Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
57. Abang?


__ADS_3

Bug.....


Karena tidak konsen, Aidan menabrak kaki seseorang. Membuat tubuh mungilnya sedikit terhuyung kebelakang.


Bukan tipe yang cengeng, Aidan hanya mengelus-elus kening yang kebetulan membentur tas yang dibawa laki-laki yang tak lain adalah Hafiz, ayah kandung Aidan.


Sontak Hafiz menjatuhkan diri, menekuk lutut, menyamakan tinggi dengan posisi Aidan. Mata yang berada dibalik kaca mata hitamnya menelisik kearah bocah laki-laki yang memiliki wajah tah kalah tampan. Pipinya yang cabi membuat siapapun ingin mencubit. Hafiz pernah melihat wajah ini. Wajah yang tidak asing. Membuat Hafiz sempat mengingat-ingat. Apakah wajah anak keluarga? rasanya tidak. Wajah anak teman-temannya? juga tidak, bahkan diantara banyak teman, hanya Ahmad yang sempat mengenalkan istri, bukan anak, soalnya Ahmad belum mempunyai anak.


Saat Aidan menoleh, membalas tatapan yang terhalang benda hitam, membuat getaran yang terasa entah di hati Hafiz.


"Maaf om, Aidan dak saja"


Karena masih cadel, ucapan yang diucapkan terdengar lucu.


Hafiz tersenyum, "Om yang minta maaf, karena buru-buru menabrak....Ai...." ucapan Hafiz terpotong saat mengeja Ai....pikirannya langsung tertuju pada seseorang, "Ais" ucapnya pelan. Ya ...., anak itu mirip Ais, istrinya, lebih tepat mantan istri, karena empat tahun lalu, ia sudah menjatuhkan talak pada Ais.


"Rasanya aku juga sudah ketularan Dira, semua orang kusamakan dengan Ais. Astagfirullah......" suara hati Hafiz. Hafiz mengusap kasar wajahnya.


Saat melihat kedepan, bocah kecil yang ia lupa namanya sudah berlari entah kemana.


Melihat waktu dipergelangan tangan, membuat Hafiz buru-buru melanjutkan langkah. Melupakan bayangan aneh, agar ia fokus dalam bekerja.


"Unda?"


Aidan yang tadi disuruh duduk, tiba-tiba sudah berdiri disamping Ais.


"Ayo sayang kita naik ke atas! ruangan papa ada dilantai paling atas" ucap Ais lembut, seraya berjalan dengan bergandengan tangan bersama Aidan.


Beberapa jam tak bertemu, membuat rindu terasa berat. Padahal hanya beberapa jam saja, bagaimana jadinya jika perpisahan itu sampai seminggu, atau setahun? atau selamanya?


Jangankan benar terjadi, membayangkannya saja membuat Ais bergidik ngeri.


Hari ini saja sudah menjadi rekor berpisah terlama selama mereka menikah, membuat hati tak karuan, sampai-sampai benda yang dianggap penting bisa ketinggalan. Untung tadi diantar sopir pribadi. Pasalnya Ais tak semat memikirkan hal lain selain bertemu dengan suami tercinta, Reza.


Didepan ruangan Reza, terdengar ketukan pintu. Setelah terdengar sahutan mempersilakan masuk, orang yang berdiri di depan pintu melangkahkan kaki masuk kedalam ruangan yang belum ia kenal siapa orangnya. Dari nama pemilik perusahaan yang mengajukan bantuan hukum serta nama yang tertempel di papan nama, tertuliskan "HARTANTO"


Deg...........


Ini gila, sungguh gila, kenapa orang yang ada diruangan ini Dia?


Hafiz teringat bagaimana perhatian serta kedekatan Reza dan Ais. Bahkan Hafiz sempat mengira Reza adalah laki-laki bangsat, selingkuhan Ais. Hafiz juga yakin, Ais tidak bisa ditemukan juga adalah ulah Reza.

__ADS_1


Jemari Hafiz mengepal kuat, tiba-tiba sakit hatinya kembali muncul, sesaat setelah melihat wajah Reza.


"Tunggu, jika Reza adalah orang dibalik hilangnya Ais, jadi....." suara hati Hafiz.


Reza yang masih sibuk menandatangani berkas, belum sempat menoleh pada orang yang menatap tajam dirinya.


"Oh...sorry..., silakan!" Reza belum menyadari siapa yang sedang dihadapinya. Bahkan mungkin ia tidak mengenalinya, bukan tanpa alasan, penampilan Hafiz kini berbanding 180 derajat dari yang dulu. Jambang yang menyaingi hutan belantara, belum lagi rambut yang dibiarkan agak panjang, memang benar-benar membuat Hafiz tak bisa dikenali.


