Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
62. Bercocok Tanam


__ADS_3

Pagi ini tak secerah biasanya, mentari tampak bersembunyi dibalik awan. Hujan turun mengguyur pepohonan dan jalanan. Angin berhembus sedikit kencang, membuat udara terasa semakin sejuk, menusuk sampai ketulang. Hujan identik dengan rahmat pemberian Tuhan.


Rahmat itulah yang sekarang sedang dirasakan Reza dan Ais. Sesaat setelah menunaikan shalat subuh, alam sepertinya merestui. Hujan yang turun dengan lebat membuat keduanya sepakat untuk melanjutkan istirahat.


Tidak diketahui bagaimana awal cerita, yang pasti saat ini mereka berdua sedang bercocok tanam dengan hati yang gembira. Mereka mengolah lahan yang sudah seminggu tidak digarap.


Bercocok tanam dengan mantap. Entah karena rindu yang berbalut nafsu. Atau memang murni untuk saling memuaskan atas dasar saling mencintai.


Suara hujan, beradu merdu dengan suara keduanya. Tidak hanya itu, hujan yang lebat juga membuat tanah semakin becek, sehingga memudahkan bagi keduanya untuk bercocok tanam. Terlepas dari itu semua, kerja keras Aislah yang perlu diacungi jempol. Pasalnya, Ais yang terlebih dahulu berinisiatif menjadi penunggang garapan, membuat Reza bergetar tak karuan. Berbekalkan jam terbang yang lumayan, membuat keduanya bisa terbang tinggi bersama mencapai puncak nirwana.


Cup..........


"Makasih sayang" itulah ucapan penutup untuk mengakhiri kerjasama dalam bercocok tanam.


Ais tersenyum dan membalas ucapan Reza, "sama-sama"


Reza mulai menuruni bukit, mencabut pedang, lalu berguling kesamping, dan menarik Ais kedalam pelukan. Tidak lupa, selimut yang sempat terbuang, dipakai kembali untuk menutupi tubuh yang tel**jang.


Sejenak, Reza bisa bernafas lega, persoalan yang kemaren dihadapi, terlupakan dengan kenikmatan yang diberikan Ais. Tak henti-hentinya, ciuman kembali dilabuhkan dipucuk kepala Ais.


Rasa tenang serta melayang-layang masih keduanya rasakan, hingga tanpa sadar membuat keduanya kembali tertidur.


****


Kantor 3A


"Kasus yang kamu tangani sedikit sulit dimenangkan"


ucap Ahmad pada Hafiz.


"Ia, aku tau"


"Terus....., masih mau dilanjutin?"


Ahmad kembali bertanya dengan menelisik wajah sahabatnya yang sedang duduk menyandarkan kepala disandaran kursi.


Sambil menggoyang-goyangkan kursi kebesarannya, Hafiz masih tampak berpikir.


"Menurut Lo?"


Sekarang malah Hafiz yang balik bertanya.


"Kalau dilanjutin, peluang menang hanya satu persen dari seratus. Kamu pikir sendiri aja, apa maksudnya?"


Ahmad bukannya langsung menjawab, melainkan mengajak Hafiz untuk berpikir agar menemukan jawaban, dari pertanyaan tadi.


Hafiz menatap entah pada Ahmad, membuat yang ditatap mengerutkan kening.


Setelah merasa yakin untuk bicara, Hafiz membongkar satu rahasia yang belum diketahui Ahmad.


"Perusahaan yang kita tangani milik Reza"


"Whaaaatttt.......??? bagaimana bisa?"


Ahmad tau siapa Reza, karena Hafiz dulu sering mengaitkan cerita Ais dengan Reza. Tapi sekarang bagaimana bisa perusahaan yang mereka tangani milik Reza, jelas-jelas disurat permohonan untuk bantuan hukum tertuliskan bapak Hartanto.

__ADS_1


Ahmad masih shock, membuat dua sudut bibirnya tertarik kesamping.


"Ya, bisalah"


Jawab Hafiz sedikit kesal.


"Ya..., maksudnya bagaimana ceritanya? disurat permohonan kan mengatas namakan Bapak Hartanto, kok sekarang malah bertukar jadi Reza yang notabennya rivalmu?"


Hafiz tertawa sinis, membuang pandangan keluar dinding kaca. Mendengar kata rival membuat ia merasa telah kalah. Karena sekarang Ais sudah dimiliki Reza.


"Sama seperti Lo, gue juga nggak tau kalau itu punya Reza, malah gue sempat shock. Sebenarnya bapak Hartanto itu orang tuanya Reza. Dia sudah mengganti nama perusahaan atas nama Reza. Biarlah.... setelah dipikir-pikir, ternyata ada hikmahnya"


Hafiz kembali memutar kursi menghadap Ahmad.


"Maksudmu......kamu sudah bertemu dengan Ais?"


Ahmad dengan tak sabaran untuk mengetahui inti persoalan langsung mencoba menduga-duga.


Hafiz masih menatap dalam pada lawan bicaranya, begitupun Ahmad, sehingga membuat keduanya sempat beradu pandang. Yang satu menunggu jawaban, sedang yang satu lagi coba memastikan, apakah bisa orang yang didepannya menyimpan rahasia.


