
"Mama?" suara gadis kecil.
Ais membungkukkan badan, memungut kacamata yang sempat terjatuh.
"Mama?" suara itu terdengar kembali dan semakin lirih, penuh permohonan juga kerinduan, matanya tampak berkaca-kaca.
Ais celengak-celenguk mencari orang yang dipanggil mama. Padahal dilorong itu hanya ada dirinya juga gadis yang menabrak dirinya tadi.
"Adek? kamu ok?" Ais mengibas-ngibaskan lima jari didepan wajah gadis kecil berkepang kuda.
"Mama?" hanya kata itu yang selalu diucapkan, membuat Ais semakin kebingungan.
"Adek mencari mama ya?" tanya Ais dengan nada lembut.
Bug.....
Tanpa terduga gadis berumur sekitar 7 tahunan itu menubruk dan meluk Ais erat.
Sedetik, dua detik, hingga dua puluh menit berlalu. Ais terdiam bingung. Apa yang terjadi dengan anak yang sedang memeluknya. Apa dia sedang terpisah dari orang tuanya?
Atau mengira Ais adalah ibunya?
Rasa kebelit yang tak tertahankan, membuat Ais perlahan melerai pelukan gadis kecil yang belum ia ketahui namanya.
"Adek tunggu dulu dikursi sana!" Ais menunjuk kursi panjang yang ada didepan lorong toilet.
Gadis kecil itu mengikuti arah telunjuk Dira.
"Kakak kebelit pipis, nanti kita cari mamanya ya?" secara tak langsung Ais mencoba bernegosiasi, jika tidak, bisa-bisa Ais pipis dalam celana.
Untungnya, gadis kecil yang tak lain adalah Dira, perlahan melerai pelukan. Dira menurut, dan duduk dikursi tunggu tepat didepan lorong ke arah toilet.
"Ahhhh.....lega" sesaat setelah keluar dari toilet, kata itu yang keluar dari bibir Ais, ia merasa plong setelah hajatnya tertuntaskan.
Dert......dert........
Hape disaku celana bergetar. Ada yang menelpon.
"Ia sayang"
"Unda ok? Kok lama?" Reza.
"Ia unda ok, sebentar, baru selesai"
"Yang jemput udah datang" Reza.
"Ok, unda segera kesana"
Tut....Tut....
Hape dimatikan, Ais kembali mengantongi hape. Kaca mata hitam, kembali ia tenggerkan dihidung manisnya.
__ADS_1
Dengan terburu-buru ia berjalan menuju tempat suami juga anak-anak berada. Melupakan keberadaan gadis kecil yang setia terduduk manis menunggu dirinya.
Lima orang wanita bergerombol, berjalan melintas didepan Dira, disaat bersamaan Ais juga melintas, tanpa terpindai oleh Dira.
Penampilan stylist, serta raut wajah yang cantik, membuat para lelaki dewasa tak bisa mengedipkan mata saat berpapasan dengan Ais. Dia begitu menonjol diantara wanita yang ada disana.
Berjarak sekitar sepuluh meter dari Dira duduk. Hafiz yang biasa terkesan cuek, sempat melirik sekilas pada wanita cantik yang barusan berpapasan dengannya.
Deg....deg.....deg....
Jantung Hafiz berdetak tak karuan, merasakan hal yang entah. Padahal selama empat tahun ini, tak pernah rasa itu muncul.
Sempat menghentikan langkah kaki, beradegan bak slow motion, Hafiz memutar badan. Melepas kaca mata hitam yang melengkapi wajah brewoknya. Kembali menatap wanita cantik bertopi putih yang barusan melintas. Tapi sayang, yang tersisa hanya punggungnya saja. Itu pun tak bertahan lama, menghilang, diantara keramaian orang yang ada di bandara.
Hafiz menelan ludah kasar, kembali tersadar, dan berjalan lagi kearah toilet. Ia menyusul Dira, katanya izin ketoilet, namun hampir setengah jam berlalu Dira tak juga kembali.
"Sayang, kenapa duduk disini?" heran Hafiz.
Pasalnya Hafiz yang dari tadi menunggu Dira, ternyata yang di tunggu sedang duduk manis dibangku yang ada di depan lorong toilet.
"Menunggu mama" Dira menyahut dengan wajah bahagia sambil mendongak pada laki-laki dewasa yang berdiri tepat dihadapannya.
"Mama?" suara hati Hafiz.
Hafiz mengerutkan kening, merasa aneh dengan jawaban Dira. Apa Dira sedang berhalusinasi?
Sampai separah itukah Dira sekarang?
Menarik nafas dalam lalu menghembuskan, dengan jiwa penuh kehampaan. Hafiz menjatuhkan diri, duduk jongkok di depan Dira.
Kembali menguatkan hati, agar bisa menjelaskan tentang Ais yang entah ada dimana. Karena Hafiz yakin Dira akan kembali bertanya seperti sebelum-sebelumnya.
