Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
70. Harus Berikhtiar


__ADS_3

Ais berjalan gontai, saat keluar dari ruang dokter yang menangani Reza. Ada sejuta risau yang sedang menabrak hati. Ia tau apa yang baru dikatakan dokter, sakit Reza tidaklah ringan, terlebih sudah memasuki stadium empat.


Dengan berat Ais menarik langkah, banyak ketakutan yang ia rasakan. Semua ujian datang bersamaan, apa mungkin ia mampu untuk menghadapinya? Terutama yang menjadi sandaran saat ini terbaring lemah.


"Ais....!" suara laki-laki bajin*an kembali menyapa rungu. Ternyata belum puas dia mengganggu Ais.


Ais menghentikan langkah, tanpa memutar arah, ia berkata " apa lagi maumu? belum puas kau siksa aku selama ini hemmm....?"


"Ais, tolong maafkan Abang Ais" mohon Hafiz yang semakin mendekat ke arah Ais.


Ais tertawa, namun wajahnya mengukir kebencian.


Sakit hatinya terlalu dalam.


"Berhentilah memohon maaf dari ku, sampai mati pun aku tidak akan pernah memberi maaf untuk laki-laki seperti anda!" ucap Ais dengan kebencian.


"Lebih baik anda urus keluarga anda sendiri, jangan pernah menampakkan diri di depanku!" sambung Ais dan akan berjalan melanjutkan langkah.


"Dira ingin bertemu" ucap Hafiz pelan namun mengiba.


Ais memutar badan.


Hafiz kira Ais akan melemah saat mendengar nama Dira dibawa. Karena dulu Ais sangat menyayangi Dira.


"Hah......ha....ha...., apa hubungannya? bukannya dia punya orang tua? kenapa harus bawa-bawa saya?. Anda benar-benar lucu" Ais tertawa mengejek. Dimatanya Hafiz makin terlihat sebagai seorang pengecut, yang berlindung dibelakang seorang anak kecil. Sungguh licik....., semakin membuat Ais muak.


Setelah itu ia melanjutkan langkah, menuju keruangan Reza.


"Dira memang punya orang tua, tapi......" Hafiz berbicara pelan, tapi ia tidak mampu melanjutkan ucapannya. Begitu sesak saat mengingat kondisi Dira yang selalu menginginkan Ais. Orang yang dikira ibunya.


Hafiz tidak lagi menahan Ais. Dia hanya menatap hampa. Ais benar-benar membenci dirinya. Membawa nama Dira pun, sepertinya percuma. Padahal, Dira benar-benar merindukan Ais. Bagaimana caranya agar Hafiz bisa menepati janjinya pada Dira untuk mempertemukan dirinya dengan Ais? Sementara Ais sangat membenci mereka. Malah sekarang Hafiz takut jika dipaksakan, Dira akan mengalami kekecewaan. Ais yang sekarang bukan Ais yang dulu. Ini semua berakar dari kesalahan Hafiz. Hafiz sadar akan hal itu. Dia yang telah membuat luka dihati Ais. Dan ternyata luka yang ia torehkan terlalu dalam. Sehingga sulit untuk disembuhkan.


Kreeeek......


Pelan Ais mendorong ruangan Reza.


Ternyata Reza sudah sadar, dan sedang terbaring lemah menatap dirinya. Masih memaksakan tersenyum, meski kondisinya tidak baik-baik saja.


"Sayang...!" panggilnya pelan dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Mendengar Reza berkata seperti itu, merobohkan bendungan yang sudah mati-matian Ais bangun. Tadinya dia tidak akan menangis, di depan Reza, karena itu juga termasuk pesan dari dokter. Ais harus kuat. Tapi, " hik......hik.....hik....." Ais berlari ke arah Reza, ia menangis sambil memeluk Reza yang terbaring lemah.


"Hei.....kenapa nangis....? Reza berpura-pura tidak tau, dengan sayang dielusnya pucuk kepala Ais.


Mendapat perlakuan seperti itu bukannya membuat Ais tenang. Malah tangisnya semakin pecah.


Reza tak mampu lagi, berkata-kata, matanya ikut berkaca-kaca, hanya elusan yang berbicara. Seolah mengatakan "udah, jangan nangis lagi, papa jadi semakin sedih. Papa tidak ingin sakit seperti ini. Papa tidak ingin mati meninggalkan kalian. Tapi mau bagaimana lagi"


Lama Ais menangis sambil memeluk Reza. Baju pasien yang dipakai Reza juga turut basah, karena air mata Ais yang tak henti meleleh.

__ADS_1


Puas menangis akhirnya ia bicara, "kenapa harus papa? Ais bertanya seakan masih tidak menerima suratan takdir. Kepalanya masih melekat di dada Reza.


"Sutttt......, nggak boleh ngomong gitu, itu sama juga unda nyalahin Allah" Reza mencoba belajar ikhlas, padahal dalam hatinya juga masih terasa sesak.


