
Tiga puluh menit perjalanan menuju apartemen Kozy, kini mobil Nia terparkir manis dibasmet apartemen. Nia bersandar dibadan mobil, berusaha menyamakan alamat yang dikirim Ais. Apa benar Ais berada di apartemen semewah ini?
Apa dia ikut majikannya?
Setelah disamakan, alamatnya sama. Ais mengabarkan kalau ia tinggal di lantai sepuluh dengan nomor 103.
Nia berjalan menuju Loby, setelahnya masuk kedalam lip, dan menekan angka sepuluh. Lift tertutup membawa Nia naik kelantai sepuluh, tak ada orang, hanya dia sendiri.
Ting.....
Pintu lift terbuka, Nia melangkahkan kaki cukup lebar. Pandangannya terarah pada nomor yang ada disetiap pintu kamar.
Nia tersenyum, ternyata nomor yang dicari terpampang nyata di depan mata. Ada sedikit keraguan saat akan masuk, tapi mau bagaimana lagi, Hp Ais tak bisa dihubungi.
Nia memberanikan diri menggeser pelan pintu apartemen, untungnya tidak terkunci.
Saat pertama melangkahkan kaki kedalam apartemen, Nia dibuat menganga dengan pasilitas yang ada di sana. Berkali-kali ia menyuarakan salam, namun tak ada sahutan.
"Ais....! Ais......! Ais......!"
Masih belum juga ada sahutan. Nia kembali berpikir, apa benar Ais ada di apartemen ini? Kalau ada kemana dia?
Kok apartemennya sepi, sama siapa Ais disini?
Semakin banyak tanda tanya dikepala Nia.
Nia berdiri mematung diantara ruang kamar juga ruang makan. Pandangannya memindai seluruh ruangan, lagi dan lagi tak ada tanda kehidupan disana. Ia kembali melirik ke atas meja, ada bekas makanan sisa disana.
Rasa takut menjalar di sekujur tubuh Nia, ia membayangkan kejadian aneh seperti yang sering ia tonton di televisi juga media online.
"Ais.....!" Nia kembali memanggil nama sahabatnya.
Entah sejak kapan kaki Nia sudah terarah tepat didepan pintu kamar utama apartemen itu. Dengan satu tangan, Nia mendorong pintu kamar, tatapannya langsung tertuju pada orang yang terbaring di atas tempat tidur.
"Ais!" Nia sedikit berlari mendekat kearah Ais yang terbaring di atas tempat tidur.
"Ais, kamu kenapa?" Nia cemas, karna apa yang ia lihat ada yang tidak beres. Ia bisa melihat dengan jelas, jika Ais tidak sedang tidur, tapi .....entahlah yang pasti kondisi Ais tidak baik-baik saja, karena posisi Ais yang telentang memudahkan Nia memindai keadaan Ais.
Berkali-kali dipanggil, Ais tak merespon. Nia menyentuh pipi Ais.
"Dingin, ya Allah Ais, kamu kenapa?" Nia bertanya sendiri.
Nia kembali berusaha menepuk-nepuk pipi Ais, masih tak ada respon. Nia berpikir sejenak, jika dibawa kerumah sakit, akan sulit urusannya. Masalahnya Ais bukan warga Malaysia, jika tidak mengantongi izin lengkap, malah akan memunculkan masalah baru.
Nia berlarian mencari kesana kemari tas milik Ais untuk menemukan paspor juga Visa. Sayang benda yang diperlukan tak bisa ia temukan. Mungkin karna mencari dalam kondisi panik, sehingga tak bisa fokus. Padahal tas Ais ada di bawah kursi ruang tamu, bekas dilempar paksa oleh Hafiz kemarin.
Nia terduduk di samping Ais, menatap bimbang wajah sahabatnya yang semakin memucat. Nia menggenggam tangan Ais, ternyata makin dingin.
Sambil terus berpikir, apa yang sebaiknya ia lakukan, Nia mendapatkan ide untuk menelpon Reza. Karena Rezalah yang dianggap mampu menolong Ais saat ini.