Hafiz terdiam, ditatapnya dalam mata yang masih suci itu, entah kenapa kali ini ia mendapati Dira tengah bahagia, dengan senyum yang tak pudar dari wajahnya.
"Sayang, dengar papa! mama masih di....."
Belum sempat melanjutkan ucapan, Dira kembali menyahut.
"Toilet, mama ditoilet pa" Dira melihat kearah pintu toilet yang masih tertutup rapat sejak tadi. Dia mengira didalam sana masih ada wanita yang bergelar mama. Pasalnya, ia sangat yakin, tadi Ais memasuki toilet yang paling depan.
Hafiz tertunduk menatap lantai, ternyata tingkah Dira semakin hari, semakin memprihatinkan.
Dengan mata berkaca-kaca Hafiz kembali menatap wajah Dira dalam, mencoba menyalurkan sesuatu, agar Dira itu paham.
"Sayang, dengar papa, mama tidak ada disini!"
Hafiz mulai bicara tegas. Ia tidak mau Dira terhanyut dalam ilusinya.
Dira yang pada dasarnya memiliki tantrum, mulai terpancing. Terlebih sekarang tubuhnya sudah berada digendongan Hafiz.
Itu artinya Hafiz akan membawa dirinya pergi. Dira tidak mau, mama yang selama ini dicari ada di dalam toilet.
__ADS_1
"Dira mau sama mama! Mama!....mama!"
Dira berontak digondongan Hafiz. Berusaha untuk melepaskan diri.
Tak ayah tingkah anak dan ayah itu menjadi tontonan orang yang ada disana.
"Dira mau mama! mama Dira ada ditoilet pa!" suara Dira terdengar semakin nyaring diiringi tangis yang semakin memekakkan telinga. Menggema sampai kepenjuru ruang bandara.
Deg......
Suara itu sayup-sayup terdengar ditelinga wanita cantik yang tak lain adalah Ais.
Suara itu memaksa menghentikan gerak kaki. Meski samar-samar, ia sedikit mendengar tangisan dan gemaan kata "Dira"
"Sayang, kenapa?"
Reza disebelahnya merasa heran, kenapa istrinya tiba-tiba menghentikan langkah.
Aidan dan Aiza sudah terlebih dahulu dibawa opa kedalam mobil. Pasalnya tadi, saat opa dan sopir datang, anak-anak sudah terlihat bosan. Oleh karena itu, opa yang tak lain ayah Reza langsung membawa kedua cucunya untuk menunggu di dalam mobil.
Ais membalas tatapan Reza, "enggak.....,ayo....kita lanjutin!"
Ais dan Reza melanjutkan langkah menuju mobil di area parkir bandara.
Tanpa suara, Hafiz masih tetap dengan pendiriannya, sekuat tenaga tetap menahan tubuh Dira agar tidak melorot jatuh kelantai.
Tubuh Dira yang sudah lumayan berisi, belum lagi tangan dan kaki yang tak henti memukul dan menendang tubuh Reza, membuat ia merelakan Dira turun dan kembali berlari ke arah toilet.
Hafiz hanya mampu menatap penuh hampa.
"Ya Allah apakah ini karma atas perbuatanku yang lalu, jika memang ia, cukup aku, jangan Dira ya Allah" suara hati Hafiz.
"Sabar pak! anak-anak memang begitu, emosinya masih suka naik turun" seorang wanita baya yang kebetulan melintas menepuk-nepuk punggung Hafiz. Ia yang dari tadi menyaksikan, mencoba menyabarkan dan memberi nasehat.
Hafiz hanya tersenyum hampa, kemudian kembali berjalan mendekati Dira yang berdiri dimuka pintu toilet wanita.
Tak lama pintu terbuka.
Dira mendongak melihat kearah wajah wanita yang barusan membuka pintu toilet.
Senyum yang tadi terkembang, perlahan memudar.
Hafiz yang berdiri tak jauh dari Dira, mengusap wajah kasar. Lagi-lagi hatinya terasa sakit.
"Adek mau ke toilet?" tanya wanita ke pada Dira yang sudah berdiri manis di depan pintu.
Dira terdiam, wajahnya bingung, kenapa orang yang di dalam toilet bisa berubah. Bukan ini wanita yang ditunggunya.
Dira menggeser tubuh kecilnya. Memberi jalan untuk wanita tadi lewat. Dira tertunduk lesu, kekecewaan sedang menguasai hatinya.
Hafiz yang melihat kekecewaan dimata Dira, berjalan mendekat. Pelan, menautkan jemari ke jemari Dira. Berbagi kekuatan untuk keduanya.
__ADS_1
Berdua berjalan menelusuri ruang bandara dengan jiwa penuh hampa.
Tadi pagi, Hafiz sengaja membawa Dira untuk ikut serta mengantar puan Jijah terbang ke Singapura. Tak disangka ternyata berakhir seperti ini.