Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
Bab#14


__ADS_3

Sejak kecil aku selalu membayangkan akan dilamar oleh seorang pangeran tampan yang kucintai dan dia pun mencintai aku.


Bersanding dipelamin megah nan mewah, dengan gaun pengantin yang serba wahhh, menjadi raja dan ratu sehari.


Tapi kenyataan yang kualami hari ini berbanding terbalik dengan impianku.


Kenyataannya aku dinikahi siri dengan duda beranak satu. Yang paling menyakitkan tidak ada cinta antara aku dan dia.


Jika ditanya apa yang kurasakan saat ini?, jawabannya hanya ingin nangis. Menangis sepuasnya hingga tak akan ada lagi air mata untuk hari esok.


Belum lagi gosip-gosip miring dari the power of mulut emak-emak, ada yang mengatakan aku menikah tanpa restu dari keluarga laki-laki lah, ada juga yang bilang aku menikahi suami orang, aku menikah karena hamil duluan dan masih banyak gosip-gosip yang lainnya yang membuat aku dan keluarga berpura-pura budeg. Berpura-pura tidak mendengar apa pun yang mereka katakan, akan membuat hati sedikit tenang, tapi aku tau ada kesedihan ayah dan ibu yang mereka sembunyikan dariku.


Tak ada yang menginginkan pernikahan seperti yang kujalani saat ini, menikah dengan tidak ada kepastian hukum, tapi aku tidak ada pilihan.


Apakah aku terlalu bodoh pemirsa?


Tolong katakan jika kalian berada diposisi ku apa yang akan kalian lakukan?


Ya sudahlah....inilah yang dinamakan takdir...


🍀🍀🍀


Diruang tamu yang sudah disulap menjadi tempat pernikahan ala kadarnya, telah hadir beberapa keluarga dekat, tetangga, para saksi, penghulu, ayah, ibu, Fia, aku serta tuan Hafiz yang terlihat gagah dengan stelan teluk belanga warna putih, kain songket melilit dipinggang serta peci hitam di kepala.


"Bagaimana semuanya, apa boleh kita mulai acaranya?" tanya penghulu yang akan memimpin jalannya acara pernikahan.


"Siap" itulah kata yang terucap dari laki-laki yang telah menjadi cinta pertamaku, dialah ayah.


"Baiklah, tanpa mengulur-ngulur waktu, marilah kita sama-sama membaca umul kitab" ucap penghulu, seketika suasana menjadi hikmat, hanya lantunan surah Al-fatihah yang terdengar.


Kebetulan yang melakukan Ijab adalah ayah, sedang penghulu hanya memandu jalannya Ijab dan Qabul.


"Saya nikahkan engkau Muhammad Hafiz bin Azam dengan anak kandung saya yang bernama Ais binti Ali dengan maskawin seperangkat alat shalat, dibayar tunai !" ada hentakan kata dan tangan saat ayah mengakhiri kalimat ijab.

__ADS_1


Seketika dijawab tegas oleh Hafiz, " Saya terima nikah dan kawinnya Ais binti Ali dengan maskawin tersebut dibayar tunai"


Bagaimana para saksi, sah ?


SAH......


Alhamdulillah.....


Semua yang hadir serempak mengucap kalimat tahmid.


Kemudian dilanjutkan dengan doa untuk kedua mempelai yang dibacakan langsung oleh penghulu.


"Baarakallahu likulii wahidimmingkumaa fii shaahibihi wa jama'a bainakumma fii khayrin"


Spontan bulir kristal jatuh dari mataku, bukan sedih bahagia, melainkan luka. Takdir hidup tidak ada yang tau, entah bagaimana aku akan menjalani pernikahan ku juga belum bisa aku bayangkan. Hanya satu yang aku tau, pernikahan ini tidak akan sama dengan pernikahan-pernikahan diluar sana.


Aku juga tidak akan berharap lebih, dengan membayangkan malam pertama yang konon indah katanya. Karena malam pertamaku telah habis saat ia merenggut kesucianku secara paksa.


Kusalami dengan ragu tuan Hafiz yang baru beberapa menit telah sah bergelar suami.


Tak ada kecupan kening atau doa yang ia berikan untukku. Selanjutnya aku dan dia menyalami ayah dan ibu secara bergantian.


