Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
Bab#11


__ADS_3

poV Hafiz.


*


*


*


Lelah diperjalanan menuju kampung halaman Ais, membuat badanku terasa pegal-pegal. Untuk itu, kubaringkan diri dikamar Ais, semua benda yang ada dikamar itu, tak luput dari sorot mataku. Mataku terhenti saat melihat sebuah foto yang berukuran 30x40 cm, yang tergantung rapi berjejer dengan beberapa foto lainnya.


Aku melihat Ais dengan dua sahabatnya, berfoto dengan gaya jari tangan membentuk love ala Korea, "Cantik....dan imut" itulah gumamku dalam hati. Difoto itu mereka tampak masih menggunakan seragam sekolah, aku kurang tau mengenai seragam sekolah dinegara ini, tapi sepertinya foto itu baru di ambil beberapa bulan yang lalu.


Ya ..., aku mengakui Ais memang anak yang cantik, meski ia sering berpenampilan natural dan santai, justru itu yang menjadikan ia berbeda dengan gadis kebanyakan. sehingga sudut bibirku tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.


Lama ku tatap foto itu, tak ada rasa bosan, bagaimana tidak, aku melihat seolah-olah Ais sedang tersenyum ke pada ku. Tak lama berselang, aku mendengar ada orang memberi salam, kurasa itu adalah pak cik yang datang..., nyatanya bukan. Karena ia mengucap salam lebih dari satu kali, juga seperti suara dari laki-laki muda.


Beberapa saat kemudian ku dengar suara Ais menjawab salam dengan girang, dan menyebut nama seseorang. "Kak Reza!" itulah ucapnya.


Kak disini kukira panggilan untuk kakak perempuan. Karena kalau dinegaraku, kakak itu diperuntukkan untuk memanggil saudara perempuan, atau perempuan yang kita anggap lebih tua. Tapi, tadi kudengar yang memberi salam adalah suara laki-laki, aku semakin bingung...


Suara orang itu juga tak kalah excited di telingaku, membuat aku jadi ingin tau siapa sebenarnya tamu itu.


Aku pun bangkit meninggalkan pembaringan, di saat bersamaan aku terserempak dengan ibunya Ais. Aku berpura-pura menanyakan keberadaan Ais pada Ibuk, spontan ibuk menunjukkan ke bawah pohon yang ada dihalaman rumah itu. Ternyata Ais terlihat sedang duduk santai, bersenda gurau dengan seorang laki-laki.


Ku tatap mereka tajam, entah kenapa, inilah kali pertama hatiku terasa sakit saat melihat Ais bersama laki-laki lain. Padahal saat bekerja dirumah, Ais selalu bersama Adam, dan Adam juga pernah mengajak Ais menikah, meskipun serius atau hanya candaan, aku merasa biasa saja.


" Ais...kenapa tamu nggak diajak masuk?" itulah yang ibu Ais teriakan pada mereka. Ais dan laki-laki itu langsung menoleh ke arah aku dan ibuk.


Degggg....


Jantungku terasa ingin lepas, ternyata laki-laki itu sangat tampan, dan jauh lebih muda dariku, jika dibanding Adam, mungkin masih muda dia.


Dilihat dari penampilan, sepertinya ia bukan orang biasa-biasa. Terlebih kulihat dihalaman itu ada terparkir si kaki empat. Bukan mobil murah, satu buah Honda Civic merah keluaran terbaru. Meski aku berada di negara lain, soal mobil aku sangat tau harganya.


Mereka tersenyum bahagia, ke arah kami. Mungkin hanya ke pada ibu tepatnya, karena setelah ibu mempersilakan untuk melanjutkan obrolan, mereka sama-sama membuang pandangan dariku, terlebih Ais. Mungki Ais menjadikan moment itu, sebagai ajang balas dendam padaku.


Aku sadar, Ais masih kesal padaku saat di mobil tadi. Karena aku mengutarakan keinginanku menikahi dirinya secara siri.


Kujadikan sulitnya mengurus administrasi nikah beda negara sebagai alasan. Padahal aku punya alasan tersendiri ingin menikahinya secara siri.


Aku yang notabennya seorang laki-laki yang sudah dan masih memiliki istri yang sah, tidak akan bisa menikahi wanita lain, tanpa adanya persetujuan tertulis dari istriku. Karena undang-undang dinegaraku mewajibkan bagi seseorang yang ingin menikah lebih dari satu, wajib hukumnya, untuk mendapat ijin tertulis dari istri pertama.


Itu baru alasan yang pertama, alasan keduaku, sebenarnya masalah perasaan, tidak ada cinta dihatiku dan dia. Tapi..., entah lah... aku masih ragu akan hal itu.

__ADS_1


Yang jelas aku menikahi Ais tak lebih sebagai bukti tanggung jawab atas apa yang telah aku lakukan padanya, karena cintaku yang sesungguhnya adalah " SOFIA ".


Tak ada wanita yang kucinta melebihi dia, dan aku berkeyakinan, suatu saat sofia akan datang kepelukanku.


