Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
63. Kanker Kelenjar Getah Bening


__ADS_3

"Saya sudah melakukan seperti yang bos perintahkan"


Seorang laki-laki berpenampilan kantoran memberi laporan.


"Bagus, buat mereka lebih menderita dari sekarang, terutama anak itu!"


Perintah tegas tak terbantahkan dari seseorang yang ada diseberang telpon.


"Baik bos!".


"Untuk bayaran, segera saya transfer"


"Asyiiiikkkkk, makasih bos!"


"Emmmm.....Tapi ingat, bekerja cantik, sehingga tidak ada yang curiga!"


"Bos tenang aja, urusan itu beressss!"


Tut......tut......


Bunyi telpon ditutup.


"Ini akibatnya karena kau telah merampas apa yang seharusnya menjadi milikku, ha.....ha..ha...."


Tawa menakutkan itu menggema, merasa puas karena dendamnya akan segera terbayar lunas.


***


Setelah menemui pak Hartanto, Reza langsung memutuskan untuk pergi kekantor. Meski terbilang sudah kesiangan, tidak akan masalah baginya, karena dia adalah pemilik perusahaan.


Duduk dibangku teras dengan posisi menundukkan kepala, Reza sedang memasang sepatu, siap untuk pergi bekerja. Terlihat juga disana Ais berdiri sambil memegang tas kerja milik Reza.


"Pa..!" panggilnya pada Reza yang masih sibuk memasang sepatu di kaki kiri. Ditatapnya sendu suaminya. Ia melihat suaminya tak sesegar dulu, wajahnya sedikit pucat. Mungkin terlalu lelah bekerja, pikirnya.


Reza menegakkan badan, menoleh dan menghentikan gerak tangannya.


"Ada apa unda?" tanyanya lembut.


"Kalau urusan papa udah beres, kita pulang ya?"


Ais merasa tidak betah berlama-lama di negara orang, rasa terasing juga jauh dari Reza dan keluarga. Meskipun disini ada kedua orang tua Reza, tapi rasanya beda. Terlebih ibu mertuanya yang terkesan pendiam membuat Ais rasa tak enak hati.

__ADS_1


"Ia, papa juga kepengen pulang, begitu urusan disini selesai kita langsung pulang"


Selesai memasang sepatu, Reza mengulurkan tangan. Ais mencium penuh hikmat tangan Reza.


Reza menerima uluran tas kerjanya dari Ais.


"Jaga anak-anak, papa berangkat kerja dulu!"


Pesannya sebelum melepas tangan Ais. Berat rasanya bagi Ais melepas kepergian Reza, seakan suaminya akan pergi jauh meninggalkan dirinya.


Ais juga bingung, semingguan ini perasaannya kurang enak, tidak tau karna apa.


Masih memegang handel pintu mobil, Reza kembali tersenyum dan melambaikan tangan pada Ais.


Ais balas melambaikan tangan dan tersenyum, lagi-lagi, senyumnya terasa hampa. Begitu Reza masuk kedalam mobil, senyumnya langsung menghilang. Kalau biasanya, sampai masuk kedalam rumah senyum itu masih terkembang.


Mobil Reza kini telah hilang dipandangan, Ais memutar badan dan masuk kedalam rumah.


***


Sesampai dikantor, tak ada yang bisa Reza kerjakan, fokusnya pada pekerjaan benar-benar hilang. Kini ia berdiri di dinding kaca, kedua tangan masuk kedalam kantong celana. Dia menatap hampa pada gedung-gedung pencakar langit. Sesungguhnya bukan itu yang sedang ia lihat. Karena saat ini Reza sedang melihat wajah istri juga kedua anaknya.


Diempat tahun pernikahan, rasanya inilah ujian terberat yang sedang dihadapi. Dia tidak tau, aalah bisa melewati ini semua.


Reza kembali mengingat bagaimana dokter mengatakan jika ia tidak akan lama lagi hidup didunia. Pasalnya, sekarang dia sedang mengidap penyakit yang sangat mematikan, "kanker getah bening".


Kanker kelenjar getah bening adalah kondisi medis dimana sel-sel sistem limfatik berproliferasi dengan ganas. Sistem limfatik tersebut meliputi kelenjar getah bening, limfa, timus dan juga sumsum tulang.


flashback on


Sehari setelah bertemu dengan Ahmad yang tak lain adalah Hafiz, Reza pergi kerumah sakit untuk memeriksakan diri. Reza termasuk orang yang peduli akan kesehatan. Pada awalnya, ia mengira amandelnya kambuh. Dugaan itu muncul karena ia merasa kesulitan untuk menelan, terdapat sariawan juga dirongga mulut dan gusi. Badan terasa meriang, dan sempat mengalami demam.


"Kenapa?" dokter laki-laki yang sudah berumur langsung bertanya sesaat setelah Reza mendudukkan diri dihadapannya.


