Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
71. OCD


__ADS_3

Hafiz berlarian, ikut bersama petugas medis mendorong brangkar yang di atasnya Adira tergeletak lemah dengan darah segar yang masih mengucur di keningnya.


Permohonan maaf tidak henti-hentinya Hafiz ucapkan, meski saat ini Adira tidak mampu mendengarnya. Sejak dikamar, Adira sudah tergeletak pingsan.


"Bapak tunggu disini ya.....!, biarkan kami yang menangani anak bapak!" di depan pintu IGD, seorang perawat menahan gerak Hafiz.


"Anak....saya....! anak saya.....!" Hafiz menunjuk-nunjuk Adira yang didorong masuk kedalam ruangan.


"Bapak yang sabar, anak bapak akan segera kami tangani, bapak tunggu diluar biar kami bisa fokus bekerja"


Tim medis melarang keluarga untuk masuk keruang tindakan, salah satunya agar mereka lebih fokus dan tidak terganggu dengan keluarga pasien yang biasanya tidak bisa mengontrol diri.


Akhirnya Hafiz mengalah, pintu ruangan ditutup rapat oleh petugas medis. Dari kaca yang ada di pintu, Hafiz bisa melihat para medis sedang melakukan tindakan pada Adira.


Hafiz menyugar rambut ke atas. Menyesali semua yang sudah terjadi. Andai tadi bisa mengendalikan emosi, Dira tidak mungkin celaka seperti saat ini. Namun apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur. Sikap Hafiz yang seperti itu selalu berujung penyesalan.


Hafiz berjalan mendekat ke arah kursi tunggu yang ada di depan UGD. Menjatuhkan ******, lalu mendudukkan diri. Tatapannya masih lekat ke arah ruang UGD menunggu pintu ruangan dibuka.


Dirumah sakit yang sama, namun ruangan yang berbeda, Reza ditemani Ais sedang mencari berbagai informasi berkaitan penyakit Reza. Ada berbagai pilihan pengobatan yang disarankan. Dimulai dari tindakan operasi, kemoterapi, juga secara non medis, alias alternatif.


Makanan yang boleh dan yang tidak boleh dikonsumsi. Serta hal-hal lain seputar kanker. Banyak hal yang mereka dapatkan. Pantas saja, makanan yang tadi di makan tidak ada rasanya, ternyata memang bagi penderita kanker dilarang untuk mengkonsumsi, garam dan penyedap rasa lainnya. Daging-dagingan, termasuk daging ayam. Seafood, telur, serta masih banyak makanan lainnya. Sedangkan makanan yang sangat dianjurkan adalah jenis-jenis yang mengandung warna mencolok, seperti bayam merah, buah naga, wortel, serta masih banyak yang lainnya.


Ais dan Reza juga mencari berbagai video YouTube tentang perjuangan orang yang sembuh dari kanker.


"Pa.....kalau menurut unda alangkah bagusnya kita pulang ke Indonesia aja" tiba-tiba Ais bersuara saat tontonan video berakhir.


Ia kembali berkata " menurut unda, kita jangan operasi apalagi kemo, soalnya banyak juga yang sembuh tanpa cara menyakitkan. Buktinya beberapa video yang kita tonton, ternyata kanker bisa disembuhkan dengan cara alternatif, misalnya dengan mengkonsumsi bajakah Borneo, kunyit putih, keladi tikus, temu Ireng, atau bawang mekah. Apa tidak sebaiknya kita ikhtiar dengan itu dulu?" Ais meminta pendapat Reza.


Reza, terlihat berpikir, menimbang-nimbang jalan mana yang akan mereka tempuh, karena ini berkaitan dengan nyawa. Salah sedikit, bisa berakibat patal. Apalagi saat ini dirinya berada di stadium empat. Sembuh itu ada, tapi kemungkiannya kecil.


Disamping itu juga Reza juga masih memikirkan masalah hukum yang sedang dihadapi. Apa mungkin ia diperbolehkan keluar dari negara itu, sementara dirinya masih berurusan dengan masalah hukum.


Apa tidak sebaiknya ia ceritakan saja masalah hukumnya pada Ais. Agar mereka bisa berjuang bersama, mencari jalan tengah di antara masalah yang sedang membelenggu.


Ais masih menatap sendu kearah Reza yang tampak masih berpikir keras.


Sekali-kali ia pun menatap Ais yang masih setia duduk di sisinya.


"Unda...! maafin papa ya? mungkin selama ini masih belum mampu menjadi suami juga ayah yang baik untuk unda juga anak-anak kita, selalu menyusahkan" ucapnya pelan masih dengan tatapan dalam pad Ais.


"Pa...., jangan bicara seperti itu, unda nggak suka. Papa adalah suami juga ayah terbaik, jadi jangan ngomong begitu lagi, mama nggak suka! dan satu hal lagi, papa tidak pernah menyusahkan unda."

