
"Saya tak mengijinkan kamu untuk ikut acara itu" Hafiz kembali berbicara datar.
Seketika Ais menoleh, menatap kesal pada Hafiz, detik berikutnya kembali membuang pandangan, meski begitu bibirnya memilih diam. Masih menunggu kelanjutan kata-kata Hafiz.
"Aku suamimu, aku berhak tidak memberimu ijin"
Mendengar ucapan Hafiz yang semakin mengintimidasi, akhirnya Ais tak dapat lagi menahan lisan. Baginya si Kadal ini tak ubah bagai pemimpin diktator, tak pernah memikirkan perasaan orang lain.
"Cih...., suami? sejak kapan tuan Hafiz yang terhormat memperistri seorang pembantu?
Atau tuan mulai amnesia?
Lupa ya, kalau buk Sofia itu yang istri anda? bukan saya! dan bukankah pembantu harus bersikap sebagai pembantu?
Begitu juga majikan, rasanya ....tak mungkin mengakui pembantu sebagai istri. Apa tuan lupa, diantara kita ada batasan?"
Ais menjeda ucapannya, menarik nafas memasok oksigen secukupnya, baru ia kembali berujar, dengan tatapan semakin menajam juga rasa geram yang semakin tak tertahankan. Kalau bisa dimakan, mungkin si Hafiz yang akan dijadikannya menu santap siang ini.
"Dengan atau pun tanpa ijin situ, aku tetap akan ikut" Kata-kata penuh penekanan Ais ucapkan, tak mau ada bantahan, termasuk dari Hafiz.
Kekecewaan mendalam mampu mengubah kepribadian seseorang, termasuk Ais. Kebohongan yang diciptakan Hafiz, juga sikapnya yang tak pernah memikirkan perasaan Ais dengan pamer kemesraan, membuat luka yang teramat dalam, sehingga mengubah sosok penurut, menjadi pemberontak.
"Ok, kalau begitu aku akan memecatmu" Lagi-lagi Hafiz mengintimidasi Ais.
Mata Ais semakin memanas, tatapannya masih lekat pada Hafiz, begitu juga Hafiz. Ingin menangis namun tak mungkin untuk saat ini, malu......nanti dilihat banyak orang dan nanti akan membuat si Hafiz berada di atas angin.
Salahkah Ais ingin sedikit kebebasan, agar sesak yang menggerogoti jiwanya sedikit berkurang, setidaknya dengan ikut pertukaran pelajar, sementara waktu ia tidak akan menyaksikan drama percintaan antara Hafiz dan Sofia. Walau bagaimanapun juga, Ais manusia biasa, kecewa dan cemburu itu pasti ada.
"Ais....!, kenapa? kok baksonya nggak dimakan? nanti keburu dingin, apa mau disuapin?" Reza yang kembali bergabung, seketika meredam kemarahan Ais. Hanya untuk saat ini, karena api dalam sekam, tak mudah untuk dipadamkan.
"Nggak perlu kak, Ais bisa sendiri" Ais kembali merebut sendok yang sudah dipegang Reza, laki-laki itu tetap sama, selalu perhatian untuk Aisnya. Andai saja kejadian itu tak terjadi, mungkin saat ini Aislah wanita paling bahagia sebagai pendamping seorang Reza yang notabennya laki-laki paling lembut juga perhatian. Sangat bertolak belakang dengan si Kadal yang sekarang duduk di depannya.
Hafiz menatap tak suka ke arah Reza, kalau bisa rasanya ingin dikasuskannya saja si Reza, atas tuntutan "perbuatan tidak menyenangkan" karena mengganggu istri orang. Perbuatan ini diatur dalam Pasal 335 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
__ADS_1
Namun sayang, Hafiz tak bisa berbuat banyak, jika itu ia lakukan, sama saja dengan menjebloskan dirinya sendiri, karena bisa balik dituntut oleh Sofia dengan tuntutan kasus " perselingkuhan"
-
-
"Sayang!, kok melamun?" Sofia yang baru saja kembali dari toilet menyadarkan Hafiz dari lamunan panjangnya.
Ia menarik kursi dan menjatuhkan pant*tanya, disamping Hafiz. Nia duduk di bangkunya semula di samping Ais namun terpisah kursi.
