Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Ketegasan Umaiza


__ADS_3

Terasa runtuh pertahananku


Ketika mendengar Gadis Pujaanku


tuk dilamar dia


Laki-laki yang membuatnya terluka


Ku coba langkahkan kaki


Meski terasa berat


Ingin Rasanya aku marah, caci bahkan menghajarnya.


Namun ku coba tuk tenang


setenang air yang berada di danau meski tertiup angin kencang.


"Siang semuanya," sapa Rahman dengan senyuman mengembang meski tak sejalan dengan hati dan pikirannya.


"Siang,"


"Sudah disini saja, Pak Bima, bagaimana sudah menemui rektor hari ini?" Ucap Rahman basa-basi.


"Iya, sudah, Rahman. Makanya kami kesini untuk minta maaf," jelas Pak Bima.


Roni mendelik melihat Rahman duduk di hadapannya.


Pak Baskoro sedikit tegang namun mencair saat melihat Rahman datang.


"Calon istriku, kemana, Pak?" tanya Rahman kepada Pak Baskoro.


"Sedang dengan Ibu diatas,"


Roni terlihat wajahnya sangat kesal ketika mendengar Rahman menyebut Umaiza dengan ucapan 'calon istri'.


"Kenapa kamu Rahman bilang ke Umaiza calon istri?" tanya Roni dengan wajah merah karena marah.


"Memang Umaiza calon istri saya, apakah waktu kemarin saya ngomong kurang jelas."


"Sebelum menikah, Umaiza masih bisa di lamar siapa saja?" ucap Roni tambah kesal.


"Kata siapa harus menunggu menikah, di dalam islam itu khitbah atau lamaran juga sudah bisa mengikat,"


"Aku tidak percaya, aku ingin menikahi Umaiza," ucap Roni marah sambil menggebrak meja dan hampir memukul Rahman namun di tahan oleh Dewa dan Pak Bima.


"Baik, kalau tidak percaya biar Umaiza saya panggil kesini, nanti Umaiza yang menjelaskan kepada anda," ucap Rahman tenang namun sedikit tegas.


Pak Bima dan Dewa menunduk.


Pak Baskoro mengangguk ke arah Rahman.


Rahman naik ke tangga menuju kamar Umaiza. Di dalam Umaiza sedang ketakutan, berada dalam pelukan Ibu Rahma.


"Za, ini kakak datang,"


"Buka saja Rahman, tidak di kunci," jawab Ibu Rahma.


Umaiza melepaskan pelukannya.


Rahman berjongkok di depan Umaiza yang duduk di tepi ranjang.


"Kak, Umaiza takut,"


"Za, gak usah takut. Disini ada Ibu, ayah dan kakak,"


"Umaiza harus jawab apa?"


"Boleh kakak tanya, Umaiza mau menerima lamaran Roni?"


"Ya, tentu tidak kakak. Kenapa kakak tanya begitu," Umaiza marah mendengar pertanyaan Rahman dan memalingkan wajah ke arah lain.


"Kalau yang melamarnya Khairul Rahman, apakah Umaiza mau menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya?"

__ADS_1


Umaiza menatap Rahman dengan mata yang berkaca-kaca, lalu menganggukkan kepalanya pelan.


Rahman mengeluarkan kotak dari saku jasnya dan memberikan kepada Ibu Rahma untuk membuka dan memasangkannya ke jari Umaiza.


Ibu Rahma tersenyum dan membuka kotak cincin itu lalu memakaikan ke jari manis Umaiza.


"Terima kasih, sudah mau menerima lamaran dari kakak,"


"Sama-sama, Umaiza senang menerimanya, In Syaa Allah Umaiza akan berusaha menjadi istri yang Kak Rahman harapkan."


"Kita berjuang sama-sama, sekarang Za turun jawab apa adanya."


"Iya, Kak. Bismillahirrahmannirrohiim, Lahawla walla kuwwata illa billahi," ucap Umaiza sambil memperbaiki kerudungnya dan berdiri.


Ibu Rahma memegang lengan Umaiza dan Rahman berjalan di belakang.


Umaiza berjalan dengan menunduk tidak mengarahkan pandangan kemana-mana.


Umaiza duduk di kursi dengan Ibu Rahma.


Roni tersenyum melihat kedatangan Umaiza datang.


"Umaiza terima kasih sudah mau turun,"


Ucap Roni dengan pandangan yang bahagia.


"Tujuan kamu kesini mau apa?"


"Aku mau minta maaf, atas perlakuan aku kemarin,"


"Sudah lupakan saja, anggap tidak pernah terjadi apa-apa."


Mendengar jawaban dari Umaiza seperti itu Roni merasa ada harapan baru, "jadi kamu mau menerima lamaran aku?"


"Maaf, kalau untuk itu aku tidak bisa. Karena aku sudah menjadi calon istri Kak Rahman."


"Kapan dia melamarnya, hah?" Roni marah kembali, tidak ada rasa malu dan terutama sopan santun.


"Bohong kamu,"


"Benar, ini buktinya," dengan memperlihatkan cincin di jari manisnya.


"Aku tidak terima semua ini,"


"Terserah kamu, itu urusan kamu bukan urusanku,"


"Lihat saja, aku akan balas perbuatan kalian semua," ancam Roni


Pak Baskoro sudah memerah namun segera di pegang oleh Rahman.


"Astagfirullah, Roni. Memang kalau saya melamar Umaiza harus meminta izin kepadamu?"


Roni menatap tajam Rahman.


"Saat akan melamar Umaiza yang aku butuhkan adalah restu Pak Baskoro, Ibu Rahma dan bundaku. Saat aku tanya Umaiza pun belum ada yang melamarnya," dengan suara lembut.


