
Sebelum azan subuh berkumandang, Ais sudah membuka mata. Terbilang tidur yang teramat singkat, karena ia baru bisa memejamkan mata diatas jam 12 malam. Bukan tanpa alasan, Ais tak bisa memejamkan mata karena terus terngiang ucapan Hafiz siang kemaren.
flashback on
"Maafkan abang Ais"
Ais terdiam, masih dipelukan Hafiz menanti kelanjutan ucapan Hafiz, namun air matanya masih setia menghujani pipi kanan dan kirinya.
"Semua ini terjadi diluar kendali.
***Sampai detik ini, dia masih istri Abang, namanya Sofia, Ibu dari Adira.
Selama ini ia berada di LA untuk melanjutkan studynya.
Abang sangat mencintainya, sangat.....
Dia wanita pertama yang mengisi hati ini.
Abang harap Ais bisa merahasiakan pernikahan kita.
Abang belum siap untuk mengungkap kebenaran ini pada Sofia.
Jadi, tolong bersikaplah biasa saja saat ada dia diantara kita***"
Deg....
Sungguh rasanya dada Ais dihimpit bongkahan batu yang tak kasat mata, hancur menyisakan luka tak berdarah....
Perlahan Ais melepaskan pelukan Hafiz, kali ini tak ada penolakan dari Hafiz, ia membiarkannya.
Tadinya Ais kira Hafiz akan meminta maaf untuk semua kesalahannya pada Ais, nyatanya kedatangannya hanya untuk menjelaskan kisah cintanya pada Sofia. Tak taukah dia, kalau ucapannya jelas menyakiti hati Ais, dan tak bisakah, sedikit saja ia memikirkan bagaimana rasanya menjadi seorang "AIS".
Sepersekian detik Ais tetap membisu, kini ia terduduk lemas di atas kasur. Ia tertunduk kaku, tatapannya lurus ke lantai. Sedang Hafiz, memutar badan melangkah pergi meninggalkan Ais yang kesakitan.
Ais mengangkat pandangan, melihat kearah pintu yang sudah tertutup rapat.
Sungguh sedikit pun laki-laki itu tak punya hati.
Sedetik kemudian, tangisnya pecah di atas bantal.
"Tega kamu bang.....
Ayah......!
__ADS_1
Ibuk....!
Ais pengen pulang....
hik....hik...."
Flasback off
Ais kembali menyapu air mata yang kembali meleleh dengan sendirinya, saat kembali teringat ucapan Hafiz.
Doanya pagi ini, semoga Allah memberi ia kekuatan, kuat untuk menghadapi laki-laki kadal yang tak berperasaan.
* * *
Saat ini semua sedang menikmati sarapan dimeja makan, kecuali Ais. Setelah menyiapkan sarapan, ia buru-buru pamit pada puan Jijah yang kebetulan membantu Ais menyiapkan sarapan untuk segera berangkat kuliah. Alasannya ia takut terlambat.
Mendengar itu, puan Jijah sama sekali tak keberatan, hanya saja ia tetap berpesan jangan sampai Ais lupa sarapan. Padahal bukan itu alasan utama, melainkan Ais sedang menghindari Hafiz dan Sofia. Jadi sebelum bertemu Hafiz, alangkah baiknya ia menghindar.
"Ais mana ma?" Adam membuka percakapan, karena dilihatnya tak ada Ais di meja makan maupun dapur.
"Ais barusan berangkat ke kampus"
"Lho....apa dia tidak sarapan?" Adam memasang tampang khawatir.
Berbeda dengan Adam, Hafiz malah terlihat biasa saja. Ia yang sudah siap dengan setelan kerjanya, duduk manis sambil memainkan ponsel, menunggu Sofia menghidangkan sarapan untuknya.
"Makasih" ucapnya pada Sofia yang baru saja menyodorkan piring berisi nasi goreng kehadapannya. Diletakkannya hp disamping piring, kemudian ia menikmati sarapan buatan Ais. Ia sudah sangat hafal, diberi tahu atau tidak, nasi goreng itu adalah buatan Ais.
"Sama-sama" Sofia tersenyum lembut pada Hafiz.
Setelah menyendoki nasi goreng untuk Adam, puan Jijah turut menikmati sarapan paginya.
"Sayang kenapa, kok nasinya nggak dimakan?" Sofia menatap heran pada Adira yang enggan untuk menyuap nasinya.
