
Petugas medis berlarian menuju ambulan yang baru saja tiba di depan pintu UGD, kabarnya pasien adalah korban penembakan. Kondisinya kritis karena kehilangan banyak darah. Ais yang kebetulan lewat dari membeli susu Aiza di supermarket terdekat, sempat melihat sekilas ke arah brankar yang di dorong. Dikarenakan wajah pasien tertutupi oleh petugas yang mendorong brangkar, tidak memungkinkan Ais untuk melihat wajah korban.Tapi, dari postur tubuh juga pakaian yang dipakai, dapat dipastikan korban seorang laki-laki.
Baru saja berjalan beberapa langkah memasuki koridor rumah sakit, ada yang memanggil nama Ais.
"Ais....!" seketika Ais menoleh ke arah datangnya suara.
Laki-laki berkacamata, baju penuh darah berjalan mendekat ke arah Ais.
"Ais kan...?" Ahmad kembali memastikan. Takutnya salah, karena wanita yang berdiri dihadapannya saat ini amatlah berbeda dengan Ais empat tahun yang lalu.
"Ia, saya sendiri. Siapa ya?" Ais merasa tidak mengenal orang yang memanggil namanya. Tapi rasanya Ais pernah ketemu, tapi dimana? Semua masih menjadi tanda tanya.
"Ahmad, saya Ahmad teman Hafiz. Kamu ingat?" Ahmad menunjuk dirinya, antusias mengingatkan Ais agar Ais bisa mengingat dirinya.
Ais terlihat berpikir sejenak, mencoba membuka memori lama, hingga ia menemukan sosok Ahmad adalah lelaki yang pernah menggombali dirinya saat berkunjung kerumah Hafiz dulu. Memunculkan senyum kecil dibibir Ais.
"Oh....ia saya ingat, tapi bajunya ......" Ais melihat baju Ahmad yang penuh darah. Pikirnya Ahmad mungkin habis kecelakaan.
"Hafiz tertembak, yang di brankar itu Hafiz" tunjuk Ahmad pada brankar yang di dorong petugas masuk ke dalam UGD. Kesedihan jelas tergambar di wajah laki-laki berkacamata itu. Mengingat betapa tragisnya kejadian yang dialami Hafiz.
Kantong belanjaan yang Ais pegang jatuh tanpa ampun. Isinya berserakan di lantai. Dadanya sempat berdebar hebat. Hafiz orang yang pernah mengisi rongga hatinya. Hafiz juga ayah dari anak laki-lakinya.
"Ke...kenapa bisa? susah sekali rasanya mengeluarkan kata itu, serasa tersangkut di tenggorokan. Belum satu, satu lagi kabar buruk yang Ais terima.
"Tadi..............." Ahmad menceritakan semua kejadian yang menimpa Hafiz dari A sampai Z. Tidak ada yang terlewat. Bagaimana seriusnya Hafiz ingin memenangkan kasus ini, walau dengan berbagai resiko. Termasuk resiko yang di dapatkan saat ini. Mungkin saja ia akan kehilangan nyawa. Tujuannya satu, memperoleh maaf juga melihat orang yang dicintai bisa bahagia, yaitu AIS.
Termasuk dimasa Hafiz terpuruk selama empat tahun. Hidup dalam bayang-bayang kesalahan di masa lalu. Bagaimana gilanya laki-laki itu mencari keberadaan Ais, hingga berkali-kali mendatangi kampung halaman Ais. Menyewa agen untuk mencari tahu keberadaan Ais, tapi semuanya sia-sia. Hingga perusahaannya diambang kehancuran. Belum lagi Dira yang slalu ingin bertemu Ais, hingga anak itu mengidap tantrum.
Istri yang berselingkuh. Hingga hamil anak orang lain, membuat Hafiz benar-benar menjadi laki-laki yang tidak berguna.
Hafiz hidup dalam dunianya, setiap hari menghabiskan waktu dengan menghukum diri sendiri. Jadi tak heran jika penampilannya yang sekarang berubah 180 derajat.
Untungnya Hafiz masih dikelilingi orang yang selalu mensupport dirinya, seperti puan Jijah, Adam, Ahmad juga Dira yang menjadi satu-satunya alasan Hafiz melanjutkan hidup.
Dan masih banyak lagi kisah Hafiz yang membuat Ais merasa perih. Entah untuk apa perih itu, sedang saat ini Ais punya suami yang sangat mencintainya.
