Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Menangis bahagia


__ADS_3

Rahman pulang ke rumah, lalu pergi ke kamar mandi. Rahman di kamar mandi agak sedikit lama. Setelah semua di rasa sudah bersih, Rahman keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk. Lalu memakai baju casualnya supaya terlihat santai.


Setelah rapi, Rahman pergi ke rumah Bunda untuk sarapan.


"Mau kemana sudah rapi?"


"Mau ke rumah Umaiza,"


"Kangen ya, baru juga malam bertemu," goda Bunda


"Farid kemana, Bun?" mengalihkan pembicaraan.


"Masih tidur,"


Lalu Rahman sarapan.


Menunggu Pak Baskoro dengan membaca koran. Banyak berita yang sangat mengerikan. Perkosaan, pembunuhan, penculikan dan masih banyak lagi. Membuat hati Rahman merasa iba kepada korban dan kesal kepada para pelaku.


Pak Baskoro sudah tiba, sengaja tidak mampir dulu. Dan menunggu Rahman dari seberang. Rahman langsung naik ke mobil dan berjalan di belakang mobil Pak Baskoro.


Pak Baskoro memberikan jalan supaya Rahman yang duluan. Dan mengikuti Rahman dari belakang.


Tidak lama Rahman dan Pak Baskoro sampai di panti asuhan, dimana Umaiza di besarkan.


"Yah, ini panti asuhan yang tidak kita sentuh sama sekali untuk mencari putri kita," bisik Ibu Rahma.


Rahman sudah berjalan lebih dulu.


Ada anak-anak panti yang sedang bermain di luar, Rahman mendekatinya.


"Kami mau bertemu dengan Ibu panti. Bisa di tunjukkan dimana kami bisa menemuinya?" ucap Rahman.


"Boleh, ayo ikut saya," kata seorang anak laki-laki yang bernama Bowo.


Kami mengikuti dari belakang.


"Ibu Aisyah ada yang ingin bertemu dengan Ibu," ucap Bowo.


"Baik terima kasih, Bowo," berdiri dan berjalan ke arah kami.


"Kenalkan nama saya Aisyah,"


"Saya Rahma" salaman sambil pelukan.


"Saya Baskoro,"


Ibu Aisyah menangkupkan tangannya di depan dada.


"Dan saya Rahman," mengikuti hal yang sama dengan Ibu Aisyah.


Pak Baskoro, Ibu Rahma dan Ibu Aisyah masuk, Rahman memilih menunggu di kursi panjang. Karena merasa di luar kapasitas Rahman untuk mengetahui maksud dan tujuan Bosnya kesini.


Umaiza yang sedang berjalan menuju ruangan Ibu Aisyah melihat seorang laki-laki sedang duduk. Memakai stelan baju santai, kaos dan celana bahan kanvas. Umaiza mendekatinya.


"Halo sedang apa disini ya," Tanya Umaiza kepada laki-laki di hadapannya yang sedang sibuk memainkan hp nya.


Suara yang tidak asing di telinga Rahman, dengan seketika Rahman mengangkat kepalanya menoleh ke arah Umaiza.


"Kak Rahman, sedang apa disini?"


"Kangen kamu, jadi pagi-pagi main kesini," goda Rahman.


"Gak boleh kangen yang bukan mahromnya dosa," sambil duduk di samping Rahman.


"Kalau sama calon istrinya, gimana?"


"Sama saja, nanti kalau sudah sah jadi suami istri boleh bilang kangen," jawab Umaiza tegas.


Rahman hanya tersenyum melihat Umaiza kesal.


"Senyum lagi, jelek. Sekarang kan sudah ketemu sana pulang. Umaiza mau menyelesaikan mengetik skripsinya,"


"Tinggal berapa bab?"

__ADS_1


"Tinggal penutup saja,"


"Kalau sudah selesai, sini kakak yang print,"


"Apakah tidak merepotkan?"


"Tidak, calon suamimu ini akan mendukung calon istrinya menyelesaikan skripsinya. Supaya cepat menikah," ucap Rahman serius.


Jantung Umaiza sedang berlari-lari di dalam sana mendengar ucapan Rahman yang begitu tulus.


"Sudah sarapan?"


"Sudah, barusan sebelum kesini Umaiza sarapan dulu,"


"Ngapain saja tadi pagi baru sarapan jam segini?"


"Ngetik skripsi, hehehe,"


"Kerja keras rupanya, sudah ingin dilamar ya?"


Umaiza mendelikkan matanya ke arah Rahman dan memasang wajah yang cemberut.


"Ibu Aisyah ada tamu ya?"


"Iya, Kakak mengantar Ibu Rahma dan Pak Baskoro," ucap Rahman.


"Ibu Rahma dan Pak Baskoro," Umaiza mengingat-ingat nama mereka. "Iya, di kartu nama yang di berikan Ibu itu namanya tertera Rahma dan Pak Baskoro,"


"Kenal Umaiza?"


Umaiza menceritakan kejadian kemarin kepada Rahman.


"Hubungan mereka dengan Kakak apa?"


"Mereka itu pemilik perusahaan tempat kakak bekerja,"


"Ooo,"


"Kebetulan Umaiza ada di sini, ayo masuk, ada yang ingin bertemu denganmu,"


"Baik, Bu,"


Tanpa sadar Umaiza menarik tangan Rahman, karena mau tidak mau Rahman memang harus mengetahuinya.


