Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
28. KADAL


__ADS_3

Tiga bulan kemudian...


Dalam tiga bulan ini, Hafiz selalu berusaha untuk mendekati Ais, berbagai cara ia coba, salah satunya adalah mengantar dan menjemput Ais di kampus.


Namun hubungan Ais dan Hafiz tidak mengalami kemajuan, mereka masih tetap terlihat seperti majikan dan pembantunya.


Semua itu bukan tanpa alasan, Ais memang membuat batasan dalam hubungan mereka, karena ia ingin lebih fokus pada pendidikannya. Disamping itu Ais juga punya alasan tersendiri.


*Ais Vov*


Aku tau, ia selalu berusaha untuk mencari perhatianku. Semua itu berawal saat Abang Hafiz sakit. Ya...sekarang aku memang memanggilnya "Abang", karena ia mengancam akan menciumku setiap aku memanggilnya tuan.


Ada alasan kenapa aku tetap bersikap dingin pada Abang, itu berawal karena ia memperkenalkan aku pada sahabatnya yang ada di kampus tetap sebagai pembantu. Berarti dia memang hanya menganggap aku sebagai pembantu, tidak lebih titik. Jika ditanya bagaimana perasaanku padanya? Apakah tidak ada walau sedikit rasa cinta?.


Jawaban jujurku pasti ada, terlebih kami tinggal bersama dalam beberapa bulan ini, ditambah perhatiannya padaku yang terkadang bisa membuat aku baper. Namun rasa itu sebisa mungkin ku tekan, dan kututupi di dalam lubuk hati yang paling dalam. Aku tidak ingin merasakan sakit lagi seperti yang aku rasakan saat itu.


Jika ada yang bertanya bagaimana hubunganku dan kak Reza selama tiga bulan ini?


Jawabannya aku masih berkomunikasi, hanya sebatas sahabat. Karena aku tak ingin memberi harapan lebih dan mengecewakan kak Reza jika tau hal yang sebenarnya.


Hari ini Adam dan Puan Jijah akan kembali ke Malaysia, aku dan Abang yang menjemput mereka di bandara. Nah...saat ini dibandaralah aku dan Abang berada.


"Ais.....,air...!" tawar Abang padaku, sambil menyodorkan botol air mineral. Saat ini kami sedang duduk dikursi besi ruang tunggu bandara. Sudah lebih lima belas menit kami menunggu, kalau menurut jadwal sepuluh menitan lagi mereka tiba.


Aku menerima botol mineral yang disodorkan Abang. Meminumnya sedikit untuk membasahi tenggorokan.


Tatapanku tak lepas memperhatikan hilir mudik orang yang memasuki pintu kedatangan dan keberangkatan. Berharap ada sosok yang ku kenal di sana, sedang Abang tetap sibuk dengan hapenya.


"Bang...!"


"Emmmm" hanya itu balasannya tanpa menoleh ke arahku.


"Ais ke toilet dulu ya?" pamitku pada Abang sambil berdiri dari dudukku.


"Emmm" hanya itu balasannya tanpa mengalihkan pandangannya padaku.


Keeeesallllll...!, .itu yang kurasakan, tanpa menunggu lagi aku langsung beranjak pergi dengan rasa dongkol, entah kenapa dicueki seperti itu ada rasa sakit. Mungkin karena selama ini dia selalu bersikap sok perhatian jadinya aku terbawa perasaan.

__ADS_1


Bug.....


Badanku menubruk seseorang, hingga sedikit mundur kebelakang, begitu juga dengan orang yang aku tubruk.


"Astagfirullah....., are you ok?"


"Sorry...! aku nggak sengaja", ucapku sambil membenarkan tas slempang di bahu kiri.


"it's ok, ini juga salahku karena sibuk main hape sambil jalan".


"Sekali lagi maaf ya" ucapku pada wanita cantik yang ada di depanku.


"Ia, nggak masalah....aku duluan ya" ucapnya lagi sambil menarik koper.


Gila ....! satu kata untuk wanita itu, sangat cantik, modis dan tidak sombong, andai aku jadi dia.....uh....


Dia pasti baru tiba dari luar negri, dari penampilannya sangat mencerminkan semua itu. Mataku masih enggan berpaling menatap punggungnya hingga menghilang dikeramaian bandara. Setelah itu aku melanjutkan kembali tujuan awalku, yaitu toilet.


Ini semua pasti gara-gara Abang, hingga aku tak konsen berjalan dan bisa-bisanya sampai menabrak orang, untung orangnya baik hati dan tidak sombong.


