
"Halo....." Hafiz
"Hallo, nggak ke kantor? Ahmad
"Sorry bro, gue bisa minta tolong nggak? siapkan berkas untuk besok"
"Jawab dulu, ke kantor nggak?"
"Kayaknya nggak, soalnya anak gue lagi sakit"
"Masih belum ada perubahan Diranya?"
"Bukan hanya Dira, anak gue yang satunya juga lagi sakit"
Ahmad menjauhkan hape dari telinga, melihat nama yang ada di sana, ternyata benar, Hafiz. Tapi, kenapa dia bilang anak yang satunya? bukankah anak Hafiz hanya Dira?
"Maksudnya?" dari pada penasaran Ahmad kembali bertanya.
Sebelum menjawab Hafiz memencet pangkal hidungnya. Saat ini dia baru saja menyelesaikan administrasi Aidan dan masih berada tidak jauh dari loket pendaftaran.
"Gue punya anak dari Ais" dengan mata terpejam, berusaha melafazkan kalimat yang terasa melekat di tenggorokan.
"What?" Ahmad shock luar biasa.
****
Perdebatan antara Ais dah Hafiz kembali terjadi. Penyebabnya tidak lain karena Hafiz akan menyatukan kamar Dira dan Aidan. Jangankan perundingan, pemberitahuan pun tidak dilakukan Hafiz pada Ais. Ia bersikap seolah-olah dialah satu-satunya orang tua Aidan.
"Apa maksudmu dengan menyatukan kamar anakku dengan anakmu?" tanya Ais berang, nafasnya juga tersengal-sengal.
"Jangan banyak tingkah, sekarang bukan waktunya untuk berdebat. Ikuti saja apa yang sudah kutentukan" ucap Hafiz datar namun tak mau dibantah.
"Kamu tidak berhak mengatur hidupku juga anakku" suara Ais pelan namun di tekan, jika bukan sedang di depan UGD, dapat dipastikan Ais akan berteriak kencang. Tatapannya tajam pada laki-laki yang berdiri di depannya. Aiza yang ada digendongan Ais hanya terdiam tidak paham apa yang sedang dibicarakan. Ais juga om temalen.
Beberapa menit yang lalu perawat sudah akan memindahkan Aidan keruang yang dimaksudkan Hafiz. Sebelum sempat itu terjadi, Ais terlebih dahulu bertanya dan perawat menjelaskan bahwa Aidan akan dijadikan satu kamar dengan Dira. Sontak saja Ais menolak.
"Sebentar ya sus, saya perlu bicara dengan dia dulu" tatap Ais tajam pada Hafiz. Ais keluar UGD, di ikuti Hafiz dibelakangnya. Hingga perdebatan itu terjadi.
"Ok, kalau memang mau urus sendiri silakan! tapi ingat.....! saat ini pak Reza sedang terbaring sakit, apa bisa kamu rawat sekaligus?. Dan satu lagi..." peringat Hafiz pada Ais.
"Kalau sampai pak Reza tau Aidan sakit apa tidak akan semakin memperburuk keadaannya?" Hafiz mulai lelah menghadapi emosi Ais yang suka meledak-ledak. Setelah mengatakan itu ia kembali berlalu masuk keruang UGD, meminta ke pada perawat untuk segera memindahkan Aidan.
__ADS_1
Ais kembali terduduk lemas di bangku tunggu depan UGD. Aiza masih setia duduk di pangkuannya.
Pintu UGD dibuka lebar oleh salah satu perawat, dua perawat lainnya mendorong brangkar dengan Aidan yang masih terbaring lemah di atasnya. Jarum infus juga sudah menancap sempurna di tangan kirinya.
"Untuk saat ini tolong jangan berdebat!" Hafiz mengambil alih Aiza dari Ais, setelahnya menggendong Aiza seperti yang biasa ia lakukan pada Dira juga Aidan. Anehnya tidak ada penolakan dari Aiza. Ia anteng saja digendongan Hafiz. Hafiz melangkah mengikuti arah brangkar Aidan di bawa, sedang Ais seperti dihipnotis mengikuti langkah Hafiz tanpa ada lagi suara.
Puan Jijah sekarang dibuat kembali shock, pasalnya satu jam yang lalu ada satu laki mengantar dua koper sekaligus yang katanya itu milik Hafiz. Dan sekarang kembali pintu ruangan Dira dibuka oleh dua orang perawat sedang mendorong brangkar yang di atasnya ada anak laki-laki berwajah tampan dengan selang infus melekat ditangan.
"Tunggu ada apa ini?" puan Jijah berusaha menahan laju brangkar yang sedang memasuki ruangan.
"Maaf ibuk, kami sedang memindahkan pasien keruangan ini" jelas perawat bernada sopan.
