
"Selamat pak! istri bapak hamil"
Jedwaaarrrrrr
Bagai tersambar petir. Pernyataan dokter barusan memporak porandakan duniaku.
Sofia hamil???
Kok bisa???
Anakku?
Tidak, tak mungkin.
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Semenjak kepulangannya aku bahkan belum pernah sekalipun menyentuhnya.
Kenapa bisa? Apa ada Buto ijo?
Siapa Buto ijonya?
Gila, ini benar-benar berita gila.
Perlahan kuputar pandangan sembilan puluh derajat, kearah Sofia yang masih terbaring dibrangkar. Ia pun sama, melihat kearah ku. Matanya berkaca-kaca. Ada permohonan disana. Entah untuk apa. Maafkah? atau apa?
Tess....
Setetes air mataku jatuh tanpa perlawanan.
***
Aku keluar ruangan itu dengan hati yang sudah tak berbentuk. Dikhianati dua wanita dalam waktu yang hampir bersamaan. Dadaku terasa sesak akibat bogem tak kasat mata, tubuhku terpental hingga kedidinding lorong rumah sakit.
Berkali-kali kupukuli dinding yang seakan mengejek. Tak cukup dengan tangan, kini kepala kuhentakkan. Aku merasa menjadi manusia paling bodoh sedunia.
Beruntung ada Adam yang menghentikan aksi gilaku.
Aku menangis di pelukannya. Tidak ada pertanyaan yang keluar dari bibirnya. Untuk saat itu, hanya elusan yang ia berikan.
****
Seminggu setelah mengetahui fakta tentang Sofia, yang ternyata hamil dengan laki-laki semasa di LA, akhirnya kujatuhkan talak juga untuk dirinya. Bagiku pengkhianatan tidak bisa dimaafkan. Jalan satu-satunya diceraikan.
Adira juga sudah kembali siuman, tidak ada kecacatan seperti yang ditakutkan, hanya saja banyak memorinya yang hilang. Tapi anehnya pertama kali membuka mata, nama Ais yang disuarakan. Membuat hatiku kembali terasa sakit.
Kenapa harus wanita itu, kenapa Adira selalu menyebut namanya? Tak taukah nak, bahwa wanita yang kamu cinta dan damba itu, telah mengkhianati papa.
Sehari setelah siuman, Adira sudah diperbolehkan pulang, hanya disarankan kontrol seminggu sekali untuk melihat perkembangan kesehatannya.
Oya....aku hampir lupa tentang Adam dan mama. Mereka sempat tak percaya akan apa yang terjadi padaku, termasuk tentang Ais. Aku menceritakan semuanya. Tapi sepertinya mereka menerima semua keputusanku. Mungkin mereka bercermin atas kejadian Sofia, wanita lemah lembut yang dikira setia ternyata mendua. Jadi mereka pun tidak terlalu terkejut jika Ais melakukan hal yang sama.
Kini kami hanya fokus untuk kesembuhan Dira, dan mencari cara agar ia melupakan Ais.
Sore hari saat kepulangan Dira dari rumah sakit, aku kedatangan tamu tak diundang. Didepan pagar terparkir sebuah mobil yang membuat lukaku kembali menganga.
Mobil itu milik bajingan yang waktu itu mengantarkan Ais pulang.
Orangnya masih di dalam mobil yang berkaca gelap.
__ADS_1
Mungkin sedang tertidur atau apa.
Kebetulan Adam yang menyetir, jadi aku terpaksa turun untuk membuka pagar. Sebelum turun aku berpesan pada Adam untuk langsung masuk kedalam membawa mama dan Dira.
Inilah saatnya untuk membalas sakit hatiku.
Berkali-kali dengan tak sabaran kuketuk kaca mobil, agar bajingan itu segera keluar. Aku tak sabar menghadiahinya bogeman.
Sudah siap memasang kuda-kuda. Begitu pintu dibuka, aku sedikit terkejut, ternyata pemiliknya seorang wanita. Aku kenal siapa dia.
Nia sahabat Ais.
"Mau apa kamu kesini" tanyaku ketus, dengan melipat tangan di dada.
"Maaf pak, saya cuma mau bertanya, apa Ais ada di dalam?"
Aku tersenyum sinis.
"Untuk apa kau mencari wanita ****** itu, dia tidak ada disini"
"Maksud bapak? bukannya kemaren setelah dari rumah sakit dia sudah pulang, dan waktu itu saya yang mengantarnya. Kenapa bisa bapak bilang Ais ****** dan tidak ada disini? Bukannya dia bekerja disini, dengan bapak?
Tolong dong pak? saya benar-benar khawatir, pasalnya sudah berminggu-minggu dia tidak masuk dan tak bisa dihubungi"
Dia memberondongku dengan pertanyaan. Tapi aku tetap memilih cuek. Tapi tunggu, tadi dia bilang Ais habis dari rumah sakit. Jiwa seorang lawyerku mulai bekerja.
"Tadi kamu bilang, Ais kerumah sakit?"
Aku memancing jawaban.