Setelah menuntaskan hajatku...aku kembali ketempatku menunggu bersama Abang. Dari kejauhan aku melihat beberapa orang sudah berdiri di sana, sepertinya puan Jijah dan Adam sudah tiba, wajah satu persatu belum terlihat, karena posisinya yang membelakangi ku.


Dengan sedikit berlari aku mendekat pada mereka.


Begitu dekat, aku memperlambat langkah kakiku, entah kenapa jantungku sangat sulit dikondisikan, kedebak....kedebuk....itulah kira-kira bunyinya.


Terlebih aku melihat Abang dipeluk erat oleh seorang wanita, sangatttt....erat, seperti sedang melepas rindu yang sangat berat. Mereka yang ada di situ juga sepertinya larut dalam tontonan romantis itu. Tapi aku tak bisa melihat wajah si pemeluk. Entah kenapa perasaanku semakin tak enak, lama ku pandangi mereka yang berpelukan.


"Aunty....!" suara cempreng menyadarkanku, ternyata si krucil yang sedang memanggilku, aku tersadar dan tersenyum hangat sambil menjatuhkan diri merentangkan tangan untuk menyambutnya dengan pelukan rindu.


Ternyata suara anak tadi tidak hanya menyadarkan aku, semua orang yang ada di sana juga tersadar akan kehadiranku, termasuklah dua orang yang asyik berpelukan tadi. Aneh pelukan tak sadar tempat.


"Ais.....!" Adam dan Puan Jijah memanggilku secara bersamaan, ternyata mereka juga terkejut dengan kehadiranku di sana. Kucium punggung tangan mertuaku kemudian ia membalas memeluk dan menciumku. Adam juga ku salami, tapi tidak untuk dipeluk. Setelah itu kugendong lagi si krucil.


"Ais..., kamu Ais?" tunjuk wanita yang tadi berpelukan bersama Abang. Ia kaget melihat diriku, mungkin ia masih mengingat wajahku setelah kami saling tabrak tadi.


"Ia ...saya Ais" aku sedikit menundukkan diri sambil menggendong Adira. Loh....jadi yang kutabrak tadi ternyata keluarganya Abang.

__ADS_1


"Ais siapa?" tanyanya lagi. Kali ini pertanyaannya bukan untukku, melainkan untuk semua orang yang ada di situ, terutama tatapannya seolah bertanya pada Abang.


Ternyata Abang juga tak kalah shock melihat aku ada di sana, ada apa ini?. Sepertinya aku mencium bau sesuatu yang tidak enak.


"Sayang, siapa dia?" tanyanya lagi pada Abang.


Wow.....apa aku salah dengar, mungkin telingaku sedang budeg, dia memanggil Abang dengan sebutan "sayang"???


Ohhhh....no, ada rahasia apa yang aku tidak tau.


Kutatap manik mata laki-laki yang sudah beberapa bulan bergelar suami untukku, ada ketakutan hebat di sana, aku semakin curiga.


"Di....dia ..pembantu....." belum selesai Abang bicara, Adam menimpali.


"Sekaligus calon istri Adam" ucap Adam mantap sambil memeluk diriku dari samping.


Semua mata membulat mendengar kata itu, termasuk aku, sumpah aku semakin bingung....bisa-bisanya Adam bicara seperti itu, apa maunya?.


"Ya...ampun....kamu sudah besar ternyata" wanita misteri itu tertawa sambil memukul lengan Adam.


"Kita yang ketemu tadi kan?" tanya wanita itu lagi memastiakan.


Aku hanya mengangguk pelan sambil memaksakan tersenyum, meski hambar.


Sumpah, demi apa pun itu, rasanya aku kepingin nangis...., ada apa lagi ini, bisa-bisanya untuk kesekian kalinya suamiku tak mengakui aku. Berarti perhatiannya selama ini tak lebih hanya untuk menutupi kesalahannya padaku, tidak lebih.


"Ais....come on Ais... don't cry!" itulah suara hatiku.


Kok benar-benar jadi pengen nangis ya Allah. Aku berusaha tak mengedipkan mata, jika itu terjadi, dapat dipastikan bendungan pertahanan terahir pasti jebol.


Untungnya ada Adira digendonganku, aku menciuminya, sambil mendumel-dumelkan wajahku di perutnya, sekalian kutumpahkan air mata disitu. Habisnya, dari pada aku ketahuan nangis, kan malu.


Adira tertawa senang dikiranya aku sedang menggelitik dirinya.


Beberapa saat kemudian terdengar suara laki-laki kadal memanggilku, ya mulai detik ini kutanamkan dalam hati dia tak lebih dari kadal.


"Ais....! Adira biar Abang yang gendong!"

__ADS_1


"Abanggggg???" Miss misteri itu kaget.


__ADS_2