Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
Bab#18


__ADS_3

Dalam pesan itu juga tertulis bahwa besok semua calon mahasiswa diwajibkan untuk datang.


Berarti besok aku akan mengantar Ais ke sana, semoga pekerjaan di kantor tidak terlalu sibuk sehingga aku punya waktu untuk mengantar Ais.


Aku harus segera menyampaikan berita ini ke pada Ais.


Saat menscrol pesan dari pihak kampus, hp Hafiz kembali berdering.


Trettttt.....tretttt....


Ada panggilan masuk, ternyata puan Jijah yang melakukan video call.


Hafiz tersenyum sesaat setelah menekan tombol hijau, ternyata Dira yang muncul di layar hp.


"Papa...!" Dira terlihat excited, ketika Hafiz mengangkat telpon.


"Ia sayang"


"Papa, Dira rindu kat aunty Ais" ucapnya dengan wajah yang menggemaskan.


"Rindu.... aunty Ais je....? same papa tak rindu?" tanya Hafiz dengan wajah berpura-pura cemberut.


"Kat papa rindu juge, tapi Dira juge rindu aunty Ais"


"Ehmmm"


"Papa, aunty Ais ade? Dira nak borak same aunty" terlihat wajah memelas Dira. Tingkah polosnya membuat Hafiz tak sampai hati untuk menolak keinginan Dira.


Tapi bagaimana caranya? Sedang ia dan Ais saat ini sedang tidak baik-baik saja. Seolah ada sekat yang sudah terlanjur ia bangun, sebagai batas untuk menjaga jarak antara dirinya dan Ais.


Hafiz berpikir sejenak, tak lama terlintas ide di kepalanya.


"Yes....! setidaknya ada alasan untuk kembali berkomunikasi dengan Ais" suara hati Hafiz.


"Papa, boleh tak?" Dira kembali tak sabar dengan jawaban sang papa.


"Iya sayang boleh, sebentar ya...., papa kekamar aunty dulu" Hafiz beranjak dari kursi meja makan, berjalan menaiki anak tangga, dan menuju kamar Ais.


Dira dengan sabar menunggu kehadiran Ais di layar hp nya.


Tokkkk...tokkkk.....


Hafiz mengetuk pintu kamar Ais.


"Ceklekkk....." pintu kamar Ais terbuka dan ia menyembulkan ke pala dari balik pintu.


Ditatapnya sejenak sosok yang ada di muka pintu.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu tuan?" ucapnya profesional sebagai seorang pembantu ke pada majikan.


"Ni ...Dira nak cakap dengan awak" Hafiz mengulurkan hp nya ke pada Ais dengan wajah datar.

__ADS_1


Ais menerima hp Hafiz, kemudian menyandarkan diri di pintu yang sudah terbuka. Saat dirinya muncul di layar hp, Dira langsung berteriak girang.


Sedang Hafiz mengubah posisi bersandar di dinding samping pintu kamar Ais.


"Aunty.....Dira rindu kat aunty" sambil mengerucutkan bibir lucunya. Wajah menggemaskan itu mampu membuat Ais tersenyum.


"Aunty, juga rindu sama Dira" balas Ais seadanya. Kedekatan yang terjalin antara Ais dan Dira tak bisa dipungkiri lagi. Rasa sayang yang Ais berikan secara tulus, mampu menjadi pemenang dihati bocah kecil itu, tapi bukan untuk Hafiz. Saat ini Ais harus mengesampingkan masalah antara dia dan Hafiz.


Sejenak Hafiz melirik ke pada Ais, mengamati wajah Ais yang masih terlihat datar.


"Aunty nak cium, rindulah!" pinta Dira pada Ais.


Mendengar ucapan Dira, Hafiz mengalihkan pandangan sambil tersenyum kecil. Entah apa yang ada di otak Hafiz.


Ais dapat melihat senyum samar dari bibir Hafiz, " oh....kukira manusia es ini tidak bisa tersenyum, rupanya pandai ya" gumam Ais dalam hati.


"Aunty cium Dira ya, muuuuuaaaaacccchhhh" Ais mendekatkan bibirnya ke arah layar hp Hafiz, seolah-olah sedang mencium Dira.


"Eehhhh....adoh....habislah layar hp aku" Hafiz mengerutkan wajahnya sambil memukul kening seolah tak terima Ais mencium layar hp nya.


Kembali Ais hanya melirik jengkel ke arah Hafiz, dalam hati ia berkata, " Ihhhh....kalau bukan karna Dira, aku juga tak inginlah mencium hp tuan Arogan".


"Thanks you aunty" ucap Dira senang. Dari sebrang hp, terdengar puan Jijah meminta untuk bicara pada Ais.


"Aunty..., opah nak cakap" Dira memberikan hp ke pada puan Jijah.


Muncul wajah sendu puan Jijah di layar hp Hafiz, wanita paruh baya yang sudah menjadi mertua sementaranya.


"Alhamdulillah sehat, puan?" tanya Ais penuh hormat.


"Eh....ape pulak puan, panggil mama" pinta puan Jijah.


Seketika Ais dan Hafiz saling pandang. Ais terlihat ragu untuk menyanggupi permintaan puan Jijah untuk membiasakan diri memanggilnya dengan sebutan MAMA.


