
Baru suapan pertama, " Gila.....ini kali pertama gue makan seenak ini" tutur Ahmad dengan mata membulat sambil mengunyah makanannya.
"Biasa aja kali" ucap Hafiz sinis.
Ais yang sudah kembali dari dapur dengan membawa air putih tetap cuek dengan pujian Ahmad, sambil terus menuangkan air ke dalam gelas. Ia menganggap itu hanya sekadar basa basi aja.
" Ais....kita nikah yuk!" ucap Ahmad tiba-tiba.
"Uhukkkk....uhukkkk...." Hafiz tersedak mendengar ucapan Ahmad.
Ais langsung menyodorkan air putih pada Hafiz.
"Ehhh....santai bro....." ucap Ahmad sambil menepuk-nepuk punggung Hafiz. Ahmad sedikit kaget karena tiba-tiba Hafiz tersedak sesaat ia mengajak Ais menikah.
Beberapa saat kemudian batuk Hafiz mereda, setelah meminum air yang diberikan Ais. Ahmad kembali duduk untuk melanjutkan acara makannya.
Hafiz menatap Ais dalam, namun enggan dibalas Ais. Ais lebih memilih untuk kembali ke dapur.
"Kamu gimana sih? makanya, makan jangan buru-buru, atau........? e....e.....e......." Ahmad memainkan matanya saat melihat Hafiz, kemudian mengedipkan mata ke arah Ais.
"Jangan ngacok deh!" Hafiz memasang wajah kesal saat Ahmad seolah-olah menganggap dirinya ada sesuatu dengan Ais.
Akhirnya mereka berdua makan dengan hikmat tanpa melanjutkan kata-kata.
Kini keduanya sudah selesai makan malam, Ais pun membereskan piring kotor, mengambil punya Ahmad kemudian punya Hafiz.
"Ais ..., makasih ya" Ahmad.
Ais hanya tersenyum, selanjutnya melangkah ke dapur membawa piring kotor.
Selesai mencuci piring kotor, Ais langsung naik ke atas untuk menunaikan shalat magrib.
Ahmad tak henti-hentinya menatap Ais, hingga gadis itu menghilang di balik pintu.
Hafiz yang jengah melihat tingkah Ahmad langsung melempar wajah sahabatnya dengan tisu yang ia remas.
"Apaan sih....?" Ahmad kaget.
"Udah...pulang sana!" perintah Hafiz yang semakin jengah dengan Ahmad.
" Numpang magrib dulu bos, bolehkan?" Ahmad memainkan matanya.
"Ehmmmm" jawaban Hafiz sambil memainkan hp.
"Eh...aku baru ingat, Dira sama puan Jijah kemana ya, dari tadi aku nggak liat" Ahmad.
__ADS_1
"Mama sama Dira ke Singapura, Adam berobat disana" jawab Hafiz seadanya.
"Whattttt?" mata Ahmad membulat dengan mulut menganga.
"Jangan bilang kamu hanya..." Ahmad menyandingkan jari kiri dan kanannya. Dengan ekspresi wajah berkerut seperti orang ingin menangis.
Hafiz tak memperdulikan tingkah Ahmad, dengan kaki tertatih-tatih ia berjalan menaiki anak tangga.
Ahmad yang tak mendapatkan jawaban mengusap kasar pucuk kepalanya, membayangkan antara Ais yang tinggal hanya berdua dengan Hafiz.
"Ya Allah ampunilah dosa kedua orang tuaku, sayangi lah mereka sebagi mana engkau menyayangiku. Ya Allah ya Rahman ya rahim berikan aku kemudahan serta kesabaran dalam menjalani takdir yang engkau tuliskan, aminnnnn" Ais mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Tokkkk......tokkk....
Hafiz mengetuk pintu kamar Ais.
Masih menggunakan mukena, Ais bangkit dan membuka pintu.
Begitu pintu dibuka, "Subhanallah...bidadari surga" ucap Ahmad dengan wajah sendu menatap dalam ke arah Ais, sedang Hafiz masih dengan posisi berdiri di depan pintu.
"Boleh pinjam sajadah? ni untuk kawan saya" ucap Hafiz sedikit ragu. Karena beberapa jam yang lalu, keduanya terlibat perang.
Masih dengan mode silent, Ais masuk kedalam dan kembali lagi dengan satu sajadah ditangan. Ais menjulurkan sajadah pada Hafiz, lagi-lagi tingkah Ahmad yang over, langsung mendahului tangan Hafiz untuk mengambil sajadah.
