais.
Huh......
Tak ingin banyak berharap dan mikir, Ais kembali menarik koper menuju kamar yang telah seminggu tak ia tempati. Tapi, lagi-lagi saat melewati kamar Hafiz, ia sempat memperlambat langkah, memandang ke arah pintu yang tertutup rapat, berharap ada yang menghentikan langkahnya, mengajak ia tinggal di satu kamar yang sama.
"Ais...., kamu hanya pembantu!" suara hatinya kembali bicara mengingatkan yang punya badan, membuat Ais mempercepat langkah sambil kembali menyeka air mata, yang entah mengapa kembali bergulir.
Pada awalnya, Ais memang telah berjanji akan membenci laki-laki yang telah merenggut kesuciannya secara paksa. Tapi setelah mendengar wejangan di hari ijab qabul di tambah nasehat dari ibuk dan ayah, membuat hatinya melunak. Berniat ingin belajar menerima Hafiz sebagai suaminya dan menjadi istri yang baik.
__ADS_1
Tapi setelah apa yang ia lihat, sepertinya Hafiz tetap menganggap dirinya tak lebih hanya sebagai pembantu.
Perlahan Ais membuka pintu, dan menutupnya kembali tanpa berniat mengunci.
Ia menyimpan koper di sisi lemari pakaian. Kemudian naik ke tempat pembaringan.
Ais membaringkan tubuh kecilnya di tempat tidur sambil memejamkan mata, berniat ingin istirahat sejenak untuk menghilangkan capek sehabis perjalanan jauh. Tapi memorinya tak ingin berhenti bekerja, kembali memutar ulang wajah ayah dan ibu saat perpisahan tadi. Tampak kesedihan di wajah kedua orang tuanya yang sudah memasuki usia senja.
"Ais janji buk...., pak..., akan mewujudkan impian Ais. Membuat bapak sama ibuk bangga memiliki anak seperti Ais, hik....hik....." Ais kembali menangis sambil menutup mulutnya dengan bantal agar tak di dengar oleh penghuni kamar yang lain.
Puas menangis, dirasa sudah mulai tenang, dan tak ingin berlarut-larut, Ais bangkit melangkah menuju lemari pakaian yang ada di sisi tempat tidurnya. Membuka pintu lemari sambil mata menyeken isi lemari mencari keberadaan handuk dan pakaian ganti yang akan ia gunakan setelah mandi.
Ais membawa sepasang baju rumahan, dan tak lupa pakai dalam, kemudian meletakkannya di atas tempat tidur.
Ais sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi, bermain air sambil menghirup wanginya aroma sabun membuat pikirannya menjadi lebih rileks. Ia tidak menyadari seseorang telah menunggunya dengan duduk menyampir di tempat tidur.
Denga santai Ais keluar dari kamar mandi, hanya dengan melilitkan sebuah handuk yang hanya mampu menutup bagian dada hingga setengah paha. Rambut panjang yang masih basah sengaja ia gerai.
Dalam langkah ke tiga, Ais kelabakan...saat sepasang mata menatapnya lekat. Spontan wajah Ais berubah merah tak karuan, detakan jantung seperti meronta ingin berlari entah kemana. Ais menggigit bibir bawah agar bisa menahan kekalutan hati, dan kedua tangan reflek menutup bagian dada yang masih terbuka setengah. Kakinya tak mampu maju juga tak bisa mundur, jika bisa meminta, yang ingin ia dapatkan saat ini adalah selimut yang tebal untuk menggulung dirinya agar tak terlihat oleh mata pria dewasa yang ada di depannya.
Pada akhirnya, yang diharapkan tak mungkin terjadi, di saat bersamaan Ais menundukkan pandangan sambil berusaha menenangkan diri.
Sekian detik berlalu, mata laki-laki itu seperti enggan beralir dari tubuhnya. Membuat Ais semakin tak karuan, otak yang ia miliki tak mampu bekerja, karena oksigen yang ia hirup diruangan itu, terasa telah menipis.
Ais menekuk wajahnya, bingung harus berbuat apa, sementara baju gantinya ada di sisi pria itu.
"Kamu jangan salah sangke, aku kesini bukan untok menggodemu" sesaat kata-kata itu terhenti.
Mendengar itu, Ais mengangkat wajah memberanikan diri menatap Hafiz.
"Baca surat ini!, selanjutnya lakukan ape yang patot kau lakukan dengan surat ini!" Suara Hafiz terlihat tersendat. Kemudian ia memalingkan wajah dan berlalu pergi meninggalkan Ais dengan wajah yang sulit diartikan.
Hari ini, Hafiz benar-benar membuat hati Ais berantakan, belum selesai satu keterkejutan muncul keterkejutan yang baru.
"Kenapa aku terlalu bodoh ya Allah", lirih Ais dengan pelan sambil menatap langit-langit kamar berusaha membuat bendungan, agar bulir putih tidak merembes jatuh.
Dengan PD nya, Ais menduga kehadiran Hafiz di kamarnya untuk menuntuk hak atas dirinya. Sehingga ada debaran yang tak bisa diungkapkan. Tapi kenyataannya Ais harus kembali menelan pil pahit. Hafiz datang hanya untuk memberikan selembar surat.
"Surat ?" Saat kesadaran Ais mulai kembali.
__ADS_1