
Empat Tahun Kemudian.
Tanpa terasa empat tahun sudah berlalu. Selama itu juga Hafiz hidup dalam bayang-bayang penyesalan. Penyiksaan serta perbuatan kejam pada Ais belum juga mampu ia hilangkan. Saat sadarnya, bahkan dalam tidurnya Ais selalu menghantui.
Tubuh yang dulu terawat serta selalu tampil stylish, berubah menjadi laki-laki dewasa penuh brewokan. Belum lagi lingkar hitam dibawah mata, menambah kesan tua yang merajalela.
Setiap kali akan memejamkan mata, ia dilanda ketakutan luar biasa. Takut akan mimpi menakutkan tentang Ais, yang membuat dia terbangun dalam kondisi mengerikan. Tubuh bergetar, dengan nafas tersengal. Tak jarang meraung menangis penuh kepedihan.
Karena itulah, dibanding tidur, Hafiz lebih memilih bergadang ditemani kepulan asap bernikotin hingga subuh datang menyapa. Belakangan ini, kegiatan itulah yang selalu dilakukan berulang di empat tahun ini.
Selain itu ia juga lebih memilih menjadi laki-laki gila kerja. Tak heran setelah usahanya hampir gulung tikar, kini kembali bangkit menjadi Law Firm terbesar di Malaysia. Hafiz menamai usahanya Corporation 3A Law Firm. Entah apa arti dari 3A, hanya Hafiz yang tau.
Banyak kasus-kasur besar dimenangkan. Jadi tak heran jika banyak pengusaha mempercayakan masalah hukum mereka pada Celebration 3A Law Firm.
Seperti hari ini, Hafiz dan tim sedang melakukan rapat untuk membahas satu kasus berkaitan ijin usaha warga asing di Malaysia.
"Apa data perusahaan sudah lengkap?" Hafiz menanyakan kelengkapan data perusahaan yang memakai jasa mereka pada salah satu tim.Tatapannya serius tanpa ada senyum diwajahnya. Ya....empat tahun ini Hafiz sudah kehilangan senyumnya. Bahkan terbilang tak pernah sama sekali tersenyum. Makanya tak heran siapapun yang berhadapan dengannya memasang wajah serius penuh ketegangan.
"Sudah pak, nama perusahannya .................."
"Ok, Ahmad kamu yang tangani kasus ini"
Pinta Hafiz pada Ahmad, bawahan sekaligus sahabat dekatnya.
"Siap bos!" Ahmad menjawab singkat penuh keyakinan.
Derrrrttt.........dertttt........
Hape Hafiz yang tergeletak dimeja rapat bergetar minta diangkat.
"Halo"
(..................)
"Ia saya sendiri"
(....................)
"Baik, saya segera kesana"
__ADS_1
Tut....tut........
Sambungan terputus. Hafiz kembali mengantongi benda pipihnya.
"Rapat kita cukupkan sampai disini, sukses untuk kita semua"
"Sukses" Jawaban serempak dari tim.
Setelahnya mereka bubar menuju tugas masing-masing, ada yang langsung kemeja kerja, ada yang menemui client. Begitupun Hafiz, ia langsung kesekolah Dira, karena seperti biasa, jika sudah mengamuk, tak ada satu pun yang bisa mengamankan.
Pasca kecelakaan, Dira mengalami tantrum. Jika menangis atau mengamuk tak bisa ditenangkan kecuali oleh Hafiz seorang.
Hafiz memacu mobil menuju sekolah Dira, sesampai disana Hafiz disambut oleh wali kelas Dira, yang kebetulan memang sudah mengenali sosok Hafiz, yang tak lain teman semasa SMA.
"Dimana dia ?" wajah cemas jelas tergambar, ia takut jika Dira kembali menyakiti diri sendiri.
"Ada diruang guru"
Lelaki berjas hitam, dengan celana kain warna senada memasang langkah lebar, tatapannya datar, siapapun yang berpapasan dengannya memasang wajah ciut. Tampak sekali ekspresinya mematikan lawan. Tak heran setiap kali berada diruang sidang, sang lawan dibuat bertekuk lutut. Belum lagi susunan kata-kata yang bisa menjebak para lawan, sehingga dengan mudah dapat dikalahkan.
"Dira?" Panggilnya pada anak perempuan berseragam putih navi yang sedang memeluk lutut dengan muka menelusup diantara kedua lutut. Ia duduk disudut ruangan, sungguh kondisinya sangat memprihatinkan. Matanya memerah, juga hidung yang masih mengeluarkan cairan. Dipunggung tangannya terdapat beberapa luka bekas gigitan. Jelbab putih dikepala sudah tak berbentuk lagi.
Dira seketika menoleh, rungunya menajam mendengar suara yang dia kenal, ada diruangan itu.
Dengan keperihan mendalam, Hafiz berjalan mendekat ke arah Dira. Menekuk lutut dan merentangkan kedua tangan, seolah berbicara, "sini papa peluk".