Sekarang semua mata tertuju pada Dira, si gadis berkepang dua yang duduk cemberut sambil menyilangkan tangan di atas dada.
"Dira mau disuapi Tante Ais, kayak semalam" Ternyata gadis cantik itu ngambek ingin disuapi Ais seperti makan malam kemaren, tapi sayangnya pagi ini Ais sudah pergi ke kampus.
"Sayang, Tante Aisnya udah ke kekampus, biar mama aja ya yang suapin?" Sofia memberi penawaran pada Dira. Jujur sebenarnya ia masih terasa kaku untuk mengurus Dira, karena selama ini ia tak pernah merawat Dira. Jadi boleh dibilang tak ada kebersamaan antara ke duanya.
Adira menggeleng, wanita yang duduk disampingnya masih terasa asing baginya.
"Sama Om aja ya?" Adam kembali buka suara.
__ADS_1
Dira mengangguk, ia pun mendekat dan duduk dikursi kosong yang ada disamping Adam. Tak bisa dipungkiri lagi, Adam memang sudah terbiasa mengurus Dira, terlebih selama tiga bulan di Singapura.
Hafiz buru-buru mengakhiri sarapannya. Meneguk teh tawar digelasnya, kemudian bangkit dari duduknya.
"Ma Hafiz berangkat ya!" Ia pun mencium tangan puan Jijah, kemudian mengecup kening Dira dan beralih mengulurkan tangan pada Sofia.
"Kok buru-buru amat yang?" tanya Sofia yang melihat Hafiz terlihat buru-buru. Ia mengikuti langkah Hafiz sampai kedepan pintu, dengan meninggalkan sarapannya yang belum sempat ia jamah.
"Ia, Abang baru ingat ada janjian sama client pagi ini" jawab Hafiz sekenanya. Padahal saat ini ia sedang memikirkan Ais, karena biasanya ia yang akan mengantar Ais ke kampus, kalau hari ini Ais berangkat sendiri, artinya Ais akan berjalan kaki menuju halte bus dan itu jaraknya cukup jauh dari rumah Hafiz yang berada ditengah komplek.
Sofia memberikan lambaian tangan pada Hafiz yang sudah beranjak meninggalkan halaman. Kemudian ia membalikkan badan dan berniat melanjutkan sarapan yang tertunda.
Dari kejauhan Hafiz bisa melihat wanita rambut sebahu dengan kemeja polos berwarna navi gelisah melihat jam dipergelangan tangannya, berdiri diantara beberapa orang yang juga sedang menunggu kehadiran bus.
Hafiz mulai menepikan mobil untuk mendekat ke arah halte bus, namun belum sempat mendekat, sudah ada mobil mewah yang berhenti di depan halte.
Sepertinya Hafiz pernah melihat mobil itu, tapi dimana?
Sesosok laki-laki tampan dengan tampilan casual turun dari mobil menghampiri Ais.
Hafiz ingat, laki-laki itu orang yang sama saat mengantar Ais pulang kuliah beberapa bulan lalu.
"Sialan!!!"
Hafiz memukul stir mobil, hatinya seketika memanas, ia seperti kebakaran jenggot menahan cemburu yang kembali menghantam jiwanya.
"Jadi ini, alasan buru-buru pergi kekampus?
Cuuih......
Sampai-sampai tak sempat pamit dengan suami sendiri" Gumam Hafiz, tataannya tajam menyorot dua anak Adam yang terlihat sangat serasi.
Bagaimana tidak, bak pangeran berkuda yang datang menjemput wanitanya.
Ia turun dari mobil mewah, menghampiri Ais, lalu membukakan pintu mobil untuk wanitanya, siapapun yang melihat adegan itu, pasti sesaat akan menahan nafas.
Termasuk Hafiz, saat ini dadanya nyeri melihat istrinya dibawa pergi laki-laki lain yang terlihat lebih muda, lebih tampan juga lebih mapan darinya,siapa lagi kalau bukan Reza.
Hafiz bagai orang kehilangan akal, dengan setia ia menjadi penguntit, mengikuti kemana arah mobil yang membawa Ais. Otaknya penuh dengan bayangan Ais yang sedang bermesraan dengan laki-laki yang ada bersamanya.
Barulah Hafiz tersadar, ternyata kini ia melupakan jutuan awal untuk berangkat ke kantor, namun berakhir di gerbang kampus Ais.
"Sial!!!
__ADS_1
Bersambung....