
Ais poV
*
*
*
Kampung halaman
Kurang lebih tiga jam perjalanan kini aku dan
Tuan Hafiz telah sampai dirumah. Kami
menggunakan mobil rental yang di sewa Tuan
Hafiz selama satu Minggu kedepan.
Mobil itu kami sewa dari jasa Rental yang ada
di perbatasan Indonesia Malaysia.
Kehadiranku yang tiba-tiba membuat Ayah dan
Ibu terkejut.
Saat kami sampai kebetulan Ayah dan Ibu
sedang ada dirumah, kecuali adikku, karena
jarak sekolah dan rumah yang cukup jauh,
maka ia memutuskan untuk tinggal di tempat
keluarga.
Begitu melihat ada mobil yang terparkir di
halaman, ibu dan ayah langsung
menyambangi, saat melihat yang keluar dari
mobil adalah aku, reflek ibu berteriak setengah
berlari ke arahku, "Ais.....! Benar ini Ais pak?"
ibu masih tak percaya bahwa yang datang
adalah aku. Kurentangkan ke dua tanganku
untuk menyambut pelukan ibu.
"Ia ibuk, ia aku anakmu...." aku dan ibu saling
berpelukan. Ibu menyiumiku sambil berurai air
mata.
"Ya Allah Ais, benar ini kamu nak?" ibu masih
seperti merasa mimpi bisa memeluk .
Ayah juga tak kalah girang, ia pun mendekat ke
arahku dengan kaki yang sedikit
terpincang-pincang, " Ais, anak ayah" ia
memeluk dan menciumku dengan penuh
sayang. Dari kening, pipi kiri dan pipi kanan,
terahir ia membenamkanku dalam pelukannya.
Aku menangis sejadi-jadinya dipelukan ayah.
Selama ini aku memang sangat dekat dengan
ayah, mengalahkan kedekatan ku dengan ibu.
Saat kami asyik melepas rindu, ada sepasang
mata yang memperhatikan, ia adalah tuan
Hafiz. Masih berdiri di pintu mobil yang
terbuka, Tuan Hafiz sepertinya menikmati
adekan kangen-kangenan ala kami. Ia sengaja
membiarkanku melepas rindu pada Ayah dan
Ibu.
Setelah melerai pelukan dengan ayah, mata
ayah dan ibu langsung tertuju pada tuan Hafiz.
Begitu juga mataku ikut diarahkan ke pada
tuan Hafiz.
Sadar dirinya sedang diperhatikan, tuan Hafiz
langsung menutup pintu mobil dan mendekat
ke arah kami. Secepatnya ku perkenalkan
beliau, "ayah..., ibu..., ini majikan Ais, namanya
tuan Hafiz".
Ayah dan ibu kaget, tak menyangka bahwa
yang mengantarkan ku bukan sopir travel,
melainkan majikanku.
" Ya Allah..., maaf tuan, tadi kami tidak
sadar akan kehadiran tuan" ucap ayah sembari
__ADS_1
mengulurkan tangan.
Tuan Hafiz menyambut uluran tangan ayah,
untuk bersalaman sambil memperkenalkan diri
ke pada ayah dan kemudian berpindah ke ibu.
"Ayo, silakan masuk ke gubuk kami!" ayah
mempersilakan tuan Hafiz dengan begitu
ramah. Jika ayah tau apa yang telah ia lakukan
padaku, pasti bukan keramahan yang ia
berikan, tapi amarah.
"Terime kaseh pak cik, saye ambek koper dulu"
ucap tuan Hafiz sopan. Mata dan kupingku
seakan tak percaya, ternyata laki-laki dingin
plus sedikit sombong ini, bisa menjadi
bunglon. Tapi apa juga peduliku, mau dia jadi
bunglon bahkan buaya sekalipun aku tak
peduli, aku terlanjur sakit hati dan kesal.
"Oh....ya, silakan!" ayah ikut membuka bagasi
mobil dan membantu menurunkan dua koper
dan beberapa barang lainnya. Aku juga tak ikut
diam, karena tau, ayah lagi sakit-sakitan.
"Yah, biar Ais aja yang bawa kopernya, ayah
masuk aja duluan!" pintaku pada ayah.
Ayah membalas dengan anggukan.
"Ais!" ucap tuan Hafiz padaku pelan sambil
membungkuk menurunkan barang dari bagasi
mobil.
"Emmm" jawabku dengan nada datar tanpa
melihat ke arahnya.
Ia tak melanjutkan bicaranya, aku juga sedang
malas untuk bicara padanya.
Ayah terlebih dahulu berjalan masuk ke dalam
Hafiz dengan satu koper ditangan dan terakhir
aku, juga dengan membawa satu koper plus
oleh-oleh yang tadi kubeli saat diperbatasan.