Perlahan Dira bergeser, setelahnya menubrukkan diri dalam pelukan Hafiz. Tangisnya terisak, terdengar pilu menyayat kalbu.
Ada cairan bening, disudut mata Hafiz. Sungguh, saat ini hatinya sakit setiap kali mendapati Dira dalam kondisi mengerikan. Sudah berbagai cara ia lakukan untuk kesembuhan Dira, namun nyatanya sampai hari ini Dira tetap sama. Bahkan pernah di ejek gila oleh teman sekelasnya. Pasalnya tiba-tiba histeris tanpa sebab yang jelas.
Ini adalah sekolah ke tiga Dira, sebelumnya ia pernah bersekolah disekolah lain. Namun karena sikap teman-teman Dira yang selalu membuly, dengan menjauhi Dira serta mengejek gila, akhirnya Hafiz memindahkan sekolahnya.
"Ada yang bilang, Dira tak punya mama" ucapnya pilu disela tangis.
Deg.....
Hati Hafiz kembali terasa tersayat, nyeri. Setelah perceraiannya dengan Sofia, Dira memang tak pernah bertemu dengan ibu kandungnya. Pasalnya Sofia memilih menetap di LA dan menikah dengan laki-laki yang telah menghamilinya.
"Dira ada punya mama, kan dirumah kita sering melihat foto mama" Suara lembut Hafiz mengalun lembut tertiup angin sampai kerungu.
__ADS_1
Bukannya foto Sofia yang diperlihatkan Hafiz pada Dira, melainkan foto Ais. Foto yang diambil dari kartu memori hape milik Ais, yang telah dihancurkan Hafiz saat diapartemen.
Setelah tau kebenarannya, Hafiz kembali ke apartemen, memungut kepingan-kepingan hape yang tersisa, termasuk memori itu. Setelahnya dimasukkan kedalam hape yang lain, dan ternyata banyak foto-foto Ais disana. Baik dirinya semasa SMA di Indonesia, berselfy bersama Dira kecil, juga foto-foto saat pernikahan mereka. Itulah satu-satunya yang tersisa dari Ais. Pasalnya seluruh barang milik Ais yang ada dikamar sebelah, telah habis tak tersisa dibuang Hafiz ketempat sampah. Karena saat itu ia merasa Ais adalah wanita menjijikkan, tempat yang cocok adalah tong sampah.
"Kalau memang Dira punya mama, kenapa mama tidak tinggal bersama kita, seperti mama teman-teman yang lain?"
Pertanyaan seperti inilah yang selalu dihindari Hafiz, pasalnya Dira pasti memberikan banyak pertanyaan tentang Ais. Seperti saat ini. Membuat Hafiz berpikir keras untuk memberikan jawaban yang bisa diterima Dira.
"Papa sudah bilang kan, kalau mama lagi kerja diluar negeri"
"Sesibuk itukah mama, menjenguk Dira saja mama tak bisa?"
Tangisan kembali terdengar pilu. Tangisan harapan berbalut kecewa. Kenapa orang dewasa tidak bisa paham akan apa yang anak-anak inginkan.
"Mama kerjanya jauh, butuh banyak biaya supaya bisa bertemu Dira"
Hafiz sudah kehabisan akal, jadi jawaban terdengar ngasal tanpa dipikirkan.
"Papakan punya banyak uang, kenapa tidak kita saja yang menjenguk mama"
Jawaban cerdas Dira, bagai skakmat bagi Hafiz, membuat ia kehilangan kata-kata.
"Atau, papa kirim saja uangnya untuk mama, seperti papa mengirim uang untuk opah"
Deg......
Lagi-lagi, kata-kata Dira membuat Hafiz semakin tercekat, tak bisa mengeluarkan suara.
Elusan tangan Hafiz terhenti, Dira yang ada dipelukan bukan lagi Dira yang berumur empat tahun lalu, yang dengan mudahnya bisa dikibuli. Diri yang dipeluknya adalah Dira yang kritis, bisa membedakan mana kata yang benar dan mana kata yang salah.
Ujung-ujungnya Hafiz kembali membuat alasan, agar Dira menghentikan tangisnya.
"Sekarang papa lagi banyak kerjaan, nanti kala kerjaan papa udah beres, kita pergi menjemput mama"
Dira terdiam, dilerainya pelukan Hafiz. Ditatapnya mata laki-laki yang selama ini selalu menemaninya. Mencari kebohongan disana, tapi ternyata ia juga bisa melihat ada kesedihan dimata sang papa. Membuat ia mengangguk sebagai pilihan, tak mau orang yang dicinta terluka atas sikapnya. Karena selama ini, ia sering memergoki Hafiz menangis sambil memeluk foto Ais.
"Kita pulang ya?"
Hafiz yang tau Dira sudah dalam kondisi tenang, lebih memilih mengajaknya pulang ketimbang melanjutkan pelajaran.
__ADS_1
Manusia beda usia itupun pulang dengan saling berangkulan, menyalurkan cinta mengusir hampa.
Bersambung.........