Akhirnya, Hafiz mengangguk sebagai jawaban.


Pakkkk......


"Gila"


Tiba-tiba Ahmad memukul meja, untung meja terbuat dari kayu, jika dari kaca dapat dipastikan.... innalilahi....


"Jadi, dugaan kita selama ini, kalau Reza yang membantu menghilangnya Ais itu benar?"


"Mungkin"


"Kok mungkin sih, jelas-jelas saat Reza muncul, Ais juga muncul, ya bisa dipastikan keduanya memang bersama...."


Ahmad menjeda ucapan. Otak lawyernya mulai bekerja, ia mulai menganalisis data yang didapat, agar menjadi suatu fakta yang tak terbantahkan.


"Wait...., wait......! itu artinya mereka sudah menikah?"


Deg......


Seketika ucapan Ahmad membuat sendu wajah Hafiz. Pelan terdengar jawaban dari bibirnya. Ia kembali menoleh pada Ahmad.


"Mungkin"


"So... sorry bro......nggak bermaksud...."


Ahmad merasa keceplosan, sadar itu ia langsung meminta maaf, takut jika sahabatnya itu tersinggung. Soalnya selama ini ia sangat tau bagaimana perjuangan Hafiz mencari Ais. Dan sekarang Ais ditemukan, tapi sudah menjadi milik orang.


"It's okay, lagian sekarang gue ada rencana"


Ahmad menyerngit bingung.


Kembali Hafiz melanjutkan ucapannya " mereka berdua tidak mengenali gue"


"Seriuuuusssss....?"

__ADS_1


Tanya Ahmad tidak yakin.


"Serius, makanya sekarang gue minta lho bantuen gue"


Ahmad semakin bingung "bantuin apa maksudnya?"


"Gue ada rencana, ada sesuatu yang masih ingin gue tau dari keduanya, jadi sampai detik ini gue berpura-pura menjadi diri lho"


"haa......?"


"Reza mengira gue Ahmad, yaitu lho, pasalnya disurat kerjasamakan memang tertulis nama lho. Jadi biarkan dulu semua seperti itu sampai gue mencapai tujuan gue"


Hafiz menyeringai penuh arti.


"Terus, masak iya Ais juga tidak tau kalau itu kamu, maksudnya mantan suaminya?"


Ahmad masih penasaran dan memperjelas ucapannya.


Hafiz kembali menggeleng sebagai jawaban. Ia teringat kembali, bagaimana ia disuguhkan pemandangan tidak mengenakkan saat pertama kali melihat Ais. Jangankan menatap, dilirik saja tidak. Mereka malah dengan cueknya berciuman di depan mata Hafiz. Belum lagi saat direstoran Ais benar-benar tidak mengenali Hafiz, padahal mereka benar-benar berada di jarak yang sangat dekat. Bahkan Ais sempat menepuk dirinya. Tapi kenyataannya ......


Mengingat itu semua, membuat hati Hafiz berdenyut nyeri.


***


"Za.....!"


"Ia pa"


"Maaf, papa jadi menyeretmu dalam masalah papa"


Tampak kesedihan diwajah pak Hartanto, ia tau betul persoalan yang sedang diselesaikan Reza. Salah melangkah bisa-bisa bui sebagai ganjaran.


"Papa tenang aja. Reza hanya minta papa doakan semuanya baik-baik saja, soalnya Reza pengen cepat pulang"


"Ia....papa pasti doain"


Wajah tua yang sudah dipenuhi keriput, terlihat sangat menyedihkan, belum lagi saat ini pak Hartanto sedang terbaring sakit ditempat tidur, kamarnya. Ia sengaja menolak untuk dibawa kerumah sakit dengan alasan sudah bosan dirawat.


Sakitnya kembali kambuh setelah mendengar berita mengejutkan tentang perusahaan dari asisten pribadinya.


"Mama kemana pa?"


Reza bertanya, pasalnya ia belum ada melihat mamanya dari dibawah tadi. Dikiranya ada dikamar, ternyata hanya pak Hartanto sendiri disana.


Tadi, sebelum berangkat kerja, Reza sengaja masuk kekamar papanya untuk melihat kondisinya. Disinilah dia sekarang. Hari ini Reza memilih telat pergi kekantor. Karena kesiangan bangun ulah bercocok tanam yang terlalu lama. Selain itu juga ia ingin terlebih dahulu bermain bersama Aidan juga Aiza.


"Mama katanya ada arisan sama teman-temannya"


Reza tidak menjawab, kebiasaan mama yang tak lain mama sambung tak pernah berubah sejak dulu. Selalu sibuk dengan teman-teman arisan, shopping, sampai-sampai mengabaikan suami yang sedang terbaring sakit.


"Reza pamit pa, papa cepat sembuh ya!"


Reza mencium punggung tangan orang yang sangat di cinta, ia tau bagaimana pengorbanan sang papa membesarkan dirinya tanpa seorang ibu kandung. Semenjak kepergian istrinya, ia baru menikah setelah Reza beranjak dewasa, sekitar kelas tiga SMA. Itupun atas desakan keluarga.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2