
"Nggak ke kantor?" sudah jam sembilan pagi, namun puan Jijah masih melihat Hafiz enggan untuk beranjak pergi.
Puan Jijah sendiri baru saja kembali dari rumah. Semalam dia dan Adam memutuskan untuk pulang.
"Nggak" jawaban singkat Hafiz berikan. Dia masih enggan untuk meninggalkan Dira. Terlebih Dira semalam sempat terbangun, namun kembali mengamuk.
"Kalau memang ada pekerjaan, pergilah ....! Dira biar mama yang jaga" Hafiz melirik wajah puan Jijah. Berpikir sejenak, dan memang benar adanya, hari ini sebenarnya ia akan menyiapkan persidangan untuk kasus Reza besok.
Puan Jijah mengangguk, meyakinkan Hafiz. Akhirnya Hafiz bangkit dari duduknya dan mencium kening Dira.
"Papa kerja dulu sayang. Cepat sembuh....ya, papa sangat mencintai Dira"
Cupppp.....
Sebuah kecupan dalam, Hafiz labuhkan di kening Dira. Setelahnya ia kembali mendekat pada puan Jijah, dan menyalami wanita renta itu.
"Ma...., titip Dira, hik....hik.....". Hafiz tiba-tiba merasakan kesedihan saat mencium punggung tangan puan Jijah, wanita yang sudah melahirkan dirinya.
Puan Jijah mengelus sayang ke pala Hafiz. Setua apa, serta sehebat apa, diluar sana, Hafiz tetaplah anak laki-laki yang masih kecil dimata puan Jijah.
Hafiz bersimpuh di kaki puan Jijah. Ia rapuh, tiada tempat berlabuh selain ke pangkuan ibu yang sudah melahirkan.
"Sabar......, semua akan indah pada waktunya"
"Ais sudah menikah ma...., hik...hik....."
"Hafiz dan Ais punya anak.....hik...hik......"
Mata puan Jijah membola, apa benar yang barusan ia dengar? berarti bukan hanya Dira cucunya.
Usapan tangan terhenti, kini tatapan Hafiz dan puan Jijah beradu. Puan Jijah mencari kebohongan dari ucapan Hafiz barusan.
"Kamu yakin, itu anakmu?" dulu, puan Jijah memang sempat mendengar jika Ais hamil, tapi tidak menyangka jika anak itu sampai terlahir kedunia.
Hafiz berdiri, membuka tas kerja yang tadi dibawakan puan Jijah untuknya. Dia mengeluarkan sebuah amplop dan menyerahkan pada puan Jijah.
"Apa ini?" tanya puan Jijah dengan menuntut pada Hafiz. Dia melihat logo rumah sakit melekat di muka amplop.
Hafiz tak begeming, ia memilih duduk disamping puan Jijah, dengan tatapan penuh kehampaan.
Dengan tidak sabaran puan Jijah membuka amplop. Saat pertama menarik kertas yang ada di dalam. Matanya membola membaca tulisan yang bertuliskan hasil tes.
"DNA?" gumaman pelan dari bibir puan Jijah. Ia menarik sempurna isi amplop. Dengan seksama dibacanya kata per kata, hingga akhirnya menemukan dua nama, yaitu Aidan anak biologis Hafiz.
Tangan yang sudah dipenuhi keriput, seketika gemetar.
__ADS_1
Puan Jijah kembali menatap Hafiz dalam. Mencoba memastikan.
Hafiz tidak mampu membalas tatapan itu, pandangannya lurus kelantai, namun ia mengangguk pelan, tanda mengiyakan.
"Berarti mama punya cucu selain Dira?" mata puan Jijah mengembun. Tatapannya pada Hafiz memburam.
"Ia mama punya cucu lain, selain Dira. Namanya Aidan...." kini mata Hafiz yang ikutan mengembun.
"Mama ingin ketemu Fiz...! bawa mama ketemu cucu mama" tutur puan Jijah bersemangat, dengan air mata sudah lolos di pipi.
"Mereka belum mengenal kita ma. Bahkan Ais terlalu membenci Hafiz" ucap Hafiz penuh kesedihan.
"Bagaimana pun juga, Ais tetap tidak bisa memisahkan kita, ada darah kita yang mengalir ditubuh anak itu"
Hafiz membenarkan apa yang diucapkan puan Jijah, tapi dia juga tidak bisa menyalahkan sikap Ais. Karena bagaimana pun, Hafizlah yang menyebabkan kekecewaan di hati Ais.
"Ma.....kita tidak bisa memaksa Ais, ini semua salah Hafiz. Hafiz mohon buat masa sekarang kita jangan mengganggu mereka dulu" Hafiz berusaha mencegah keinginan puan Jijah, Hafiz tau bagaimana kondisi Ais saat ini.
"Kalau bukan sekarang kapan lagi?" ucap puan Jijah.
Hafiz tidak mampu menjawab pertanyaan puan Jijah. Dia pun tidak bisa memastikan kapan, karena Ais terlalu membenci dirinya.
****
Pagi berlalu pergi.
Begitu sampai dirumah, ia disambut Isak tangis si kecil Aiza. Karena ini kali pertama Aiza maupun Aidan tidur tanpa Ais.
