
Hafiz poV
*
*
*
Sampai detik ini, aku masih bingung dengan perasaanku pada Ais.
Terus terang, aku menikahi Ais atas dasar pertanggung jawaban atas apa yang telah terjadi. Meski terkesan tidak fair, untuk Ais, setidaknya aku telah ada itikad yang baik.
Karena aku adalah seorang lawyer, dari awal sudah memikirkan dampak yang akan terjadi dikemudian hari. Terlebih statusku yang saat ini masih sah sebagai seorang suami dari "Sofia".
Aku masih berharap suatu saat Sofia akan kembali ke pangkuanku.
Dan hanya Sofia yang kuanggap sebagai istriku satu-satunya. Sedang Ais....dia akan tetap selamanya menjadi pembantu sekaligus pengasuh untuk anakku Dira.
Oleh karena itu, aku memutuskan untuk membuat SURAT PERJANJIAN. Surat perjanjian untuk menjaga nama baik, sekaligus sebagai langkah agar Ais tidak merugikan diri serta keluargaku.
☘️☘️☘️
Begitu sampai dirumah aku langsung masuk kekamar dan membuat surat perjanjian secepat mungkin, makin cepat makin bagus.
Setengah jam kemudian, surat perjanjian selesai ku buat. Aku langsung menuju kamar Ais.
Berkali-kali aku mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban, akhirnya kuputuskan membuka pintu sambil memindai seluruh ruangan. Terdengar percikan air di dalam kamar mandi. Perlahan aku masuk dan mendudukkan diri ditempat tidur Ais, ternyata ada pemandangan yang membuat darahku tiba-tiba menjadi panas dingin. Aku melihat ada pakaian dalam, milik Ais teronggok di atas tempat tidurnya. Selembar b*h* berwarna pink muda dan segitiga pengaman berwarna hitam dengan renda disetiap sisinya.
Aku laki-laki normal, melihat benda itu membuat aku berkali-kali menelan ludah. Ada rasa ingin mencicipi, ah....sial...., sekuat tenaga aku menahan nafsu yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh. Sekuat tenaga ku alihkan pandangan dari benda itu, berharap otak kembali normal.
Cklekkk....
__ADS_1
Suara pintu kamar mandi di buka. Spontan mataku menyorot ke arah kamar mandi.
Duggg......dugg....duggg....
Jantungku serasa ingin keluar dari sarangnya. Mataku tak berkedip menatap dengan penuh nafsu ke arah wanita cantik yang keluar dari kamar mandi. Reflek karena Ais menutup kedua dada yang terekpos indah. Dengan malu-malu, ia menundukkan pandangan.
Sungguh naluri laki-lakiku terbangunkan
Astaga.....kepala atas tak bisa berpikir jernih, sedang kepala bawahku seperti meronta melihat si adik hanya berkemban dengan rambut basah tergerai. Belum lagi melihat pipi merah merona, sambil menggigit bibir bawah menambah kesan seksi di mataku.
Situasi yang sulit di kendalikan, seketika ruangan menjadi panas, oksigen yang kuhirup terasa hambar. Sekuat tenaga aku melawan nafsu biar tidak ke bablasan. Kualihkan pembicaraan dengan berkata, "Kamu jangan salah sangke, aku kesini bukan untok menggodemu" Kenapa aku bisa berkata bukan untuk menggodanya? tidakkah kalimat itu seperti sumbang ditelinga?.
Mendengar itu, Ais mengangkat wajah memberanikan diri menatap ke arahku.
Aku tidak bisa membaca apa yang ada di kepalanya.
Selanjutnya kulanjutkan kata-kata ku, "Baca surat ini!, selanjutnya lakukan ape yang patot kau lakukan dengan surat ini!" dengan susah payah aku mengucapkan kalimat itu.
Kubawa ragaku masuk kedalam kamar, berniat untuk menenangkan pithooonnn yang sempat terbangun, dan sialnya bukan ketenangan yang kudapatkan, malah aku mengingat kejadian malam itu. Malam dimana aku telah mengambil sesuatu dari Ais. Membayangkan betapa nikmat tubuhnya bagiku. Agggghh.....kembali aku merasa prustasi.