Sepanjang Ahmad bercerita, air mata Ais terus mengalir. Untuk apa air mata itu, hanya Ais yang tau. Pantaskah Ais mengeluarkan air mata untuk laki-laki lain yang sudah tidak ada ikatan apapun selain mantan dan ayah dari Aidan anaknya?. Tapi kenapa rasa sesak itu ada, meski tidak terlalu nyata?
"Ais.....kita harus banyak bersabar" ucap puan Jijah sedikit parau. Dia pun sama sedihnya. Apalagi kini Hafiz berada diruangan yang sama dengan Reza, ICU.
"Kenapa takdir mempermainkan Ais ma?" Ais merasa kini Tuhan seolah sedang mempermainkan dirinya. Laki-laki yang pernah dicinta, dan mungkin masih, harus berada diruangan yang sama dengan suaminya. Kondisi keduanya juga bisa dibilang sama, berada dalam kondisi kritis, yang sewaktu-waktu bisa pergi untuk selamanya.
"Jangan bicara seperti itu!, semua ini tidak lepas dari qada' dan qadarnya Allah. Ini ujian untuk kita, tidak mungkin Allah akan menguji makhluknya melebihi batas kemampuannya" puan Jijah menarik Ais kedalam pelukannya. Keduanya larut dalam deraian air mata.
Dari kejauhan tiga orang berjalan tergesa-gesa. Setelah sempat bertanya pada resepsionis ruangan Reza.
"Ais...! Ais melerai pelukan puan Jijah. Melihat ke arah suara yang dirindukan.
"Ibuk .....! Bapak...! Ais bangkit dari duduk, memeluk ibu yang baru saja tiba dari Indonesia.
Puas menangis dipelukan ibuk, Ais berpindah memeluk Ayah.
"Ayah....!" ucapnya pelan.
"Ia sayang.....banyakin sabar!" elus ayah dipunggung Ais. Kemaren, setelah mendapat telpon dari Ais yang menceritakan kondisi suaminya. Orang tua Ais juga adeknya langsung bersiap untuk ke Malaysia. Karena sekarang tidak ada lagi memikirkan soal biaya, cukup ada waktu, kemanapun mereka pergi uang tidak jadi masalah. Selama menikah dengan Reza bukan hanya hidup Ais yang enak, kedua orang tua juga adiknya hidupnya sangat terjamin.
***
"Kita harus secepatnya melakukan tindakan, kondisi pasien semakin memburuk. Apa ibu setuju jika kita melakukan operasi? hanya itu satu-satunya jalan saat ini. Kemungkinan berhasilnya juga sangat kecil, tapi setidaknya kita sudah berusaha" jelas dokter mengenai kondisi Reza pada Ais.
"Lakukan yang terbaik buat suami saya dok, selama operasi itu menjadi pilihan yang terbaik, saya setuju"
"Baiklah kalau begitu, secepatnya ibu urus administrasinya, agar kita bisa secepatnya melakukan tindakan!."
***
Semua administrasi untuk operasi Reza sudah di selesaikan, saat ini Reza sudah berada diruangan operasi, hanya doa yang bisa Ais beserta keluarga panjatkan.
__ADS_1
"Ais....., mama mohon untuk yang terahir kali, penuhilah keinginan Hafiz!. Dia benar-benar ingin bertemu Ais sebelum melakukan operasi" pinta puan Jijah pada Ais. Saat ini Ais benar-benar berada di dalam pilihan yang sulit, Reza masih diruang operasi. Sedangkan Hafiz berkali-kali ingin bertemu Ais terlebih dahulu sebelum melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru yang masih bersarang ditubuhnya.
Ayah yang menemani Ais dikursi tunggu depan ruang operasi mengangguk, yang akhirnya membuat Ais mengiyakan.
"Makasih sayang" ucap puan Jijah.
Sebelum keruangan Hafiz, Ais terlebih dahulu masuk keruangan Aidan. Ternyata Aidan sedang bermain bersama Adam.
"Aidan....! ikut mama dulu ya?" Ais berencana membawa Aidan untuk bertemu Hafiz. Dengan dibantu perawat, infus Aidan sementara di cabut dulu. Setelahnya, Ais mendudukkan Aidan dikursi roda.
Dira baru saja tertidur, jadi lebih mempermudah Ais untuk membawa Aidan keluar. Jika Dira terbangun, pasti banyak pertanyaan yang akan ia lontarkan.