Nia meraih hape yang tergeletak disamping Ais, sialnya hape itu juga mati. Nia mengumpat kesal, saat ia butuh hape itu mati.
Tak mau berputus asa, Niaencari charger dari dalam tasnya, untungnya ada. Berusaha mencocokkan ternyata bisa. Secepatnya Nia bangkit mencari terminal untuk mencharge hp.
Butuh waktu sekitar dua menitan baru hape Ais bisa dihidupkan.
"Maaf Ais, aku membuka hape tanpa izinmu" ucap Nia pelan.
Membuka menu kontak, setelahnya mencari nama Reza. Begitu kata "Reza" diketuk, nama itu langsung muncul, ada sedikit senyum diwajah Nia. Ia berharap hape Reza bisa dihubungi.
Hp sudah menempel sempurna dikuping kanan Nia, tinggal menunggu orang disebrang sana mengangkat telpon darinya.
"Halo Ais" terdengar suara bas penerima disebrang sana.
"Ia halo"
Reza mengerutkan kening, kembali melihat nama penelpon, karena suara yang ada ditelpon bukan milik Ais. Ternyata nomor Ais, tapi kenapa suaranya beda? Reza kembali mendekatkan hape kekuping.
__ADS_1
"Kak, ini Nia teman Ais, tolong Ais kak"
Suara penelpon seperti tak baik-baik saja, apalagi ada kata tolong yang mengatas namakan Ais.
Mendengar itu, wajah Reza berubah cemas.
"Ais kenapa?"
Tanyanya lagi.
***
Brangkar di dorong oleh petugas medis menuju ruang IGD. Disaat bersamaan Hafiz yang kondisinya sangat menyedihkan tak menyadari berselisih dengan brangkar Ais. Padahal Sofia juga Reza masing-masing menemani pasangannya. Namun tak ada satu pun diantara mereka yang menyadari. Kecuali Nia, ia sempat berpikir barusan orang yang mereka lewati adalah dosen juga majikan Ais.
Ia sempat menoleh sampai kebelakang. Tapi itu tak berlangsung lama, kini fokusnya kembali pada Ais.
Sedikit berlarian Nia mengejar ketertinggalan dirinya dengan Reza.
Pintu IGD ditutup, Tim dokter kembali menangani pasien. Reza dan Nia hanya diperbolehkan menunggu di luar.
"Kak, gimana nanti administrasi?" Nia membuka percakapan, karena sejak tadi yang ia khawatirkan masalah administrasi. Reza menoleh pada Nia, walau wajahnya sedikit cemas, masih tak mengurangi sisi kegantengannya. Membuat yang di lirik tersipu malu.
"Kamu tenang aja, data Ais, juga foto kopi identitas pelajarnya ada sama saya, jadi kita bisa gunakan itu"
"Alhamdulillah....."
Ternyata Allah mempermudah urusan mereka.
Nia menoleh kesana-kemari, baru merasakan pegal diseliruh tubuhnya, efek membantu Reza memindahkan Ais dari apartemen menuju mobil.
"Saya urus administrasinya dulu ya?"
"Ia kak"
Nia masih setia mengintip dikaca pintu IGD, sedang Reza langsung mengurus administrasi Ais.
***
"Udah kak?" tanya Nia pada Reza yang ikut mengintip dari balik kaca.
"Udah"
Mata Nia tertuju pada kursi yang ada diruang tunggu. Kakinya terasa sengal.
"Kak, kita duduk dulu" tunjuk Nia pada kursi panjang yang ada disana.
Tanpa menjawab Reza langsung berjalan menuju kursi yang ditunjuk Nia.
Reza yang sudah duduk, menyugar rambut dari depan ke belakang. Kepalanya masih dipenuhi tanda tanya tentang Ais.
Nia tau apa yang dipikirkan Reza, tanpa diminta ia langsung bicara.
"Tadi Ais tidak ngampus, berkali-kali dihubungi tidak ada jawaban. Tau-taunya setelah jam kuliah berakhir ia menelpon minta tolong, dan mengabari kalau dia ada di apartemen Kozy. Saya bergegas kesana, ternyata saat sampai disana kondisi Ais sudah seperti itu"
Nia mengakhiri cerita. Reza yang menyimak dari tadi merasa ada yang aneh, kok bisa Ais ada disana.