"Makasih Ais" ucap Ahmad manis. Tapi hanya dibalas dengan bunyi daun pintu yang ditutup kembali oleh Ais.
Mendadak wajah Ahmad jadi cemberut.
Jam sudah menunjukkan setengah delapan malam. "Broo... aku pamit ya...! ingatttt.....jangan macam-macam dengan calon istriku!" sambil berpelukan dengan Hafiz.
"Ehmmmm" hanya itu jawaban Hafiz.
"Besok nggak usah masuk dulu, kerjaan biar aku yang handle!" ucap Ahmad sambil memasang sepatu.
Tet...tet....
Bunyi klakson mobil yang datang menjemput Ahmad. Sekilas masih dalam posisi jongkok, Ahmad melihat ke arah jalan, "Aku pamit ya, Assalamualaikum!" ucap Ahmad.
"Waalaikumsalam....hati-hati...!" balas Hafiz.
Ahmad mengacungkan dua jempolnya, kemudian masuk ke mobil, dan menghilang....
"Hafiz yang masih tertatih-tatih, berjalan perlahan ke ruang keluarga, ia mendudukkan diri dikursi sofa dan mengambil remot untuk menghidupkan tv.
Hari ini ia benar-benar merasakan capek yang luar biasa, setelah melalui banyak masalah. Hafiz menyandarkan kepala di sandaran sofa sambil memijat halus pelipisnya.
__ADS_1
Sekilas terlintas di kepala Hafiz, semua kejadian antara ia dah Ais. Mengingat bagaimana ia menghina Ais, hingga wajah Ais saat menangis, membuat hatinya sedikit terenyuh.
"Ya Allah ...., kenapa aku harus memperlakukannya seperti ini? dia istriku yang sah" Ada air mata mengalir di samping pelipis Hafiz.
"Tuan ingin sesuatu?" tiba-tiba suara Ais membuyarkan Hafiz. Secepat kilat Hafiz menyapu air matanya.
Kemudian ia menoleh ke arah samping, ada Ais berdiri disampingnya.
Hafiz menatap sendu ke arah Ais, begitu juga Ais.
"Ais..., duduk sebentar!" pinta Hafiz pada Ais.
Ais pun mendudukkan diri di samping Hafiz.
Hafiz sedikit mengubah posisi duduknya, untuk menghadap ke arah Ais.
Kini mata mereka saling tatap, sangat dalam.
Sesaat, badan Ais merasakan ada sesuatu yang menggelora, tapi dia tidak tau apa itu.
Begitu juga Hafiz, saat menatap mata Ais, darahnya kembali memanas, jantungnya berdetak tak karuan, menari-nari tak sesuai irama.
Persekian detik, tak ada suara, krikkkk.....krikkkk....
Ais mengubah pandangan, "maaf, ada apa tuan" Ais memecah keheningan.
"Jangan panggil tuan, panggil Abang saja" ucap Hafiz masih dengan tatapan sendu.
"Tapi kenapa?" Ais
"Abang ingin memulai semuanya dari awal" ucap Hafiz pelan dengan kedua tangannya memegang ke dua bahu Ais.
Ais yang tiba-tiba mendapatkan perlakuan seperti itu menjadi gamam. Terlebih Hafiz memberikan kontak fisik, membuat Ais merasa tak enak, dengan terbata-bata ia melanjutkan bicaranya, "maksudnya?"
"Kita mulai hubungan ini layaknya suami istri sungguhan" Hafiz menggenggam erat kedua tangan Ais.
Deg....
Jantung Ais kembali tak karuan, "sadar Ais, ingat ucapan yang ia layangkan padamu tadi, kau adalah pembantu, dan akan selamanya menjadi pembantu. Jika sekarang ia berlaku manis padamu, itu tak lebih hanya modus untuk mendapatkan tubuhmu" suara hati Ais.
Ais berusa menarik tangannya dari tangan Hafiz.
"Tapi, aku nggak bisa" ucap Ais singkat.
"Kenapa? apa karena surat perjanjian itu? jika karena itu, akan secepatnya kumusnahkan" jawab Hafiz menggebu-gebu.
__ADS_1
"Maaf tuan, tapi..., aku benar-benar nggak bisa" jawab Ais lagi. Kemudian pergi meninggalkan Hafiz dengan naik kelantai dua.
Hafiz menatap kepergian Ais yang tiba-tiba. Ia sangat tidak menyangka akan mendapat penolakan dari Ais. Hafiz frustasi, sambil memukul angin. Kenapa bisa Ais menolak dirinya.