Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
50. Kucing bertanduk


__ADS_3

Mbok Munah menata sarapan pagi diatas meja. Kedua bocah kecil juga sudah duduk manis dikursi masing-masing. Baju tidur sudah berganti. Mbok Munah yang memandikan. Pipi gembul mereka terlihat putih dengan taburan bedak bayi yang sengaja dipasang belepotan. Rambut si Aiza sudah dikepang dua, sedang Aidan disisir rapi dengan belah samping. Meski tak seayah, wajah mereka memiliki kemiripan. Mungkin gen Ais yang terlalu dominan.


Bunyi hentakan kaki terdengar menuruni anak tangga. mbok Munah langsung menoleh kesana. Tatapan mbok Munah tertuju pada rambut kedua majikan yang basah, membuat pikiran mbok Munah traveling kemana-mana. Wajah ditekuk, ia tersenyum mesem. Pasalnya tadi ia sempat melihat sekilas Reza diatas badan Ais. Belum lagi suara erotis yang membuat dugaannya semakin menjadi. Padahal apa yang dilihat dan didengar tidaklah sama dengan fakta sebenarnya.


Ais dan Reza terlihat kompak menuruni tangga. Ais memeluk lengan kanan Reza, sedang lengan satunya digunakan Reza untuk menggaet jas kerjanya. Tak lupa Ais membawakan tas kerja Reza di salah satu tangannya. Wajah keduanya memancar seperti bulan purnama, penuh rona bahagia.


"Papa! unda!" teriak kedua bocah kompak. Kegirangan melihat kedua orang tuanya.


Ais mengambil alih jas yang dipegang Reza, disampirkannya di belakang kursi yang tak dipakai. Tas kerja diletakkan juga disana.


"Sayang papa udah wangi?" Reza membungkukkan badan, menciumi kedua pipi Aidan dan Aiza bergantian.


Sreekkkkk.......


Kursi ditarik. Reza mendudukkan diri pada kursi kebesaran yang berada di ujung antara posisi kiri dan kanan.


"Biar Ais aja mbok!" Ais menahan tangan mbok Munah yang sudah bersiap menyendoki nasi goreng kedalam piring. Tak sekalipun Ais absen menyiapkan sarapan untuk Reza, kecuali disaat dirinya sakit dan melahirkan.


Meski sudah memiliki pembantu, urusan makan dan pakai Reza beserta anak-anak menjadi urusan Ais. Ia tidak ingin menyerahkan urusan itu pada pembantu. Karena bagi Ais, keluarga tetap yang nomor satu.


"Segini cukup pa?" Ais melihatkan isi piring pada Reza.


"Cukup Bun"


Ais mengulurkan piring berisi nasi goreng pada Reza.


"Makasih Bun"


Ais tersenyum. Selanjutnya Ais kembali menyendoki nasi untuk Aiza dan Aidan.


Dua gelas susu juga ia sajikan disana, minuman rutin buat kedua bocah kesayangannya.


"Mbok ayo,.....sarapan sama-sama!" panggil Ais pada mbok Munah yang sibuk mengemas peralatan masak.


"Nanti aja Non, Mbok mau bersih-bersih dulu" ucap mbok yang sedang sibuk membersihkan meja kompor. Mbok Munah selalu beralasan tiap kali Ais mengajaknya makan bersama. Ia masih saja merasa sungkan pada majikannya. Meski Ais dan Reza sangat baik padanya.


"Nanti aja beres-beresnya mbok, makan dulu" Ais menarik mbok Munah untuk ikut sarapan bersama mereka.

__ADS_1


Mbok Munah tampak malu-malu.


"Ayo..mbok, kayak dengan orang lain aja" ajak Reza disela suapannya.


Mbok Munah mendudukkan diri, dengan sedikit sungkan menyendoki nasi kedalam piringnya.


"Mbok jadi nggak enak sama Non dan Aden" ucap mbok Munah.


"Nggak usah sungkan mbok, kita udah anggap mbok seperti keluarga sendiri, ia kan pa?"


"Emmmm....." sahut Reza sambil mengangguk dengan mulut mengunyah nasi goreng.


Mbok Munah tersenyum, ia melirik ke arah Reza kemudian Ais.


Dikeluarga ini mbok Munah benar-benar diperlakukan tidak seperti pembantu. Jika lelah ia dibebaskan istirahat, makanan apa pun yang ada dirumah itu, ia bebas memakannya. Ia sangat bersyukur bisa bekerja mendapatkan majikan sebaik Ais dan Reza.


***


Kantor Reza


Tepat didepan pintu kantor, Ais dan Reza diturunkan oleh supir mereka. Sebelum kekantor mereka mampir terlebih dahulu kerumah orang tua Ais untuk menitipkan Aidan dan Aiza pada ibunya Ais. Reza sengaja minta disetirkan, alasannya waktunya terlalu bermakna untuk dibuang sia-sia dengan kegiatan menyetir.