" Alhamdulillah...mama sama Dira juga sehat" sambung puan Jijah lagi.


"Alhamdulillah....puan" ucap Ais singkat sambil menundukkan kepala.


"Ape pulak puan-puan lagi ni, Ais dah jadi istri Hafiz, sudah seharusnya Ais memanggil MAMA" kembali puan Jijah menegaskan.


"Seharusnya seperti itu, tapi tidak dengan apa yang terjadi sesungguhnya, jika puan tau, kami hanya menikah di atas perjanjian" Ais bicara dalam hati.


Terlihat wajah sedih Ais di layar hp puan Jijah.


"Ais, ok?" tanya puan Jijah bimbang dengan kondisi Ais yang tiba-tiba murung.


"Eh..., ok pu....eh mama" ucap Ais kaku.


"he....he..." puan Jijah tersenyum melihat tingkah Ais.


"Oye...., Ais..., tolong tengok-tengokkan rumah ye, soalnye, selesai dari KL, mama langsung nak ke Singapura menemani Adam terapi Kat sane" tutur puan Jijah.

__ADS_1


"Adam,....Adam di Singapura ma?" tanya Ais dengan nada tak percaya.


"Ie...., Adam pergi berobat kat sane, Ais doa ye, biar Adam bise sehat seperti sedie kale" ucap puan Jijah pada Ais.


Ais hanya mengangguk mengiyakan.


Mendengar nama Adam disebut, Ais baru teringat...., ternyata terahir ia melihat dan berkomunikasi dengan laki-laki itu saat di meja makan. Saat itu Adam mencandai dirinya untuk mengajak nikah. Mendengar ucapan Puan Jijah barusan, Ais baru tau jika Adam sedang di Singapura. Tanpa banyak tanya Ais mengiyakan ucapan puan Jijah.


"Mama jangan khawatir, insyaallah Ais akan jage rumah selame mama tidak ada" ucap Ais meyakinkan puan Jijah.


"Makasih sayang, jangan lupe juge tengok-tengokkan suami Ais tu! Hafiz tu kalau dah kerje biasenye lupe makan" tutur puan Jijah.


Ais tak menjawab, wajahnya terlihat datar, saat nama Hafiz disebut.


"Ais..., Mama nak borak dulu same Hafiz!" pinta puan Jijah dengan senyum terkembang di bibir.


Hafiz dengan tangan bersedekap, kaki di silang berpura-pura tak mendengar ucapan antara Ais dan puan Jijah.


Ais berjalan dua langkah, mendekat ke arah Hafiz dan langsung menyerahkan hp.


Hafiz menerima hp dari tangan Ais. Selanjutnya Ais ingin beranjak pergi masuk ke dalam kamar. Belum sempat melangkah pergi, Hafiz menarik tangan Ais, sehingga ia terjatuh ke dalam pelukannya.


Deg.....


Jantung Ais berdetak tak karuan, sambil menatap singkat wajah Hafiz.


"Hafiz, ingat ye...., jage baek-baek Ais, mama tak nak menantu mama menyesal menerime Hafiz sebagai suami!" puan Jijah memberikan ultimatum.


Hafiz berpura-pura mesra, satu tangan melingkar dipinggang Ais, merapatkan wajahnya dan Ais. Sehingga Ais bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Hafiz.


"Ie, mama...., don't worry, Hafiz akan jage menantu mama sebaek mungken" ucap Hafiz meyakinkan puan Jijah.


"Cuih.....jaga sebaik mungkin" suara hati Ais, namun ia berusaha tersenyum manis di layar hp, biar puan Jijah tidak merasa ada yang salah antara ke duanya.


"Ok..., mama percaye kak Hafiz, udah dulu ye, assalamualaikum " puan Jijah mengakhiri obrolan.


"Walaikumsalam " jawab Hafiz dan Ais bersamaan. Seiring panggilan dimatikan, saat itu juga Hafiz melepas pelukannya.


"Jangan salah sangke" Hafiz tak ingin jika Ais salah mengartikan apa yang terjadi barusan.


" Itu semue hanye pure-pure di depan Mama. Awak paham?" Ucap Hafiz ringan. Tanpa memikirkan perasaan Ais.


"Tak masalah" ucap Ais singkat, seolah menyetujui tindakan Hafiz, karena makin kesini ia semakin tau karakter laki-laki yang ada di depannya.


Tak bisa dipungkiri diperlakukan seperti itu sangat menyakitkan bagi Ais. Diperlakukan semaunya seperti wanita murahan. Tapi sekarang Ais sudah berjanji pada dirinya, tak akan pernah berharap lebih atas tuan Hafiz.


Tak ingin berlama-lama melihat wajah Hafiz iya melangkahkan kaki ingin menuju kamar.


"Tunggu" Hafiz kembali menghentikan langkah Ais.


Ais tak berkeinginan untuk memutar badan, rasanya posisi membelakangi Hafiz lebih baik dari pada melihat wajah tuan Arogan.

__ADS_1


"Besok pagi siap-siap ade acara penyambutan mahasiswa baru dikampus, jadi siapkan diri awak, biar aku yang antar" ucap Hafiz mengakhiri obrolan, sebelum keduanya masuk ke sarang masing-masing.


__ADS_2