Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
33. Siapa Dia?


__ADS_3

Ais turun dari mobil Reza, menutup pintu dan melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Tak lupa senyum manis ia kembangkan pada orang yang berada di balik kaca mobil.


Ais terlihat sedikit menepi kepinggir jalan, tak lama setelahnya, mobil yang membawa Ais melanjutkan jalannya. Setelah mobil terlihat semakin jauh, Ais memutar badan untuk segera berjalan masuk kedalam wilayah kampus, namun sebelum benar-benar melangkah, mata Ais sekilas menangkap mobil Hafiz yang berada tak jauh dari posisinya berada, tapi ia memilih cuek, dan berjalan setengah berlari memasuki gedung kampus.


Padahal sebelumnya Hafiz selalu setia mengantar Ais hingga ke pintu kelas, tapi tidak untuk hari ini. Batas yang Hafiz bangun begitu tinggi untuk digapai, Ais tak ingin lagi di cap sebagai perempuan tak tau diri, karena itu menghindar adalah pilihan yang paling tepat.


Di dalam mobil Hafiz masih setia memantau gerak gerik Ais, sambil terus mengumpat dalam hati. Kekesalannya semakin menjadi-jadi, pulang nanti ia harus membuat perhitungan dengan Ais. Tadinya Hafiz berniat turun, namun melihat mobil yang ditumpangi Ais berlalu pergi, ia mengurungkan niatnya. Ditambah jam dipergelangan tangan hampir ke angka sembilan, akhirnya Hafiz memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju kantornya.


***


Nia dan Rian sudah terlebih dahulu datang ke kampus, mereka berdua sudah duduk manis menunggu ke datangan dosen pagi ini.


Ais setengah berlari membuat nafas ngos-ngosan saat masuk ke dalam kelas, tak ayal membuat mata kedua sahabatnya menelisik ke arahnya.


"Kamu kenapa?" Nia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Ais yang baru duduk di salah satu kursi yang ada di sebelah kiri Nia.


"Eh...,nggak...tadi kirain udah telat, ternyata Alhamdulillah....nggak" syukur Ais bisa membuat alasan yang masuk akal, agar temannya tak menaruh curiga, padahal yang sebenarnya Ais sedang menghindari Hafiz.


"Kita doakan saja dosen kita yang baru, kejebak macet, biar lama datangnya" Rian turut menimpali pembicaraan Ais dan Nia. Karena kabarnya hari ini mereka akan kedatangan dosen yang baru.


"Berdoa itu yang baik-baik, karena doa yang baik itu akan kembali lagi pada kita yang mendoakan" Ucap Nia yang tak setuju dengan jalan pikiran Rian. Walaupun ia tau sebenarnya Rian hanya bercanda.


Rian hanya cengengesan mendengar jawaban telak dari Nia, sedang Ais berpura-pura sibuk mengeluarkan binder dan peralatan tulis dari dalam tasnya.


Nia berdiri lalu berjalan pindah duduk dikursi depan Ais, dengan posisi menghadap ke arah Ais.


"Ais!"


"Emmm"

__ADS_1


"Ikut nggak?"


Ais menghentikan gerak tangannya, gerak bibirnya masih tertahan, kini tatapannya lurus ke arah Nia. Ia baru teringat, kalau belum sempat meminta ijin pada Hafiz.


"Jangan bilang ....."


"Ia, aku belum ijin sama tuan Hafiz" ucapnya sedikit pelan dan tawa yang dipaksakan.


"Kenapa? bukannya kemaren kamu bilang mau minta ijin sama tuan gantengmu?" Nia yang sudah beberapa kali bertemu Hafiz, mengira Hafiz adalah majikan Ais, karena selama ini baik Ais maupun Hafiz memperkenalkan diri mereka sebagai majikan dan pembantu.


"Ibu dan adiknya tuan Hafiz pulang ke Malaysia, jadi kemaren sibuk buat jemput mereka, jadi tak ada waktu buat bahas masalah ini"


"Jadi, kamu ikut nggak? solnya siang ini terakhir pendaftaran, jarang-jarang lo ada kegiatan pertukaran pelajar"


Nia memperingatkan Ais, karena bagaimana pun juga, ia berharap Ais bisa turut serta dalam kegiatan yang memang tak setiap waktu bisa di ikuti. Terlebih bagi mereka yang berada di semester awal.


