
Sidang pertama kasus pemalsuan ijin usaha baru saja selesai digelar. Hafiz dan tim kuasa hukum yang lain baru saja meninggalkan ruang sidang. Tidak ada percakapan selama perjalanan menuju kantor 3A.
Hafiz hanya fokus dengan setir di tangan, sementara Ahmad yang duduk di samping hanya sekali-kali melihat ke arah Hafiz. Ia tau saat ini mood Hafiz sedang buruk, mengajak Hafiz bicara sama saja membangunkan singa lapar.
Sampai di kantor Hafiz masih tetap bisu, hanya hentakan sepatu yang terdengar nyaring saat menghentak lantai. Ahmad masih setia mengekor di belakang Hafiz. Keduanya terlihat memasuki ruangan Hafiz.
"Kenapa tidak mundur saja?" Ahmad membuka pembicaraan, saat keduanya sudah duduk berhadapan di ruangan Hafiz.
Hafiz menatap tajam Ahmad, tidak suka akan kata-kata Ahmad barusan.
"Tidak semudah itu, aku tidak ingin membuat ibu anakku kembali menangis"
"Cih......jangan menjadikan anak sebagai alasan, itu hanya modus" karena Ahmad yakin, anak hanya alasan, padahal yang sesungguhnya Aislah alasan utama.
"Jangan menjadi pahlawan kesiangan dengan mengorbankan nama yang selama ini sudah kita bangun. Kamu juga tau, kasus ini jelas-jelas salah. Dari awal kita juga sudah tau itu" jelas Ahmad dengan nada ketidak sukaan.
"Ais tidak akan memaafkan gue selagi kasus ini tidak kita menangkan" itulah yang sempat di ucapkan Ais kemaren. Jika benar Hafiz ingin memperoleh maaf darinya, syarat adalah Hafiz harus membuktikan Reza tidak bersalah, dan hukum di negara itu memperbolehkan Reza untuk kembali ke Indonesia, tanpa ada pencekalan.
"Sepertinya kamu sudah dibutakan cinta, kasus ini mustahil bisa di menangkan, kita juga sudah dengarkan apa yang dibacakan hakim serta penuntuk umum?" Ahmad membuang muka, merasa aneh dengan kebodohan Hafiz yang sanggup menutup mata demi Ais.
"Ini bukan lagi soal cinta" Hafiz membuang pandangan jauh menerawang dibalik dinding kaca transparan yang ada diruangan itu.
"Tapi lebih ke pada rasa..."
Belum selesai Hafiz bicara, Ahmad sudah memotongnya. "rasa? kasihan? atau rasa bersalah?"
"Lo dengar dulu!" Hafiz melempar balpoin yang dari ada di saku kemejanya ke arah Ahmad. Geram, karena Ahmad sok tau dengan apa yang akan ia ucapkan. Untung saja Ahmad bisa menghindar jika tidak, bisa dipastikan balpoin akan mencium wajahnya yang sedikit tampan.
"Gila...., main lempar aja" gerutu Ahmad.
"Makanya lo dengar dulu apa yang gue mau bilang!" Hafiz masih sedikit kesal.
"Suaminya sakit parah, kanker getah bening stadium empat"
"Maksudnya pak Reza?" Ahmad seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Emang suaminya siapa lagi? gue...? ya itu dulu kalau sekarang mantan" Hafiz tertawa sumbang.
Ahmad juga ikut tertawa, ucapan Hafiz ada lucunya.
"Kesian juga ya"
"Makanya, lo bantu gue dong untuk kasus ini! Mudah-mudahan dengan cara ini bisa mengurangiq sedikit rasa bersalah gue ke Ais juga anak gue. Apa yang telah gue lakukan ke mereka di masa lalu, tidak akan sebanding dengan kasus ini. Ais sudah cukup menderita. Jika Reza adalah bahagianya, apa salahnya gue sedikit berkorban" Hafiz menatap serius Ahmad. Hafiz kembali teringat saat melihat Ais yang tertidur nyaman memeluk Reza. Wajahnya tampak tenang. Sekarang Hafiz tau, Reza adalah orang yang tepat untuk membahagiakan Ais juga Aidan. Meski jauh dilubuk hatinya masih ada cinta yang sangat besar untuk Ais.
Ahmad tampak berpikir, ia mengelus-elus jenggot kesayangannya.
"Dipikir-pikir kasus ini ada janggalnya"
__ADS_1
"Nah....itu dia, kita harus menemukan janggalnya itu, kemaren gue juga udah sempet bahas ini sama pak Reza, sepertinya ada orang dalam yang dengan sengaja bermain" Hafiz menduga, pasti ada orang dekat yang bermain, hanya dia harus membuktikan itu. Karena segala sesuatu dipersidangan harus ada pembuktian, baru bisa diterima.
"Kita harus cari tau" Ahmad kembali berapi-api.
"Nah....gitu dong" Hafiz ikut bersemangat.
****
"Bagus.....amankan data itu!" Bila perlu segera hubungi pengacara kita, serahkan bukti itu padanya!. Ingat.....jangan sampai ada yang tau, terutama orang suruhan ular itu!" tutur pak Hartanto pada seseorang di balik telpon.
"Siap....laksanakan pak"
"Bagus"
Bipp...
Bunyi panggilan di putus. Ada sedikit senyum di bibirnya, setidaknya ia sudah sedikit membantu Reza.
