Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
Bab#22


__ADS_3

"Dimana majikanmu?" tanya Reza sambil melihat-lihat ke arah parkiran kampus.


Ais tak memperdulikan ucapan Reza, ia sedang mengecek hp untuk melihat pesan yang ia kirim, dan memastikan apakah ada pesan dari tuan Hafiz.


Ternyata masih sama, pesan yang ia kirim belum di baca, terahir story wa Hafiz dilihat jam 09.15 pagi. Sedang sekarang hampir jam tiga sore. Perasaan Ais semakin tak tenang.


"Ais....!" Reza menyadarkan Ais yang terlihat larut dengan hp yang ia pegang.


"Ia kenapa kak?" tanya Ais yang baru tersadar akan panggilan Reza.


"Majikanmu yang jemput?" tanya Reza sambil menatap tajam ke arah gadis cantik yang ada di depannya.


"Seharusnya" jawab Ais singkat sambil terus berjalan menuju kursi yang ada di bawah pohon tempat ia menunggu tuan Hafiz.


Reza mengekor di belakang Ais.


Tak lama berjalan mereka pun mendudukkan diri dikursi yang ada.


Ais terlihat gelisah, sambil *******-***** tangannya. Menatap kosong ke arah jalanan.


"Ais..., kenapa?" tanya Reza yang semakin khawatir melihat kondisi Ais.


Ais menoleh ke arah Reza, "seharusnya tuan Hafiz yang jemput, tapi...." ucapan Ais terpotong.


"Tapi kenapa?" tanya Reza yang semakin penasaran.


"Sampai sekarang belum datang, udah di wa tapi belum di baca" ucap Ais lirih hampir mau nangis.


"Ayo..., biar kakak yang antar, Ais tau kan jalan kerumah Hafiz?" tawar Reza lembut.


"Tadi pagi, dia bilang kalau sudah pulang langsung wa, jangan telpon, sudah jam segini belum juga" ucap Ais yang sudah meneteskan air mata.


"Majikanmu memang udah kelewatan, udah kamu jangan khawati, kakak yang antar" ucap Reza tegas sambil berdiri siap akan pergi. Ia tak tega melihat Ais yang sudah meneteskan air mata.


"Tapi, nanti tuan Hafiz ke sini gimana? tanya Ais polos.


"Ya udah, kamu wa aja, bilang kalau kamu udah ada yang ngantar" ucap Reza menenangkan Ais.


Mendengar apa yang dituturkan Ais, membuat Reza menahan geram pada Hafiz, bisa-bisanya ia membiarkan Ais menunggu begitu lama. Meski Ais hanya seorang pembantu, tapi Hafiz tak sepantasnya memperlakukan Ais seperti itu.


Ais mengikuti saran Reza, membuka sleting tas dan mengambil hp untuk mengirim pesan pada Hafiz.


"Lah.....hp nya mati, gimana dong?" Ais melihat ke arah Reza, masih dengan mata berkaca-kaca. Sebenarnya Ais tak ingin terlihat seperti ini, tapi karna sudah capek menunggu, ditambah perut yang mulai bernyanyi, membuat emosi Ais tak stabil.


"Sudahlah, jangan biarkan dirimu seperti ini, ayo...! kakak akan mengantarmu pulang"


"Tapi kak"

__ADS_1


"Udah nggak usah tapi-tapi lagi" Reza menggenggam tangan Ais seolah memberi kekuatan ke pada gadisnya itu.


"Jangan nangis ya" ucap Reza lembut sambil menyapu air mata Ais dengan ke dua ibu jarinya.


Perlakuan Reza yang lembut, seketika menjadi penenang buat Ais. Senyum pun terkembang dari bibir tipisnya.


"Nah....gitu dong" ucap Reza sambil menyentil hidung Ais.


"Ih...kak Reza" ucap Ais manja.


Ais memang gadis manja di mata Reza, karna sedari kecil Reza dan Ais selalu bersama. Tak heran jika benih cinta antara keduanya tumbuh tanpa mereka sadari.


Reza selalu berpikir, bahwa cinta tak perlu diungkapkan, jika sama-sama merasa nyaman, dan antara keduanya tak ada yang memiliki pasangan, itu artinya mereka cauple.


Tapi ternyata, tanpa sepengetahuan Reza, Ais telah menjadi milik orang lain.


" Udah, biarin....ayo kakak antar!" ucap Reza lagi, saat melihat Ais yang masih ragu-ragu.


Akhirnya, Ais mengikuti tawaran Reza.


Mereka berjalan beriringan, menuju ke parkiran mobil.


🍀🍀🍀


Kantor Hafiz.


"Maaf tuan Hafiz, saya ijin untuk langsung shalat asar dulu ya" pamit Sela ke pada Hafiz.


"Ya...silakan" jawab Hafiz sambil menyodorkan tangan untuk mempersilakan.


Hafiz melihat ke arah jam tangannya, "ya ampun udah jam tigaan" Hafiz baru menyadari jika sekarang sudah menunjukkan jam tiga sore.


