Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
Bab#8


__ADS_3

Author poV


Tok...tok....


Ais menoleh ke arah pintu, ternyata Hafiz yang datang dengan sebuah nampan di tangan.


Terlihat ia membawa semangkuk bubur dan segelas air putih.


Ais kembali cuek dan mengganti posisi dengan membelakangi Hafiz.


"Aku membawekan bubur untukmu..., makanlah! aku tau kamu belum makan ape pun" sambil meletakkan nampan di atas nakas samping kasur. Hafiz memandangi punggung Ais yang membelakangi dirinya.


"Pikirkanlah ape yang kuucapkan tadi!" Hafiz beranjak ingin pergi.


"Tunggu!" suara Ais menghentikan langkah Hafiz. Butuh kekuatan untuk dapat mengeluarkan kata.


"Ada yang ingin ku tanyakan" suara Ais terdengar merendah. Hafiz memutar badan dan mendekat ke arah Ais, sementara Ais mendudukkan diri diatas kasurnya.


"Ada yang ingin kutanyakan" Ais mengulang kata-katanya sambil terus menunduk tak berani menatap Hafiz, laki-laki dewasa sebelas taun lebih tua darinya dan sekaligus bergelar majikan.


"Tanyakanlah...! jangan ragu, aku siap menjawab semue pertanyaanmu" Hafiz mendudukkan dirinya dipinggir tempat tidur Ais dengan posisi menyampingi.


"Aku...., Aku....." suara Ais terdengar ragu-ragu.


"Katakanlah....Ais, jangan takut! Hafiz mengubah posisi duduknya tepat dihadapan Ais.


" Ini tentang istri tuan" ucap Ais singkat.


Deg....


Hafiz mengangkat wajahnya menatap lekat pada yang bertanya.


Jantung Hafiz seperti melambat, ada sedikit sesak di dada, membuta aliran darah mengalir tak semestinya, mengubah raut wajah menjadi memerah.


"Jika bisa jangan tanyakan itu!" Hafiz seperti enggan membahas masalah istrinya. Entah apa alasannya. Ais tetap dengan pendiriannya, ia tak mau menelan pil pahit setelah bergelar istri dari Hafiz.


"Sebelum aku menikah dengan tuan, aku berhak tau, kemana dan dimana istri tuan" Ais menegakkan pandangan menatap penuh ke arah Hafiz, menuntun penjelasan atas pertanyaannya.


Hafiz menarik nafas dalam, kemudian menghempaskannya kasar.


Ia belum mampu berbicara, lidahnya seperti kelu dan ada yang menahan.


Ais memperhatikan gerak gerik Hafiz dengan tatapan sendu, sekian detik masih tak ada kata yang terdengar.


Ais kecewa, ia pun melorotkan tubuh kecilnya dan berbaring seperti posisi semula dengan membelakangi Hafiz.


Tiba-tiba.... ada suara ...

__ADS_1


"Aku memang sudah menikah empat tahun yang lalu", Hafiz memulai ceritanya.


Ais melebarkan kuping, serius mendengarkan cerita Hafiz.


"Seperti kamu tau, Adira adalah satu-satunya anakku dari pernikahanku yang dulu".


Ais yang tidak sabaran dengan kelanjutan cerita, langsung memotong perkataan Hafiz, " Jadi istri tuan sekarang ada dimana, selama ini aku tak pernah melihatnya atau mendengar kabar tentangnya?" sambil kembali duduk bersandar di kepala tempat tidur.


" Dia telah pergi...., sejak tiga tahun yang lalu" ucap Hafiz dengan suara lirih dengan tetesan bulir air mata.


Ais tau ada kesedihan pada diri Hafiz, tak mungkin lagi baginya untuk bertanya banyak karena itu pasti akan membuat Hafiz tambah sedih. Karena mengingatkan seseorang ke pada orang yang telah meninggalkannya untuk selamanya adalah sama halnya dengan membuat luka lama berdarah kembali.


Pada akhirnya yang Ais tau, orang yang sudah mati tak akan bisa bangkit lagi. Ais akhirnya menutup pertanyaannya dengan sebuah kata.


"Maafkan aku" ucap Ais pelan, seolah menyesali pertanyaannya.


"Makanlah!" ucap Hafiz dan kemudian beranjak pergi meninggalkan Ais.


Ais menatap kepergian Hafiz, sekarang ia lega, bisa mengungkapkan uneg-uneg pada Hafiz.


Pastinya setelah ini keyakinan menerima tawaran Hafiz semakin mantap.


