Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
41.Mimpikah Dia?


__ADS_3

"Mau kemana?" suara serak menggelitik menyapu ceruk leher Ais.


Membuat Ais menggerakkan kepala hingga menyentuh bahu untuk menutupi ceruk leher yang terasa meremang.


Berpura-pura tak mendengar, Ais tetap berusaha untuk lepas dari belitan kadal, tapi tangan itu semakin kuat memeluk Ais. Berkali-kali Ais coba, hasilnya tetap sama, Hafiz terus menjahilinya, tanpa mau melapas pelukan.


Dari balik punggung Ais, ia tersenyum sumringah. Kini Ais telah utuh menjadi miliknya untuk selamanya. Doa dipanjatkan, agar apa yang ditanam bisa tumbuh sesuai harapan, dengan begitu Ais akan selamanya terikat padanya.


Sepuluh menit sudah berlalu, tak ada tanda-tanda Hafiz akan melepaskan dirinya, yang ada Hafiz kembali agresif menciumi ceruk leher juga punggung Ais.


Ais yang baru kali pertama merasakan kelembutan sentuhan lelaki, membuat ia kembali meremang, antara otak dan hati berjalan tak sehaluan, bahkan lupa akan kesakitan yang telah Hafiz berikan.


"Saat tangan Hafiz kembali hampir menjangkau area terlarang, Ais seketika menahannya. Kesadaran Ais akan mengingat Tuhan kembali dihadirkan.


"Stop!"


Suara Ais terjengal, susah sekali mengeluarkan kata itu. Jangan ditanya ekspresi wajahnya, merah seperti terkena hawa panas.


Hafiz sempat terkejut menerima penolakan Ais, bukankah barusan Ais terlihat menikmati permainannya? Apa ada yang salah?


Hafiz bertanya-tanya.


"Waktu magrib hampir habis" tutur Ais dengan suara pelan.


"Astagfirullah....., udah magrib?"


Kenikmatan luar biasa yang ia dapatkan, membuat Hafiz tak sadar jika waktu terus berjalan. Mengikis jarak antara magrib dan isya.


Hafiz yang notabennya tak pernah meninggalkan shalat, langsung berdiri dengan santai, padahal kondisinya polos tanpa memakai sehelai benang. Alhasil membuat pusaka dibawah bergoyang-goyang, tak ubah seperti belalai gading.


"Astagfirullah......."


Kini Ais yang jadi malu sendiri, tak pernah terbayangkan pengalaman langka melihat manusia purba dizaman modern, reflek membuat Ais menutup mata, dengan kedua telapak tangannya.


Hafiz kembali tertawa melihat tingkah Ais yang masih polos. Tanpa ba bi bu, ditariknya selimut yang masih membelit tubuh Ais, membuat si empunya berteriak histeris dengan menyilangkan kedua tangan didada juga kema**annya.


Hafiz semakin tergelak, dunianya seketika berubah penuh warna. Bahagia....., itu yang ia rasakan. Ternyata istri kecilnya selain menggoda penuh kenikmatan, juga bisa dijadikan bahan mainan.


"Katanya mau shalat?"


Hafiz mencondongkan wajahnya ke arah Ais yang sudah terduduk malu, tanpa berani membuka mata.


"Ia, tapi ....... a a a a a a a a a a......."


Tiba-tiba tubuh Ais melayang diudara, tak siap dengan perlakuan Hafiz, membuat Ais mengalungkan kedua tangannya dileher Hafiz, mencipta gaya ala-ala bridal style.


Malu luar biasa, membuat wajah Ais semakin memerah berubah warna, bak seekor bunglon.


Lama tak Hafiz rasakan perasaan seperti ini, terakhir mungkin empat tahun lalu, saat dirinya dan Sofia berbulan madu mereguk indahnya cinta. Itupun tak berlangsung lama, saat Sofia mendapati dirinya positif hamil, ia mulai berubah. Karna sejatinya ia belum mengharapkan itu terjadi.


Perlahan, Hafiz menurunkan Ais dari gendongannya.


"ahhhhh"


Saat kaki menyentuh lantai kamar mandi, Ais meringis merasa perih diorgan kewanitaannya. Belum lagi rasa yang entah...., yang jelas ini kali kedua Ais merasakan sakit yang seperti ini, hanya bedanya sekarang sakitnya tak separah pertama dulu. Terlebih saat ini ada laki-laki yang siaga disampingnya.


"Kenapa?"


Hafiz panik, kembali memegang badan Ais.

__ADS_1


Ais tak mampu bicara, pandangannya tertunduk malu.


"Perih?"


Tanya Hafiz lagi. Ia yang sudah berpengalaman sedikit sebanyaknya tau akan hal itu.


Ais mengangguk malu.


"Sebentar. Bisa berdiri?"


Ais kembali mengangguk.


Hafiz dengan cekatan mengatur suhu air agar tak terlalu dingin juga tidak terlalu panas.


Setelahnya ia menyiapkan sebuah ember untuk menadah sedikit air untuk membersihkan organ kewanitaan Ais.


"Jongkok bisa?" tanya Hafiz lembut.