"Waktu sekarang nggak terasa bos, udah mau kiamat" ucap Ahmad santai, sambil berjalan menuju ruangan mereka.


"Kamu bisa aja kalau ngomong, jangan kiamat dulu lah, kamukan belum merasa surga dunia" ucap Hafiz untuk menggoda Ahmad.


"Ah...si bos bisa aja" jawab Ahmad sambil terkekeh.


Mereka sekarang tepat berada di depan ruangan Hafiz.


"Rasanya ada yang kurang, tapi apa ya?" Hafiz berusaha mengingat-ingat, karena ia merasa sedang berjanji dengan seseorang tapi apa itu.


"Ah...palingan itu hanya perasaanmu saja, udah ya...aku langsung keruanganku" ucap Ahmad sambil menepuk punggung Hafiz.


"Sippp" Hafiz mengibaskan tangan, sebagai simbol mempersilakan.


Setelah itu ia pun masuk ke dalam ruangan. Saat menuju meja kerja ia melihat hpnya terdiam cantik di atas meja. " Ya...ampunnn....pantesan....ini rupanya yang membuat aku berpikir seolah ada janji" Hafiz baru sadar jika hp nya tertinggal dan ia mengira perasaan tak enak tadi hanya sekedar ketinggalan hp.

__ADS_1


Hapiz menekan tombol kunci yang ada di hp, seketika matanya membulat, melihat wa dari Ais.


"Assalamualaikum........


Maaf tuan Hafiz, maaf mengganggu, hanya mau bilang kalau Ais sudah pulang. Kalau nanti tuan Hafiz menelpon Ais, dan hp Ais tak aktif, itu artinya hp Ais ngedrof. Sekarang batrai tersisa dua puluh lima persen. Ais sekarang lagi menunggu tuan Hafiz di kursi bawah pohon yang ada di taman kampus."


Ais mengirim pesan itu jam dua belas kurang, sedang sekarang sudah jam tiga lewat. Itu artinya kurang lebih sudah tiga jam yang lalu.


Hafiz kembali melihat isi wa yang ke dua.


"Maaf tuan sudah hampir satu jam saya menunggu, apa tuan tidak bisa menjemput Ais? Kampus sudah mulai sepi"


Deggg....


Hafiz memukul keningnya, "shittttt"


bagaimana bisa ia lupa membawa hp. Sehingga ia melupakan janjinya untuk menjemput Ais. Seketika hafiz membayangkan wajah Ais yang sedang gelisah menunggu kehadirannya. Ditambah lagi, ini adalah kali pertama Ais pergi ke kampus, pasti ia akan sangat kesulitan untuk mencari kendaraan pulang. Hafiz diselimuti kebimbangan, seketika wajahnya menjadi kusut. Ia berusaha menelpon Ais," kenapa hp nya mati? apa iya sengaja mematikannya?" gumam Hafiz sambil menggigit jari telunjuk.


Tanpa menunggu lama, Hafiz bergerak cepat menyapu kunci mobil yang tergeletak di atas meja. Dengan langkah sedikit berlari ia keluar dari ruangan.


"Tuan Hafiz mau kemana?" tanya sekretaris Sela yang baru selesai melaksanakan shalat asar, melihat Hafiz seperti terburu-buru.


"Saya keluar sebentar, ada urusan" ucap Hafiz tanpa mengurangi kecepatan kakinya.


Sela hanya menarik nafas dalam melihat tingkah Hafiz yang tak seperti biasanya.


Begitu masuk ke dalam mobil, Hafiz langsung tancap gas, tujuannya satu, kekampus Ais.


🍀🍀🍀


"Benar ini?" Reza bertanya ke pada Ais sambil menunjuk rumah yang ada di depannya. Apakah benar sekarang mereka berada di depan rumah Hafiz.


Ais mengangguk pasti sambil menyorot ke arah rumah yang terlihat sepi. Tidak ada mobil Hafiz di sana, sepertinya memang tidak ada orang. Karena saat ini hanya ia dan Hafiz yang tinggal dirumah dua tingkat itu.


"Kok sepi?" tanya Hafiz lagi.


Karena sejak berhenti beberapa menit tadi, matanya langsung menyorot ke arah rumah itu.


"Ya biasanya tuan Hafiz akan pulang jam lima sore" ucap Ais lagi, karena ia sudah sangat hafal dengan jam pulang majikannya.


"Yang lain ke mana?" tanya Reza lagi, seakan-akan sedang menyelidiki sebuah kasus.


Ais mendapat pertanyaan itu, berubah gugup, jawabannya terdengar kurang tegas.


"I..itu....yang lain....ju...juga ker...ja" ucapnya terbata-bata.


"Kamu punya kunci rumah?" Reza kembali bertanya untuk memastikan jika nanti Ais benar-benar akan selamat masuk ke dalam rumah. Hanya itu tujuannya, ia tidak mau Ais kembali menunggu seperti di kampus tadi.

__ADS_1


Ais menggelengkan ke pala, karena memang Hafiz tidak memberinya kunci.


__ADS_2