"Maaf sepertinya ini ada kesalah pahaman, ini kamar cucu saya Dira" puan Jijah menunjuk Dira yang masih terbaring dengan mata terpejam.
Dua perawat saling pandang, mereka dibuat bingung, rasanya kamar ini sudah benar.
Hafiz datang, menatap heran pada dua perawat yang masih terdiam diambang pintu.
"Kenapa sus?" tanya Hafiz heran.
Belum sempat perawat menjawab puan Jijah terlebih dahulu berkata " mereka salah kamar" potong puan Jijah.
"Ma....nanti kita bicara, sekarang biarkan dulu perawat menjalankan tugasnya" tutur Hafiz agar puan Jijah membiarkan perawat masuk mendorong brankar Aidan.
Dua perawat pun masuk, memindahkan tubuh Aidan ke bed yang ada di samping bed Dira.
Mata puan Jijah baru menyadari, jika Hafiz datang tidak sendiri, dia sedang menggendong gadis cantik yang entah anak siapa lagi itu.
"Fiz....! ini...?" tunjuk puan Jijah pada Aiza yang sedang digendong Hafiz.
"Sayang ...., kenalan dulu sama opah!" Hafiz mendekatkan diri pada puan Jijah. Agar Aiza mudah bersalaman dengan puan Jijah.
Karena merasa asing, Aiza malah menyembunyikan wajahnya kebelakang punggung Hafiz.
"Anak siapa sih Fiz?" tanya puan Jijah penasaran.
Bukannya langsung menjawab, Hafiz terlebih dahulu memperkenalkan nama gadis yang ada di gendongannya.
"Ini namanya Aiza dan yang sedang sakit itu namanya Aidan" tunjuk Hafiz dengan wajahnya ke arah Aidan yang sedang dirapikan perawat.
"Terus....orang tuanya mana? kenapa dibawa keruangan ini?" runtutan tanya puan Jijah lafalkan agar rasa penasarannya segera terjawab.
__ADS_1
Hafiz menatap dalam wajah ibunya, menyelami kesiapan puan Jijah untuk mendengar fakta yang akan diungkap.
"Pak! adeknya udah kami pindahkan, satu jam kedepan kamu akan kembali untuk mengecek kondisinya. Jika ada apa-apa tekan saja tombol darurat" jelas perawat dengan nada ramah.
"Terima kasih banyak sus" jawab Hafiz tak kalah ramah.
Hafiz mendekati kearah bed Aidan. Puan Jijah mengikuti langkah Hafiz. Keduanya berhenti tepat di sisi bed Aidan. Hafiz menatap penuh arti pada bocah laki-laki yang terbaring lemah di atas bed. Puan Jijah ikut mengamati wajah bocah laki-laki yang ada di depannya. Ada rasa tidak asing. Tapi di mana mereka bertemu. Suasana saat itu tiba-tiba hening.
Hafiz masih mencari kekuatan untuk mengungkapkan fakta yang sesungguhnya. Hingga air mata yang lebih dulu bicara. Hafi menyeka sudut mata yang sudah berair. Puan Jijah bisa menangkap itu.
"Ini .......a...anak, Ha....Hafiz" ucap Hafiz terbata-bata.
Puan Jijah menoleh ke samping, mungkin saat ini Hafiz sedang bercanda. Tapi, puan Jijah menangkap kepedihan saat Hafiz mengucapkan itu.
"Namanya Aidan, cucu mama, anak Hafiz dan Ais"
Deg.......
Seketika pengakuan Hafiz membuat dada puan Jijah terasa berdebar kaget.
"Ini....cucu mama" tanya kembali di layangkan untuk memastikan.
"Ia...Aidan cucu mama, adik Dira" belum selesai Hafiz bicara, puan Jijah sudah menghambur menciumi kening Aidan yang masih terasa panas.
"Cucu opah....., masyaallah.....gantengnya cucu opah" kembali puan Jijah menciumi kening Aidan dengan cucuran Air mata bahagia.
Hafiz semakin haru, jiwanya semakin tersentuh, pertemuan mereka memang seperti sudah di atur, Hafiz sangat bersyukur.
Belum selesai momen haru Ais masuk keruangan itu.
"Unda.....! " panggil Aiza saat melihat Ais berdiri di ambang pintu.
Suara Aiza menghentikan moment haru antara anak dan ibu. Kini Hafiz dan puan Jijah melihat ke arah orang yang berdiri kaku di ambang pintu.
"Ais...!" suara pelan puan Jijah seakan tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi hari ini.
Ais masih mematung, semua rasa sedang bersarang, memenuhi rongga kepala hingga menghimpit dada.
"Ais....sayang....!" Puan Jijah berjalan mendekat pada Ais, matanya sudah berkaca-kaca mengalami momen haru yang selama empat tahun di nanti.
Bersambung.....
__ADS_1