Rahman pun tidak menolak apa yang di lakukan oleh Umaiza.


"Assalamu'alaikum," Umaiza salam kepada Ibu Rahma.


"Waalaikummussalaam," jawab mereka.


Pak Baskoro melihat Umaiza tanpa berkedip.


Umaiza melambaikan tangan kepada Rahman untuk duduk di kursi. Dan Umaiza duduk di samping Ibu Rahma.


Pak Baskoro melihat Umaiza seperti melihat istrinya. Duduk berdampingan seperti pinang dibelah dua.


"Kenapa Pak Baskoro melihat Umaiza seperti itu, Bu?" tanya Umaiza dengan berbisik kepada Ibu Rahma.


Ibu Rahma memukul paha suaminya untuk menyadarkannya.


"Benar kata Ibu, Umaiza cantik. Mirip dengan Ibu,"


"Ehem," Rahman berdehem.


"Kenapa kamu ada disini," tanya Pak Baskoro baru sadar kalau Rahman ada di dalam.


"Umaiza yang ngajak, Pak," ucap Umaiza pelan.


Ibu Rahma tersenyum.


"Umaiza, Firasatmu tentang kedua orangtuamu itu benar. Mereka orangtua mu. Namun untuk lebih memastikan lagi apa Umaiza siap untuk tes DNA,"


Umaiza langsung memeluk Ibu Rahma dan menangis, "Ibu, Ibunya Umaiza?" lalu memeluk lagi. Keduanya menangis dan Pak Baskoro pun ikut memeluk keduanya dari belakang Ibu Rahma.

__ADS_1


"Orangtua, anak. Umaiza anak Pak Bos?." tanya Rahman dalam hati tidak percaya. "Namun melihat wajah Ibu Rahma dan Umaiza selintas sangatlah mirip," Sambung Rahman.


"Umaiza mau," ucap Umaiza tanpa pikir panjang lagi


"Yah, apakah bisa hari ini?" tanya Ibu Rahma.


"Coba ayah telepon dulu,"


Pak Baskoro menelepon dokter pribadinya dan langsung di terima.


"Siang," suara dari sebrang


"Siang, Dok. Saya ingin tes DNA apakah bisa siang ini?"


"Silahkan Pak, saya tunggu,"


"Bisa, Bu," ucap Pak Baskoro


"Tes DNA nya akan di kaksanakan sekarang, apakah Umaiza siap?" tanya Ibu Rahma.


"Iya, Bu. In Syaa Allah, siap. Tapi Kak Rahman ikut ya?"


Ibu Rahma menoleh ke arah Rahman dan tersenyum.


"Baik, Kakak akan ikut. Boleh kan Pak?"


"Jika itu permintaan putriku, Bapak tidak akan bisa menolak,"


Ibu Rahma, Rahman, Ibu Aisyah dan Umaiza tersenyum bahagia mendengar ucapan Pak Baskoro.


Umaiza pamit untuk mandi dan siap-siap dulu sebelum pergi.


"Kamu suka sama putriku?" tanya Pak Baskoro.


"Iya, Pak. Dari awal bertemu dengan Umaiza sudah suka. Apalagi setelah melihat kepribadiannya. Dan perhatiannya kepada Bunda." ucap Rahman tidak kikuk.


"Bunda, Ibu kalah dong dengan Bundamu Rahman," goda Ibu Rahma.


"Tidak dong, Bu. Umaiza anak yang sholehah, bahkan dia ingin berbakti kepada Ibu dan Bapak,"


"Sepertinya kamu banyak tahu tentang putriku Umaiza," goda Pak Baskoro.


"Ah, tidak juga. Nanti Ibu dan Bapak yang akan lebih mengenal Umaiza. kecuali kalau sudah jadi pendampingku," jawab Rahman sambil terkekeh.


Ibu Aisyah hanya tersenyum mendengar obrolan mereka.


"Ibu Aisyah apakah saya boleh lihat photo Umaiza saat kecil?"


"Jangan di kasih, Bu. Nanti di jampe-jampe sama Rahman," ucap Pak Baskoro bercanda.


"Ah, Bapak. Kalau mau di jampe-jampe sekarang saja, xixixi,"


Rahman dan Pak Baskoro kalau di kantor sangat serius tapi kalau di luar kantor terlihat seperti anak dan bapak, teman, saudara. Becanda terkadang sampai keterlaluan.


Umaiza datang dengan stelan gamis berwarna pink dan kerudung abu di tambah dengan kulit yang putih.


"Umaiza sudah siap,"


Kak Rahman masih bengong melihat penampilan Umaiza, namun di senggol oleh Pak Baskoro.


Ibu Rahma menggandeng Umaiza dan mereka pamit kepada Ibu Aisyah.


Rahman mengikuti dari belakang.


Sampainya di luar, Pak Baskoro memberikan kuncinya kepada Rahman. Rahman membukakan pintu Umaiza dan begitu juga Pak Baskoro. Pak Baskoro duduk di depan, di samping Rahman. Di belakang Umaiza dan Ibu Rahma.


Umaiza, impianmu tinggal beberapa langkah lagi.


Aku kan tetap setia mendampingimu untuk tetap mendukung dan membantumu.


Semoga engkau tetap seperti Umaiza yang sekarang


tidak berubah.

__ADS_1


__ADS_2