Pak Hartanto dalam kondisi sakit parahnya masih berusaha untuk membongkar kebusukan istrinya. Lewat orang kepercayaan, ia sudah lama mencari penyebab kenapa bisa terjadi masalah perizinan, dan ternyata ada orang di dalam kantor yang ikut bermain atas suruhan istrinya.
Bug.....
Sebuah pukulan benda tumpul tepat mengenai kepala pak Hartanto.
Sebelum jatuh tersungkur, ke lantai, ia sempat melihat istrinya yang masih memegang pemukul bola kasti.
Secepatnya wanita itu mengambil hape pak Hartanto, dan mengecek panggilan keluar.
"Sial....! umpatnya geram, saat melihat nama orang yang baru ditelpon pak Hartanto.
"Halo....." Istri pak Hartanto.
"Halo .....bos"
"Bodoh....! Kau tau akibat kecerobohanmu si tua bangka itu sudah mengetahui rahasia kita!" umpat istri pak Hartanto dengan nada kemarahan.
"Apa bos?" orang yang berada di seberang telpon merasa sangat terkejut karena selama ini ia sudah sangat rapi.
"Sekarang bereskan siapapun yang menjadi penghalang rencana kita!" Perintah tak terbantahkan.
Setelah memutus panggilan telpon dan tanpa memperdulikan keberadaan pak Hartanto yang mungkin sudah meregang nyawa, ia malah sibuk mencari surat-surat berharga yang ada di kamar itu.
Merasa semua sudah terkumpul dengan tergesa-gesa ia kembali keluar kamar dan pergi meninggalkan kediaman pak Hartanto.
Di tempat berbeda, orang suruhan pak Hartanto sudah bergerak untuk menuju tempat pertemuan yang sudah di sepakati bersama Hafiz.
"Sepertinya Allah mempermudah urusan kita" ucap Hafiz berbunga-bunga. Dia baru saja menerima telpon dari orang pak Hartanto, dan mengatakan sedang membawa bukti-bukti yang bisa membuktikan bahwa Reza tidak bersalah. Artinya mereka akan memenangkan kasus itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah" ucapan syukuran Ahmad panjatkan.
"Ayo....sekarang kita temui orang yang membawa bukti itu di jalan xxx" Hafiz bangkit dari duduknya dan menyapu kunci mobil yang ada di atas meja.
Ahmad tidak banyak bicara, ia ikut bangkit dan mengekor dibelakang Hafiz. Keduanya kembali meninggalkan kantor menuju jalan xxx.
***
Di rumah sakit, Reza kembali mengalami sesak nafas dan akan di larikan keruangan ICU. Ais di buat kembali cemas.
"Dok....tolong selamatkan suami saya! tolong dok!" Ais menangis sambil memohon pada dokter yang sedang menangani pemindahan Reza ke ruang ICU.
"Ibuk banyak berdoa, semoga semuanya baik-baik saja" dokter memberi pengertian pada Ais.
Kondisi Reza sudah tidak sadarkan diri. Denyut jantungnya juga sudah semakin melemah. Melihat itu, Ais meraung seperti orang gila. Hingga suara tangisannya sampai terdengar keruangan Dira yang kebetulan hanya dipisahkan satu kamar.
"Dam...tolong jaga keponakanmu, mama mau keluar sebentar!" Adam sudah mendengar semua cerita tentang Ais juga Aidan keponakan yang baru diketahui. Karena tadi begitu mengetahui fakta, puan Jijah langsung menelpon Adam untuk datang kerumah sakit. Puan Jijah sedikit tergopoh-gopoh, ia tau itu suara Ais, apalagi puan Jijah melihat beberapa perawat juga dokter turut berlarian ke arah kamar yang berada tidak jauh dari kamar Dira.
"Mama mau kemana?" tanya Adam yang duduk disamping Aidan. Bocah itu masih terpejam, akibat pengaruh obat yang membuat rasa kantuk.
"Mama mau keluar sebentar" puan Jijah beralasan. Padahal ia akan melihat kondisi Ais.
****
Di jalan xxx.
Hafiz sudah menghentikan mobil di pinggir jalan, ia dan Ahmad masih menunggu kedatangan orang yang katanya membawa bukti-bukti kasus Reza.
Hafiz bersandar di badan mobil, pandangannya terus ke arah mobil yang datang dari arah belakang.
Ahmad mendudukkan diri di pembatas jalan. Untungnya mereka berhenti di bawah pohon yang lumayan rindang, sehingga tidak kepanasan.
Sekali-sekali Hafiz melihat penunjuk waktu yang ada di pergelangan tangan, sudah lima belas menit mereka menunggu, belum ada tanda-tanda kedatangan.
"Kok lama ya?" Ahmad dengan wajah mengeriput bertanya pada Hafiz.
"Nggak tau juga, tadi katanya sudah di jalan, nah....sepertinya mobil yang mulai menepi itu" Hafiz memperhatikan mobil sedikit kepinggir jalan. Ahmad mengikuti arah pandang Hafiz.
Dan ternyata benar, mobil itu berhenti. Hafiz berjalan mendekat ke arah mobil yang berhenti.
Duar........
Suara tembakan di saat satu mobil melintas di samping Hafiz yang sedang berjalan ke arah mobil yang berhenti di depan. Tak cuma sekali, satu tembakan kembali terdengar.
Duar....
Disaat bersamaan tubuh Hafiz roboh seperti tidak bertulang.
__ADS_1
"Hafiz........!"