Karena seperti diketahui usaha dibidang persawitan serta usahanya di Malaysia masih sama-sama jalan, dan terus berkembang. Jadi tidak heran, Reza adalah sosok sibuk, yang selalu memaksimalkan waktu untuk bisa mengikuti perkembangan kedua buah hatinya dan memberikan kasih sayang yang tak terhingga pada Ais juga keluarga.


Kantor Reza hanya memiliki dua lantai. Dilantai pertama digunakan untuk penyimpanan barang sebelum disalurkan kesetiap cabangnya. Dibagian ini yang bekerja ada lima orang. Setiap orangnya dituntut bisa mengendarai mobil dan minimal memegang SIM A.


Dilantai dua digunakan Reza untuk melakukan penginputan data, baik berupa jumlah modal maupun laporan keuntungan yang di bukukan setiap hari.


Tidak ramai yang dipekerjakan, hanya tiga orang saja. Masing-masing bertugas menginput pengeluaran, pendapatan. Serta satu orang ditugaskan untuk mencatat rekapan pesanan serta tanggal kegiatan acara yang memakai jasa catering mereka.


Sedang Reza yang dibantu Ais juga mertuanya, bertugas memantau perkembangan usaha mereka, serta selalu turun tangan jika terjadi kendala atau komplent dari pelanggan.


Usaha yang Reza tekuni di kota P ini pada awalnya hanya sebuah rumah makan masakan Padang. Ternyata setelah Reza mempercayakan pengelolaannya pada ayah Ais, usahanya tambah berkembang, hingga membuka banyak cabang.


Selain itu Reza juga membuka layanan catering untuk pekerja kantoran, sekolah, juga acara-acara lain seperti hajatan, syukuran, ulang tahun, pesta pernikahan serta masih banyak acara lainnya.


Karena mereka selalu mengutamakan kepuasan pelanggan. Jadi tak heran jika usaha yang mereka dirikan disukai banyak orang, sehingga mampu mengalahkan pesaing lainnya.

__ADS_1


Omset yang didapat tiap minggunya bukan angka yang kecil, melainkan bisa mencapai ratusan juga. Angka yang sangat pantastik. Tapi itu semua tidak berpengaruh pada gaya hidup keluarga mereka.


Semenjak menikah dengan Ais, tidak ada lagi Range Rover beserta kawanannya. Hanya dua mobil biasa yang terparkir digarasi mereka. Ais lebih suka menaiki mobil yang banyak orang gunakan, yaitu sebuah mobil Fort*ner saja. Karena Ais tidak ingin keluarga mereka terlihat mencolok sehingga menjadi tontonan orang banyak dan membuka celah iri dengki serta mengundang tindakan kriminal.


"Pagi, pak buk!" ucap mereka serempak, saat Ais dan Reza memasuki kantor.


"Pagi....!" jawab keduanya kompak. Berbeda dengan wajah Reza yang datar saat berhadapan dengan karyawan maupun client, Ais selalu memasang wajah ramah dan senyum ramah.


"Ais dan Reza langsung menaiki tangga, untuk menuju ruangan mereka yang ada dilantai dua.


"Kalau nyari istri kayak buk Ais, udah cantik, baik lagi"


Ucap salah satu karyawan dilantai satu.


Tanpa mereka sadari obrolan mereka masih terdengar jelas oleh Reza juga Ais. Membuat keduanya saling pandang dan tersenyum bangga, terutama Reza.


"Bisa..., asal kitanya mampu nggak kayak pak Reza?" tanya yang satunya.


"He......e....nunggu kucing bertanduk dulu kali ya?"


"Ha.....ha...." semua yang ada dilantai satu tertawa dengan candaan salah satu dari mereka.


Ais dan Reza dibuat geleng-geleng kepala, sambil terus melanjutkan langkah.


.Kreeekkkkk.....


Suara pintu dibuka.


"Pagi pak, buk!" ucap ketiganya kompak saat melihat Ais dan Reza membuka pintu ruangan mereka yang berada bersebelahan dengan ruang ketiga karyawan yang sedang duduk menghadap layar komputer masing-masing.


Mereka bekerja tidak di dalam kubikel. Reza hanya menyiapkan mereka dengan satu orang, satu meja. Biar ruangan tidak terasa sempit.


Begitu masuk kedalam ruangan, baik Reza maupun Ais, keduanya sudah langsung fokus membaca laporan penghasilan hari sebelumnya.


Benar-benar sebuah bisnis yang terlihat biasa-biasa saja, ternyata jika dikelola dengan benar bisa membuka banyak lapangan pekerjaan. Bisa dibayangkan satu rumah makan saja bisa mempekerjakan sepuluh orang, bagaimana jika sampai memiliki sepuluh cabang?


Berarti ada seratus orang yang bekerja disana.

__ADS_1


Itu baru rumah makan, belum lagi usaha catering, dan kebun kelapa sawit miliknya. Mungkin keseluruhan ada ribuan orang yang Reza pekerjakan.


Bersambung .....


__ADS_2