Umaiza menatap Rahman dengan penuh kekaguman.


"Kalau seandainya Umaiza saat saya lamar menjawab sudah ada calon suami, saya pun tidak akan jadi melamarnya. Karena Ibnu 'Umar dalam riwayatnya mengatakan


'Nabi SAW melarang sebagian kalian menjual sesuatu yang sudah dijual kepada orang lain dan seorang lelaki tidak boleh melamar wanita yang sudah dilamar saudaranya sebelum saudaranya itu membatalkan lamarannya atau mengizinkannya untuk melamar wanita yang telah dilamarnya.' (lafadz ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab Shahihnya pada Kitabun Nikah, dan hal semisal telah di riwayatkan oleh Imam Muslim.)


sudah mengerti Ron?" tanya Rahman setelah menjelaskan dengan memberikan hadis.


Roni yang tadinya penuh akan amarah dan nafsu namun terdiam ketika mendengar penjelasan dari Rahman. Roni menyadari memang Umaiza dari dulu tidak pernah suka terhadapnya.


"Boleh Umaiza bicara, Ron?"


Roni terdiam.


Tangan Ibu Rahma terus memegang erat tangan putrinya.


"Taubatlah, Ron. Sebelum terlambat. Minta ampun sama Allah, minta maaf sama perempuan-perempuan yang sudah kamu permainkan lalu campakkan."

__ADS_1


Roni menunduk.


"Kalau ingin mendapatkan perempuan baik-baik, perbaikilah dirimu dulu. In Syaa Allah nanti Allah persiapkan jodoh terbaik untukmu. Bisa jadi yang lebih baik dari aku," sambung Umaiza


"Benar, Nak. Kata Umaiza dan Rahman, janganlah kamu memaksakan kehendakmu. Kalau kamu memang cinta, jangan kamu sakiti lagi hati Umaiza. Biarkan mereka bahagia," nasihat Pak Bima yang sedari tadi menunduk.


Dewa memang anak yang pendiam, dia tidak banyak bicara.


Roni memeluk Pak Bima dengan menangis.


"Bapak, Ibu, Umaiza dan Rahman maafkan anak saya Roni yang sudah membuat kegaduhan disini. Mohon pengertiannya, Roni seperti ini setelah ibunya meninggal dan kesalahan saya sangat memanjakannya. Pengganti kasih sayang ibunya yang hilang, saya ganti dengan uang," jelas Pak Bima sambil menunduk malu.


"Iya, tidak apa-apa. Kita ambil hikmahnya saja. Mudah-mudahan dengan kejadian seperti ini bisa membuat Roni berubah," ucap Pak Baskoro.


Ibu Rahma tersenyum lalu mengangguk.


Roni, Pak Bima, dan Dewa pamit dari rumah Pak Baskoro.


Pak Baskoro, Bu Rahma dan Rahman mengantar sampai pekarangan rumah. Setelah mobil Berlalu, mereka kembali lagi ke dalam rumah.


"Rahman, saya salut kamu tetap tenang,"


"Saya yang salut sama Bapak, padahal ini rumah Bapak tapi tidak langsung mengusir mereka,"


"Ingin saya seperti itu, Rahman, namun beberapa kali kamu menenangkan saya dan saya melihat Pak Bima dan Dewa yang menunduk terus karena malu dengan ulah anaknya itu,"


"Iya, Pak. Kasihan, ternyata Roni seperti itu karena kehilangan kasih sayang," lirih Rahman.


"Iya, tapi ngomong-ngomong itu cincin yang ada di jari Umaiza kapan di berikan?"


"Tadi, Yah. Saat Kak Rahman ke atas,"


"Pintar juga ya, tambah salut saya," goda Pak Baskoro.


"Cepat dan tepat, ya, Yah?" kata Ibu Rahma yang sedari tadi diam.


"Terus itu hadis kamu tahu dari mana?" tanya Pak Baskoro lagi.


"Ya, Baca buku, Pak,"


"Tenang ya, Yah, Umaiza sudah takut Roni membuat kekacauan disini,"


"Ya, kalau orang seperti itu, Za, sentuh hatinya. Saat Za bilang taubat dia langsung menunduk,"


"Benar juga, ya, Kak,"


"Iya, Za,"


"Bagaimana urusan di kantor?"


"Lancar, Pak. Oh, iya, di mobil ada beberapa berkas yang harus bapak tandatangani. Sengaja saya bawa, takutnya penting,"


"Oke, coba saya lihat,"


"Baik, Pak. Saya ambil dulu,"


Rahman beranjak lalu berjalan ke luar, untuk mengambil berkas di dalam mobil dan kembali lagi ke rumah untuk menyerahkannya ke Pak Baskoro.


"Ini, Pak," di simpan di atas meja di hadapan Pak Baskoro.


"Makasih, nanti saya pelajari,"


"Sama-sama, Pak,"


Rahman kembali lagi duduk. Saat melihat jam di dinding arah jarum jam ke angka 4.


"Za, Kakak shalat ashar dulu ya,"


"Iya, Kak,"


Mereka sudah tenang, kembali lagi bercengkrama dan mengobrol bersama di temani oleh minuman dan cemilan yang membuat mereka lebih santai.


Rahman siap menjadi imam, suami, kakak, sahabat, teman untuk Umaiza. Cinta tulus yang dimiliki Rahman itu yang membuat Pak Baskoro, Ibu Rahma percaya dan yakin, Rahman bisa menjaga, melindungi dan membahagiakan Umaiza.

__ADS_1


__ADS_2