Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
Bab#9


__ADS_3

Ais poV


*


*


*


Kampung halaman


Kurang lebih tiga jam perjalanan kini aku dan


Tuan Hafiz telah sampai dirumah. Kami


menggunakan mobil rental yang di sewa Tuan


Hafiz selama satu Minggu kedepan.


Mobil itu kami sewa dari jasa Rental yang ada


di perbatasan Indonesia Malaysia.


Kehadiranku yang tiba-tiba membuat Ayah dan


Ibu terkejut.


Saat kami sampai kebetulan Ayah dan Ibu


sedang ada dirumah, kecuali adikku, karena


jarak sekolah dan rumah yang cukup jauh,


maka ia memutuskan untuk tinggal di tempat


keluarga.


Begitu melihat ada mobil yang terparkir di


halaman, ibu dan ayah langsung


menyambangi, saat melihat yang keluar dari


mobil adalah aku, reflek ibu berteriak setengah


berlari ke arahku, "Ais.....! Benar ini Ais pak?"


ibu masih tak percaya bahwa yang datang


adalah aku. Kurentangkan ke dua tanganku


untuk menyambut pelukan ibu.


"Ia ibuk, ia aku anakmu...." aku dan ibu saling


berpelukan. Ibu menyiumiku sambil berurai air


mata.


"Ya Allah Ais, benar ini kamu nak?" ibu masih


seperti merasa mimpi bisa memeluk .


Ayah juga tak kalah girang, ia pun mendekat ke


arahku dengan kaki yang sedikit


terpincang-pincang, " Ais, anak ayah" ia


memeluk dan menciumku dengan penuh


sayang. Dari kening, pipi kiri dan pipi kanan,


terahir ia membenamkanku dalam pelukannya.


Aku menangis sejadi-jadinya dipelukan ayah.


Selama ini aku memang sangat dekat dengan


ayah, mengalahkan kedekatan ku dengan ibu.


Saat kami asyik melepas rindu, ada sepasang


mata yang memperhatikan, ia adalah tuan


Hafiz. Masih berdiri di pintu mobil yang


terbuka, Tuan Hafiz sepertinya menikmati


adekan kangen-kangenan ala kami. Ia sengaja


membiarkanku melepas rindu pada Ayah dan


Ibu.


Setelah melerai pelukan dengan ayah, mata


ayah dan ibu langsung tertuju pada tuan Hafiz.


Begitu juga mataku ikut diarahkan ke pada


tuan Hafiz.


Sadar dirinya sedang diperhatikan, tuan Hafiz


langsung menutup pintu mobil dan mendekat


ke arah kami. Secepatnya ku perkenalkan


beliau, "ayah..., ibu..., ini majikan Ais, namanya


tuan Hafiz".


Ayah dan ibu kaget, tak menyangka bahwa


yang mengantarkan ku bukan sopir travel,


melainkan majikanku.


" Ya Allah..., maaf tuan, tadi kami tidak


sadar akan kehadiran tuan" ucap ayah sembari

__ADS_1


mengulurkan tangan.


Tuan Hafiz menyambut uluran tangan ayah,


untuk bersalaman sambil memperkenalkan diri


ke pada ayah dan kemudian berpindah ke ibu.


"Ayo, silakan masuk ke gubuk kami!" ayah


mempersilakan tuan Hafiz dengan begitu


ramah. Jika ayah tau apa yang telah ia lakukan


padaku, pasti bukan keramahan yang ia


berikan, tapi amarah.


"Terime kaseh pak cik, saye ambek koper dulu"


ucap tuan Hafiz sopan. Mata dan kupingku


seakan tak percaya, ternyata laki-laki dingin


plus sedikit sombong ini, bisa menjadi


bunglon. Tapi apa juga peduliku, mau dia jadi


bunglon bahkan buaya sekalipun aku tak


peduli, aku terlanjur sakit hati dan kesal.


"Oh....ya, silakan!" ayah ikut membuka bagasi


mobil dan membantu menurunkan dua koper


dan beberapa barang lainnya. Aku juga tak ikut


diam, karena tau, ayah lagi sakit-sakitan.


"Yah, biar Ais aja yang bawa kopernya, ayah


masuk aja duluan!" pintaku pada ayah.


Ayah membalas dengan anggukan.


"Ais!" ucap tuan Hafiz padaku pelan sambil


membungkuk menurunkan barang dari bagasi


mobil.


"Emmm" jawabku dengan nada datar tanpa


melihat ke arahnya.


Ia tak melanjutkan bicaranya, aku juga sedang


malas untuk bicara padanya.


Ayah terlebih dahulu berjalan masuk ke dalam


Hafiz dengan satu koper ditangan dan terakhir


aku, juga dengan membawa satu koper plus


oleh-oleh yang tadi kubeli saat diperbatasan.