☘️☘️☘️


Tiga hari telah berlalu...


Hari ini, tepat tiga bulan Ais meninggalkan kampung halaman.


Ais memutar ingatan kembali saat memasuki kantor imigrasi Aruk tiga bulan yang lalu.


Saat itu Ais dengan beberapa teman yang lain menunggu jemputan dari masing-masing calon majikan mereka.


*Flashback On*


*


*


*


Rasa takut dan dek-dekan Ais rasakan, ketakutan yang teramat besar, dikarenakan banyaknya pemberitaan tentang penyiksaan dan pelecehan seksual yang dilakukan majikan. Namun sekedar untuk menenangkan hati, ia berpikir, toh banyak juga yang sukses dengan menjadi TKI. Bahkan ada yang menikah dengan majikan yang membuat hidupnya kaya raya.


Tanpa berbekal pengalaman, Ais mencoba keberuntungan. Hanya doa orang tua dan niat yang kuat ia meneguhkan pendirian melangkahkan kaki kenegeri seberang.


"Bismillah"


Kata yang terucap disaat calon majikan datang menjemput.

__ADS_1


"Ais ini majikanmu, namanya puan Jijah" pak Mohtar memperkenalkan seorang wanita paruh baya dengan berpakaian baju kurung khas melayu Malaysia ke pada Ais.


Ais menyalami puan Jijah sambil memperkenalkan nama " saya Ais".


Puan Jijah mengelus pucuk kepala Ais, "Semoga betah ya nak" itulah kata-kata pertama yang Ais terima dari puan Jijah.


Dari caranya, Ais merasa bahwa puan Jijah adalah majikan yang baik.


"Nah yang itu tuan Hafiz, anak dari puan Jijah" Pak Mohtar kembali mengarahkan ibu jarinya ke arah laki-laki berkaos polo putih dengan padanan celana jens biru yang bersandar di badan mobil.


Mendengar namanya disebut, laki-laki cuek dan dingin menatap sekilas ke arah Ais dari balik kaca mata hitamnya, kemudian kembali membuang pandangan.


Ais membungkukkan badan ke arah laki-laki itu, sebagai tanda memberi hormat dan salam perkenalan.


Namun tak ada respon, "Benar-benar majikan sombong dan berlagu, jangankan mengenalkan diri, senyum aja nggak mau.


Huh.....untung dia majikan, kalau tidak, tak ingin aku memberi hormat padanya" gumam Ais dalam hati.


"Bekerjalah dengan baik, ikuti semua aturan yang ada di sana, jangan terlalu memikirkan keluarga di kampung, buatlah orang tuamu bangga" ucap pak Mohtar pada Ais.


Ais hanya mengangguk tanda paham.


Ais bersalaman dengan teman-teman seperjuangan, saling mendoakan, memberi semangat, seraya berpelukan tanda perpisahan.


Selanjutnya ia pamit ke pada pak Mohtar.


"Pak tolong katakan pada orang tuaku dikampung, aku mendapatkan majikan yang baik, dan jangan mengkhawatirkan aku" ucap Ais lirih.


"Tenanglah Ais, Insyaallah majikanmu orang yang baik dan kamu akan betah bekerja dengan mereka". Pak Mohtar mencoba menenangkan Ais yang terlihat sedikit takut dan ragu.


Wajar saja ia takut, ini kali pertama Ais berjauhan dari orang tua, terlebih saat ini ia sedang berada di negeri seberang tanpa sanak saudara, dengan jarak yang cukup jauh. Jika suatu hal buruk menimpa dirinya dapat dipastikan sangat sulit baginya untuk mencari tempat mengadu atau pembelaan. Benar-benar suatu keputusan nekat yang ia buat.


Namun, lagi-lagi keinginan dan telat yang sudah bulat membuat ia berani.


Detik berikutnya Ais sudah berada di dalam mobil sang majikan untuk memulai harinya sebagai maid.


*Flashback off*


*


*


*


"Ais, jom!" Hafiz menepuk bahu Ais, yang ketika itu duduk diruang tunggu. Ais sedikit terperanjat dan tersadar kembali dari mengingat kejadian silam.


Hafiz berdiri dan tersenyum disamping Ais dengan dua koper disampingnya.

__ADS_1


Sekilas Ais mendongakkan kepala menatap ke arah calon suaminya. Ia pun bangkit dan berdiri disamping Hafiz.


Kini mereka siap menuju tanah kelahiran Ais.


__ADS_2