Ais diam, ucapan Reza coba diresapinya. Ais kembali duduk, ditatapnya wajah pucat Reza. Ais kembali teringat pesan dokter jangan membuat pasien bersedih yang nantinya akan memperburuk kondisi psikis pasien, Ais tidak ingin itu terjadi. Dia harus kuat, jika bukan dia yang menguatkan Reza siapa lagi.


"Kita berobat ya? Kita cari pengobatan terbaik, jika tidak bisa di sini, kita cari ditempat lain" ucapan Ais kembali bersemangat. Ais sadar, menangis lama-lama tidak bisa mengubah apapun. Kecuali dia harus berikhtiar.


Reza tersenyum "ia sayang".


Ais balas tersenyum. "Papa makan ya?" Ais melihat sudah ada sarapan di atas meja kecil disamping ranjang pasien, namun masih berbungkus plastik. Artinya Reza belum memakannya. Mungkin saat dirinya diluar, perawat mengantar sarapan.


Reza mengangguk patuh.


Sarapan bubur khusus pasien kanker yang menjadi menunya pagi ini. Bubur tanpa garam apalagi penyedap rasa. Hanya terbuat dari beras merah yang di mix dengan bayan merah juga pegagan. Karena sayuran di atas diyakini bisa melawan sel kanker.


Disuapan pertama, Reza sedikit berkerut, merasa aneh dengan apa yang masuk ke indtra pengecapnya.


"Kenapa?" Ais bertanya heran.


"Rasanya hambar, nggak ada garam juga penyedapnya".


"Masak ia sih sayang, tapi dari tampilannya sepertinya enak?"


Ais lalu memasukkan sedikit bubur kedalam mulutnya. "Ia....nggak ada rasanya, mungkin buburnya memang dibuat seperti ini kali ya....?" kini Ais yang bertnya-tanya.


"Ya udah.....papa makan ajalah, biar cepat sembuh, habis makan kita cari di you tube info seputar penyakit papa" ucap Ais yang mulai belajar tenang.


Padahal jauh dilubuk hati Ais, rapuh itu pasti ada. Hanya saja ia tidak akan menampakkannya di depan Reza.


*****


Sore menjelang.....


"Papa sudah pulang?" diambang pintu, Dira menyambut kedatangan Hafiz .


"Ia sayang, papa baru pulang"


Hafiz mengecup sayang pucuk kepala Dira.


"Dira sudah makan?


Dira menggeleng.


"Papa mandi dulu ya, setelah itu baru kita makan bersama"


Lagi-lagi Dira mengangguk.


Baru beberapa langkah Hafiz berjalan, Dira bersuara.

__ADS_1


"Pa...kapan kita jemput mama?".


Deg......


Hafiz menghentikan langkah. Lagi dan lagi pertanyaan ini yang ia dengar. Rasanya saat ini Hafiz benar-benar pusing, sekarang Dira malah menuntut dirinya untuk bertemu Ais. Orang yang jelas-jelas sangat membenci dirinya.


"Dira, stop talking about her!" Hafiz tiba-tiba meninggikan suara. Membentak Dira yang tidak tau menahu.


Dira yang punya tantrum mulai bergetar ketakutan, matanya berkaca-kaca. Setelahnya ia berlari mengunci pintu di dalam kamar.


Hafiz baru menyadari jika apa yang dilakukan barusan daat membuat goncangan di jiwa Dira. Hafiz panik, tas yang ada ditangan terlepas begitu saja. Dia berlari berusaha menenangkan Dira, namun sayang pintu kamar Dira dikunci dari dalam.


"Dira....buka pintunya sayang! maafin papa, nanti kita cari mama ya!" bujuk Hafiz sambil memutar-mutar knop pintu yang tak kunjung terbuka.


"Papa bohong, Dira benci papa!" suara Dira berteriak dari dalam kamar.


"Sayang........"


Praaakkkkkk


Bunyi barang dibanting Dira.


"Sayang..... please.....buka pintunya!" Hafiz semakin panik, ia tau jika begini Dira akan menyakiti dirinya.


"Kenapa tuan?" pembantu Hafiz datang tergopoh-gopoh.


"Bik tolong carikan kunci cadangan dilaci kamar saya!"


"Baik tuan" bibik bergegas pergi untuk mencari kunci cadangan.


Sementara di dalam kamarnya, Dira menghantamkan ke palanya ke dinding kamar.


"Dira...., sayang maafin papa. Papa janji, akan membawa Dira bertemu mama" Hafiz berusaha membujuk Dira.


"Pergi.....! Papa selalu bohong...! Dira benci papa!"


"Kali ini papa nggak bohong lagi sayang...."


Hafiz masih mengetuk-ngetuk pintu, berharap Dira membukan pintu.


"Ahhhhh......" Dira berteriak kesakitan.


Hafiz semakin panik.


"Dira.....!"


Disaat bersamaan bibik memberikan kunci cadangan.


Hafiz dengan tergopoh-gopoh membuka pintu kamar. Akhirnya pintu terbuka. Mata Hafiz membulat menangkap sosok Dira yang sudah tergeletak dengan kening penuh darah.

__ADS_1


"Dira.......!!!!"


Bersambung........


__ADS_2