Aku harus segera bicara ke pada ayah dan ibuk Ais, tentang tujuan kedatanganku, jika tidak..., aku takut Ais akan direbut laki-laki itu. Tapi lagi-lagi entahlah, kenapa bisa ada rasa takut untuk kehilangan dia...


Dari pada, hatiku semakin sakit melihat tingkah mereka berdua, akhirnya kupalingkan badan untuk masuk ke dalam rumah.


☘️☘️☘️


PoV author


*


*


*


"Siapa? tanya kak Reza sambil melirik ke arah tuan Hafiz.


Ais terlihat kurang bersemangat untuk menjawab, "Majikanku" jawabnya datar, seolah enggan membahas laki-laki itu.


"Serius....???" Reza memasang wajah kaget sekaligus tidak percaya.


"Udah nikah belum, dan apa tujuannya datang kemari?" Kak Reza memberondong Ais dengan pertanyaan, sambil menatap intens kearahnya.


"Ih...kak Reza, kenapa orang itu terus yang ditanyain?" Ais mencebikkan bibir tipisnya.


"Jawab dulu, udah nikah belum dianya?" Tanya Reza semakin ingin tau.


"Udah....malah udah punya anak, kalau soal tuannya kemari, ya sudah jelaskan mengantar aku pulang untuk mengurus administrasi kuliah di sana" jawab Ais sambil menoleh ke arah Hafiz yang hanya terlihat punggungnya karena sudah masuk kedalam rumah.


"Alhamdulillah...., kamu beruntung bisa dapat majikan sebaik itu dan yang syukurnya dia udah nikah, kalau enggak...." ucapan Reza terputus, karena Ais menimpalinya.


"Kalau enggak kenapa....? Ayo jawab !" Ais menatap penuh selidik.


"Kalau nggak, ya aku takut kamu jatuh hati padanya, atau dia yang akan menggodamu, terus seperti di TV-TV, majikan menikahi pembantunya, he..he..." jelas Reza sambil terkekeh.


Deg....


Kini jantung Ais yang melakukan senaman tanpa irama. "Kalau kak Reza tau..., ah...." suara hati Ais.


"Ais, kenapa?" Reza sadar, wajah Ais tiba-tiba berubah sedih.

__ADS_1


"Enggak, capek aja kali, habis perjalanan jauh" kilah Ais sambil tersenyum kecil menatap Reza di sampingnya.


"Eh... ngomong-ngomong apa nama universitas tempat kamu akan daftar" dari wajah kak Reza ia terlihat antusias ingin tau tempat aku kuliah.


"Kalau nggak salah SWINBURNE UNIVERSITY"


jawab Ais sedikit ragu, karena ia belum tau pasti mengenai tempat ia kuliah nanti.


"Serius.....?" Tanya Reza dengan wajah kaget sekaligus berbinar.


"Kayaknya sih..., tapi nggak tau juga pastinya yang mana, soalnyakan Ais hanya nyiapin badan, ha...ha..." Ais tertawa lepas.


"Kamu tu ya, kalau ketawa manisssss....banget...rasa pengen gigit" ucap Reza dengan tangan menyentil hidung Ais.


Tidak sadar, ada sepasang mata yang sedang menahan kesal melihat tingkah mereka.


"Apaan sih kak? dari dulu hobinya nyentil hidung mulu", dengus Ais kesal sambil mencebikkan bibirnya.


"Gemes aja aku tuh" jawab Reza dengan bibir tersenyum.


"Eh...ada nak Reza" sapa bapak yang tiba-tiba datang dari warung.


"Ia om, eh... ngomong-ngomong, om dari mana?" Reza bersalaman dengan bapak.


"Dari warung, beli kopi sama gula, kan ada tamu" jawab bapak dengan berbinar.


Ais kembali mencebikkan bibir, tanda kurang suka dengan perlakuan baik ke dua orang tuanya pada Hafiz.


"Siapa sebenarnya laki-laki itu, kenapa bapak seramah itu sama dia, apa dia calon suami Ais" gumam Hafiz sambil melihat dari balik kaca jendela.


"Oya...nak Reza apa kabarnya bapakmu?"


"Ya...masih gitu deh om, masih menjalani perawatan di rumah sakit Borneo medical center kucing" tutur Reza.


"Mudah-mudahan bapakmu cepat sehat ya" bapak menepuk-nepuk bahu Reza, memberi support.


"Aminnnn....makasih om"


"Om naik dulu ya, ingat jangan lupa makan siang disini" tutur ayah Ais mengakhiri obrolan dan beranjak masuk kerumah.


"Siap..., makasih om" jawaban girang dari Reza.


Mohon jika berkenan tinggalkan komentar atas tulisan saya🙏 jika tidak suka dengan alur cerita atau gaya bahasanya saya mohon maaf🙏 Soalnya masih dalam tahap belajar, dan penyaluran hobby 🤗

__ADS_1


__ADS_2