
Seminggu telah berlalu, selama itu juga hari-hari Reza dipenuhi kesibukan mengurusi permasalahan yang ada di kantor pak Hartanto.
Pergi pagi, terkadang pulang tengah malam. Belum lagi memenuhi panggilan pihak kepolisian, membuat waktu kebersamaan dengan keluarga kecilnya, terpangkas habis.
Karena tak biasa, terkadang membuat Ais sedikit bimbang. Bagaimana tidak, perubahan itu terasa sangat kentara. Pasalnya, di empat tahun pernikahan, mereka selalu bersama, sesibuk apapun Reza tetap menomor satukan keluarga.
Sering Ais bertanya, apakah masalah dikantor benar-benar berat? Namun selama itu juga jawaban sama diberikan Reza. Ia mengatakan kalau semuanya baik-baik saja. Dan selalu meyakinkan Ais untuk tidak memikirkan hal yang aneh-aneh. Dia lupa, jika insting seorang istri mengalahkan anjing pelacak, mampu mendeteksi sesuatu yang berkaitan dengan dirinya.
Seperti halnya malam ini. Jam dinding sudah mengarah ke angka sebelas malam, namun belum ada tanda-tanda Reza akan pulang.
Berjalan mondar mandir seperti setrikaan.
Bekali-kali mengintip lewat dinding kaca, berharap mobil suami sudah terparkir dihalaman, namun masih tidak terlihat mobil Reza disana.
Waktu berjalan terasa lambat, detak jam dinding terasa sedang menertawakan. Selama pernikahan bersama Reza, belum pernah sekalipun Ais mengeluarkan air mata. Kecuali air mata bahagia. Tapi tidak berlaku untuk malam ini. Hatinya terasa sangat sesak, bernafas saja ia rasanya tak bisa. Pasokan udara terasa habis.
Letih berdiri, akhirnya mendudukkan diri dipinggir ranjang. Mata bulat nan hitam, sudah mengembun tak karuan. Tatapan terarah pada hape yang dipegang. Berpuluh kali mencoba menelpon, namun kenyataannya, dari jam sepuluh pagi hape Reza mati. Semua wa hanya centang satu, seperti tak mau berubah menjadi biru. Tak tau apa sebabnya, Ais hanya bisa menerka-nerka. Sehingga gelisah semakin meraja, mengusik ketenangan, menghilangkan nafsu makan.
Berusaha bertanya pada mertua, katanya dia juga sama tidak taunya. Karena pak Hartanto sudah sepenuhnya menyerahkan urusan perusahaan pada Reza. Ia sudah berlepas tangan, dikarenakan faktor usia juga kesehatan. Dan sebenarnya, nama perusahaan juga sudah dibalik nama atas nama Reza.
Kalau di Indonesia, banyak orang yang Ais kenal, sehingga mudah baginya untuk menanyakan kabar suaminya jika telat pulang. Kalau sekarang dia bisa apa, di Malaysia saja baru semingguan.
Tidak ada wajah merona, semua sirna ditelan hampa. Untungnya Aidan dan Aiza ada yang menjaga. Jadi, tak perlu repot mengurusi keduanya.
Dalam hatinya selalu berdoa, agar suaminya baik-baik saja serta selalu dalam lindungan Sang Pencipta.
Semakin tak tahan dengan rasa yang mendera, akhirnya Ais berlalu pergi kekamar mandi. Ia menyucikan diri untuk mengadu pada Sang Ilahi Rabbi.
Menghampar sajadah, Ais bersujud dengan air mata. Mengadukan semua beban yang menghimpit dada.
Setelah salam diucap, Ais kembali menengadah tangan, masih tak henti-hentinya memohon. Ia yakin, Tuhan pasti mengabulkan doanya.
Rasa kantuk berkolaborasi lelah datang menyerang, merobohkan pertahan Ais. Membuat Ais tertidur berbalut mukena dan beralaskan sajadah. Dua tangan disatukan sebagai bantalan. Benar kata orang, kasur yang mahal tak ada artinya saat kenikmatan itu mulai diuji.
__ADS_1
Entah sudah berapa lama Ais tertidur, tiba-tiba pintu kamar terbuka tanpa ada suara. Reza sengaja membuka pintu dengan pelan, karena tidak ingin membangunkan istrinya.
Begitu pintu terbuka, Reza disajikan pemandangan menyayat hati. Dia mendapati Ais tertidur diatas sajadah. Sesekali terdengar sesegukan yang tersisa akibat menangis terlalu lama. Ini kali pertama Reza menjatuhkan air mata istrinya. Walau tak secara terang-terangan, Reza tau istrinya pasti mengkhawatirkan dirinya. Tapi mau bagaimana lagi. Saat ini biarlah dulu seperti ini adanya. Ia tak ingin menyeret Ais kedalam pusaran masalah yang sedang dihadapi. Jika Ais tau, entah apa yang akan terjadi.
Dengan pakaian yang sudah berantakan, juga tas kerja disebelah tangan, Reza menyeret kaki dengan gontai mendekat ke arah Ais. Menekuk lutut dan bertumpu dilantai. Lalu meletakkan tas kerja disampingnya, Reza mengelus lembut pipi sang istri yang tengah dibuai mimpi. Istri yang sudah seminggu tak dijamahnya. Bukan karena urusan datang bulan, tapi lebih kepada nafsu yang hilang akibat banyaknya persoalan.