"Kamu tau itu apartemen siapa?" Reza bertanya untuk mengurai benang kusut dikepalanya.
Nia menggeng. Sorot matanya memang mengatakan dia benar-benar tidak tau.
Suasana kembali hening, tak ada lagi pembicaraan antara Reza dan Nia. Mata keduanya sekali-kali melirik ke arah pintu IGD.
Tiga puluh menit menunggu, satu dokter wanita keluar dari ruangan. Reza dan Nia bangkit mendekat kearah dokter yang sepertinya mencari keberadaan keluarga pasien.
"Keluarga pasien?"
"Ia dok" jawab Reza tegas
__ADS_1
"Boleh ikut saya keruangan Pak?"
"Baik dok"
Reza melirik sekilas pada Nia, "kamu tunggu Ais disini ya! biar saya yang bicara sama dokter"
Nia mengangguk tanda setuju.
Reza, berjalan menuju ruangan dokter.
Tok....tok....tok.....
"Masuk!"
Reza membuka pintu, "selamat siang dok!"
"Siang, silakan duduk pak!"
Keramahan tergambar diwajah sang dokter, membuat orang yang berhadapan dengannya merasa nyaman.
Sesaat setelah Reza duduk, dokter kembali membuka percakapan.
"Bapak suami pasien?"
Deg.....
Perkataan "suami" membuat Reza mengalami sport jantung. Ada apa? Kenapa baru mulai pembicaraan sudah menanyakan suami? Sedikit ragu Reza kembali bersuara.
"I...iya, saya suaminya dok"
"Suami masa depan maksudnya" suara hati Reza.
Dokter mengangguk, meski ia bisa membaca ada keraguan pada jawaban orang yang duduk didepannya.
"Begini pak, istri anda mengalami dehidrasi, mungkin disebabkan karena seringnya muntah, memang di trisemester awal, ibu muda biasanya kehilangan nafsu makan, dan mengalami gangguan pada hormon yang berakibat pusing, mual, juga muntah. Jadi saya sarankan bapak lebih memperhatikan kondisi istri bapak"
Reza mengangguk, pertanda mengerti dengan apa yang dijelaskan dokter.
Namun sayangnya disini terdapat miss komunikasi, Reza mengira trisemester awal yang dimaksud berkaitan dengan kuliah Ais, bukan kehamilan. Makanya Reza masih baik-baik saja saat menyimak penjelasan dokter.
Ia juga sempat mengumpat Hafiz yang tak memperhatikan pekerjanya. Sampai kondisi Ais seperti itu. Kali ini Reza harus memaksa Ais untuk keluar dari pekerjaannya, ia tak tega melihat Ais kuliah sambil menjadi pembantu. Pasti itulah yang mempengaruhi kesehatan Ais.
"Ini saya resefkan beberapa vitamin" dokter sibuk menggoreskan tinta pada sebuah kertas resef.
"Yang ini untuk mualnya, diminum sehari sekali. Ini vitamin tambah darah"
Reza masih antusias mendengar penjelasan dokter, matanya tertuju pada tulisan yang ditunjuk dokter.
" Ini vitamin untuk tulang dan yang terakhir ini Vitamin yang mengandung asam folat, fungsinya untuk menyempurnakan pertumbuhan janin"
Deg...........
Rasa disambar petir.......
Kalimat dokter terahir membuat jantung berhenti berdetak.
"Untuk menyempurnakan pertumbuhan janin?" ulang Reza dengan suara pelan, namun masih bisa didengar dokter.
Dokter menjadi bingung, apa orang yang mengaku suami, tak mengetahui istrinya hamil.
"Ia pak, asam folat itu sangat penting bagi ibu hamil, terutama di trisemester awal kehamilan, ianya bisa mencegah bayi lahir cacat" dokter kembali memperjelas penjelasannya.
Dunia Reza terasa runtuh, badannya tiba-tiba melemas, hancur sudah harapannya.
Ais hamil?.........
Bersambung......
__ADS_1