"Maaf tuan, inilah gubuk kami, harap maklum"


ayah merendahkan diri.


"Tidak masalah pak cik, same saje" balas tuan


Hafiz yang tersenyum ramah ke arah ayah.


Aku dengan wajah bahagia, terus berlalu


dengan menarik koper ke arah kamar. Rasa


rindu dengan rumah ini, terutama kamarku,


membuat aku melupakan ada tamu penting


dirumah ini.


Tuan Hafiz berdiri dan terdiam melihat


tingkahku, yang jauh berbeda saat berada di


istananya. Hari ini sedikit demi sedikit sifat


asliku mulai muncul kepermukaan. Biasanya


aku hanya tertunduk malu berlaku sopan,


mengikuti semua perintah dan aturan


saat berada di sana.


Tapi tidak disini, aku bebas mengekspresikan


diri, menjadi aku yang sesungguhnya.


"Tuan silakan duduk!" ibu mempersilakan tuan


Hafiz untuk duduk di kursi tamu.


"Makaseh ibuk" lagi-lagi ia berusaha ramah, tapi


entahlah..., benar ramah atau terpaksa aku juga


tidak tau.


Tuan Hafiz meminggirkan koper yang ia bawa


kemudian mendudukkan diri di kursi tamu.


Ayah dan ibu, juga mendudukkan diri


menemani tuan Hafiz, berbeda dengan aku,

__ADS_1


yang terkesan tak peduli dengannya. Dari pada


duduk menemaninya bicara disana, mending


aku menikmati suasana kamar yang sudah


tiga bulan tidak kutempati.


Kubaringkan tubuh kecilku, mataku memindai


setiap sudut ruangan, masih sama, tak ada


yang berbeda, barang-barangku masih di


tempat semula, aku tersenyum kecil, bahagia


rasanya, bisa kembali kerumah ini.


Masih dengan menatap langit-langit kamar, aku


teringat dengan ucapan tuan Hafiz saat di


mobil. Seketika senyumku luntur, ia


mengatakan ke padaku, jika pernikahan kami


ini akan dilakukan secara siri, dengan alasan


sulitnya mengurus administrasi untuk menikah


beda negara. Aku sempat menolak, sehingga


terjadi sedikit perdebatan, aku tidak mau


dinikahi siri. Karena aku tau dengan dinikahi


siri tidak ada kekuatan hukum secara negara


jika terjadi hal yang tak diinginkan, tapi mau


bagaimana lagi, ia telah tiba di Indonesia, dan


masih berkeras untuk menikahiku secara siri.


Jika dipikir-pikir, alasan yang ia berikan ada


juga benarnya, tidak mungkin bisa selesai


mengurus administrasi, terlebih beda kewarganegaraan dalam satu Minggu. Biarlah


ayah nanti yang


menentukan keputusan itu. Toh, belum tentu


juga ayah akan menyetujui pernikahan ini.


Hanya satu yang kupinta pada tuan Hafiz, agar


ia tak menceritakan kejadian itu pada ke dua


orang tuaku. Karena aku tak ingin ayah kecewa


padaku.


Jika pernikahan ini tidak terjadi, aku sudah


memutuskan untuk memilih tetap berada di


Indonesia, dan tak akan lagi memijakkan kaki


ke Malaysia.


Tok...


tok....


Ada yang mengetuk pintu kamar, membuyarkan


lamunanku, "masuk...!" aku menoleh ke arah


pintu.


"Ais, kenapa disini? kesian majikanmu tu


diluar!" ucap ibu sambil menyembulkan ke pala


dari balik pintu kamarku.


"Ah...biarin aja buk, disini dia bukan lagi


majikan Ais, melainkan tamu" ucapku kesal.


"Nggak boleh gitu dong Ais, bagaimanapun


juga ia tetap majikanmu, ayo...Ais!" Ibu terlihat


memaksa.


"Ia, bentar lagi Ais ke depan" ucapku dengan


nada terpaksa.


"Jangan lama-lama!" ibu kembali


mengingatkan.


"Ia ibuk......" jawabku semakin sebel. Bukan


sebel sama ibuk ya, tapi si Hafiz yang banyak


anginnya itu.


Ibu menutup pintu kamar, dan menghilang


seiring pintu tertutup.


Aku bangkit, dan mendudukkan diri, berniat


akan ke ruang tamu.


Reader yang baik hati, mohon tinggalkan koment dan masukannya🙏, biar aku bisa memperbaiki bahasa maupun alur cerita, maklum aku adalah penulis amatir, mencoba menyalurkan hoby🥰, tentu saja banyak kekurangan.

__ADS_1


__ADS_2