"Ohhhhh....kamu juga kepengen disuapin, sama kayak mereka?"
Tuntuk Sofia pada Ais dan Reza. Sofia mengira tatapan lekat Hafiz pada Reza dan Ais, karena merasa iri dengan pasangan di depannya. Karena saat ini Reza sedang menyuapi Ais dengan bulatan bakso miliknya.
"Cih.....aku bukan iri, tapi lagi sakit hati, karena yang disuapi laki-laki bajingan itu istriku sayang, madumu"
Kata-kata itu hanya mampu Hafiz cetuskan dalam hatinya.
Mungkin dengan pamer seperti bisa membuat Ais cemburu, dengan itu bisa membalaskan sakit hati Hafiz pada Ais.
Hafiz memotong bulatan baksonya, kemudian menyuapi Sofia yang sudah siaga satu membuka mulut.
Ais memilih melanjutkan makannya dari pada melihat drama yang tak jelas, dan berujung membuat hatinya semakin sakit nantinya.
"Ahhhh.....so sweet banget sih kalian....., kok aku jadi baper sendirian"
Celoteh Nia, karena melihat dua pasangan romantis sedang suap-suapan, membuat dia cengengesan.
Sofia tersenyum senang, sama halnya dengan Reza, tapi tidak untuk Ais dan Hafiz, keduanya memasang wajah biasa saja, malah terlihat kaku.
Jika ada pintu doremon, ingin rasanya Ais pinjam untuk menghilang diantara dua orang itu.
"Oya...Ais, kamu juga mendaftar ya, untuk program pertukaran pelajar?"
__ADS_1
"Uhug.....ohogg....."
Reza menyodorkan air mineral pada Ais yang tiba-tiba keselek bakso.
"I...ia b...buk" Rasa takut dan bersalah pada Sofia membuat Ais ketakutan saat berbicara langsung pada Sofia. Meski ia bukan PELAKOR, tapi tetap statusnya istri kedua. Bila mana yang tak tau ceritanya, pasti akan menganggap ia sebagai PELAKOR. Ais belum siap dan tak bisa membayangkan jika sampai Sofia tau. Dapat dipastikan kata-kata yang keluar tak akan semanis itu.
"Santai aja, Miss Sofia nggak makan orang, dia baik kok" Reza yang melihat Ais grogi berhadapan dengan Sofia mencoba meluruskan persepsi Ais tentang Sofia. Reza sangat tau siapa Sofia itu, karena dulu mereka sempat ada proyek bersama, jadi sedikit banyak tentang Sofia ia tau, tapi tidak dengan suami sombongnya itu.
Mengingat orang yang duduk di samping Sofia membuat air muka Reza berubah seketika. Entah benci entah apa, yang pasti Reza meyakini ada yang tak beres dengan Hafiz.
"Ia Ais, santai aja meski kamu dirumah pembantuku, tapi dikampus kamu tetap mahasiswaku" Sofia berbicara ramah sambil menyuap bakso kedalam mulutnya.
Ais tersenyum kaku, ketakutan tetap saja ada.
Sedang Sofia kembali bersikap hangat pada Ais, sama seperti saat pertama kali mereka bertemu dibandara. Karena yang membuat Sofia agak ketus pada Ais sekarang sudah terbantahkan. Ia meyakini Ais hanya sebatas pembantu mereka, perhatian Hafiz yang ia lihat sebelumnya tak terbukti adanya. Pikirnya, Ais adalah kekasih Reza, karena sekarang ia melihat bukti nyata, bukan praduga. Jadi Sofia bisa bernafas lega, Hafiz memang hanya mencintainya, meskipun mereka lama terpisah.
"Memang siapa yang mengijinkan dia ikut?"
Hafiz kembali berbicara ketus.
"Aku majikannya, jadi aku berhak tidak memberikan ijin pada padanya, apa dia lupa kalau dia adalah pembantu?"
"Sayang?"
Sofia merasa tak enak dan heran dengan sikap Hafiz yang tiba-tiba berubah ketus.
Hafiz bangkit dari duduknya, lalu pergi begitu saja.
Membuat semua orang yang ada disana merasa kebingungan dan bertanya-tanya.
Roboh sudah bendungan Ais, dipermalukan diantara sahabatnya, membuat ia tak lagi punya muka.
Bersambung..
__ADS_1