"Bapak ini gimana sih, masak sama kondisi pekerja sendiri tidak tau. Iya...kemaren Ais sempat dirawat dirumah sakit selama tiga hari, akibat dehidrasi. Syukur saya dan kak Reza sempat menolong, jika tidak dia bisa mati di apartemen"
Kembali sambaran petir untuk yang kesekian kalinya kudapatkan.
Tiba-tiba otakku kembali menyusun kepingan-kepingan puzzle.
Berarti selama tiga hari Ais tidak pulang kerumah karena dirawat dirumah sakit. Sakitnya saat diapartemen, terus ada panggilan kenomor Reza karena ia minta tolong, tapi kenapa harus Reza? kenapa harus bajingan itu?
"Bapak bilang Ais tidak ada disini, kemana dia? mana dia lagi hamil"
Nia spontan menutup mulut, seperti ingin kembali menarik ucapan yang sudah terlanjur diucapkan.
Deg.....
Bak slow motion aku memutar pandangan penuh keterkejutan kearah Nia.
"Apa, Ais hamil? akhirnya aku tak mampu menahan rasa penasaran.
"I...ia...di...dia hamil, tapi kami juga tidak tau dia hamil anak siapa? Saya dan kak Reza sepakat untuk tidak bertanya. Soalnya kemaren Ais juga kelihatan shock saat mengetahui dirinya hamil. Dia hamil tiga bulan"
Itulah keterangan yang kudapat dari sahabat Ais.
Entah kapan Nia pergi, aku tak sadar lagi. Kini yang ada dikepala hanya Ais serta penyesalan.
Astagfirullah........
Apa yang sudah kulakukan?
__ADS_1
Kenapa aku bisa sebodoh ini?
Kemana Ais membawa anakku?
Bahkan satu ringgit pun mungkin dia tak punya.
Semua pasport dan visa ada padaku.
Belum lagi malam itu hujan petir.
Aku menyeretnya seperti binatang, mungkin dengan binatang pun aku tak pernah berbuat demikian.
Dia menangis, memohon, hingga bersujud dikaki ku. Tidak sedikit pun aku berbelas kasihan padanya.
Aku luruh ketanah.
Semua kejadian kembali berputar dikepalaku. Aku manusia paling kejam. Dengan pandangan mengabur penuh air mata. Kulihat dua telapak tangan sambil terus menggeleng-gelengkan kepala ingin menolak, tapi itulah kenyataannya. Tangan inilah yang dengan ringannya menampar Ais hingga terpental. Berdarah-darah.
Dengan mulut ini aku meludah wajahnya. Dan dengan mulut ini, aku menggigit, serta mengeluarkan kata yang tak pantas untuk Ais.
Astagfirullah.......
Aku tak pantas disebut manusia.
Kini aku seperti orang gila.
Kujambaki rambutku sekuatnya.
Bodoh.....kamu bodoh Hafiz!
Kenapa bisa aku sekejam ini.
Astagfirullah.....
Aku menyakiti dua nyawa sekaligus.
Suami macam apa aku?
***
Setelah kembali mengetahui fakta, hidupku menjadi tak tenang. Tiap hari aku menangis penuh penyesalan. Hidupku kembali berantakan. Hari-hariku dihantui bayangan Ais, tawanya, suaranya, cara bicaranya, perhatiannya semua berlarian dikepala. Bahkan tangisan memohon belas kasihan pun tak luput bermain dikepala. Tidurku selalu diganggu mimpi buruk tentang Ais, tentang bayi dalam kandungannya.
Berbagai usaha kulakukan untuk bisa menemukan Ais. Menyewa jasa khusus, menyebar foto baik dimedia sosial maupun ditempel ditempat-tempat umum. Namun semua nihil.
Semua penerbangan kudatangi, meski tak mudah semua kulakukan hanya demi untuk mencari nama Ais. Tapi kenyataan yang kudapatkan tetap sama.
Akhirnya dibulan ke dua setelah kepergian Ais, aku memberanikan diri mendatangi Indonesia. Biarlah pulang tinggal nama, yang penting maaf kudapatkan.
Tapi aku harus mendapatkan kenyataan pahit. Keluarga Ais juga sudah lama pindah, tak seorang pun tetangga tau kemana mereka pindah.
Sekali lagi, aku harus pulang dengan tangan kosong.
Usaha yang kujalani, hampir diambang kebangkrutan. Karena sejauh ini aku tidak lagi peduli dengan pekerjaan. Jangankan pekerjaan, Adira juga sempat kuabaikan.
Sampailah disatu kejadian, akibat ketidak pedulianku, Adira kabur dari rumah. Karena itulah sekarang aku berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama dengan membiarkan yang jelas sudah di depan mata. Aku berusaha semaksimal mungkin menjadi ayah sekaligus ibu yang baik untuk Dira. Bekerja keras kembali membangun usaha yang hampir gulung tikar.
Memori tentang Ais akan kukubur di telaga penyesalan, cukup aku dan Tuhan saja yang tau bagaimana sakitnya aku. Meski sulit akan terus kucoba. Semoga dimana pun mereka berada, kebahagiaan selalu menyertainya....
__ADS_1
Aaamiiiinnnnnnn........
Bersambung.......