
Malaysia.
Pagi Hari.
Kediaman opa Aiza.
Ruang makan ini tampak mewah dan tertata rapi. Dari warna juga tampilan, kental sekali dengan nuansa klasik modern. Putih dipadankan krim keemasan. Lampu kristal, menggantung indah tepat diatas meja makan.
Meja makan berbahan granit hitam bermotif keemasan menyerupai awan, terhampar indah dengan panjang hampir tiga meteran. Disisinya berukirkan motif bunga berwarna keemasan.
Untuk kursinya sendiri, terbuat dari bahan jati tua, dengan dudukan berbentuk setengah lingkaran. Sedang untuk sandaran, tetap menggunakan jati, hanya saja dipadu padankan dengan busa berkualitas nomor satu.
Disana, sudah duduk Reza yang sudah siap dengan pakaian kerja, kemeja berwarna navi dan celana bahan berwarna hitam. Sangat pas dikulit putihnya. Opa yang diapit oleh ke dua cucunya juga sama halnya, Setelan jas kerja berwarna krim sudah melekat ditubuh yang masih menyisakan kegantengan dimasa mudanya. Ibunya Reza hanya memakai baju rumahan, serta Ais yang masih berkutat menyajikan sarapan pun hanya memilih baju kaos berwarna putih dan celana kulot hitam dibawah lutut.
"Bagaimana tidur kalian?" opa yang baru menerima piring, dari sang istri bertanya pada anak dan menantu. Tatapannya terarah pada Reza dan Ais. Pasalnya ini pertama kali Reza memboyong keluarga kecil datang berkunjung sekaligus membantu usaha orang tuanya.
Ais yang sibuk membantu mertuanya menyiapkan sarapan, menghentikan gerak tangannya. "Alhamdulillah....pa, nyenyak" jawabnya dengan tersenyum manis. Reza tersenyum, ia sependapat dengan istrinya.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Oya....sesuai agenda, hari ini kita ada pertemuan dengan pihak 3A Law Firm, papa harap kamu yang menghandle" opa menatap serius Reza.
"Papa percaya kamu bisa diandalkan"
Ucapnya lagi. Ia sangat yakin jika Reza mampu menangani masalah yang sedang dihadapi perusahaan. Bukan tanpa alasan, semua itu telah dibuktikan Reza dengan usaha yang dimilikinya di Indonesia, mampu berkembang pesat hanya dalam waktu singkat.
"Insyaallah pa" kedua tangan Reza menyambut uluran piring berisikan laksa goreng dari Ais.
"Makasih sayang" kata yang selalu diucapkan setiap kali Ais melayaninya.
Ais hanya tersenyum, kemudian turut duduk disamping Reza. Semua orang yang ada disana sudah mendapat jatah masing-masing, termasuk Aidan dan Aiza yang tak perlu lagi disuapi. Keduanya sudah asyik menikmati sarapan mereka.
"Kalau boleh tau, kenapa papa tidak menggunakan kuasa hukum yang lama?"
Pasalnya Reza sangat tau, 3A bukan kuasa hukum yang lama.
"Untuk urusan yang satu ini, papa lebih yakin dengan 3A, karena yang papa tau, mereka sudah banyak menangani kasus-kasus besar, termasuk masalah perizinan usaha" terang opa disela-sela makannya.
Reza mengangguk mengerti. Kemudian melanjutkan sarapannya.
"Ais temani mama belanja ya?" Ibu mertua, yang terkenal pendiam memulai ucapan. Ibu Reza memang terkenal irit bicara, meski begitu beliau orang yang baik juga penyayang.
Sebelum menjawab, Ais melirik kearah Reza, ia tak biasa pergi tanpa suaminya.
Perempuan baya itu, dapat menangkap gelagat Ais, ia yakin ini berkaitan izin dari Reza.
"Kamu tenang aja, Reza pasti ngijinin kok, iyakan Za?"
"Hemmmm...., sebenarnya Ais tidak pernah kemana-mana tanpa Reza ma" Reza yang tau kegelisahan istrinya, mencoba mencari cara agar bisa membatalkan niat ibunya.
"Kan perginya sama mama. Mama kepengen berbelanja keperluan anak-anak juga"
Ternyata ibu Reza masih kekeh ingin mengajak menantunya.
Ais masih terdiam, jauh dilubuk hatinya ia tidak ingin pergi tanpa suaminya.
__ADS_1
"Kalau begitu semua terpulang pada Ais aja ma"
Akhirnya Reza menyerahkan keputusan pada Ais. Reza juga tidak bisa menolak permintaan orang tuanya, terlebih ini baru pertama kali mereka datang berkunjung.
"Gimana sayang, kamu mau kan?" tanya Oma lagi.
Ais mengangguk, jujur sebenarnya ia masih merasa takut untuk bepergian tanpa Reza, tapi mau bagaimana lagi, menolak juga rasanya tidak sopan.
"Oya, pulangnya jangan terlalu siang ma, soalnya Reza maunya Ais mengantarkan makan siang ke kantor" ucap Reza lagi, jujur itu hanya alasan, pasalnya ia tidak terbiasa jauh dari sang istri.
"Ih....kamu, paling bisa ngerepotin istri, makan aja dikantin perusahaan, kan bisa, atau pesan lewat online"
Ibunya tak setuju dengan sikap Reza, ia merasa Reza hanya akan merepotkan Ais.
"Makanan diluar nggak enak ma, lebih enak masakan istri Reza" ucap Reza yang tak mau kalah dari orang tuanya.
