Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
40. Berbagi Selimut


__ADS_3

Tak ada senja sore ini, tergantikan awan hitam menyelimuti langit jingga. Tak lama, hujan pun turun meluluh lantahkan kemarau yang sejak lama, membuat jiwa mengering tanpa rasa. Suasana jalanan terlihat macet akibat guyuran hujan. Banyak orang-orang merasa tersiksa dengan suasana itu, tapi ada juga yang mensyukurinya sebagai rahmat dari yang kuasa.


Disebuah kamar bernuansa klasik modern, lengkap dengan fasilitas mewah, yang tak semua orang dapat mengunjungi apalagi memilikinya, mungkin bisa membuat orang bahagia, tapi tidak untuk Ais.


Ais menangis tanpa suara dalam pelukan laki-laki yang saat ini memeluknya dari belakang dengan erat juga posesif, keduanya polos tanpa sehelai benang. Untuk pertama kalinya mereka berbagi tempat tidur juga selimut yang sama.


Laki-laki itu tertidur tenang, meski rambut berantakan, kadar gantengnya bertambah tiga kali lipat, wajahnya penuh kedamaian, yang terdengar hanya dengkuran halus dibalik punggung Ais.


Dua jam yang lalu, Ais diseret paksa masuk kedalam salah satu kamar yang ada di Kozy Square New Apartemen, yang berada dilantai sepuluh.


Dengan ketidak relaan Ais, laki-laki itu kembali menggagahinya, mengulang sejarah hitam tiga bulan yang lalu. Ais berontak dan berusaha menolak, namun tenaganya kalah kuat.


Meski diawali dengan pemaksaan, seiring tak ada lagi perlawanan dari Ais, ia mulai melakukannya dengan kelembutan dan sempat membuat Ais melayang dan larut dalam permainan. Untuk pertama kalinya Ais, mendesah dalam kenikmatan surga dunia.


Tak hanya sekali, laki-laki itu yang tak lain adalah Hafiz, berkali-kali menyiramkan benihnya dirahim Ais, istri yang tak pernah diakuinya, bahkan beberapa jam yang lalu sempat ia beri malu dengan membentak Ais tepat digerbang kampus, saat para mahasiswa tengah ramai-ramainya keluar dari gerbang untuk pulang. Alasannya simpel, Ais menolak masuk kedalam mobil Hafiz.


Pusaka yang tertidur panjang, bahkan sempat mengabaikan Sofia, ternyata dengan sendirinya berdiri tegak, siap menghunus mangsa, tanpa perlu diasah maupun diransang. Membuat si empunya berlagak seperti MPU GANDRING.


Kegilaan yang di dasari rasa cemburu, merasa diabaikan, juga ditantang, membuat ia bertindak diluar kendali. Padahal sebelumnya ia mampu bertahan menahan syahwat meski sudah di ubun-ubun, tapi berbeda dengan saat ini, ia tak rela miliknya diganggu orang lain. Membuat Hafiz memangkas pembatas diantara dirinya dan Ais, berharap tunas baru akan muncul, mungkin dengan cara ini dapat membuat Ais terikat padanya.


***


Ditempat berbeda.


"Coba buka dirimu, jangan mengobsesikan sesuatu yang tak seharusnya!" ucap puan Jijah pada Adam.


Sore ini puan Jijah dan Adam duduk bersantai di gazebo taman belakang rumah mereka. Menikmati segarnya udara sore dikala hujan datang menyapa.


Bukan tanpa alasan, puan Jijah berkata demikian dikarenakan melihat tingkah Adam pada Ais yang terbilang tak wajar.


Adam tak bersuara, tapi bibirnya tertarik ke atas, ia duduk sambil menekuk kedua kaki dan memeluk lututnya.


"Ais itu istri Hafiz, kakak iparmu!"


Kembali puan Jijah mempertegas ucapannya. Tak ingin ada cinta segitiga memperebutkan satu wanita, diantara dua anak laki-lakinya yang nantinya akan berujung pada mala petaka.


"Hafiz tak pernah menganggap Ais istrinya ma, ia memperlakukan Ais tak lebih dari pembantu!"


Adam buka suara.

__ADS_1


"Maksudmu?" Puan Jijah menghentikan gerak tangan dilembaran salah satu majalah kecantikan miliknya. Merasa penasaran dengan kelanjutan ucapan Adam.


