Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
72. Mama Ingin Ketemu


__ADS_3

"Mama....., mama......!


Dira mau sama mama......!"


Dira mengigau. Bahkan di alam bawah sadarnya gadis kecil itu memanggil mama, orang yang tidak lain adalah Ais.


Hafiz mengerjapkan mata, rasanya baru saja ia masuk ke alam mimpi, teriakan Dira menarik Hafiz kembali ke dunia nyata.


Perlahan untuk duduk, karena tadi Hafiz berbaring di sofa yang ada di dalam ruangan Dira. Hafiz juga sengaja memesan ruang VIP untuk Dira. Selain lebih nyaman, juga terasa lebih privasi.


"Dira....! ini papa sayang...!" kini Hafiz sudah berada di samping Dira yang masih menutup mata. Sejak tadi Dira memang belum sadarkan diri.


Bulir keringat bermunculan dikening Dira. Mungkin saat ini mimpi buruk sedang mengusik dirinya.


"Mama....., peluk .....Dira mau dipeluk mama, hik....hik..." kini tidak hanya memanggil mama. Tangisan Dira juga terdengar pilu. Kepalanya diputar ke kiri juga kekanan.


Hafiz mengusap lembut pipi Dira, sambil mencoba menenangkan. "Sayang...disini ada papa sayang!" Hafiz berbicara selembut mungkin, berharap Dira mendengar ucapannya dan segera membuka mata.


"Jangan buat papa panik sayang!" sambung Hafiz dipenuhi nada kesedihan.


Kreakkkkk........


Pintu ruangan Dira ada yang membuka. Hafiz yang masih fokus ke Dira tidak menyadari ada yang mendekat kearahnya juga Dira.


"Bagaimana cucu opah?" Suara itu mengagetkan Hafiz. Ternyata sudah ada puan Jijah juga Adam di sisinya.


"Ma......." Hafiz tidak kuasa lagi menahan kesedihan. Dipeluknya tubuh yang semakin renta. Puan Jijah membalas pelukan Hafiz, sambil mengelus-elus bahu Hafiz.


"Kenapa bisa terulang lagi? tanya puan Jijah layangkan, karena ini bukan kejadian pertama yang dialami Dira.


Hafiz melerai pelukan, ditatapnya wajah perempuan yang sudah melahirkan dirinya. "Dira mengamuk ingin ketemu Ais"


Mendengar nama Ais, Adam melirik ke arah Hafiz. Sebegitu berartinya Ais bagi Dira, sampai-sampai empat tahun berlalu tidak mengubah kenangan Ais untuk Dira.


"Mama.....mau sama mama!" rengekan Dira masih terdengar pilu di ke enam rungu yang ada disana.


"Sayang.....buka mata sayang, opah sama pak cik Adam datang nak....." Puan Jijah duduk disamping Dira. meski Dira masih terpejam, puan Jijah mencoba mengajak Dira untuk bicara.


"Belum ketemu?" tanya Adam datar, pandangannya masih tidak lepas dari Dira. Adam tau, semenjak kebenaran terungkap, Hafiz sangat menyesali perbuatannya, dan berusaha mencari Ais.


Hafiz menoleh pada Adam, ia masih ragu untuk mengatakan yang sebenarnya.


Adam membalas tatapan Hafiz. Menunggu jawaban Hafiz.


"Sudah....." ucap Hafiz pelan kembali menatap Dira hampa.


Bukan cuma Adam yang terkejut, puan Jijah juga sama, Ia menghentikan usapan di pipi Dira.


"Dia ada disini" kembali Hafiz mengeluarkan jawaban ambigu, yang sulit dipahami, membuat orang kebingungan.


"Maksud Abang?" Adam ingin kejelasan.

__ADS_1


"Dia ada di Malaysia, di rumah sakit ini" lanjut Hafiz.


"Ada disini? maksudnya Ais kerja dirumah sakit ini? atau dia lagi sakit?" Puan Jijah menyela ucapan Hafiz, yang terdengar mengambang.