Sedang Adam masih mengurusi administrasi Hafiz.
Sebelum keluar, Ais menoleh pada puan Jijah. puan Jijah hanya mengangguk.
***
Kreakkk.....
Pintu ruangan Hafiz dibuka.
Dari ambang pintu, Ais bisa melihat Hafiz terbaring lemas di atas brankar. Oksigen sudah menempel dihidung. Di sana ada seorang dokter juga beberapa perawat yang masih memantau kondisi Hafiz.
Hafiz hanya mampu mengedipkan mata, seluruh tubuhnya terasa lemas tidak berdaya.
Saat melihat Ais masuk keruangan, ada senyum dibibirnya. Air matanya juga mengalir di samping mata kiri dan kanan.
Setelah Ais berada di samping Hafiz, semua perawat juga dokter, menunggu diluar ruangan.
"Abang.....!" mata Ais sudah berkaca-kaca, suaranya juga bergetar. Laki-laki yang biasanya terlihat gagah kini terbaring lemah.
"Abang....., ini Aidan anak kita hik....hik..." Ais tidak mampu melanjutkan kata. Ais mendudukkan Aidan disisi Hafiz. Bocah berpipi gembul itu tampak bingung. Ia mendongak melihat wajah Ais, kemudian melihat ke arah Hafiz.
"Om...temalen....lagi sakit ya?"
Ais semakin terisak. Ternyata baru ia sadari, kesalahannya amatlah besar. Kenapa selama ini Ais terlalu egois. Karena sakit hati dimasa lalu, membuat Aidan tak mengenal ayah biologisnya.
"Tapi, om na takit nda...."masih saja Aidan memanggil hafiz om.
"Makanya biar ayah cepat sembuh, di cium dulu, hik...hik...hik...." Ais makin terisak.
"A.....aaaidan a..nak ayah" suara Hafiz terdengar putus-putus, meski pelan Ais masih bisa mendengar suara Hafiz.
"Sayang cium pipi ayah!" perintah Ais sekali lagi.
Aidan mendekatkan wajah ke wajah Hafiz.
Cup....
Satu kecupan mendarat di pipi Hafiz. Bulir kristal itu seolah enggan untuk berhenti mengalir. Bahagia itu yang dirasakan Hafiz.
"Ma...maka...sih, A..is" Ais hanya mampu mengangguk, derai Air mata membasahi mata panda yang sejak semalam tidak tentu tidur.
Semakin banyak air mata Hafiz yang tumpah, hari ini dia sangat bahagia, setelah empat tahun, akhirnya hari ini datang juga. Meskipun Tuhan akan mencabut nyawanya setelah ini, ia ikhlas.
Senyum kecil terukir diwajah pucat Hafiz. Pelan mata sembab menutup rapat.
Glek.....
Kepala Hafiz terkulai lemas kesamping.
"Abang.......! Abang....!"Ais mulai panik melihat Hafiz yang terlihat terkulai tak berdaya.
"Abangggg........!"
"Suster......! Dokter.......!" teriak Ais panik.
__ADS_1
Dokter dan perawat masuk keruangan. Dengan sigap dokter memeriksa detak jantung, juga mata Hafiz.
Ais masih belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Semuanya bagai mimpi.
"Unda....om kok tidul?" Aidan mengira Hafiz sedang tidur. Membuat Ais semakin terisak. Memeluk Aidan erat, mencari kekuatan agar bisa tetap menpak di atas lantai.
-
-
***
Ais berpakaian serba hitam dengan kaca mata hitam bertengger dihidung mungilnya. Ditemani ayah juga beberapa kerabat, duduk diantara dua gundukan tanah pemakaman yang masih terlihat basah. Taburan kembang juga daun pandan menjadi penyejuk tanah kuburan. Tidak menyangka, semua berakhir penuh duka serta derai air mata. Lantunan ayat suci Al-Quran serta doa dipanjatkan agar almarhum kedua orang yang pernah disayang mendapat pintu ke maafan serta tempat paling mulia disisiNya.
"Maafin Ais serta keluarga pa, belum sempat bahagiain papa. Ternyata ini pertemuan kita yang terakhir" Ais mengusap gundukan tanah. Setelahnya ia langsung bangkit dengan digandeng ayah berjalan menuju mobil dan bergegas meninggalkan lokasi pemakaman.
