
Reza keluar dari ruang dokter. Langkahnya sedikit lemas, terpampang raut kekecewaan diwajahnya.
Kini, semakin banyak pertanyaan yang bermain di kepalanya. Ternyata banyak hal yang ia tak tau dari Ais. Gadis polos yang dikenalnya ternyata tak sepolos dulu. Ais menyimpan seribu rahasia. Entah sampai kapan, jika kejadian hari ini tidak terjadi, ia masih menganggap Aisnya sama seperti Ais yang dikenalnya dulu.
"Pak, pasien yang di IGD sudah dipindahkan keruangan VIP yang ada di lantai tiga, ruang Aster, seperti yang bapak minta tadi"
Seorang perawat yang melihat Reza melintas didepan resepsionis langsung memberitahu.
"Makasih sus" ucap Reza tulus, namun wajahnya datar.
Suster mengangguk ramah.
Reza meneruskan langkah menuju ruang yang dimaksud suster. Banyak hal yang akan ia tanyakan, tapi tidak sekarang. Ia akan menunggu kondisi Ais membaik terlebih dahulu. Walau bagaimanapun Reza bukan tipe laki-laki egois. Kecewa pasti ia, tapi untuk saat ini, ia akan berpura-pura baik-baik saja, terlebih didepan Ais.
Reza menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya, kini ia tepat berada didepan ruangan Ais.
Perlahan Reza mendorong pintu, sesak tiba-tiba menyergap Reza. Didalam ia melihat Ais masih memejamkan mata, satu tangannya terpasang infus. Terlihat wajahnya mulai merah. Nia masih setia duduk dikursi yang ada disamping bed Ais. Tangannya tak henti memijat halus, satu tangan Ais.
Nia menoleh saat pintu didorong, ada Reza disana. Nia tersenyum. Reza membalas senyum itu dengan wajah sedikit dipaksakan, karena sungguh hatinya sedang tidak ingin tersenyum.
"Bagaimana kondisinya?" Reza berdiri diujung kaki Ais.
"Masih belum sadar, hanya wajahnya sudah tidak sepucat tadi, tangannya juga sudah tidak sedingin tadi"
Reza tak merespon jawaban Nia, matanya lurus menatap wajah Ais. Dalam hati ia kembali berkata "Ais kenapa kamu tega sama kakak? Taukah kamu, bahwa kakak sangat mencintaimu. Tapi sekarang kamu hamil. Kakak tidak tau kamu hamil sama siapa?"
Ada cairan membasahi mata Reza. Sebelum Nia tau, secepatnya Reza mengusap cairan disudut matanya.
Reza tertunduk......
"Permisi!" seorang perawat kembali masuk.
"Silakan sus!" Nia menggeser posisi agar tak menghalangi perawat yang akan mengecek kondisi Ais.
Perawat mengecek tekanan darah Ais.
"Tekanan darah mbaknya masih agak rendah, 90/60"
"Apa tidak bahaya sus?" Reza menjadi khawatir dengar ucapan perawat.
"Normalnya 100-120 mmHg, kalau 90 ya masih terbilang rendah, jadi nanti kalau mbaknya sadar, langsung disuruh makan, biar ada asupan yang masuk" tutur suster ramah, sambil mengemaskan alat tensi.
"Baik dok, terima kasih"
__ADS_1
Serempak Nia dan Reza menjawab.
"Sama-sama, kalau tidak ada yang ingin ditanyakan, saya permisi"
Pamit suster, diangguki Nia dan Reza.
Setelah pintu ruangan tertutup Reza kembali bersuara. "Nia, sebaiknya kamu pulang dulu!, Ais biar Kakak yang jaga"
"Tapi kak?"
Ucapan Nia terpotong.
"Besok ada kuliahkan?"
Akhirnya Nia tak bisa menolak, memang benar besok ia akan kuliah, ditambah tugas hari ini belum sempat ia sentuh.
"Kalau ada apa-apa tentang Ais, hubungi Nia ya kak, ini nomor Nia!" Nia menuliskan nomor hp nya pada secarik kertas.
"Kamu tenang aja, insyaallah Ais akan segera pulih"
"Aminnnn.....kalau begitu Nia pamit kak, assalamualaikum......"
"Walaikumsalam....."
Kini Reza yang duduk disamping Ais, ia menggantikan posisi Nia. Tangannya menggantung, saat terulur hampir menyentuh tangan Ais. Ingatannya kembali pada ucapan dokter, Ais saat ini sedang hamil, itu artinya ada dua kemungkinan. Saat ini Ais berstatus istri orang, atau hamil........