__ADS_1


Ais bukan tidak senang karena apa, melainkan ada kesedihan tiap kalimat yang diucapkan Reza. Seakan menjadi kalimat untuk perpisahan. Ais tidak mau itu. Ia mau Reza sembuh.


"Tapi ......"


Reza ingin kembali bersuara, tapi Ais kembali memotong ucapannya.


"Nggak ada tapi-tapian, sekarang kita fokus sama kesembuhan papa"


ucapan Ais tak mau dibantah.


"Tapi kita masih nggak bisa pulang ke Indonesia" ucap Reza cepat, takut Ais kembali memotong ucapannya.


"Memangnya kenapa?" Ais bertanya heran.


"Karena masalah hukum perusahaan belum terselesaikan" ucap Reza sedih.


"Apa ini masih berkaitan dengan masalah perizinan?" Ais coba menebak.


"Bukan hanya perizinan, melainkan pemalsuan surat izin usaha" ada nada kesedihan disana.


"Mak....sud papa?" Ais mulai merasa tidak enak hati, masalah pemalsuan dokumen negara itu bukan hal yang spele. Sepertinya Reza sedang berhadapan dengan masalah yang berat.


"Nggak....ini nggak boleh terjadi, papa tidak bersalah. Kita tidak tau menahu" Ais menggeleng-gelengkan kepala, tidak terima jika sampai Reza yang dipenjara gara-gara masalah yang mereka sama sekali tidak tau.


Air mata Ais kembali meleleh, kenapa semua hal buruk terjadi diwaktu bersamaan. Pada siapa ia akan meminta pertolongan. Mertua? rasanya juga tidak mungkin, karena kondisinya juga sama seperti Reza. Kedua orang tua Ais? juga tidak mungkin, mana mengerti mereka soal hukum.


Jadi pada siapa lagi?


****


"Bagaimana dok, apa anak saya sudah siuman?" Hafiz mendekati dokter yang baru saja keluar dari ruangan.


"Anak bapak belum siuman, mungkin sebentar lagi. Untuk lukanya juga sudah kami tangani. Apa Dira kambuh lagi?" dokter yang sudah beberapa kali menangani Dira mengenal baik bagaimana kondisi Dira yang sebenarnya.


"Ia dok, dia kembali mengamuk" ucap Hafiz penuh penyesalan. Karena bagaimana pun juga itu semua tidak lepas dari kesalahannya yang telah membentak Dira.


"Saran saya, bapak harus lebih perhatian pada Dira, karena kalau ini dibiarkan terus menerus bisa berakibat fatal. Dira bisa terkena OCD " dokter mengakhiri ucapannya, dengan keterangan yang sangat menakutkan Hafiz.


Hafiz menatap teduh wajah putrinya. Masih mengingat perbincangannya bersama dokter tadi. Kini Hafiz bisa apa? jika ada cara lain selain mempertemukan Dira pada Ais, sudah dari dulu ia lakukan. Nyatanya selalu Ais yang ia obsesikan.


Hafiz menatap lekat wajah Dira yang masih terpejam, keningnya sudah di lilit perban. Matanya masih terlihat enggan untuk terbuka.

__ADS_1


Dert ... dert ......


Hape Hafiz bergetar di balik celana. Hafiz segera merogoh saku celana, agar tidak menimbulkan bunyi terlalu lama yang bisa mengganggu Dira.


"Hallo, ia.....ada apa?" tanya Hafiz pada orang yang menelpon diseberang sana.


"Hallo bro...., ini...., kamu belum baca email yang gue kirim?" Ahmad


"Belum, gue lagi di rumah sakit"


"Sorry, siapa yang sakit?"


"Dira" jawab Hafiz singkat.


"Sakit apa?" tanya Ahmad lagi.


"Biasa, ngamuk seperti biasa"


"Kenapa? nyari Ais lagi? Ahmad coba menebak.


Hafiz menarik nafas dalam. Merasa sudah capek.


"Ia" jawabnya semakin singkat.


"Udahlah, ketemukan aja, kesian sudah bertahun-tahun ia menderita seperti itu!" saran yang mudah diucapkan, namun susah dilakukan.


"Nggak semudah itu" jawab Hafiz terdengar putus asa.


"Terserah kamulah. Mudah-mudahan Dira cepat sembuh, dan jangan lupa cek email"


"Ok ....nanti gue cek"


"Assalamualaikum....."


"Walaikumsalam......"


Hape Hafiz ia matikan, kemudian kembali fokus pada Dira yang masih belum juga membuka mata.


"Jangan buat papa bimbang lagi sayang. Cepat sembuh. Jangan mengharapkan orang yang sudah menganggap kita tidak ada" Hafiz berbicara pelan, pada Adira yang masih terpejam. Sekali-kali, diusapnya sudut mata yang mulai basah. Jika bukan karena Dira yang menjadi kekuatan Hafiz, mungkin sekarang ia tidak akan seperti saat ini.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2