Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
59. Gudang Garamnya Om Surya


__ADS_3

Aidan duduk manis dikursi penumpang bagian belakang. Sedang Ais duduk di depan, disebelah Reza yang sibuk mengemudikan kuda besi.


"Mau langsung pulang apa jalan-jalan dulu?" Reza melihat sekilas pada Ais, detik berikutnya kembali fokus pada jalanan.


Reza menawarkan pilihan pada Ais, pasalnya saat ini mereka masih di dalam mobil menuju perjalanan pulang. Mumpung masih ditengah perjalanan ia bertanya untuk memastikan apakah istrinya ada tujuan lain.


Ais tak langsung menjawab, ia masih mempertimbangkan jawaban untuk pertanyaan Reza. Sebentar ia melirik ke arah Reza, kemudian kembali menatap lurus kedepan, memindai seluruh penghuni jalan yang terbilang ramai, membuat macet jalanan. Pasalnya, saat ini adalah jam pulang kantor.


***


Kantor 3A


Ruangan yang didesain tak memiliki jendela, biasanya diperuntukkan untuk pemakaian AC sebagai sirkulasi udaranya. Namun kini, ruangan itu disulap menyerupai ruangan tempat pengasapan ikan tongkol dan tuna dipulau Natuna. Seluruh penjuru ruangan dipenuhi asap hitam kelabu. Terasa pengap juga berbau menyengat. Mengalahkan aksi perdukunan, yang mengharuskan membakar menyan.


Melihat kegiatan yang dilakukan manusia yang ada diruangan itu, tampak ia sedang mendeklarasikan hari patah hati sedunia. Siapa lagi penggagasnya jikalau bukan si Hafiz, manusia berjambang yang menyaingi seekor singa.


Masih tidak bisa menerima kenyataan, bahwa Ais sudah dimiliki orang. Merasa depresi juga patah hati, sepulang pertemuan langsung membeli tiga bungkus rokok sekaligus, dengan merek bertuliskan "Gudang Garamnya Om Surya". Tak tau apa filosofi pendirinya, sehingga memberikan nama yang bertentangan dengan rasa. Boleh jadi, ditujukan untuk orang yang depresi dan mengharapkan mereka cepat mati, agar segala beban cepat menghilang dan segera pergi. Atau boleh jadi diperuntukkan bagi yang bisa baca namun tak mengerti dengan apa yang dibaca. Pasalnya di sana jelas tertuliskan sebuah puisi yang menyayat hati "merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan & janin" 🤭


Dulu, setahun yang lalu, dia pernah berjanji. Katanya, dia tidak akan merokok lagi. Latar belakangnya, Dira sempat mengidap paru-paru basah. Kata dokter, akibat terlalu banyak menghirup asap rokok.


Tapi kenyataannya, untuk membuat laki-laki setia, patuh serta tunduk, bukan janjinya yang dipegang, melainkan burung yang diapit oleh dua telur.


Tak ingin kegiatannya dipergoki. Hafiz sengaja mengunci ruangan, dan memutar papan nama menjadi tak berpenghuni.


Duduk bersandar di salah satu dinding ruangan. Kedua kaki dibuat nyaman dengan selonjoran. Kancing baju terbuka hingga melewati dada. Menampakkan bulu hitam, menyerupai gorila. Jangan tanyakan kemana dasinya. Mungkin dilempar karena terasa mencekik. Tak ada lagi baju rapi masuk kedalam celana, semuanya sudah berantakan tak berupa.


Dilayar hape, dia menatap sendu foto pernikahan empat tahun lalu. Seorang gadis kecil berusia sembilan belas tahun terlihat hikmat mencium tangannya. Gadis yang masih lugu, berpenampilan sedikit kampungan. Wajahnya pun masih biasa saja. Saat itu, kebaya putih ia kenakan. Tapi jangan tanyakan dia yang sekarang. Berubah cantik lagi menawan. Membuat Hafiz semakin mabuk kepayang. Jika pelet memang manjur adanya, pasti dia rela pergi menghadap orang pintar. Pintar membodohi orang.


Menyulut kembali rokok dibibir, menghisap penuh penghayatan. Terdengar mendesis terasa nyaman. Dihisap, lalu dihembuskan.....dihisap lagi, dan dihembuskan lagi berulang-ulang, hingga tak sadar hampir menghabiskan satu bungkus rokok yang berisikan 16 batang.


Sroookkkkkk......


suara tarikan benda cair yang hampir keluar dari cerobong penuh asap. Terkadang disapunya kedua mata yang menganak sungai, dengan punggung tangan. Sungguh memalukan. Sama halnya dengan anak yang menangis minta dibeliin jajan.