Kuacak rambut dengan kedua tanganku, selanjutnya kududukkan diri di tempat tidur dengan mengatupkan ke dua tangan di wajah.
Aku berpikir sejenak, mengapa harus membuat perjanjian gila dengan poin 7. Tidak akan ada hubungan suami istri selama pernikahan.
"Aaaagggghhhhh betapa bodoh....bodoh......" aku mengutuk diriku sendiri, sambil memukuli kepalaku, kenapa aku tidak berpikir sebelum membuat surat itu. Sekarang aku sendiri yang memanen hasilnya. Aku laki-laki normal, sekarang tak mungkin aku menghapus apa yang telah kutulis.
Sesaat aku tersenyum licik, semoga Ais tidak menyetujui perjanjian itu, dengan begitu aku masih ada kesempatan. Dan pasti dia tidak akan menandatangani surat itu, karena sebagian besar isinya hanya menguntungkan aku, kecuali poin satu. Ya....hanya poin satu yang menguntungkan untuknya.
Ahhhh....ia jika Ais tidak setuju, jika setuju?. Kembali otakku terasa panas.
Ahhhgggg....., aku memutuskan turun ke bawah untuk mencari sesuatu yang bisa mendinginkan otak yang serasa terbakar.
__ADS_1
Sesampainya di dapur kubuka lemari pendingin, dan mencari minuman dingin yang bisa menyejukkan hati dan kepala.
Setelah menuang air kedalam gelas kududukkan diri dikursi meja makan.
Pikiranku melayang jauh, entah kemana....
Tiba-tiba aku disadarkan dengan kemunculan Ais di depanku.
Dengan tegas ia berkata, "Maaf tidak ingin berniat apapun, hanya ingin mengembalikan ini" Ais menyerahkan kertas perjanjian ke padaku.
Ku tenerima uluran surat perjanjian itu. Setelah itu Ais kembali memutar badan. Sebenarnya aku ingin menahan kepergian Ais, ada sesuatu yang ingin kusampaikan padanya.
Tapi, belum aku bicara, ia telah duluan bicara, "Oya...., soal surat perjanjian itu, tuan Hafiz tak perlu bimbang, dengan senang hati telah saya tanda tangani, dalam keadaan hati yang sadar tanpa ada pihak manapun yang memaksa. Tuan Hafiz juga tak perlu berlebihan, saya tidak akan pernah datang untuk menggoda tuan Hafiz, maksud saya tak akan menuntut nafkah batin. Dan satu lagi, saya sangatttt....mengucap ribuan terima kasih pada tuan Hafiz yang baik hati....yang akan menceraikan saya seiring berakhirnya pendidikan saya. Saya akan sangat menunggu saat itu tiba"
Sebelumnya aku mengira jika Ais akan sangat terpukul dengan surat perjanjian yang kubuat.
Ternyata dugaanku salah, aku tau dari gaya bicaranya, ia sangat setuju dengan SURAT PERJANJIAN itu.
Baguslah.....setidaknya aku merasa lega, karena tidak ada yang merasa dirugikan dalam surat perjanjian ini.
Jika boleh jujur aku sedikit terkejut melihat wanita yang biasa terlihat lemah dan pemalu, tiba-tiba berubah menjadi wanita yang kuat.
Ting.....Ting......
Ada WA masuk di hp, perlahan ku buka, ternyata dari pihak university yang mengirim pesan pemberitahuan jika berkas persyaratan yang ku kirim lewat email semasa di kampung Ais telah lolos seleksi.
Tidak sulit bagiku untuk mengurus itu semua, dikarenakan sebelum melanjutkan study, istriku adalah salah satu dosen di sana. Hal itulah yang membuat aku banyak kenal dengan orang-orang yang ada di sana.
Dalam pesan itu juga tertulis bahwa besok semua calon mahasiswa diwajibkan untuk datang.
Berarti besok aku akan mengantar Ais ke sana, semoga pekerjaan di kantor tidak terlalu sibuk sehingga aku punya waktu untuk mengantar Ais.
__ADS_1
Aku harus segera menyampaikan berita ini ke pada Ais.