Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
43. Malapetaka


__ADS_3

Satu jam sudah berlalu, tak ada kabar dari Hafiz. Ia menghilang bak ditelan bumi.


Ais duduk dimeja makan, menopang wajah dengan kedua tangan. Tatapannya kosong pada makanan yang sudah dingin.


Rasa lapar telah hilang, Ais kehilangan nafsu makan. Lambungnya terasa penuh, ada ribuan duri beracun yang menghujam, efeknya membuat mual, sesak dan berkeringat dingin.


Berkali-kali Ais menoleh kearah hp yang ada diatas meja, namun tak ada satupun wa dari Hafiz suaminya.


Kebanyakan wa yang masuk hanya dari grup kelas, juga Reza yang menanyakan tawarannya.


Ais tak berniat membalas.


Kini fokusnya menunggu Hafiz menghubungi atau setidaknya mengirim pesan pernyataan maaf atau apalah itu.


Mungkin rasa inilah yang tadi dirasakan Sofia. Sesak menunggu kabar dari orang yang dicinta. Barangkali Ais sedang menjalani karma. Bedanya tipis, sampai detik ini, Ais tak berani menghubungi Hafiz, bukan karena apa, ia hanya takut jika Sofia tau.


Kemana Hafiz?


Ada apa dengannya?


Siapa sebenarnya dia dimata Hafiz?


Mau dibawa kemana hubungan mereka?


Pertanyaan itulah yang selalu berulang dikepala. Entah sudah berapa banyak air mata yang mengalir, dari bukti yang ada, matanya sembab dan menyipit.


Kembali melirik ke arah hape, ternyata sekarang jam sudah diangka sembilan malam. Perlahan-lahan, pertahanan Ais mulai goyang, pelan tapi pasti kini pipi menyentuh meja makan, ia pun tertidur terkulai bertemankan nasi pecel ayam yang tak sempat di makan.


****


Ditempat berbeda, rumah sakit ternama xxxx.


Tangisan, raungan terdengar menggema diruang IGD.


Semua larut dalam kebimbangan, Adira tersayang dinyatakan kehilangan banyak darah serta retak ditempurung kepala, sekarang sedang berjuang untuk bertahan hidup.


Tim dokter sedang melakukan upaya penanganan, seluruh tenaga serta keahlian mereka kerahkan.


Keringat berkucuran mengalir membasahi pelipis.


Tak lama salah seorang dari tim dokter berjalan keluar mencari keluarga pasien. Dia salah satu dokter laki-laki yang sudah berumur, rambutnya putih dan tentunya sudah mengantongi jam terbang yang tinggi.

__ADS_1


Adam, puan Jijah, Hafiz, serta Sofia, serentak mendekat kearah dokter yang datang. Tujuannya sama, mencari tahu kondisi Adira.


"Bagaimana anak saya dok?" Hafiz bertanya dengan ekspresi cemas juga tak sabar.


Tak jauh berbeda dengan tiga orang disampingnya.


Sebelum menjawab, dokter menatap sendu pada empat orang yang berdiri di depannya.


"Sebaiknya salah satu dari wali pasien ikut saya keruangan, ada hal yang perlu kita bicarakan!"


Dokter yang masih lengkap dengan peralatan kedokterannya, berjalan menuju ruangan. Tanpa perundingan, Hafiz lah yang langsung mengekor dibelakang dokter.


"Silakan duduk pak!"


Tak ada suara, hanya suara tarikan kursi sebagai jawabannya. Hafiz duduk, berhadapan dengan dokter dan hanya terhalang meja. Dengan tidak sabaran ia kembali buka suara.


"Bagaimana anak saya dok?"


Karena yang penuh dikepala hanya Adira. keselamatan Adira.


"Anak bapak mengalami kehilangan banyak darah, serta retak ditempurung kepala. Sehingga berakibat ada pembuluh darah yang pecah dan terjadi penyumbatan. Dan sekarang kondisi pasien kritis"


Hafiz, terkejut, separah itukah kondisinya?


Detik berikutnya ia kembali bersuara.


"Lakukan yang terbaik dok, berapapun biaya akan saya bayar" Mohon Hafiz dengan berlinang air mata. Tangannya menggenggam tangan dokter yang ada dihadapannya. Tatapannya memohon.