"Hafiz hanya mencintai Sofia, bukan Ais, jadi cepat atau lambat Ais akan tersingkirkan"


Adam tersenyum masam, sebenarnya ia sangat kecewa dengan sikap Hafiz. Kenapa Hafiz begitu tega pada Ais. Pada wanita polos, yang datang berjuang demi mencari rupiah.


"Dam, tak mungkin Hafiz tiba-tiba menikahi Ais jika ia tak mencintai Ais?"


"Mereka menikah bukan perkara cinta ma, tapi...."


"Tapi apa?" Puan Jijah yang penasaran, langsung memotong ucapan Adam.


"Married by accident"


***


Dirumah yang sama, Sofia mondar mandir dibalkon kamar dengan hp menempel ditelinga. Sudah berpuluh kali ia mencoba menghubungi Hafiz, namun hasilnya nihil. Pada akhirnya yang terdengar hanya sahutan dari operator yang memberi kabar kalau hp Hafiz berada diluar jangkauan. Tak puas dengan menelpon, ia pun mengirim pesan pada Hafiz. Lagi-lagi semua centang dua, tak ada perubahan warna dari notifikasinya.


Sofia menarik nafas panjang, menatap jauh kearah jalan yang masih setia diguyur hujan. Bimbang menyelimuti hati, sejak kejadian dikantin tadi siang tak ada kabar dari Hafiz.


Banyak tanya yang belum ada jawaban, Hafiz kini banyak berubah, tidak seperti tiga tahun yang lalu, meski perlakuan Hafiz siang tadi mematahkan prasangka buruknya. Namun kini Sofia kembali berpikir ulang, terlebih Hafiz menghilang tanpa kabar begitupun mahasiswa sekaligus pembantunya.


Sejak kejadian dikantin, Ais tak menampakkan batang hidungnya bahkan juga tak pulang kerumah majikannya.


Apa mungkin karena dia kekasih Adam?


Tiga tahun bukan waktu singkat, banyak hal terlewatkan oleh Sofia, tentang suaminya, keluarganya juga Adira yang sampai saat ini tak begitu akrab dengan dirinya, tapi berbeda dengan Ais. Lagi-lagi Ais menjadi pemenang. Perlukah ia cemburu?


Sofia terhenti pada lamunannya, ia memilih duduk dikursi santai yang ada dibalkon kamar. Kini tatapannya memindai nama seseorang yang ada dilayar hapenya. Detik berikutnya hape itu kembali menempel dikuping sebelah kanan. Sedang tangan kiri memijat pelipis mengurangi denyut dikepala.


Tak lama terdengar sahutan dari sebrang telpon.


"Assalamualaikum..."


..….....................


"Hafiz masih dikantor?"


.....................

__ADS_1


"Sudah pulang?"


........


"Makasih ya!"


.............


"Assalamualaikum..."


............


Sofia menutup telpon, lagi-lagi ia gagal mencari tau keberadaan Hafiz yang lenyap bak ditelan bumi. Sofia kembali dilanda kekecewaan.


Kemana suaminya itu?


Sama siapa?


Kenapa tidak ada kabar?


Masih banyak pertanyaan lain yang membuat dadanya sesak.


Sekali-kali Sofia mengintip kamar Ais, terlihat masih gelap yang artinya penghuninya belum juga pulang.


Kemana Ais? apa kejadian tadi juga membuat Ais ditelan bumi.


Tak ingin terlihat kepo, Sofia tak berniat bertanya pada mertua maupun iparnya.


Tak lama sayup-sayup azan magrib terdengar, Sofia bangkit dari duduknya dan berniat menunaikan shalat magrib.


****


Apartemen Kozy....


Mendengar suara azan Ais berniat bangkit untuk membersihkan diri, tapi tangan dan kaki Hafiz masih setia membelit tubuhnya seperti ular piton. Sejak mengakhiri sesi percintaan mereka, Ais tak semenit pun memejamkan mata, berbeda dengan laki-laki dibelakangnya. Pikirannya jauh menerawang kemana-mana, memikirkan takdir yang entah.


Ais berusaha mengangkat tangan Hafiz, membuat si empunya perlahan membuka mata, tersadar dari tidur nikmatnya.


"Mau kemana?" suara serak menggelitik menyapu ceruk leher Ais.

__ADS_1


Membuat Ais menggerakkan kepala hingga menyentuh bahu untuk menutupi ceruk leher yang terasa meremang.


Bersambung.........


__ADS_2