
Kurang lebih 20 menit perjalanan, Hafiz tiba di depan gerbang kampus Ais. Ia memelankan laju mobil, kemudian parkir di pinggir jalan.
Perasaan bimbang masih menguasai diri Hafiz, dengan terburu-buru ia melepas selfbel, kemudian membuka pintu mobil dan keluar dengan tangan kanan menutup pintu.
Hafiz melangkah dengan sedikit berlari menuju taman yang ada di kampus, sesuai isi wa Ais yang terakhir.
Setibanya di taman, Hafiz memelankan langkah dengan sorot tajam menyapu semua yang ada di taman. Tapi, nihil.....
Hafiz berlari ke sana, kemari, mencari disetiap sudut taman, tapi hasilnya kembali nihil.
Masih dengan nafas terengah-engah, dan berkacak pinggang ia kembali menyorot setiap orang yang ada disana.
Teng...
Mata Hafiz terhenti pada sosok wanita berbaju maroon duduk bersantai membelakangi dirinya.
Ada rasa lega yang hafiz rasakan, ia pun berjalan mendekati gadis itu.
"Ais!" panggil Hafiz tanpa terlebih dahulu melihat wajah gadis itu.
Persekian detik, gadis itu menoleh.
"Maaf..., salah orang" ucap Hafiz sambil menangkupkan kedua tangan di dada.
" Ia nggak masalah" ucap gadis itu ramah.
Hafiz memutar badan, capek bercampur khawatir menjadi satu diwajah Hafiz.
Persekian menit sudah menyorot taman, tak terlihat bayang Ais di sana, "shiiiitttttt, dimana kamu AIS?" Hafiz meremas kasar rambutnya. Ada rasa prustasi yang tiba-tiba melanda.
Hafiz merogoh Hp, mencari kontak Ais dan menelponnya. Saat hp sudah di telinga, hanya ada suara operator yang berbicara di sana.
"Sialan....hp nya mati lagi, apa sih maunya? sial.....!" umpat Hafiz menahan amarah dan memijat kasar pelipis yang terasa ingin meledak.
Hafiz berjalan lambat, kembali menuju mobil, dalam hati seribu tanda tanya menyeruduk dirinya. "Dimana kau Ais? Apa mungkin ia sudah pulang ke rumah?" gumamnya dalam hati.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Kriukkkk.... kriukkkk....., bunyi perut Ais, Reza bisa mendengar itu.
Spontan ia menoleh ke arah Ais, " kamu belum makan?" tanyanya pada Ais yang sudah terlihat lusuh.
Ais hanya menggelengkan ke pala, dengan tatapan mata capek.
Tanpa ba, bi, bu, Reza langsung mengover gigi, dan langsung memutar mobil.
"Eehhhh....kita mau kemana?" tanya Ais cemas dan kaget, karena tiba-tiba Reza memutar mobil. Tanpa bicara terlebih dulu pada Ais.
Reza yang ditanya hanya diam, dengan sudut bibir yang tertarik ke atas menandakan ia sedang tersenyum.
"Kak Reza, jawab dong kita mau kemana?" Ais kembali merengek sambil menepuk-nepuk kecil lengan Reza.
Tatapan lurus kedepan, sambil konsen menyetir mobil, Reza berkata dengan santainya, " santai sayang, kakak tidak akan menculikmu, he...he..." Reza terkekeh, sambil mengacak rambut Ais asal.
"Kak Reza..." ucap Ais manja sambil mengerucutkan bibirnya, dan mutar badan membelakangi Reza.
Dalam hati Ais berkata, "Ya Allah...andai aku belum menikah dengan laki itu, pasti sekarang aku akan menjadi wanita yang paling beruntung berada di samping kak Reza"
Tapi takdir berkata lain, status Ais yang menjadi penghalang cintanya pada Reza. Ais tak mungkin bisa memiliki Reza. Dan begitu pun Reza, juga tak mungkin bisa memiliki Ais.
"Kita cari makan dulu" ucap Reza sambil mengelus mesra pucuk kepala Ais.
