Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
48. Mencekam


__ADS_3

Jalanan tampak sepi.....


Ditengah lebatnya hujan, azan isya berkumandang. Petir saling sambar, menumpahkan kemurkaan untuk mengusir setan yang mencuri dengar pembicaraan. Disaat bersamaan dikabarkan, terjadi pemadaman listrik karena ada satu tiang tersambar petir. Suasana begitu horor, menakutkan juga mencekam.


Dibawah sorot lampu mobil, sesosok wanita ditemukan terkulai lemas dipingir jalan, nasibnya begitu malang. Seperti ritual kematian, ia ditemani nyanyian petir berkolaborasi dengan tarian hujan. Kondisinya mengenaskan. Ada darah didaerah leher, dada juga ************ yang sudah mewarnai hampir seluruh pakaiannya. Belum diketahui identitasnya, karena posisinya dalam keadaan miring dan seluruh wajahnya tertutup rambut sebahu yang berantakan.


Laki-laki bertopi lengkap dengan pakaian serba hitam, turun dari mobil, dengan langkah lebar, menerjang derasnya hujan. Ia berdiri tepat disamping wanita malang, menekuk lutut hingga menyentuh tanah kemudian menyelipkan kedua tangan dibagian leher juga paha korban.


Diangkatnya wanita itu, tatapannya menajam saat melihat wajah pucat bertatokan lebam. Giginya bergemertukan menahan geram, siapa orang yang sudah tega berbuat sekejam itu pada seorang wanita.


Kembali berlarian didalam hujan, ia menggendong wanita yang telah kehilangan kesadaran menuju mobil.


Sedikit kesusahan untuk membuka pintu mobil, pasalnya wanita itu masih digendongan. Untungnya cukup sekali tekan, pintu mobil otomatis terbuka. Dibaringkannya wanita malang itu dikursi belakang, tak peduli jok mobil mahal basah, setelahnya menutup pintu, kemudian berlarian membuka pintu depan memegang kendali sikuda besi.


Tidak perlu repot menyalakan mesin, pasalnya dari tadi mobil dibiarkan menyala. Dipencetnya tombol pemanas suhu, agar menghangatkan dirinya juga wanita yang ikut menumpang di belakang sana, pasalnya keduanya sudah dalam kondisi basah kuyup.


Meraih handset, yang sudah otomatis terhubung ke nomor hp lalu memasang dikuping. Tangannya sibuk mencari nama seseorang di hape. Setelahnya menekan tombol memanggil dan menyimpan hape di dashboard sambil melajukan mobil.


Begitu panggilan diangkat ia bicara datar namun penuh ketegasan, membuat orang disebrang sana menurut patuh pada ucapannya.


"Pesankan dua tiket untuk jadwal keberangkatan paling awal!"


(…….......….............)


"Cari pesawat yang memberikan layanan khusus"


(.......................)


"Semua datanya ada di meja kerjaku"


(…..........................)


"Baik, terima kasih"

__ADS_1


(......)


Tuttttt......tuuutttt...


Panggilan terputus. Ia melepas handset yang melekat disebelah kuping.


Genggaman setir menguat, fokusnya tajam kedepan seperti sedang menghadapi lawan dimedan perang. Lewat kaca spion diatas kepala, diliriknya orang yang ada dibelakang. Masih tergeletak lemas seperti mayat.


Perih.......,


Takut......., juga bersarang didada.


Semoga keputusan yang dibuatnya tepat, ia pasrah dalam diam memanjat doa.


****


-


"Aaakkkkkk, ha.....ha....geli.....,lepasin pa, lepasin....kikk.... kiii...kiiik..." Pasalnya seorang laki-laki dewasa yang diyakini ayah para bocah sedang menggelitik badan bocah laki-laki berpipi gembul.


Sedang satu bocah perempuan berambut keriting terurai menempel di belakang dengan kedua tangannya bertahan dibahu sang papa, ikut tertawa heboh menjahili bocah laki-laki tadi.


Si sulung bocah laki-laki bernama Aidan. Sedang yang kecil diberi nama Aiza gabungan dari nama kedua orang tuanya, Ais dan Reza.


"Udah.....pa....., Aidan nyerah" ucap Aidan yang sudah tak kuat dengan rasa geli ulah si papa.


Tawa dua bocah kecil menggema didalam kamar bernuansa planet, dindingnya berwarna biru muda yang di salah satu bagian dinding tergambar tokoh kartun Musa dan Rara. Karena kedua bocah itu sangat mengidolakan kartun religi tersebut.