Kupeluk erat tubuh renta ibuku, sambil berkata lirih " maafin Ais buk, jika selama ini masih belum mampu membuat ibu tersenyum" ucapku pelan dengan berurai air mata. Rasanya tak ingin kulepas pelukan wanita yang selama ini sangat sayang dan sabar padaku.


Rela menahan keinginannya demi kebutuhanku, rela tak membeli baju, agar aku bisa memakai baju baru, rela berjaga disaat aku sakit, ikut menangis di saat ada yang menyakitiku.


"Ibu doakan Ais akan mendapatkan apa yang Ais impikan, serta jadilah istri yang taat dan patuh akan suami" itulah doa dan harapan yang ibu panjatkan untukku.


Aku mengurai pelukan ibu, selanjutnya berpelukan dan memohon maaf pada ayah.


Tadinya aku mengira ayah akan kuat, tidak akan menangis dihadapanku. Nyatanya benteng pertahanan runtuh, seketika deraian air mata mengalir dari kelopak mata senjanya.


"Ais anakku....sayang" ucapnya sambil mengecup dalam keningku.

__ADS_1


"Maafkan bapak nak, tak mampu memberi bahagia duniamu, tak mampu memberi ilmu yang cukup untukmu" Bapak tak bisa lagi melanjutkan kata-kata, hanya pelukan yang kembali ia berikan pada tubuh gadis kecilnya ini.


Pelukan hangat yang ayah berikan untukku, memberi ketenangan pada diriku. Ada energi kekuatan yang ia transfer untukku.


"Ais janji ayah, sekali Ais melangkah, akan Ais buktikan bahwa Ais mampu untuk membahagiakan ayah, apapun itu caranya" suara hatiku dipelukan ayah.


🍀🍀🍀


Dua hari sudah waktu berlalu, dugaan awalku benar, tak ada malam pertama, dan mungkin tidak akan ada juga malam-malam selanjutnya.


Sudah kuduga jauh-jauh hari, tuan Hafiz kembali bersikap dingin padaku. Aku masih tak mempermasalahkan, sebab dari awal aku mengenalnya, memang itulah dia ke padaku.


Dua hari bergelar istri, aku hanya melayani makan minum, serta pakaiannya saja. Tak ada kontak fisik yang intim antara aku dan dia.


Hanya panggilanku padanya yang berubah. Itu pun atas permintaan darinya, luntuk aku membiasakan diri memanggilnya "ABANG".


Hari ini aku dan tuan Hafiz sudah kembali berada di perbatasan, melangkah meninggalkan kampung halaman.


Ada rasa cemas dan kesedihan di mata kedua orang tuaku serta adik kecilku Fia, sewaktu aku pamit untuk pergi.


Wajar saja, sekarang mereka melepaskan kepergianku sebagai status seorang istri. Dan aku tidak lagi menjadi tanggung jawab mereka, melainkan tuan Hafiz.


Sempat kudengar ayah berpesan ke pada tuan Hafiz saat kami berpamitan.


" Tolong jagakan Ais untuk ayah, bahagiakan lah ia, mungkin saat tumbuh disisi ayah ia tidak mendapatkan kebahagiaan sebagai mana anak yang lain" terlihat ayah meneteskan air mata. Kemudian ia kembali melanjutkan kata-katanya, "Jika Ais melakukan kesalahan, tegurlan ia dengan cara yang baik, ayah percaya Hafiz mampu membahagiakan Ais" ucap ayah sambil memeluk Hafiz.


"Ayah dan ibuk tak perlu khawater, saye akan menjage Ais sebaek mungkin" ucap Ais dengan percaya diri.


Sebelum kami memasuki mobil, kulihat Hafiz memberikan sebuah amplop coklat muda pada ayah, aku sangat yakin itu adalah uang.


Pertama kulihat ayah menolak apa yang tuan Hafiz berikan. Namun tuan Hafiz kembali memaksa ayah, dengan wajah terpaksa ayah menerima pemberiannya.


Aku sangat tau, ayah orangnya paling tidak suka dikasihani dan menerima pemberian orang lain. Karena baginya tangan diatas lebih baik dari pada tangan di bawah.

__ADS_1


__ADS_2