"Sepertinya aku nggak bisa ikut deh..." suara yang terdengar putus asa.


"Jangan gitu dong Ais, ini kesempatan bagus untuk kita, seperti kata Nia, kegiatan ini jarang-jarang diadakan oleh pihak kampus, lagian semua biaya transport ditanggung pihak kampus, mana dikasih uang jajan lagi, jadi jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan yang ada" Rian ikut berkomentar, karena sejak tadi ia sudah fokus mendengar pembicaraan Ais dan Nia.


Ais melirik ke arah Nia, lalu kearah Rian, sedang yang dilirik keduanya memberi semangat dengan bahasa tubuh mereka, kalau Ais harus ikut.


Ais menghela nafas panjang, lagi-lagi kepalanya berdenyut semakin tak karuan.


Ditengah negosiasi mereka bertiga, terdengar suara hentakan sepatu menuju keruangan mereka. Membuat seluruh atensi mahasiswa tertuju ke arah datangnya suara. Benar saja, tak lama muncul seorang wanita cantik dengan tampilan modis, rambut yang di rol sengaja ia biarkan tergerai indah dengan satu tangan memeluk beberapa modul, sedang tangan satunya menjinjing sebuah tas bermerek.


Hampir semua mahasiswa terpesona, takjub memandang ke arah wanita yang memiliki kecantikan paripurna, terutama kaum Adam, dalam hati mereka berdoa semoga yang ada dihadapan mereka masih single.


Saling bertanya-tanya, siapakah gerangan wanita cantik itu? Begitu juga Ais, dalam hatinya ikut bertanya-tanya, bukan tentang namanya, namun kenapa miss misteri alias Sofia, istri dari suaminya bisa berada di kelasnya? Siapa sebenarnya dia?

__ADS_1


"Perhatian semuanya, good morning! Assalamualaikum....." Sapaan pertama saat Sofia berdiri tepat didepan mejanya. Tentunya setelah modul dan tas ia simpan rapi di atas meja.


"Walaikumsalam salam warahmatullahi wabarokatuh...." mahasiswa menjawab serempak salam dari Sofia.


"Perkenalkan saya adalah dosen yang mengampu salah satu mata kuliah****.


Nama saya Sofia Nalika, biasa dipanggil Miss Sofi. Saya merupakan dosen tetap dikampus ini, jika ada yang bertanya kenapa saya baru muncul? itu dikarenakan saya baru saja menyelesaikan studi master saya di LA, dan baru kemaren pulang dari sana. Baiklah, apa ada yang ingin ditanyakan?" Mata Sofia berkeliaran diantara mahasiswanya, memindai satu persatu dari mereka sampailah pindaian itu terhenti pada sosok gadis cantik berambut sebahu yang tak asing dimatanya "AIS? Ternyata dia kuliah disini?gumamnya dalam hati.


"Udah nikah belum" tanya salah satu mahasiswa laki-laki yang sudah berharap-harap cemas akan status dosen cantik yang berdiri di depannya.


"Jawab nggak?????" Sofia memancing rasa penasaran mahasiswanya.


"Jawab...jawab...jawab..." Mahasiswa bertepuk tangan menyemangati Sofia untuk menjawab pertanyaan mereka.


"Ok...ok....mau tau, apa tau banget?" lagi-lagi Sofia membuat kaum Adam semakin penasaran.


"Banget...." Jawab mereka semakin tak sabaran.


"Saya sudah married, punya anak satu"


"Huuuuuuuuuuu"


Seketika jawaban itu mematahkan semangat kaum Adam yang tadinya sudah pasang ancang-ancang untuk mendekati Sofia, termasuk Rian si lelaki bermulut buaya.


"Tok...tokkk....." suara pintu diketuk disaat acara perkenalan itu berlangsung. Sofia dan semua yang ada ditempat itu menoleh ke arah pintu. Ada laki-laki gagah nan ganteng berdiri di sana, siapa lagi kalau bukan "HAFIZ".


"Abang?"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2