"Bukan hanya persoalan biaya, sekarang yang perlu kita siapkan adalah donor darah untuk pasien"


"Ambil saja darah saya dok, golongan darah kami sama"


"Dan bapak harus membuat surat pernyataan. Karena jalan satu-satunya untuk menyelamatkan nyawa anak bapak adalah dengan operasi"


"Lakukan saja dok! jika memang itu yang bisa menyelamatkan anak saya"


"Kita akan melakukan operasi, tapi sebelumnya ada hal yang perlu bapak ketahui, tingkat keberhasilan operasi ini hanya dua puluh persen. Dan...., kalau pun operasi ini berhasil, anak bapak tidak akan bisa normal seperti semula, kemungkinan ia mengalami kelumpuhan, atau bisa juga hilang ingatan, karena yang terkena benturan tepat disaraf pusat. Tapi sekali lagi, ini hanya perkiraan kami sebagai dokter, selebihnya yang menentukan itu Allah, kita hanya berusaha dan selebihnya berserah pada Allah yang punya hak mutlak"


Deg......


Jantung Hafiz, terasa berhenti, dunianya seketika suram. Tak ada lagi tawa yang menghiasi wajahnya. Seketika bayangan Dira melintas di kepala. Bagaimana cerewetnya Dira saat sarapan tadi pagi, tawanya, tingkahnya serta banyak lagi kenangan lainnya.

__ADS_1


"Dua puluh persen?" Hafiz kembali mengulang pernyataan dokter, berusaha memastikan kebenarannya. Jika itu benar adanya, artinya kesempatan hidup Dira sangat kecil, dan kalau pun selamat ada hal buruk lain sedang menanti.


"Ia dua puluh persen" dokter kembali mempertegas.


"Ya Allah....."


Hafiz luruh kemeja, kedua telapak tangan menutup muka, air matanya sudah tak terbendung lagi. Menangis sesegukan.


"Banyakkan sabar pak! sekarang bukan saat yang tepat untuk menangis. Kita harus cepat membuat keputusan"


Hafiz mendongak, ditatapnya wajah dokter itu.


"Lakukan yang terbaik dok untuk menyelamatkan nyawa anak saya!"


"Insyaallah kami akan bekerja maksimal"


Jawaban tegas dari sang dokter.


***


Dua jam sudah lampu kamar operasi menyala, belum ada tanda-tanda lampu itu akan dipadamkan. Itu artinya, operasi masih terus berjalan, entah sampai kapan.


Keempat manusia beda umur, masih setia duduk dikursi tunggu, tidak ada satupun yang berniat untuk memejamkan mata, apatah lagi pulang, padahal jam sudah diangka sebelas malam.


Pandangan mereka tak lepas kearah pintu kamar operasi yang tak kunjung di buka.


"Dira.....hi....hi...." Puan Jijah menangis dipelukan Adam. Ia takut terjadi hal buruk pada cucu semata wayang yang selama ini dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Karena sejak Sofia pergi, dialah yang membantu Hafiz mengurus Dira.


Sedang Adam hanya mampu membalas pelukan juga mengusap kepala sang mama untuk sedikit menenangkan. Ia juga tak kalah shock nya, padahal beberapa menit sebelum kejadian ia sempat bercanda bersama Adira, tak disangka detik berikutnya kejadian membuat ia merasa tak percaya. Dira sudah berada di anak tangga dengan kepala berlumur darah. Lagi-lagi rasa tak percaya. Adam langsung berteriak memanggil puan jijah. Karena dialah orang pertama yang menyaksikan kondisi Adira. Setelah anak itu sempat sekali berteriak mengaungkan kata "papa"


Hafiz dan Sofia kondisinya juga tak kalah beda. Mereka juga duduk dikursi yang sama disebelah ujung kanan.


Hafiz menangis dalam diam, ini kali pertama hatinya hancur tak berbentuk. Ia menyesali kebodohannya, demi mengejar Ais ia mengabaikan Adira yang jelas-jelas sangat membutuhkan dirinya. Andai waktu bisa diputar.....


Sudahlah.....


Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Adira, ia berjanji tidak akan pernah memaafkan Ais. Ini semua salah Ais. Diri dan keluarganya berantakan semua karena Ais. Aislah sumber semua masalah dalam keluarganya.


Ia menyesal sudah mencintai Ais. Karena cinta itu hanya menyakitkan dan mendatangkan malapetaka.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2