Derrrrttt...dertttt.......dertttt.....


Suara panggilan.


Nama penelpon terlihat berbayang, tak jelas siapa. Bukan karena rabun, atau katarak, melainkan cairan bening yang menjadi penghalangnya.


Kembali disapunya mata yang buram, ternyata Adira yang menelpon.


"Hallo papa"


"Ia, hallo sayang"


Sungguh hatinya sekarang dilanda bimbang.


"Papa belum pulang?"

__ADS_1


suara Dira mengalun lembut, menanyakan papa yang tak kunjung datang.


"Papa masih ada sedikit kerjaan, sebentar lagi baru pulang"


Untuk saat ini, berbohong adalah salah satu cara yang tepat.


"Dira sudah mandi?"


Tanya Hafiz berbasa basi, pasalnya sekarang sudah jam empat sore.


"Emmmm"


Dira mengangguk, padahal lawan bicara tak bisa melihatnya.


"Sayang mau sesuatu?"


Hafiz yang tau kebiasaan Dira menelponnya disaat jam pulang kantor. Dira pasti sedang menginginkan sesuatu.


"Sebenarnya,....."


Ucapan Dira sedikit ragu.


Hafiz mematikan api rokok ke dalam asbak.


Mendengar suara Dira, spontan teringat akan janjinya.


Hafiz kembali bertanya.


"Dira kepengen makan sushi yang ada di restoran xxx".


"Ok, sekarang papa pulang"


Dira yang disebrang sana tertawa girang, pasalnya ia sangat menyukai sushi yang ada di restoran xxx"


"Makasih papa, Dira sayang.....papa, muaccchhhhh"


Entah kenapa mendapat pernyataan sayang dari Dira kembali membuat rasa sedih di hari Hafiz. Dengan suara bergetar ia membalas ucapan sayang Dira.


"Papa juga sayang Dira, muuuuaaaccccch"


Hafiz mengecup layar hape, seolah benda mati itu adalah Dira.


Dira mematikan telpon, dan memberikan kembali pada asisten rumah tangga yang duduk disampingnya.


***


"Papa nggak turun?"


Ais melepas seat belt.

__ADS_1


Reza melihat kekursi belakang, "papa dimobil aja, jagain Aidan"


"Ada mau titip yang lain?"


Ais sudah siap-siap untuk turun.


"Selera unda aja" ucapnya dengan satu tangan bersandar kesetir mobil.


"Unda turun dulu ya"


"Ia hati-hati, kalau ada yang godain bilingin aja udah punya suami" canda Reza diiringi tawa.


"Ihhh....papa" Ais cemberut dengan wajah sengaja ditekuk.


"Ia, maaf....papa gurau, udah sana buruan! entar keburu asam pedasnya habis"


Usir Reza, melihat tingkah Ais yang mulai ragu untuk pergi.


Bug...


Pintu mobil ditutup.


Ais dengan cantiknya melenggang masuk kedalam restoran.


Dilain sisi, Hafiz baru saja keluar dari restoran negara matahari terbit, sesuai pesanan Dira, ia membeli sushi dan sashimi.


Penampilannya tak seburuk tadi, karena sebelumnya ia telah mempersiapkan diri. Ternyata takut malu juga dia.


Letak restoran Jepang yang berdampingan dengan restoran masakan khas Malaysia, memunculkan niat untuk Hafiz membeli ikan asam pedas. Ia pun masuk dengan menenteng satu paper bag yang berlogokan nama restoran Jepang.


Didalam, sementara menunggu pesanan disajikan, Ais duduk manis disalah satu kursi restoran. Bermain hape mengusir kejenuhan.


Hafiz yang baru masuk, langsung menuju tempat pemesanan, dengan menu sama dengan yang dipesan Ais.


Sementara menunggu, ia pun memilih duduk dikursi yang tak jauh dari dirinya melakukan orderan.


Kini jarak keduanya hanya hanya terhalang dua meja. Andai saja Hafiz melirik sedikit ke samping, dapat dipastikan dia tak akan setenang sekarang. Pasalnya, orang yang membuat dia gila ada disana.


Lima belas menit menunggu, akhirnya pesanan terselesaikan.


"Asam pedas!" suara seorang pelayan terdengar menggema.


Ais dan Hafiz karena keduanya merasa memesan makanan yang sama, akhirnya berdiri ingin menuju meja kasir.


Posisi Hafiz yang memang duduknya lebih dekat dengan kasir, membuat dialah yang jadi pemenangnya. Berdiri di depan kasir siap membayar pesanan.


"Maaf pak, sepertinya itu pesanan saya"


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2