Opa memberikan dua jempolnya untuk Reza. Ia setuju dengan ucapan Reza.
"Unda masaknya emmmmmm"
sikecil Aiza yang terkenal ceriwis, ikut menambahkan pujian untuk undanya. Ia memberikan jempol untuk Ais, dengan kedua mata merem melek.
Membuat semua orang yang ada dimeja makan tertawa melihat tingkahnya.
***
Kantor Law Firm.
Tokkkkk......tokkkk.....
"Masuk!"
Suara bariton menggema dari dalam ruangan.
Kreakkkk.....
Pintu dibuka.
Ahmad melihat, Hafiz masih sibuk menulis sesuatu dibuka agendanya, tanpa menoleh ke arah dirinya yang baru saja masuk.
Tanpa disuruh, Ahmad mendudukkan diri di depan Hafiz.
"Ada apa?" suara itu kembali menggema, namun tatapannya masih lurus pada gerak ballpoint.
"Kamu tu ya, bukannya nyuruh duduk, natap aja nggak" Ahmad memasang wajah kesal.
"Disuruh atau nggak, buktinya lho udah duduk"
Hafiz menutup buku agenda dan menekan kepala ballpoint. Kini tataannya sudah terarah pada satu-satunya orang yang berani bercanda padanya. Karena memang hanya Ahmad sahabat sekaligus bawahan yang telah bersama Hafiz sejak dibangku kuliah. Baik dalam suka maupun duka. Jadi tak heran, luar dalam keduanya sudah saling kenal.
Ahmad duduk menopang kaki, dua tangan disandarkan pada pegangan kursi.
Ia menatap serius wajah Hafiz.
__ADS_1
"Gue yakin, lho mau bicara sesuatu?"
"Bagus deh kalau kamu tau"
Ahmad yang tidak terbiasa berbicara dengan kata lho, gue, lebih suka menggunakan kata aku, kamu.
"Ia, maksudnya hanya tau luar, nggak juga sampai ke inti. Emang lho pikir gue peramal apa?"
Hafiz yang memang orangnya to the point, mulai kesal, karena Ahmad berbelit-belit.
"Begini, kemaren pas rapat kamu minta aku untuk menangani kasus perijinan usaha perusahaan ***"
"Ia, emang ada masalah?"
"Nah....itu dia masalahnya, semalam client kita yang di Singapura ada menghubungi, dia minta tolong kita lagi untuk membantu pembebasan lahan yang bermasalah dengan orang disana. Jadi sepertinya, aku nggak bisa nanganin dua kasus sekaligus"
Hafiz terdiam, ia mencerna penjelasan Ahmad, memikirkan siapa orang yang tepat sebagai penggantinya.
"Kenapa nggak kamu aja yang nanganin, hitung-hitung penebus dosa dengan orang sebrang sana"
Entah kenapa Ahmad dengan mudahnya meluncurkan candaan itu.
Satu-satunya orang kantor yang tau masa lalu Hafiz hanya dia.
Hafiz masih diam. Ballpoint ditangan dihentak-hentakkan diatas meja, masih berpikir ulang.
"Siang ini kita ada janji dengan mereka"
Hafiz kembali melirik pada Ahmad.
"Ok deh.....kasus ini biar gue"
Akhirnya Hafiz yang akan menangani kasus yang dihadapi perusahaan ayah Reza. Tapi sampai hari ini, baik Hafiz maupun pihak Reza tidak ada yang tau dengan siapa mereka akan berhadapan. Mungkinkah kerjasama itu akan tetap terjadi, apabila mereka sudah saling mengetahui?
****
Siang Hari.
Seperti permintaan Reza, Ais dan Aidan kini sudah berdiri di depan gedung lima lantai. Ais berdiri mendongak menatap keatas puncak gedung. Sesaat setelah diantar sopir keperusahaan yang sedang ditangani suaminya.
Jujur sebenarnya ia masih terasa mimpi akan kehidupan yang dijalani setelah dinikahi Reza. Kehidupan dimasa lalu yang penuh kekurangan, kini hidup bergelimang harta. Dan yang paling membuat Ais terkejut, ternyata kehidupan kedua orang tua Reza dinegara tetangga ini terbilang luar biasa. Rumah tiga lantai yang luasnya mencapai ribuan meter persegi. Belum lagi usahanya, seperti yang Ais lihat saat ini. Ternyata Reza termasuk anak jutawan, tapi nyatanya selama ini Reza terlihat biasa saja, bersahaja sesuai keinginan Ais.
"Ayo sayang!" ajak Ais pada Aidan. Keduanya melangkahkan kaki masuk kedalam perusahaan. Satu paper bag ditangan turut ia bawa masuk.
Setibanya diloby, Ais celingukan mencari letak resepsionis. "Sepertinya disana" suara hati Ais.
"Aidan duduk dulu di kursi sana ya!" tunjuk Ais pada sebuah kursi sofa yang ada di dekat pintu masuk. Ia tak mau Aidan kecapean, pasalnya tadi mereka habis jalan-jalan ke mall bersama Omanya. Saat Ais akan ke kantor Reza, Aidan merengek ingin ikut.
Wajah cemberut Aidan tampilkan dengan langkah gontai ia berjalan ke arah kursi sofa. Pasalnya ini adalah jam tidur siangnya.
Ais berjalan menuju meja resepsionis. Ingin menanyakan letak ruangan suami. Pasalnya, karena buru-buru, hape miliknya ketinggalan dirumah.
Bug.....
__ADS_1
Karena tidak konsen, Aidan menabrak kaki seseorang.
Bersambung......