Adam masih serius ingin mendengar ucapan Hafiz.


Hafiz menggeleng. "Ais tidak sakit maupun bekerja disini, melainkan......"


"Melainkan apa?" Adam semakin penasaran, ucapan Hafiz pun dipotongnya.


Hafiz kembali menatap Adam, kemudian Puan Jijah. Hafiz takut mereka belum siap untuk mendengar kenyataan yang akan Hafiz sampaikan. Karena selama ini mereka selalu berharap Ais masih sendiri, sehingga Hafiz bisa kembali menjalin kasih mendirikan rumah tangga lagi dengannya.


"Dia sudah menikah" ucap Hafiz pelan sambil menatap hampa pada Dira yang sudah kembali tertidur.


"Apa??" puan Jijah dan Adam sama kagetnya.


"Dia sudah menikah, dan sekarang suaminya sedang dirawat dirumah sakit ini" ucap Hafiz lagi. Meski ada hampa, berusaha ia ungkap semuanya. Agar tidak ada lagi yang mengharapkan Ais. Termasuk nantinya Dira.


Puan Jijah kembali menatap Dira. Ada rasa kasihan pada cucu semata wayangnya. Selama ini dia sangat tau bagaimana Dira mengharapkan sosok seorang ibu.


Hal itu wajar, sejak lahir Dira memang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, seperti anak pada umumnya. Jangankan Ais, ibu kandungnya saja tega meninggalkan Dira. Tanpa terasa air mata menetes dipipi puan Jijah. Sebenarnya di usia senja seperti ini harapannya hanya sedikit. Ingin melihat anak serta cucunya bahagia.


Adam hanya bisa mengelus pundak Hafiz, ia berusaha menyalurkan kekuatan untuk laki-laki bertampang garang namun hatinya hello Kitty.


Dulu, begitu tau seberapa besar cinta Hafiz pada Ais, Adam mengubur perasaan yang semula dibangun. Adam ikhlas, karena wanita yang ia cinta, dicintai lebih oleh kakak kandungnya.


Kini Adam sudah memiliki istri, mereka menetap di Singapura. Karena istri Adam adalah salah satu perawat yang ikut menangani Adam semasa menjalani pengobatan di Singapura.


"Mama ingin ketemu, Ais! tolong pertemukan mama!" Ucap puan Jijah serius.


"Tapi......"


Ada keraguan dihati Hafiz, Dira saja tidak direspon, apalagi hanya puan Jijah. Hafiz takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.


"Tolong Fiz!" ucap puan Jijah tak ingin dibantah.


Mau tak mau Hafiz mengangguk pelan. Kini ia harus mencari cara bagaimana mempertemukan puan Jijah dengan Ais.


****


Malam terasa singkat. Tanpa terasa kini pagi datang dengan cepat. Sinar mentari mulai menampakkan diri, Indah.....di upuk timur.


"Pa....pagi ini unda pulang dulu sebentar ya, mau ngeliat anak-anak. Papa nggak papakan mama tinggal sebentar?" Ais membuka pembicaraan, sambil melipat selimut yang ia pakai semalam.


Reza masih terbaring di atas bed, tinggal jarum infus yang masih melekat, segala oksigen semua sudah dilepas. Wajahnya sedikit mulai memerah, tidak seperti kemaren.


"Ia, nggak papa, pulanglah....., anak-anak juga butuh unda" Reza mengiyakan keinginan Ais. Sebenarnya dia juga sangat mengkhawatirkan kedua buah hatinya, terlebih pak Hartanto juga tengah terbaring sakit.


Sampai saat ini, tidak terlihat batang hidung ibu tiri Reza, tapi Ais dan Reza tidak mempermasalahkannya. Karena memang dia termasuk orang yang cuek. Hanya sekali saja Ais dan ibu mertuanya jalan bersama, setelah itu tidak pernah lagi. Apalagi mertuanya itu tergolong wanita sibuk. Sibuk dengan teman sosialita, sibuk dengan arisan dan lain sebagainya.