"Maaf tuan, inilah gubuk kami, harap maklum"
ayah merendahkan diri.
"Tidak masalah pak cik, same saje" balas tuan
Hafiz yang tersenyum ramah ke arah ayah.
Aku dengan wajah bahagia, terus berlalu
dengan menarik koper ke arah kamar. Rasa
rindu dengan rumah ini, terutama kamarku,
membuat aku melupakan ada tamu penting
dirumah ini.
Tuan Hafiz berdiri dan terdiam melihat
tingkahku, yang jauh berbeda saat berada di
istananya. Hari ini sedikit demi sedikit sifat
asliku mulai muncul kepermukaan. Biasanya
aku hanya tertunduk malu berlaku sopan,
mengikuti semua perintah dan aturan
saat berada di sana.
Tapi tidak disini, aku bebas mengekspresikan
diri, menjadi aku yang sesungguhnya.
"Tuan silakan duduk!" ibu mempersilakan tuan
Hafiz untuk duduk di kursi tamu.
"Makaseh ibuk" lagi-lagi ia berusaha ramah, tapi
entahlah..., benar ramah atau terpaksa aku juga
tidak tau.
Tuan Hafiz meminggirkan koper yang ia bawa
kemudian mendudukkan diri di kursi tamu.
Ayah dan ibu, juga mendudukkan diri
menemani tuan Hafiz, berbeda dengan aku,
__ADS_1
yang terkesan tak peduli dengannya. Dari pada
duduk menemaninya bicara disana, mending
aku menikmati suasana kamar yang sudah
tiga bulan tidak kutempati.
Kubaringkan tubuh kecilku, mataku memindai
setiap sudut ruangan, masih sama, tak ada
yang berbeda, barang-barangku masih di
tempat semula, aku tersenyum kecil, bahagia
rasanya, bisa kembali kerumah ini.
Masih dengan menatap langit-langit kamar, aku
teringat dengan ucapan tuan Hafiz saat di
mobil. Seketika senyumku luntur, ia
mengatakan ke padaku, jika pernikahan kami
ini akan dilakukan secara siri, dengan alasan
sulitnya mengurus administrasi untuk menikah
beda negara. Aku sempat menolak, sehingga
terjadi sedikit perdebatan, aku tidak mau
dinikahi siri. Karena aku tau dengan dinikahi
siri tidak ada kekuatan hukum secara negara
jika terjadi hal yang tak diinginkan, tapi mau
bagaimana lagi, ia telah tiba di Indonesia, dan
masih berkeras untuk menikahiku secara siri.
Jika dipikir-pikir, alasan yang ia berikan ada
juga benarnya, tidak mungkin bisa selesai
mengurus administrasi, terlebih beda kewarganegaraan dalam satu Minggu. Biarlah
ayah nanti yang
menentukan keputusan itu. Toh, belum tentu
juga ayah akan menyetujui pernikahan ini.
Hanya satu yang kupinta pada tuan Hafiz, agar
ia tak menceritakan kejadian itu pada ke dua
orang tuaku. Karena aku tak ingin ayah kecewa
padaku.
Jika pernikahan ini tidak terjadi, aku sudah
memutuskan untuk memilih tetap berada di
Indonesia, dan tak akan lagi memijakkan kaki
ke Malaysia.
Tok...
tok....
Ada yang mengetuk pintu kamar, membuyarkan
lamunanku, "masuk...!" aku menoleh ke arah
pintu.
"Ais, kenapa disini? kesian majikanmu tu
diluar!" ucap ibu sambil menyembulkan ke pala
dari balik pintu kamarku.
"Ah...biarin aja buk, disini dia bukan lagi
majikan Ais, melainkan tamu" ucapku kesal.
"Nggak boleh gitu dong Ais, bagaimanapun
juga ia tetap majikanmu, ayo...Ais!" Ibu terlihat
memaksa.
"Ia, bentar lagi Ais ke depan" ucapku dengan
nada terpaksa.
"Jangan lama-lama!" ibu kembali
mengingatkan.
"Ia ibuk......" jawabku semakin sebel. Bukan
sebel sama ibuk ya, tapi si Hafiz yang banyak
anginnya itu.
Ibu menutup pintu kamar, dan menghilang
seiring pintu tertutup.
Aku bangkit, dan mendudukkan diri, berniat
akan ke ruang tamu.
Reader yang baik hati, mohon tinggalkan koment dan masukannya🙏, biar aku bisa memperbaiki bahasa maupun alur cerita, maklum aku adalah penulis amatir, mencoba menyalurkan hoby🥰, tentu saja banyak kekurangan.
__ADS_1