Merasa ada yang bergerak-gerak dipipi, membuat Ais mengerjapkan mata. Cahaya lampu yang masih menyala, membuat Ais menyipit dan menggosok pelan matanya.
Masih dalam kondisi setengah sadar, melihat wajah Reza didepan mata, Ais tersenyum. Ia merasa lega, akhirnya suaminya itu pulang.
"Papa?" ucapnya serak khas suara bangun tidur. Menyapa Reza yang tersenyum kearahnya.
"Kenapa tidur dilantai?"
"Unda sepertinya ketiduran"
Ais mendudukkan diri berhadapan dan meraih tangan Reza, lalu menciumnya dengan hikmat.
Reza balas mengelus sayang kepala istrinya.
Setelah melihat kearah jam, Ais kembali menoleh pada Reza.
"Kenapa baru pulang?" tanyanya dengan perasaan sedih, coba menguji jawaban, apakah Reza akan berterus terang. Dari raut wajah Reza, ia bisa melihat lelah yang tiada tara, ini pasti bukan persoalan biasa.
Kembali, sembari menunggu jawaban, dengan penuh cinta, dielusnya wajah suaminya. Berharap elusan itu bisa sedikit menghilangkan kelelahan Reza.
Diraihnya tangan Ais yang masih dipipi. Lalu dikecup dalam dan penuh sayang. Saat melakukan itu, kesedihan tiba-tiba datang menyergap hati. Dia tau, Ais habis menangis. Dan dia tidak tau, berapa lama lagi mereka bisa bersama.
Reza ikut mendudukkan diri. "Ada kerjaan dikantor"
jawab Reza dengan nada bicara yang tak biasa. Sedikit pelan, namun jelas terdengarnya.
Ini, untuk pertama kalinya Reza berbohong. Ada sesak saat kata itu diucap. Karena rasa bersalah telah membohongi orang yang ia cintai, juga teringat akan masalahnya tadi siang.
__ADS_1
Bukan saatnya untuk membahas masalah pekerjaan, Ais lebih memilih menanyakan hal lain. Karena ia tau saat ini Reza sedang tidak baik-baik saja. Menanyakan itu sama saja dengan menambah kelelahan suaminya. Soalnya bertanya "kenapa baru pulang" saja membuat wajah Reza mendadak lelah, apalagi membahas yang lainnya.
"Papa sudah makan?" Sambil terus menatap mata lelah suaminya. Ais bertanya dengan penuh perhatian. Tentunya berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Sudah, tadi dikantor"
Kebohongan kedua yang Reza ucapkan. Hari ini, jangankan makan, minum saja mungkin dia lupa. Kenyataan bertubi-tubi telah menghilangkan seluruh nafsunya.
"Mau mandi?" tanya Ais lagi.
Entah kenapa keduanya seperti tampak canggung. Sepatah tanya, sepatah jawaban. Tidak ada candaan apalagi keisengan yang biasa mereka lakukan. Mereka tak ubahnya seperti dua orang yang baru berkenalan.
"Boleh"
Sesingkat itu jawaban Reza.
Ais bangkit dari duduk, membuka mukena dan melipat sajadah. Kemudian disimpannya diatas nakas secara asal. Ia tak mau Reza lama menunggu. Apalagi ini sudah lewat jam satu. Ia tau suaminya sangat kelelahan.
Berjalan bergegas ke arah kamar mandi, ditekannya tombol pengatur suhu, untuk mengatur suhu air agar tidak terlalu panas, juga terlalu dingin. Selanjutnya Ais berjalan ke arah ruang ganti, membuka salah satu lemari, diraihnya selembar handuk yang masih terlipat rapi. Telah mendapatkan barang yang dicari, Ais kembali kekamar mandi, meletakkan handuk ke salah satu rak.
Dirasa semua beres, kini Ais bersiap untuk memanggil Reza. Sesampainya di dekat kasur, terlihat Reza menelungkup, masih dengan baju kerja, kaos kaki pun tak sempat dibuka.
Ais duduk dipinggir ranjang, tepat disamping Reza menghadap. Ternyata suaminya sudah tertidur lelap. Ditarikan nafas, sesekali terdengar dengkuran halus.
Ais mengurungkan niat untuk membangunkan Reza. Yang ada sekarang ia malah berdiri lagi dan mendekat ke arah kaki Reza. Dilepasnya kaos kaki secara pelan. Setelah membuang kelantai, Ais berusaha untuk membuat posisi tidur yang nyaman bagi Reza.
Reza yang mungkin masih setengah sadar, membalik tubuh menjadi telentang. Sehingga sedikit mempermudah bagi Ais untuk melepas ikat pinggang yang masih membelit pinggang Reza.
Soal baju dan celana, biarlah....
Ais menarik selimut hingga ke batas dada keduanya. Kecupan cinta tak lupa ia labuhkan dikening suami tercinta, sebagai ucapan sayang sebelum memasuki alam mimpi. Ais turut membaringkan diri disamping Reza. Agar bisa tertidur nyenyak, dihirupnya aroma suami yang ditunggu sejak awal malam.
Karena sudah menjadi kebiasaan, Reza dalam tidurnya masih meraih Ais agar masuk kedalam pelukannya.
__ADS_1
Bersambung.....