
Ada yang berbeda dengan Ais kali ini, ia terlihat semakin dewasa, cantik juga ia. Hanya sikapnya agak dingin, terkesan ingin menghindariku. Mungkin karena ia takut pada majikannya.
Aku sempat kesal dengan tuan Hafiz, bisa-bisanya ia membiarkan Ais menunggu begitu lama. Wa Ais juga di abaikan tanpa di baca, majikan macam apa dia itu.
Aku berusaha ingin mengantar Ais pulang, lagi-lagi Ais menolak dengan alasan takut tuan Hafiz datang menjemputnya. Jadi, kusarankan ia untuk mengabari tuan Hafiz, akhirnya ia mengikut saranku, tapi sayang hpnya mati.
Ais terlihat prustasi, kulihat ada air mata di pipinya. Aku tak kuasa melihat air mata di wajahnya. Perlahan ku sapu air mata itu, dan ku ajak dia untuk ikut pulang denganku.
Setibanya di sana, rumah Hafiz masih terlihat tak berpenghuni. Akhirnya kuputuskan untuk mengajak Ais pergi mencari makan, karena ternyata hampir jam empat sore, ia belum makan siang.
Sepulang dari makan ternyata Hafiz sudah ada dirumah, entah sejak kapan ia datang, ahhhh....biarin, aku nggak peduli. Malah aku sengaja berpura-pura mesra dengan mengelus pucuk ke pala Ais. Aku tau ia menatap tajam ke arah ku dan Ais. Ah.....apa peduliku, habisnya jadi majikan seenak hatinya saja.
☘️☘️☘️
poV Author
*
*
*
Tak ingin berlama-lama larut dalam kesedihan, Ais bangkit dan mencari handuk untuk segera mandi. Selesai dengan ritual mandinya, Ais yang masih membelitkan handuk menutup sebagian tubuhnya, mendekat ke arah lemari pakaian. Satu baju tidur rumahan dengan panjang di bawah lutut dan berwarna putih dengan motif garis yang ia pilih. Setelah itu Ais langsung shalat asar.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Ais memberanikan diri untuk keluar kamar dan melakoni pekerjaan sebagai asisten rumah tangga. Perlahan ia membuka pintu, dan menutup kembali pintu nyaris tanpa suara.Ia tak ingin tetangga sebelah kamar melihatnya.
Berjalan dengan cukup hati-hati dan mengintip-intip suasana di lantai satu, takut kalau-kalau orang yang ia hindari ada di sana.
"Alhamdulillah" Ais bernafas lega. Tuan Hafiz tidak ada di sana, berarti dia ada dikamar lantai atas, itulah pikir Ais, sambil mendongak ke atas melihat pintu kamar Hafiz yang tertutup rapat.
Dengan cekatan, Ais mencari isi kulkas yang akan ia masak untuk makan malam tuan Hafiz.
Saat fokus bekerja seperti itu membuat Ais melupakan semua masalah. Ais tampak membersihkan ikan nila di wastafel, ia berencana akan membuat ikan nila goreng dan cah kangkung. Karena biasanya Hafiz akan sangat lahap bila dimasakkan itu. Mungkin itu salah satu makanan kesukaan Hafiz, tapi entahlah....Ais juga tak tau pasti.
Ais melihat ke arah jarum jam yang ada di dinding, jam enam lewat empat puluh menit, Ais sudah selesai menghidangan semua masakannya di atas meja makan.
Dari meja makan, Ais menatap ke arah pintu kamar Hafiz, masih tertutup seperti tidak ada tanda-tanda akan di buka.
"Mungkin tuan es sedang tidur" gumam Ais.
Ais mengalihkan tatapannya, dan sekarang ia berjalan ke arah wastafel untuk mencuci peralatan masak yang ia gunakan tadi.
__ADS_1
Selesai mencuci peralatan masak, Ais melihat lagi ke arah kamar Hafiz, masih sama, sepi, lampu kamar juga terlihat masih belum menyala, padahal hari sudah mulai gelap.
Akhirnya Ais berniat ingin naik ke atas berpura-pura menghidupkan lampu kamar, menutup pintu balkon atas, sambil mengintip keberadaan Hafiz. "Kenapa jadi seperhatian ini ya? bukannya tadi habis dongkol-dongkolan? " tanya Ais pada dirinya.
Ais melangkah ingin naik ke lantai atas, baru saja menapak di anak tangga, terdengar suara deru mobil di garasi depan. Ais mengerutkan dahinya, dan berpikir sejenak, apa tuan Hafiz yang ada diluar sana.
Ais memutar badan, mengurungkan niat untuk naik kelantai atas. Kemudian berjalan ke arah ruang tamu, dan menelisik dari gorden mencari tau siapa yang datang.
Ais memicingkan mata, memang mobil Hafiz yang digarasi, tapi bukan Hafiz yang keluar, melainkan sosok laki-laki yang lumayan ganteng, mungkin seumuran dengan Hafiz.
"Siapa dia? apa temannya tuan Hafiz? tapi mengapa dia menggunakan mobil tuan Hafiz? bukankah tuan Hafiz ada dikamarnya?" gumam Ais.
Ais melihat laki-laki itu memutari mobil, kemudian membuka pintu samping. Tak lama, tuan Hafiz keluar dari sana dengan di iringi oleh laki-laki tadi.