Tapi siapa laki-laki itu? apa mungkin........
Reza tak sanggup melanjutkan ucapan dihatinya, terlalu sakit.
Dipandanginya dengan penuh perasaan wajah Ais yang masih terpejam. Kembali ada rasa sakit yang membogem dada. Kecewa........
***
Ditempat berbeda. Hafiz menghentikan mobil, parkir dengan asal di basment apartemen, keluar dari mobil, lalu berlarian kearah loby.
Jangan tanyakan tampilannya, lingkar hitam menghiasi mata, belum lagi rambut yang berantakan....pakaian semalam juga masih ia kenakan.
Lama juga ia menunggu pintu lift terbuka, sepertinya ada pengguna lain juga didalam sana.
Ting......
Pintu terbuka, dengan tak sabaran Hafiz masuk kedalam, tanpa menunggu orang yang di dalam keluar sempurna. Membuat orang yang ada disana menilai negatif padanya.
__ADS_1
Tak menunggu waktu lama, Hafiz langsung menekan angka sepuluh, pikirannya sudah berada disana. Entah apa yang bermain dikepalanya.
Ting......
Pintu kembali terbuka. Hafiz keluar dengan sedikit berlari menuju apartemen miliknya. Jantungnya berdegup kencang, entah apa yang ia rasakan. Tak mungkin juga berbunga-bunga, karna saat ini musibah sedang dijalaninya.
Tanpa salam, ia masuk kedalam. Memindai semua ruangan, tak ia temukan istri sirinya.
Kemana dia? tanyanya dalam hati.
Hafiz berjalan mendekati meja makan, yang tersisa hanya makanan basi. Terlihat juga olehnya satu piring kotor yang masih setengah isinya. Hafiz menutup hidung, ternyata ada yang lebih bau dari badannya saat ini.
Diayunkan kaki menuju kamar pribadi, pintunya terbuka lebar, tidak ada Ais disana. Hanya ada sisa percintaan mereka kemarin yang sudah mengering.
Rungu ia tajamkan, siapa tau ada suara gemercik air, tapi nihil. Hafiz menghempas kasar pantat ke ranjang, kedua tangan memegang sisi ranjang.
Kemana Ais? tanyanya dalam hati penuh geram.
Apa dia pergi? tapi kemana? masalahnya dirumah utama juga tidak ia temukan keberadaan Ais.
Lama Hafiz berpikir, kini tatapannya terarah pada tali pengecas yang tergantung sempurna di sisi kepala ranjang, tepatnya di atas nakas.
Hafiz berdiri, lalu mendekat kearah benda pilih yang entah sejak kapan berada disitu. Ia tau itu hape milik Ais.
Selama ini, Ais tidak pernah membuat sandi untuk hapenya, jadi dapat dipastikan Hafiz dengan leluasa bisa membuka menu apa saja. Hafiz ingin tau, siapa yang menghubungi istrinya, maka langkah pertama yang ia lakukan adalah mengecek panggilan masuk dan panggilan keluar.
Mata Hafiz membulat sempurna, genggaman tangan menguat, jika telur yang ia pegang, mungkin sudah pecah tak berbentuk.
"Reza, ternyata ia menghubungi bajingan itu, dasar ******,kali ini aku tidak akan mengampuni" Teriaknya nyaring seperti kesetanan. Urat leher bernampakan, bibir sexsi berubah menakutkan. Tak ada lagi Hafiz yang ganteng,semua tergantikan dengan wajah nyalang.
Sekuat tenaga dibantingnya hape Ais hingga mengenai dinding, retak seribu......tidak ada lagi bentuk hape.
"Aku bersumpah, akan menceraikanmu Ais, biar hidupmu menderita, kau lah wanita tak tau berterima kasih" ucapnya dalam hati, dengan muka bergerak-gerak.
***
Indonesia, kampung halaman Ais.
"Pak...., kenapa ya dari kemaren hati ibuk dak tenang, terus kepikiran Ais" ucap ibuk dengan raut muka sedih sambil memijat kaki suaminya di dalam kamar.
"Bapak, juga buk...., semoga Ais baik-baik saja ya buk" Ada harapan doa baik terselip diobrolan kedua orang tua Ais.
Firasat orang tua selalu benar jika berhubungan dengan anak-anak mereka. Hanya saja mereka tidak tau pasti apa kejadiannya sebenarnya.
__ADS_1