Ais sempat tertegun melihat tingkah dan tutur kata Hafiz, sungguh orang yang ada didepannya ini sangat berbeda dengan Hafiz yang ia dikenal.


Mimpikah dia???


"Ais!" Ulang Hafiz. Karena Ais tak merespon dari pertanyaannya.


"Ha...." Ais mendongak melihat wajah Hafiz. Kesadarannya kembali lagi.


"Bisa jongkok? ulangnya lagi, masih dengan nada lembut, membuat desiran di dada Ais.


Bisakah dia bermimpi lebih lama?


Ais menurut, dengan wajah sedikit meringis ia menurunkan badan.


Hafiz membantu Ais untuk jongkok.


"Kenapa, malu?" Hafiz bertanya, kembali menggoda Ais. Ia tau saat ini Ais pasti menahan malu luar biasa. Sama-sama tel*njang mempertontonkan diri.


"Abang cuci ya?"


"Ja....jangan!"


"Nggak usah malu, Abang udah liat dan rasa semuanya"


Dengan santainya Hafiz berbicara pulgar. Ais membulatkan mata, kini tangan Hafiz dengan kreatifnya membersihkan ulahnya.


"Setttthhhhhh"


Ais kembali meringis, terasa luka yang disiram air. Kedua tangannya mencengkram bahu Hafiz, menyalurkan rasa sakit di bawah sana.


"Udah, sekarang kita mandi wajib ya?"


Hafiz kembali membantu Ais untuk berdiri.


Setelah melakukan ritual mandi wajib.....mereka keluar dari kamar mandi.


Ais berdiri mematung di sisi ranjang, tatapannya tertuju pada baju yang berserakan dilantai. Dari atasan sampai dalaman semuanya jadi tak layak pakai. Ulah siapa lagi kalau bukan HAFIZ.


Hafiz yang sudah siap dengan baju kaos berwarna putih serta celana panjang cinos berwarna hitam mendekat ke arah Ais. Ia tau istrinya pasti bingung ingin memakai apa.


"Maaf, pakai baju ini dulu ya?"

__ADS_1


Hafiz menyerahkan baju kaos serta dalaman miliknya.


Ais menatap Hafiz ragu, yang benar saja ia harus memakai dalaman Hafiz, belum lagi baju yang pastinya kebesaran dibadan mungilnya.


"Tenang aja, semuanya baru, kalau udah dipakai juga nggak masalah, kamu kan udah tau rasanya?"


Lagi-lagi Hafiz menjahili istrinya.


Alhasil Ais kembali memerah.


"Mau kemana?"


Melihat pergerakan Ais, membuat ia mengeluarkan tanya.


"Ganti baju"


Ais mendadak jadi irit bicara, bukankah sebelumnya Ais paling pandai merangkai kalimat memojokkan untuk dirinya.


"Disini aja, lagian Abang udah tau semua isinya"


Malas berdebat karna dikejar waktu, Ais mengikuti saran Hafiz.


Dikarenakan di apartemen Hafiz tak tersedia mukena, mau tak mau Ais menggunakan selimut bersih untuk menutup auratnya.


Rasa yang tak bisa dijabarkan, keduanya merasakan cinta penuh kedamaian. Dengan takzim Ais mencium punggung tangan Hafiz.


Hafiz memberikan kecupan dalam dan penuh kelembutan diubun-ubun Ais. Diselingi panjatan doa untuk istri juga dirinya.


Keduanya duduk berhadapan, tangan Hafiz menyentuh pundak Ais. Terdiam membaca rasa serta pikiran masing-masing.


"Maafkan Abang, jika selama ini tak berterus terang. Jujur awal kita menikah tak ada rasa istimewa. Namun seiring berjalannya waktu, Abang tersadar ada cinta yang tumbuh untuk Ais"


Ais masih diam, mencerna dan mencari kebohongan Hafiz. Namun sepertinya kali ini laki-laki itu berkata jujur.


Andai hanya Ais yang ada dihati Hafiz, dapat dipastikan Aislah wanita yang paling beruntung.


Ais melerai tangan Hafiz, jujur jika bisa, ingin ia kabarkan bahwasanya ia juga mencintai Hafiz. Sangat. Tapi ia tak ingin di cap sebagai wanita egois, apalagi jika sampai di cap sebagai PELAKOR.


Ada perasaan lain yang harus ia jaga, sehingga membungkam Ais untuk rasanya.


"Apa ada laki-laki lain?"


Hafiz mengira Ais punya laki-laki lain, terbukti dari tingkahnya yang tak mau disentuh Hafiz, juga mulutnya yang tak membalas cinta.


Ais menggeleng, mematahkan prasangka Hafiz.


"Croookkkkkk"


Disaat bersamaan perut Ais berbunyi.


Suasana yang hening, menjadikan suara itu mendominasi rungu.


Hafiz tergelak........


"Lapar?" Tanyanya pada Ais.


Ais kembali mengangguk. Karena memang tadi siang terahir makanan masuk kedalam lambungnya, itupun tak seberapa.


"Kita cari makan diluar atau delivery?

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2