"Sepertinya amandel saya kambuh dok" Ucap Reza pada dokter.


Dokter mengangguk mengerti dengan yang pasiennya katakan. Tapi yang namanya seorang dokter, dia tidak akan mengambil kesimpulan hanya berdasarkan keterangan pasien tanpa sebelumnya melakukan pemeriksaan.


"Apa gejala yang bapak rasakan?" tanyanya lagi.


"Rasa ada pembengkakan di tenggorokan dok, terus kalau dibawa nelan sakit. Dalam mulut juga banyak ditumbuhi sariawan. Kemaren juga sempat demam dok, tapi hanya sehari. Kalau lagi banyak kerjaan, saya memang suka kambuh amandelnya, nggak bisa capek" Reza menjelaskan dengan panjang lebar riwayat kesehatannya. Memang begitulah adanya dia. Jika terlalu capek amandel yang diderita sejak kecil suka kambuh.

__ADS_1


Selama penjelasan Reza dokter mengangguk paham, serta menyimak dengan serius, agar apa yang diucapkan pasien sesuai dengan diteori.


"Sebelumnya ada minum obat?" dokter kembali bertanya untuk memastikan, agar tidak terjadi kesalahan dalam pemberian obat nantinya. Karena biasanya terlebih obat yang mengandung antibiotik diberikan dengan dosis tertentu. Tidak boleh lebih maupun kurang. Semua sesuai takaran. Berpegang pada umur juga tingkat keparahan.


Reza menggeleng.


"Baiklah, saya periksa dulu ya pak_" dokter menoleh pada nama yang tertera di riwayat pasien. " pak Reza" sambungnya lagi.


Reza duduk tegak, hal pertama yang mendapatkan pemeriksaan adalah rongga mulut Reza. Dokter menekan tombol on pada senter kecilnya. Menyenter keseluruhan bagian mulut Reza hingga bagian paling dalam.


"Wah ....sariawannya parah sekali" ucapnya disela pemeriksaan. Hanya ini bengkaknya kok begini ya?" dokter mulai curiga, jika itu bukan semata amandel.


Setelah memeriksa bagian dalam mulut, dokter kembali menyentuk bagian leher Reza. Dugaannya benar, banyak bengkak disana. Dokter mulai mengerutkan alis, namun sekarang ia belum bisa membuat kesimpulan.


"Bagaimana dok?" tanya Reza yang sudah kembali duduk berhadapan dengan sang dokter.


"Setelah melakukan pemeriksaan, saya mencurigai ada yang tidak beres. Yang dirasa bengkak oleh pak Reza bukanlah amandel melainkan kelenjar getah bening. Dari gejala yang diderita pak Reza, dan setelah saya melakukan pemeriksaan, saya mencurigai pak Reza menderita kanker getah bening, tapi untuk memastikan benar apa tidaknya, saya menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjut berupa tes hitung darah lengkap. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mendeteksi kemungkinan masalah kesehatan yang muncul, misalnya infeksi" jelas dokter panjang lebar. Tapi Reza sudah tak mampu lagi mendengar penjelasan dokter, sesaat setelah mendengar kata "kanker". Kerena kanker identik dengan kematian".


"Selain cara di yang barusan saya sebutkan, bapak juga bisa melakukan periksaan pemindaian. Yaitu benjolan yang muncul diperiksa dengan metode pemindaian atau CT scan dan MRI. Tes ini dilakukan untuk mendeteksi sumber infeksi dan juga tumor" sambung dokter lagi.


Untuk memastikan, Reza mengikuti saran dokter, dan menjalani kedua tes tersebut.


Kemaren, sekitar jam delapan pagi, Reza mendapatkan telpon dari pihak rumah sakit, yang mengatakan jika hasil pemeriksaan sudah keluar.


Reza langsung pergi kerumah sakit, sungguh, sepanjang jalan rasanya ia sedang menunggu malaikat maut menjemput.


Ternyata hal yang ditakutkan benar-benar terjadi, Reza dinyatakan mengidap kanker kelenjar getah bening stadium empat.


Seketika dunia Reza terasa runtuh. Bumi seakan berhenti berputar. Semuanya terasa hampa dan menyakitkan. Ais mata itu, sudah jatuh tanpa bendungan. Reza, tiba-tiba memegang kepala yang tiba-tiba terasa berat. Bagaimana ia akan menjalani hari-harinya kedepan? Bagaimana ia menghadapi orang-orang yang selalu mengharapkannya pulang dalam keadaan sehat? Bagaimana cara memberi tahu Ais, tentang sakitnya?


Bagaimana nantinya Ais juga kedua anaknya jika ia benar-benar pergi?


flashback off


Bersambung........


Ada novel bagus ni....punya teman aku, yok...mampir buat meramaikan.



 

__ADS_1


__ADS_2