Setelah memastikan kedua anaknya tenang, Ais bergegas naik kelantai dua. Begitu melewati kamar mertua, tanpa sengaja ia mencuri dengar pertengkaran kedua mertuanya dari celah pintu yang tidak tertutup sempurna.
"Aku menyesal menikah dengan wanita ular sepertimu....!" suara pak Hartanto terdengar nyaring.
"Ha....ha.....puas....., sekarang.... aku puas, seharusnya dari dulu ini kulakukan" tawa menakutkan dari seorang wanita, yang Ais sangat kenal. Istri pak Hartanto, ibu tiri Reza, mertuanya. Tapi kenapa?
Ais berhati-hati, agar dirinya tidak tertangkap basah.
"Kau wanita licik!" umpat pak Hartanto.
"Aku memang licik, tapi jika kamu tidak lebih mementingkan anak sialan itu, mungkin aku tidak akan sejahat ini!"
"Apa yang kurang? selama ini aku bahkan terlalu memanjakan dirimu, setiap hari kau menghambur-hamburkan uang, belanja ...., arisan, serta kumpul-kumpul tak jelas dengan teman sosialitamu itu. Apa pernah aku melarang?"
Ais masih setia mendengar obrolan kedua mertuanya. Ais tidak menyangka ternyata mertua yang dikira baik bisa sejahat itu.
"Itu semua tidak sebanding dengan harta yang kau miliki HARTANTO!" suara yang tak kalah tinggi diucapkan ibu tiri Reza.
__ADS_1
"Seharusnya perusahaan itu jadi milikku, tapi kenapa kau berikan pada anak sialan itu!" lengkingan kembali Ais dengar. Membuat Ais menutup mulut, rasa tidak percaya, ternyata yang dipermasalahkan mertuanya adalah perusahaan yang sekarang sedang ditangani Reza.
"Sekarang aku puas, tidak lama lagi dia akan meringkuk dalam penjara, atas kasus pemalsuan Izin usaha ha....ha....." tawa menakutkan kembali memenuhi ruangan.
"Keterlaluan kamu, seharusnya kamu yang dipenjara, karena sudah memalsukan surat itu" ucap pak Hartanto penuh kemarahan.
Ais sampai harus memegang dada, debaran jantung seketika menjadi luar biasa. Dia terkejut luar biasa, kenapa orang dekatnya begitu tega. Bukankah mertuanya ini sudah lama menikah dengan ayah Reza? Hanya gara-gara harta dia berubah begitu kejam dan menakutkan. Sampai-sampai mengorbankan Reza.
Plakkk......
Suara tamparan terdengar nyaring. Sepertinya pak Hartanto yang menampar istrinya.
Dirasa sudah mengetahui sesuatu yang penting, secepatnya Ais menuju kamar, dan mengemas semua pakaian anak-anak, Reza juga dirinya. Tidak lupa Ais membawa berkas-berkas penting yang nanti dibutuhkan Reza. Ais merasa rumah itu sudah tidak aman untuk dirinya juga anak-anak. Sebelum mertuanya menyadari kehadirannya di sana, ia harus cepat-cepat pergi membawa anak-anak.
Untung barang mereka tidak terlalu banyak, dan Ais hanya membawa yang perlu saja, kemudian pelan-pelan ia mengangkat koper, tidak ditarik agar tidak meninggalkan suara.
"Bik tolong Aidan dan Aiza bawa ke mobil!" perintah Ais pada pembantu yang sedang menjaga kedua anaknya.
"Ia nyonya" Aidan dan Aiza dibawa bibik menuju mobil. Ais sendiri dengan jantung yang sudah tidak karuan, secepatnya ikut keluar rumah.
Kebetulan sopir yang mengantarnya masih ada disana, sedang mengelap mobil.
"Pak bisa antar lagi saya kerumah sakit?"
"Siap non" sopir segera mengambil alih koper Ais dan memasukkannya kedalam bagasi mobil. Ais dan keduana anaknya sudah berada di dalam mobil.
Selagi mobil belum jalan, selama itu jantung Ais tidak karuan. Ia mendekap sayang kedua anaknya. Takut jika sampai ada yang akan menyakiti.
Kini mobil yang membawa Ais dan kedua anaknya sudah pergi meninggalkan rumah mewah tiga lantai milik pak Hartanto.
"Unda.....kita mau mana?" tanya Aidan pada Ais yang masih terlihat ketakutan.
"Kita mau ketempat papa sayang" Ais mengelus pucuk kepala Aidan.
"Papa mana?"
"Papa Aidan lagi sakit, jadi sekarang lagi dirumah sakit" jawab Ais pada Aidan yang masih terus bertanya.
"Papa sakit?" kini Aiza ikut bersuara.
"Ia, Abang sama adek doain papa biar cepat sembuh ya!" ucap Ais lembut pada ke dua anaknya.
"Ya...Allah, akat takit papa Aidan ya Allah" Aidan mengangkat kedua telapak tangan, berdoa dengan khusuk untuk kesehatan Reza.
"Aminnnn....." Ais dan Aiza kompak mengaminkan.
__ADS_1
Setelahnya ketiganya saling peluk untuk memberikan kekuatan. Ais sangat bersyukur di saat seperti ini, anak-anak seolah menjadi kekuatan untuk dirinya.
Bersambung......