"Nanti unda pulang setelah dokter visit aja pa, biar mama juga tau bagaimana perkembangan papa, mama tidak mau lagi kecolongan" Ais sibuk meletakkan selimut yang dilipat ke dalam lemari samping bed Reza.

__ADS_1


Reza terkekeh, bisa-bisanya Ais bilang kecolongan. Memang apa yang Reza curi?


"Unda bisa aja" ucap Reza di sela tawanya.


"Habisnya kemaren unda sempat tidak diberi tau kalau papa lagi sakit" Ais masih teringat kejadian malam kemaren tiba-tiba saja Reza sakit sebegitu parahnya. Tanpa Ais tau penyebabnya. Padahal Reza sudah mengetahui penyakitnya sendiri.


"Bukan nggak mau ngasih tau, hanya belum" jawab Reza sambil memperhatikan gerak gerik istrinya.


Belum sempat Ais menjawab, pintu ruangan Reza berbunyi.


Kreaaakkk.....


Bunyi pintu dibuka.


Ais dan Reza kompak melihat kesana.


Ternyata seorang dokter juga dua perawat yang akan memeriksa kondisi Reza.


"Pagi....pak Reza! gimana kabarnya?" sapaan ramah dari dokter yang menangani Reza.


"Alhamdulillah....dok" meski kondisi tidaklah baik, Reza berusaha menjawab baik, semoga itu menjadi doa untuk dirinya.


"Apa yang bapak rasakan?" kembali dokter menanyakan keluhan Reza. Satu perawat siap dengan catatan kesehatan pasien, sedang perawat yang satunya lagi menyiapkan tensi ditangan Reza.


"Masih pusing sih dok, hanya tidak separah kemaren" jawab Reza seadanya.


"Sesak, apa masih?" tanya dokter lagi.


"Sudah enggak sih dok, hanya dada masih terasa berat, tenggorokan juga masih terasa sedikit nyeri"


Perawat yang bertugas memeriksa tensi sedang melakukan pengecekan.


"Kita lihat dulu tensi darah pak Reza ya?" dokter dan yang lainnya hening seketika, menunggu hasil tensi yang sedang diukur.


"100/ 80 dok...." perawat melaporkan hasil pemeriksaannya.


"Masih sedikit rendah, hanya tidak serendah kemaren" dokter mulai menekan-nekan stetoskop ke dada Reza. Terlihat hikmat mendengar suara organ tubuh Reza, terutama daerah jantung, paru-paru, organ pencernaan serta detak nadi.


"Masih lemah, jadi saya sarankan kita secepatnya melakukan tindakan" dokter menurunkan stetoskop dari kuping ke bagian leher. Satu perawat sibuk mencatat apa yang diucapkan dokter, sedang perawat yang satunya sibuk mengemaskan alat ukur tensi yang tadi digunakan.


"Sebenarnya, kalau di perbolehkan, kita ingin melakukan perawatan di Indonesia saja dok" Ais buka suara mencoba menyampaikan keinginan mereka pada dokter yang lebih tau tentang kondisi Reza.


Dokter menarik nafas berat, "saya tidak melarang, juga tidak memaksakan, semua keputusan terpulang pada pasien juga keluarga. Hanya saja untuk kondisi pak Reza saat ini, tidak disarankan untuk perjalanan jauh" dokter memberikan penjelasan sesuai yang ia yakini.


Tampak gurat kesedihan diwajah Ais, karena ia memang berniat akan membawa Reza pulang, selain disana ada keluarga, juga mereka ingin melakukan pengobatan secara alternatif.


"Kalau tidak ada lagi yang ingin ditanyakan, kami pamit. Pak Reza tetap semangat, agar bisa pulih seperti sedia kala" dokter menyemangati Reza, setelahnya berlalu pergi.


"Makasih dok...." ucap Ais juga Reza.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2