☘️☘️☘️
Setibanya dirumah, Hafiz langsung membuka pagar, dan memasukkan mobil di halaman rumah. Kemudian keluar dari mobil sambil melihat ke teras rumah. Ia tak melihat Ais disana, dan tak mungkin juga Ais ada di dalam rumah, karena kunci ia yang bawa.
Hafiz menghempaskan tubuhnya di kursi santai yang ada di teras. Sambil meremas kasar rambut dengan kedua tangannya. Jantungnya berdetak tak sesuai irama, rasa cemas, takut, dan kesal bercampur jadi satu.
Ia masih enggan untuk masuk ke dalam rumah. Karena saat ini ia sedang berpikir keras untuk mencari keberadaan Ais.
"Kemana kamu Ais...?" Kemana?" selalu pertanyaan itu yang berulang-ulang di kepa Hafiz.
Hafiz kembali merogoh hp dari saku celana, dan kembali mencoba menelpon Ais, hal yang sama yang ia dapati, hp Ais masih tidak aktif.
Tak berselang lama....., sebuah mobil Range Rover putih berhenti di depan pintu pagar rumah Hafiz.
__ADS_1
Hafiz yang melihat itu langsung berdiri, mencari tahu siapa yang keluar dari mobil, dan ia yakin tidak mungkin Ais. Mana mungkin sehari di kampus Ais bisa menggaet laki-laki kaya.
Pintu mobil terbuka, tak lama sosok laki-laki ganteng menyembul di sana. Ia kenal laki-laki itu, tapi lupa akan namanya, Hafiz berusa mengingat di mana ia pernah bertemu. "Ia dirumah Ais saat dikampung" gumamnya setelah ingat tentang laki-laki itu.
Deg.....
Jantung Hafiz tiba-tiba berdetak kuat. Sedang matanya menyorot tajam, seperti tak percaya. Kenapa bisa laki-laki itu ada di negara ini dan sekarang berada di depan rumahnya.
Terlihat Reza sedikit berlari memutari mobil, kemudian membuka pintu samping.
Hati Hafiz semakin tak karuan ingin melihat siapa yang akan keluar dari dalam mobil itu lagi.
Jeng....jeng.....
Mata Hafiz semakin membola, saat menyaksikan orang keluar dari dalam mobil adalah wanita yang ia cari sejak tadi, dialah AIS.
Tangan Hafiz mengepal sempurna, dengan tulang rahang yang mengeras, darah dalam tubuhnya sepersekian detik memanas, bahkan terlihat seperti harimau ingin menerkam mangsa. Kedua Bahu Hafiz bergerak naik turun menahan sesak di dada.
Gerammmmm.....teramat geram...... ingin rasanya ia memakan ke dua mangsa yang ada di depan matanya, yang terlihat sangat mesra saling tertawa. Ditambah Reza yang mengelus pucuk ke pala Ais sebelum Ia pergi.
Sedangkan ia dari tadi seperti orang gila, kesana kemari mencari-cari, yang dicari malah sedang bermesraan dengan laki-laki lain.
"Kurang ajar kau Ais" umpatnya kesal sambil terus menatap tajam ke arah Ais.
Setelah mobil Reza pergi, menyisakan Ais di sana. Seketika Ais mematung melihat Hafiz yang terlihat menatap tajam dirinya.
Ais memberanikan diri, melangkah ingin masuk ke dalam rumah, rasa kesal masih menyelimuti hatinya. Sekarang ia tak peduli, mau Hafiz yang akan marah atau mungkin saja dirinya.
Ia melewati Hafiz yang masih enggan melepas tatapan tajam dari dirinya.
Saat memegang handel pintu, ternyata pintu masih terkunci.
"Dia belum masuk?" gumam Ais sambil melihat ke arah laki-laki yang terus menatapnya tajam.
Hafiz mendekat ke arah Ais. Tiba-tiba ada rasa takut yang Ais rasakan melihat tatapan tajam Hafiz padanya. Ais memundurkan langkah, dan ternyata Hafiz membuka pintu dengan kasar.
Begitu pintu terbuka, Ais menerobos masuk, enggan berlama-lama di dekat singa yang siap menerkam.
__ADS_1
Baru beberapa langkah masuk ke dalam rumah, auman singa terdengar sempurna di kedua kuping Ais.