Dua makam itu adalah milik pak Hartanto dan istrinya. Pak Hartanto meninggal setelah seminggu dirawat dirumah sakit. Sedangkan istrinya meninggal dihari yang sama, saat mencoba melarikan diri dari kejaran polisi dan mengalami kecelakaan. Sedangkan orang suruhan yang menembak Hafiz berhasil diringkus beberapa jam setelah peristiwa penembakan Hafiz.
Sepanjang jalan, pandangan Ais menerawang jauh pada kejadian empat tahun silam. Dimana pertama kali menjejakkan kaki ditanah Malaysia dan bekerja sebagai pembantu. Masih terbayang jelas bagaimana reaksi Hafiz saat pertama kali menjemput Ais, lelaki cuek dan terkesan sedikit sombong sangat berbeda dengan Adam.
"Ais....! kita jadi pulang kan?" ayah membuka percakapan.
Ais sedikit tersentak, suara ayah membangunkan Ais dari lamunan.
"Jadi yah...." jawaban Ais singkat.
***
Dua minggu kemudian.
Ais mendorong Reza menggunakan kursi roda. Reza beserta keluarga akan meninggalkan Malaysia. Ayah dan ibu masing-masing menggendong Aidan juga Aiza. Untuk koper mereka dibawakan oleh supir.
Ais memutuskan akan melanjutkan pengobatan Reza di Indonesia. Mungkin ini keputusan yang sedikit berat, mengingat kondisi Reza juga masih dalam proses penyembuhan. Langkah ini diambil setelah mempertimbangkan banyak hal. Terlalu banyak kejadian yang menyita emosi Ais juga keluarga.
"Mama....! mama....!" suara yang belakangan ini selalu Ais dengar.
Ais menghentikan langkah, sedikit pelan ia memutar kursi roda Reza. Begitupun yang lainnya. Netranya menangkap satu laki dewasa juga seorang gadis kecil berjalan ke arahnya.
Dialah Hafiz dan juga Dira.
Kurang lebih dua Minggu setelah melakukan operasi, kini kondisi Hafiz boleh dikatakan sehat. Penampilannya juga sudah kembali menjadi Hafiz empat tahun yang lalu. Bersih juga rapi, tidak ada lagi kumis maupun jambang, apalagi jenggot, semua sudah dipangkas habis. Wajahnya terlihat segar dan lebih muda. Ais sampai dibuat lupa berkedip, untungnya Reza tidak melihat itu.
"Mama...!" Dira langsung menghambur memeluk Ais. Ais pun melepas kursi roda dan balas memeluk Dira.
"Ayah.......! panggil Aidan pada Hafiz.
"Hafiz merentangkan tangan untuk menangkap Aidan dan membawanya kedalam gendongan. Berkali-kali dikecupnya sayang pipi gembul Aidan.
"Brooo.....makasih untuk semuanya...!" ucap Reza saat matanya dan Hafiz bertabrakan. Dia sangat berterima kasih atas pengorbanan Hafiz hingga bisa memenangkan kasusnya.
"Makasih juga karena sudah menjaga Ais juga Aidan, titip mereka ya!" pinta Hafiz lagi. Ada permohonan tulus yang ia sampaikan.
"Pasti...." jawab Reza.
Setelah bersalaman dengan Reza, Hafiz menyalami ayah juga ibuk. Sedangkan Via adik Ais sudah seminggu yang lalu pulang ke Indonesia.
Terahir Hafiz berpindah pada Ais. Sejenak keduanya saling tatap. Reza bisa menangkap ada sesuatu dari tatapan itu, tapi mungkin itu hanya perasaan sensitif seorang yang lagi sakit.
"Titip Aidan!" hanya itu kata yang mampu Hafiz ucapkan. Padahal tatapan matanya mengatakan lebih.
Ais hanya mengangguk.
Lambaian tangan Dira juga Hafiz mengantarkan kepergian Ais dan keluarga. Antara mereka mungkin masih ada cinta, hanya sekedar CINTA DUA BATAS.
***TAMAT***
LOVE U ALL YANG SELALU SETIA MENDUKUNG AUTHOR, THANKS YOU SOOOO MUACHHHHH....🥰🥰🥰 MAAF TIDAK BISA NYEBUTIN SATU PER SATU.🙏🙏🙏
__ADS_1
TUNGGU KELANJUTAN CINTA DUA BATAS SEASON 2
OYA ....JANGAN LUPA MAMPIR, DI NOVEL SELANJUTNYA "FORGIVE ME"