Sepraynya berwarna biru muda senada dengan warna dinding. Dikasur inilah ketiganya bermain. Kasur ini diperuntukkan untuk Aidan.


Disebelah kiri juga terdapat tempat tidur berwarna pink dengan motif hello Kitty. Tempat tidur itu milik Aiza.


Kamar itu terbilang sangat luas, makanya didalamnya bisa menampung dua tempat tidur, juga area bermain anak. Reza sengaja mempasilitasi kedua anaknya dengan sebaik mungkin, tanpa membedakan.

__ADS_1


Reza dan Ais sepakat membuat satu kamar untuk kedua anak mereka, selain selisih umur yang tak terlalu jauh juga bertujuan memudahkan untuk mengontrol keduanya sekaligus.


Kreakkkkk ....


Pintu kamar terbuka lebar menampakkan sosok wanita cantik berusia 23 tahun. Badannya terlihat berisi dibanding empat tahun lalu. Lebih sintal. Kulitnya juga terlihat putih bersih, tampak rona kebahagiaan diwajah cantiknya, membuat auranya semakin terpancar. Semua yang ada ditubuh Ais jauh berbeda dengan Ais di usia 19 tahun lalu. Hanya satu yang masih tetap sama, yaitu bentuk dan panjang rambut yang dipertahankan hanya sebatas bahu. Pipinya yang tampak cabi membuat siapapun yang melihat semakin terpesona, gemes ingin mencubit bahkan mencium.


Tidak jauh berbeda dari Ais, Reza yang usianya sedikit lebih matang tidak banyak yang berubah dari empat tahun lalu. Malah semakin berwibawa tanpa kehilangan kegantengannya, membuat wanita manapun mendamba ingin memilikinya.


Memang benar kata orang, apabila kita berada pada pelukan orang yang tepat akan membuat hidup lebih indah dipenuhi dengan cinta, sehingga menghasilkan aura positif bagi keduanya.


****


Kisahnya bermula pada malam empat tahun lalu.


Dimana orang yang menolong Ais pada malam mencekam itu adalah Reza. Karena ia merasa ada sesuatu yang Ais sembunyikan. Tampak dari wajah Ais yang tegang membuat ia semakin yakin jika ada yang tidak beres. Ia yang merasa tidak yakin dengan kondisi Ais saat memilih diantar Nia, membuat Reza mengikuti keduanya dalam jarak yang aman.


Namun diperjalanan, ada seseorang yang meminta dirinya untuk bertemu sebentar, menandatangani sebuah dokumen pekerjaan membuat ia tertinggal dari Nia dan Ais.


Setelah urusan dibereskan, Reza kembali melanjutkan laju mobil kekediaman Hafiz, saat melintas perlahan, dari depan rumah itu tampak sunyi dan gelap, kebetulan listrik juga padam. Sempat berhenti sebentar dipinggir jalan, melihat dari sebrang jalan, sepertinya semua aman.


Reza melanjutkan gerak mobilnya, tak disangka berjarak tidak terlalu jauh dari rumah Hafiz, dalam guyuran hujan juga sambaran petir, lampu mobil menangkap sosok yang Reza kenal pakaiannya, terbaring lemas di tepi jalan. Itu adalah Ais.


Tanpa peduli derasnya hujan Reza menghentikan laju mobil dan turun bak pangeran berkuda menyelamatkan Ais dan membawanya kembali ke Indonesia.


Selama tak sadarkan diri, Ais selalu mengigau. Dari alam bawah sadarnya ia selalu ketakutan dan memohon-mohon kepada Hafiz, dari situ Reza berkesimpulan orang yang membuat Ais celaka memang Hafiz.


Jadi sudah tepat jika Reza tidak membawa Ais kekampung halaman, karena ia yakin suatu saat Hafiz akan mencarinya.


Reza sengaja membawa Ais ke ibu kota provinsi K. Disana selain memudahkan pengobatan Ais dengan fasilitas yang lengkap dan rumah sakit yang bertebaran, juga ada usaha yang kebetulan Reza kelola. Usaha itulah yang sempat pada mulanya ditawarkan untuk dikelola ayah Ais.


Ternyata akibat penganiayaan yang dilakukan Hafiz, Ais tidak hanya mengalami luka fisik, melainkan juga mental. Berkali-kali Reza membawa Ais ke psikiater untuk mengobati kejiwaan Ais yang terganggu. Untung, baik Reza maupun keluarga selalu setia mendampingi dan mendukung Ais selama menjalani pengobatan, sehingga hanya butuh waktu tiga bulan Ais dinyatakan sembuh.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2