"Aku harus berpura-pura tidak mengenalinya" suara hati Hafiz.


"Ohhhh....ia terima kasih" ucap Hafiz berusaha tenang, namun didalam dada berdetak tak karuan.


"Perkenalkan, saya Reza, anak dari pak Hartanto"


Hafiz mengulurkan tangan tanda perkenalan.


"Ha...ah.....Ahmad" hampir saja Hafiz menyebutkan namanya. Untung saja ia teringat, nama sahabatnya, yang menangani kasus itu.


Dua laki-laki pecinta satu wanita sedang berjabat tangan. Mungkin tanda persahabatan, mungkin juga simbol perperangan.


"Mungkin dengan cara ini aku bisa menemukan Ais" suara hati Hafiz, yang masih setia menjabat tangan Reza.


"Ayo....silakan....duduk!" Reza kembali mempersilakan tamunya untuk duduk.


Sejauh itu, sedikit pun Reza tak menaruh curiga atau mengenali sosok Hafiz. Salah satu faktor yang mendukung, kaca mata hitam masih betah bertengger dihidung Hafiz. Jika ia tau, tak mungkin dia bisa seramah itu. Karena baginya, Hafiz adalah orang yang pernah menghancurkan Ais. Reza lebih rela kehilangan harta dan membatalkan masalah hukumnya, dibanding meminta pertolongan Hafiz.


"Papa!" suara bocah laki-laki terdengar nyaring memasuki ruangan.


Dua laki-laki dewasa, menoleh ke arah bocah yang berlarian kedalam ruangan.


Senyum Reza terkembang, kini supplement nya datang membawa tenaga baru. Seperti halnya dengan Ais, begitu jugalah ia dengan Aidan dan Aiza. Tak pernah berjauhan walau hanya sehari.


Deg......


Hafiz mematung, otaknya tiba-tiba blank. Tak mampu mencerna apa yang sedang dilihatnya. "Bukankah ini, bocah yang tadi?


Apa dia anak Reza? tapi siapa istrinya?


Apa mungkin.....? ahhhh.....membayangkan saja rasanya dada Hafiz sesak. Bagaimana jika benar?


Bukankah bocah ini mirip Ais?

__ADS_1


Tidak, tak mungkin" Hafiz menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menolak pemikiran sendiri.


Tapi........


Hafiz memutar pandangan ke arah Reza, seakan masih mencari jawaban untuk semua ini.


"Papa!"


Kini Aidan sudah berada digendongan Reza.


"Emmmmh.....sayang papa, kemana aja sih hari ini, papa kangen tau" Reza tak henti-hentinya menciumi pipi Aidan yang gembul. Seakan menyalurkan kerinduan yang lama ditahan.


Hafiz melihat betul interaksi keduanya, entah apa yang ada di hatinya saat ini. Kembali ada perasaan aneh, yang dia sendiri juga tidak tau. Apakah iri? terharu? atau apa? Hafiz hanya mematung melihat bagaimana Aidan memperlakukan Reza. Begitupun sebaliknya, perlakuan Reza pada Aidan.


"Eh....maaf, pak Ahmad...., saya suka lupa dengan yang lain kalau sudah berduaan dengan anak-anak, lebih lagi kalau berduaan dengan istri" ucap Reza diselingi candaan. Tawa bahagia tergambar diwajahnya.


"Nggak masalah pak, saya juga gitu" Hafiz mengurai canggung, terlebih bocah yang ada digendongan Reza menatap dirinya tajam. Jika tadi saat kejadian dibawah bocah ini terlihat takut-takut, sekarang berbeda, ia jadi berani mungkin karena ada tamengnya.


"Oh...ya, perkenalkan, ini anak sulung saya, namanya Aidan, salam om nya!"


Reza mendekatkan Aidan pada orang yang dikiranya Ahmad.


"Hai, Aidan, kita bertemu lagi" Hafiz mengur tangan untuk menyalami Aidan.


Aidan dengan sedikit ragu menerima uluran tangan Hafiz.


Deg.......


Lagi dan lagi, ada rasa yang entah meraja, saat tangan kecil itu bersentuhan dengan tangannya.


"Lho....kapan ketemunya? Reza jadi penasaran.


"Tadi saat diloby"


"Oh....."


Reza ber oh ria.


"Undanya, mana....?" tanya Reza pada Aidan yang masih memeluknya.


Pasalnya, Reza masih belum melihat wajah istri yang sangat ia rindukan.

__ADS_1


"Abang?"


Bersambung.......


__ADS_2