Mata Ais menyorot ke arah kaki Hafiz yang di perban.
Cepat Ais membuka pintu, menyambut kedatangan tuan Hafiz dengan laki-laki yang membopongnya.
Seketika mata Hafiz menatap Ais dalam, begitu juga dengan laki-laki di samping Hafiz.
Hafiz yang sadar itu, langsung menyiku ke badan sahabatnya, seketika membuyarkan tatapan Ahmad pada Ais.
"Eh...perkenalkan saya Ahmad sahabat Hafiz" ucap Ahmad tiba-tiba sambil mengulurkan tangan pada Ais. Hafiz yang melihat itu langsung menangkis tangan Ahmad.
Ahmad menatap lekat pada Ais yang meninggalkan dirinya dan Hafiz yang masih berdiri diambang pintu.
"Gila....siapa dia?" tanya Ahmad pada Hafiz masih dengan tatapan terkagum-kagum dengan kecantikan Ais.
"Apaan sih, dia pembantu gue" ucap Hafiz kesal sambil berjalan tertatih-tatih ke arah kursi ruang tamu.
"Gila...., gadis secantik itu dijadikan pembantu, kalau aku....langsung tak nikahi" ucap Ahmad lagi sambil berjalan mendekat ke arah Hafiz, selanjutnya mendudukkan diri di samping Hafiz.
"Udah gue nikahi" gumam Hafiz sambil tersenyum sinis.
"Siapa namanya?" tanya Ahmad dengan tatapan masih lekat ke arah Ais yang ada di meja makan.
Ais sengaja pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk Hafiz, dengan sekali-kali melihat ke arah ruang tamu.
"Kaki tuan Hafiz kenapa? bukannya tadi ia ada di kamar?" gumam Ais.
"Ais" jawab Hafiz singkat dan terlihat kurang suka dengan Ahmad yang menanyakan tentang Ais.
__ADS_1
"Ais? namanya Ais?" tanya Ahmad lagi, karena ia merasa nama itu cukup singkat.
"Ia....memang kenapa?" Hafiz.
"He...e....namanya seperti "ice", berarti dingin dong?" ucap Ahmad lagi.
Belum sempat menjawab ocehan Ahmad, terdengar suara Ais.
"Maaf tuan, makan malamnya sudah siap" ucap Ais penuh hormat sambil menundukkan ke pala.
"Makasih Ais" jawab Ahmad dengan senyum nyengir. Tanpa aba-aba dari yang punya rumah langsung berjalan menuju meja makan.
"Dari mana ia tau namaku?" tanya Ais pada dirinya. Tapi tak ingin ambil pusing, mungkin saja Hafiz pernah menceritakan tentang dirinya pada laki-laki itu. Menceritakan sebagai pembantu, bukan istri.
Hafiz menarik nafas dalam melihat tingkah sahabatnya yang tak berakhlak.
Melihat Ahmad sudah mendekat ke arah meja makan, bersama Ais, akhirnya Hafiz bangkit dan berjalan dengan tertatih-tatih mendekat ke arah meja makan.
"Ehhh....maaf bro...., kelupaan, maklum ngeliat yang beginian" Ahmad menyengir kuda sambil menolong Hafiz untuk berjalan ke meja makan.
Setelah keduanya duduk, Ais dengan telaten mengisi nasi ke dalam piring, pertama untuk Hafiz selanjutnya untuk Ahmad.
"Makasih Ais" ucap Ahmad dengan ramah sambil menerima piring dari Ais.
Ais hanya mengangguk dengan senyum kecil diwajahnya, selanjutnya ia beranjak ingin ke dapur.
"Ais ....! ayo makan sama-sama!" ajak Ahmad pada Ais.
Ais menatap sejenak kearah Hafiz. Sambil menyendok sayur, tampak wajah tidak suka Hafiz pada ajakan Ahmad. Ais kembali menatap Ahmad sambil menggelengkan ke pala masih dengan senyum kecil diwajahnya.
"Lho kenapa sih...? jadi majikan tega amat" celoteh Ahmad sambil menyendok sayur dan mencabik ikan goreng yang dihidangkan Ais.
Baru suapan pertama, " Gila.....ini kali pertama gue makan seenak ini" tutur Ahmad dengan mata membulat sambil mengunyah makanannya.
"Biasa aja kali" ucap Hafiz sinis.
Ais yang sudah kembali dari dapur dengan membawa air putih tetap cuek dengan pujian Ahmad, sambil terus menuangkan air ke dalam gelas. Ia menganggap itu hanya sekadar basa basi aja.
" Ais....kita nikah yuk!" ucap Ahmad tiba-tiba.
"Uhukkkk....uhukkkk...." Hafiz tersedak mendengar ucapan Ahmad.
__ADS_1
Ais langsung menyodorkan air putih pada Hafiz.
MOHON MAAF SEBELUMNYA, SAYA TERPAKSA MENGUBAH BAHASA, YANG TADINYA SI HAFIZ MENGHUNAKAN BAHASA MALAYSIA SAYA UBAH JADI BAHASA INDONESIA SEMUA DENGAN TUJUAN UNTUK MEMPERMUDAH BAGI PENGUNJUNG YANG KURANG FAMILIAR DENGAN BAHASA TERSEBUT🙏🙏🙏